Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 296


__ADS_3

Rembulan di PelukanMalam Pertama yang Kacau


Malam Pertama yang Kacau


Aditya menginap di tempat Ratna malam itu. Ia tak tahu kalau kesepakatan yang Ratna ajukan waktu itu juga termasuk hal-hal yang tak mungkin orang lain saksikan dari mereka berdua.


“Aku tidur di lantai tak apa,” kata Aditya begitu mereka masuk ke kamar pengantin.


“Kamu ngomong apaan sih? Kita sama-sama tidur di atas!” tukas Ratna.


“Tapi ...” Aditya mencoba menyanggah.


“Enggak ada tapi-tapian!” potong Ratna sambil menahan bibir Aditya dengan jari telunjuknya.


Lalu Ratna dengan lembut memeluk Aditya dari depan, menatap matanya dengan kesan yang sulit dilukiskan.


Aditya merasa tak enak dan mencoba menarik diri. Tapi Ratna terlalu menyukai itu, menyukai posisi mereka yang saling berpelukan.


“Kamu sudah membuatku sakit hati. Dan sekarang bahkan memelukku saja kamu enggak mau?” tanya Ratna dengan kalimat yang terdengar sakit di telinga.


Aditya akhirnya menurut, membiarkan dia dipeluk cukup lama oleh perempuan itu. Pelukan itu tak bisa dimungkiri, membuat tubuh Aditya bereaksi. Sebuah reaksi yang sangat alami sebenarnya, antara interaksi intim dua sosok lelaki dan perempuan.


Aditya takut hasil ‘reaksi’ itu disadari oleh Ratna, jadi ia akhirnya mundur juga.


Ratna kali ini tak mencegahnya. “Temani aku minum, Dit,” katanya.


Aditya tak keberatan. Ia mengangguk mantap sambil melepas jasnya.


“Kita ngobrol hal yang santai saja,” lanjut Ratna yang berlalu ke mini bar di ujung kamarnya.


“Yeah, lagi pula Setiawan Budi sepertinya sudah menyerah,” kata Aditya.


“Memang. Tapi perlu kita pastikan lagi dia enggak akan mengganggumu sampai kapan pun,” tukas Ratna.


“Ya. Nanti bisa dipikirkan cara apa yang terbaik, asal tak ada saling bunuh. Sudah cukup orang-orang mati karena masalah ini,” kata Aditya.


Ratna mengangguk setuju. Ia copot pakaian luarnya setelah meletakkan dua gelas dan sebotol champaign. Gaun merah itu Ratna lemparkan begitu saja ke bawah lantai, tak peduli betapa mahalnya barang itu, dan kini ia hanya mengenakan korset putih saja. Tubuhnya yang indah terlihat jelas oleh mata Aditya. Tapi Aditya bisa menahan diri.


Ia juga melepas kemeja dalamnya, lalu celana panjangnya juga. Kini Aditya hanya memakai kaos tipis dan celana pendek.


Mereka duduk di depan TV yang menyala, minum sambil mengobrol hal-hal di luar urusan Setiawan Budi. Meski terlihat santai, Aditya sejujurnya masih cemas, terpikir akan Frita dan efek yang mungkin timbul kalau sampai dia tahu.

__ADS_1


“Semoga semua cepat berlalu,” katanya pendek.


“Apanya?”


“Semua ini,” jawab Aditya.


“Termasuk pernikahan kita ini?”


“Ya, bukankah itu yang kubicarakan?”


“Memang kita sudah sepakat, kan,” sahut Ratna acuh tak acuh.


Ratna tak ingin lagi bicara soal Frita. Ia malah penasaran pada ibunda si penyanyi, Shelly D, yang katanya sosok pembunuh bayaran itu.


“Aku tak pernah cerita padamu,” kata Aditya.


“Amy yang bilang saat persiapan pernikahan kita ini.”


Aditya menceritakan sedikit soal Brenda Sukma, karena memang sedikit saja yang ia ketahui.


“Aneh, ya? Kok bisa anaknya tak pernah tahu pekerjaan ibunya sendiri? Selama itu pula. Berapa tahun itu?” kata Ratna, lalu menuang minuman lagi ke gelasnya, juga ke gelas Aditya.


“Gila!” Ratna terlihat tercengang.


“Tidak aneh juga sih. Marwan, alias sang ayah, membantu ibunya menutupi semua itu. Jadi Shelly D enggak pernah sadar. Bahkan mungkin sampai detik ini,” tukas Aditya yang kembali menikmati minumannya.


Mereka lalu melompat ke topik lain. TV yang menyala rupanya sekadar menjadi teman pemberisik, yang jika tak ada itu, suasana mungkin jadi sangat canggung. Maka mereka biarkan saja TV menyala meski tak ditonton.


Akhirnya Aditya merasa sudah cukup minum, meski belum terlalu banyak. Ia pergi ke toilet. Ratna terlihat waspada, mengamati pintu toilet yang tertutup itu. Segera saja ia mengambil sesuatu dari balik bantalnya. Sesuatu yang dimasukkannya ke dalam gelas Aditya.


Aditya melangkah keluar dari toilet beberapa menit kemudian.


“Ini, minuman terakhir, sebelum kita tidur,” kata Ratna.


Aditya terlihat cemas, meski mengambil gelas itu.


Ratna bilang, “Kamu boleh tidur di mana pun sesukamu kok, Dit.”


“Baiklah.” Ia segera menenggak gelas terakhir itu, dan melangkah ke bagian lain di sisi kamar itu. Sebuah ruang ngobrol kecil di mana tadi mereka duduk sambil menonton TV.


Tv sudah dimatikan. Suasana mulai sepi. Lampu dipadamkan oleh Ratna dari kamar tidur. Aditya sudah berbaring di sofanya. Tak lama kemudian, Aditya sudah terbang ke alam mimpi.

__ADS_1


***


Di alam mimpi itu, Aditya melihat sesosok bayangan wanita menghalangi jalannya.


Ia bilang, “Minggir! Saya mau lewat!”


Tapi sosok itu tetap berdiam di sana, malah mendekat padanya, dan merentangkan kedua tangannya ke atas, membentuk sebuah naungan ajaib yang mengurung Aditya di tempat itu bersama si wanita yang entah siapa itu.


“Kamu tak bisa ke mana-mana, Aditya. Kamu harus tetap di sini, bersamaku!” kata sosok wanita bayangan itu.


Aditya mencoba menjerit, tapi tidak bisa. Ia malah tak berdaya dipeluk, direngkuh, diciumi dengan liar oleh wanita aneh itu.


Si wanita menjerit kesenangan, “Surga ini milik kita berdua!”


***


“Surga ini milik kita berdua, Adit!” bisik Ratna yang kini menunggangi tubuh sang lelaki yang sepenuhnya telanjang bulat.


Ratna juga, tentu saja, tak mengenakan sehelai benang pun.


Tubuhnya dan tubuh Aditya tampak sama-sama berkilau oleh keringat mereka. Ia dengan segenap hati coba menerima keadaan ini: bersetubuh dengan Aditya saat lelaki itu berada di bawah pengaruh obat khusus yang ia berikan.


Aditya mungkin tak sadar dan tak tahu sedang apa dia, tapi jelas kini Ratna telah dimasuki bagian tubuhnya.


Ratna menikmati itu. Mereka berkeringat sangat banyak. Keringat mereka menyatu dan membuat Ratna semakin bergelora.


“Surga ini milik kita berdua! Biarkan mereka semua ribut di luar sana! Biar aku untuk terakhir kalinya, membuat kita berdua bahagia!” kata Ratna yang merasa dimabuk oleh nafsunya sendiri.


Aditya jelas tak sepenuhnya terbawa pengaruh obat itu. Ia merasa mimpi aneh itu seolah nyata, bahwa si wanita misterius mengajaknya berhubungan badan. Mereka bertahan cukup lama.


Aditya akhirnya terbangun dini hari itu. Ia berbaring di lantai ruang TV. Tidak jauh darinya, tubuh telanjang Ratna berbaring melingkar seperti udang, membelakanginya. Punggung polos Ratna terlihat basah oleh keringat.


Aditya seketika beranjak berdiri. Menyadari tubuhnya telanjang dan ada sesuatu di bagian bawah tubuhnya. Sesuatu yang membuatnya merasa malu.


“Apa yang kamu lakukan, Ratna!” gerutunya kesal, tetapi jelas Ratna masih tertidur pulas dan tak mendengar gerutuannya.


Aditya segera membersihkan diri di kamar mandi. Lalu ia keluar memakai pakaian lengkap. Ia tak tahu harus membangunkan Ratna atau tidak. Tapi akhirnya ia tutupi saja tubuh bugil wanita itu dengan selimut.


Aditya melangkah ke balkon, merokok di udara malam yang dingin dan menyesali kecerobohannya. “Kurasa Ratna memberiku ‘obat’ seperti Sherly waktu itu!” bisiknya pada diri sendiri.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2