
“Putri Maut? Dari mana kau dengar nama itu, Dit?” tanya Guru Tanpa Nama heran.
“Dia datang semalam. Mau mencoba membunuhku, tapi gagal,” jawab Aditya.
Guru Tanpa Nama cuma melongo. Dia bilang, “Putri Maut itu pembunuh bayaran paling ditakuti di masanya dulu. Dia bahkan bisa membunuh tiga orang dalam semalam. Dan kau bisa lolos darinya? Di mana kau buang mayatnya?”
“Aku tidak membunuhnya, Pak Gandi. Kami malah merokok dan ngobrol bareng semalam,” jawab Aditya terkekeh.
“Oh, ya? Kok bisa?” tanya Guru Tanpa Nama masih belum hilang rasa kagetnya.
“Ternyata Pak Gandi tak terlalu tahu ‘banyak’ hal, ya. Tapi, asal Anda tahu, Pak, si Putri Maut itu ternyata ibu kandung dari Shelly D. Penyanyi papan atas yang naik daun itu, lho,” kata Aditya.
Guru Tanpa Nama hanya manggut-manggut. “Itulah salah satu kehebatan dia. Putri Maut bisa menyamar dengan sangat baik. Sampai sekarang tak banyak yang tahu siapa dia. Tapi jelas dia sering bekerja untuk Setiawan Budi.”
“Memang. Dan, dia bilang sesuatu soal Setiawan Budi. Dia bilang mafia itu kini sedang di ambang kebangkrutan. Lebih-lebih lagi belum lama ini orang kepercayaan dia sendiri mencuri uangnya,” kata Aditya.
Aditya harap mendapat respons bagus dari sang guru, tapi Rahman malah berkata, “Hati-hati, Dit. Jangan terlalu percaya ucapan si Putri Maut. Dia orang yang setia pada Setiawan Budi.”
“Kalau begitu, kenapa dia tidak membunuh saya?” kata Adit. “Kesempatan dia ada banyak semalam. Dia bisa saja pura-pura menyesal, lalu membunuh saya.”
“Yah, kurasa ada faktor lain. Tapi jangan asal percaya kata-kata wanita licik itu.”
Aditya tak tahu lagi harus bicara apa. Dia melepas kedua tamunya itu pergi setelah mereka membuat janji temu besok pagi.
***
Pagi yang mendung di sudut kota Bandung.
Ratna menunggu seseorang di meeting room di dalam gedung kantornya sendiri. Itu salah satu dari dua perusahaan baru yang ia dirikan belum lama sepeninggal sang kakek. Sebuah perusahaan advertising. Di tempat itu banyak anak muda modis yang lalu lalang. Sebuah tempat yang tak akan dicurigai oleh orang-orang Setiawan Budi.
“Ada apa ini?” tanya Ratna setelah ketika orang itu memasuki ruangan.
Mereka adalah Aditya, Rahman Sugandi alias Guru Tanpa Nama, dan Amy.
Mereka berjabat tangan.
“Aku tak tahu harus bilang apa,” bisik Aditya pada sang guru.
__ADS_1
Lelaki paruh baya itu malah senyum-senyum saja dan tak bisa berkata juga. Dengan kesal, Amy mengambil alih situasi.
“Kami datang ke sini untuk meminta bantuanmu,” katanya mantap. “Pada dasarnya, semua ini demi Aditya. Bukan begitu, Dit?” Amy melirik Aditya. Yang dilirik malah salah tingkah.
“Eh, iya. Benar itu,” kata Adit
“Bantuan apa? Soal keluarga bajingan itu?”
“Ya, kurang lebih begitu.”
“Ayo, katakan saja,” sahut Amy tak sabaran.
Tapi Aditya malah membisu. Lidahnya kelu, tak sanggup melontarkan kata-kata itu.
“Begini, Ratna. Kami punya rencana yang mungkin tak terdengar nyaman buatmu. Dan maaf, kami kira cuma itu jalan satu-satunya untuk membungkam Setiawan Budi,” kata Amy yang kini tampak kesal pada dua lelaki ini. Mereka sama sekali tak mampu bicara di depan Ratna.
“Ya? Katakan saja. Jangan bikin aku penasaran!” kata Ratna yang juga mulai tidak sabaran. “Katakan apa yang mesti aku lakukan?”
“Kamu menikah dengan Aditya,” jawab Guru Tanpa Nama yang kini terlihat jauh lebih tenang.
Kata-kata itu sungguh menusuk perasaan terdalam Ratna. Apa ini? Pernikahan? Ia? Sosok lelaki itu? Dirinya akan menikah dengan Aditya yang sepertinya tak bakalan bisa dimilikinya?
“Tidak, Ratna. Cuma masalahnya, pernikahan itu hanyalah sandiwara. Pura-pura,” jawab Aditya.
Ratna terlihat sangat marah. “Apa-apaan ini?!”
Aditya semakin salah tingkah. Ratna bangkit dari kursinya, akan pergi dari meeting room itu, tapi Aditya segera mencegatnya.
“Ini bukan ideku, Sumpah! Aku pikir ini juga tak mungkin kita lakukan. Aku bisa membatalkan rencana ini dan mengusir dua orang ini, tapi tolong kamu jangan marah, Ratna!” kata Aditya.
“Kamu kenapa sih, Dit?” potong Amy yang kemudian berdiri mendekati mereka.
“Kalian jangan kekanak-kanakan begini! Bukankah ini semua tentang nyawa? Aku tahu perasaanmu, Ratna. Aku tahu kamu sudah menyukai Aditya sejak lama. Dan apa kejutannya? Aku juga menyukai dia, tapi dia tak pernah mencintaiku,” terang Amy yang kini terlihat sangat tenang.
Aditya cuma bisa menunduk lemas.
“Ya, aku juga menyukainya. Lucu, ya? Berapa wanita yang menyukai dia di dunia ini? Kau pakai pelet apaan sih, Dit? Hahaha!” lanjut Amy mencoba mencairkan suasana.
__ADS_1
Tapi Ratna tak ikut tertawa.
“Baiklah. Ini serius. Kalian mungkin hanya bersandiwara, tapi semua ini demi apa yang terbaik. Setiawan Budi harus berhenti dengan segala ambisinya. Keluarga dan para anak buahnya juga harus berhenti. Kamu juga tak ingin Aditya mati, bukan?” kata Amy sambil menggenggam erat tangan Ratna.
Ratna tampak berpikir, dan akhirnya luluh juga. Ide ini mungkin terdengar sangat tak layak baginya. Ia merasa dimanfaatkan, tapi memang ia tak ingin Aditya mati begitu saja di tangan Setiawan Budi. Ia ingin Aditya tetap hidup sampai tua nanti.
“Aku setuju, tapi ada persyaratannya,” kata Ratna.
“Apa itu?” tanya mereka bertiga hampir bersamaan.
Ratna menunda melontar jawaban, melongok ke luar meeting room tersebut yang bertembokkan kaca tembus pandang. Di luar sana tampak lalu-lalang para pegawainya yang sibuk mengurusi tugas mereka masing-masing.
“Aku ingin pernikahan itu digelar dengan sangat mewah. Seperti pernikahan yang asli. Bukan palsu. Dan, seluruh keluargaku harus melihat ini bukan sandiwara. Kalian setuju?” kata Ratna, kali ini dengan tatapan mata tajam menusuk ke bola mata Aditya.
Aditya tak bisa menjawab.
Rahman Sugandi hanya mengangkat tangan, tanda menyepakati.
Amy Aurora cuma mengangkat bahu pelan.
“Dan, yang terakhir,” kata Ratna. “Aku dan Aditya hidup serumah. Seperti pasutri pada umumnya. Aku mau semua terlihat asli, dan hanya kita berempat yang melihat ini sebagai sandiwara.”
“Baiklah, apa lagi?” balas Aditya pasrah.
“Tidak. Sudah cukup. Aku hanya penasaran, apa yang Frita bakal katakan nanti, ya,” gumam Ratna terlihat senang. Seolah ia benaran menikah dengan Aditya.
“Dia tak akan tahu. Tak boleh tahu,” jawab Aditya tegas.
“Ya, ya. Terserah kamu saja, Dit.” sahut Ratna yang kini merasa menang. Sebuah rencana pribadi pun segera ia rancang dalam kepala.
Guru Tanpa Nama menegaskan satu hal: “Ingat, Ratna. Kalian hanya akan menikah sampai Setiawan Budi takluk. Entah bagaimana nanti. Kita lihat saja perkembangannya. Kemungkinan besar ia tak akan berani macam-macam setelah kalian menikah.”
“Yah, anak buahku banyak. Sangat banyak. Kalian tenang saja,” jawab Ratna. Dia lantas berbisik pada Aditya. Sebuah bisikan yang terdengar sangat nakal dan menggoda.
“Kenapa tidak dari awal saja memintaku begini? Aku akan dengan senang hati, asal kita bisa tidur berdua. Seperti apa yang mungkin sudah sering kamu lakukan bersama Frita,” katanya.
Aditya cuma bisa membalas tatapan Ratna itu dengan kesal.
__ADS_1
Bersambung....