
Aditya dan Diana menumpang mobil utusan Pandu Saputra, ayah Frita.
Ketika mobil akan melewati sebuah belokan, Diana bilang, “Saya turun di sini, Pak. Terima kasih ya.”
Mobil berhenti dan gadis itu melangkah keluar, di depan rumah kontrakannya. Lalu ia berbisik pada Aditya melalui jendela, “Kamu yakin gak terjadi apa-apa?”
Dua utusan Pandu hanya melirik satu sama lain dari bangku depan.
“Semua baik-baik saja. Kamu lanjutkan menulis. Tadi katamu ingin menyelesaikan sedikit lagi bagian naskahmu yang belum beres?” kata Aditya.
Mobil meninggalkan belokan di depan rumah itu, membuat Diana bertanya-tanya: siapa Pak Pandu itu? Siapa pula Frita? Mendadak saja ia merasa cemas. Padahal ia tahu Aditya bukan siapa-siapanya. Kenal saja baru sehari.
Mobil itu tentu tidak mengarah ke rumah Paman Salim. Waktu itu hari sudah sangat terik. Matahari bagai berada di puncak kepala. Aditya menyuruh kedua orang itu untuk membawa mereka ke tempat yang aman agar tidak dilihat warga.
“Sepertinya di sebelah sana lumayan sepi,” katanya pada utusan yang duduk di depan kemudi.
“Baik.”
Setelah mobil berhenti, Aditya memastikan dengan menoleh ke kanan dan kiri, jika tak ada seorang pun warga yang melihat ini. Ia tahu memang lokasi ini sepi sekali.
Lalu ia berkata, “Ada apa Frita? Apa keperluan Pak Pandu denganku? Oh, ya sebut dulu siapa nama kalian!” Aditya belum pernah melihat kedua anak buah Pandu ini.
“Begini, Dit. Saya Yusi dan dia Deri,” kata si utusan yang duduk di bangku kemudi sambil menunjuk rekannya. “Kami diminta Pak Pandu mencarimu sejak tujuh hari yang lalu, karena sesuatu terjadi pada Frita.”
“Kenapa dengan Frita?” tanya Aditya. Perasaannya mulai tidak enak. Dalam hati ia mengeluh, “Ya, aku bakal pergi sekali lagi dari sini. Kupikir semua ini sudah selesai!”
“Frita diculik,” kata Deri.
“Diculik?!” Aditya tidak kaget, hanya merasa kesal saja. Setelah ia baru saja pulang dari menyelamatkan seorang profesor yang diculik, kini ia harus berangkat lagi untuk menolong wanita yang lumayan dikenalnya baik itu juga diculik. Entah siapa pelakunya dan apa latar belakangnya. Aditya hanya merasa kesal saja.
“Siapa pelakunya?!”
“Itulah yang belum kami ketahui. Pak Pandu dan Bu Gina sudah mengerahkan apa pun cara, tapi hanya satu petunjuk yang didapat,” ucap Yusi, lalu merogoh sesuatu dari dalam saku jaketnya.
Yusi menyodorkan pin besi berukir gambar serigala di sana. Pin itu berwarna hitam kelam. Aditya belum tahu apa itu, tapi menurut Yusi dan Deri, itulah sesuatu yang Frita sempat renggut dari pakaian penculiknya.
__ADS_1
“Pelakunya pasti terkait dengan simbol serigala ini. Tetapi kami tidak tahu apa ini. Pak Pandu pikir hanya kamu dan rekan-rekanmu yang mungkin bisa membantu,” jelas Deri, lalu menatap Yusi.
Mereka menunggu apa yang dikatakan Aditya, tapi lelaki itu tak bicara apa-apa dan malah turun dari mobil.
“Apa ini artinya kamu tidak mau membantu, Aditya?” tanya Yusi dengan nada putus asa.
Deri berbisik pada rekannya itu, “Kalau memang dia nggak mau, baiknya langsung kabari Pak Pandu. Kita benar-benar kehabisan waktu!”
Yusi tampaknya tak sudi menyerah. Ia turun dan melangkah mengikuti Aditya yang berjalan melintasi perkebunan pisang untuk kembali ke jalan utama desa.
“Pandu Saputra tidak tahu aku sudah pensiun. Mungkin Komandan dan yang lain juga belum bilang. Tapi, kenapa pula mesti mengumumkan keputusanku pada keluarga Pandu?” kata Aditya pada dirinya sendiri, tapi kalimat itu didengar oleh Yusi.
“Jadi bagaimana?” tanya Yusi yang terlihat masih berharap.
“Kalian tunggu di sini dulu. Duduklah yang nyaman untuk satu jam ke depan. Aku butuh menyelesaikan sesuatu sebelum pergi,” jawab Aditya mantap.
“Baiklah. Pak Pandu akan senang menyambutmu di sana.”
***
“Sayangnya anak manja itu memang mencuri, Paman. Saya sudah ambil barang itu dari saku Dirga sambil meninjunya. Biar dia kapok,” kata Aditya.
“Apa-apaan kamu, Dit? Kamu bikin masalah, ya?!” bentak Paman Salim.
“Sudahlah, Paman Salim. Dirga dan teman-temannya toh mengakui sudah mencuri barang Diana itu. Apa lagi yang layak mereka dapatkan? Saya cuma memukul biasa saja dan itu tidak akan membuat masalah besar,” kata Aditya.
Aditya sadar ia harus pergi ke Bandung untuk menolong Frita. Jadi, demi jaga-jaga saja, ia terpikir sebuah ide untuk mengatasi Dirga selama ia ke Bandung. Tapi, sebelum itu, ia harus bicara dulu pada sang paman.
“Saya mau bicara, Paman. Ada sesuatu yang sangat penting dan mendadak,” kata Aditya dengan tampang serius.
Paman Salim masih kesal dengan sikapnya meninju Dirga tadi, tapi kini beliau pun penasaran, apa yang mau dibicarakan keponakannya?
“Saya harus pergi lagi selama beberapa hari?” kata Aditya hampir tak terdengar.
“Apa?!”
__ADS_1
“Pergi beberapa hari, Paman. Ada sesuatu yang darurat di Bandung. Anak bos saya lagi terkena masalah dan butuh bantuan saya.”
“Kamu baru aja datang, Dit! Sekarang malah pergi lagi! Sebenarnya apa yang kamu kerjakan di sana? Apa seorang satpam sepertimu harus menyelesaikan semua masalah bosnya?!”
Agak sulit juga menjelaskannya, tetapi Aditya terpaksa mengatakan begini: “Gadis itu sebenarnya pernah pacaran dengan saya, Paman. Itulah kenapa keluarganya butuh saya. Ada masalah yang harus dia hadapi.”
Antara kaget dan senang, Paman Salim menatap dalam-dalam wajah keponakannya ini. Dia bilang, “Oh, jadi itu pacarmu? Ada apa memang? Kenapa sampai butuh kamu datang segala?”
“Mantan pacar, Paman. Beda dengan pacar,” tukas Aditya. “Ya, saya sendiri belum tahu soal apa. Tapi sepertinya gawat. Anak buah bos saya sekarang menunggu di kebun Haji Asnan.” Ia terpaksa berbohong agar pamannya tidak cemas.
Setelah pembicaraan berlanjut selama kira-kira 10 menit, hanya agar Paman Salim lebih yakin lagi kalau Aditya pasti bakal kembali kemari, Aditya mulai mengemasi baju dan barang seadanya ke dalam koper. Ia memang tak menyangka bakal pergi untuk misi baru seperti ini, sekalipun misi itu datang bukan dari kemiliteran.
Aditya izin pergi ke kebun Haji Asnan untuk menjemput Yusi dan Deri ketika Diana tiba-tiba datang mengantar rantang lauk untuk makan malam Paman Salim. Diana heran melihat Aditya yang tergesa-gesa hingga tak sempat melihatnya datang.
“Pak Salim, apa yang terjadi sama Aditya?” tanyanya cemas.
Paman Salim hanya geleng-geleng kepala saja sambil duduk di kursi terasnya. Dia tak bisa bicara banyak selain berdoa semoga Aditya segera pulang.
“Segera pulang? Memangnya dia mau pergi lagi?” sahut Diana tak percaya. Ia tentu saja agak takut setelah kejadian dengan Dirga tadi siang. Kalau Aditya pergi, siapa yang akan melindunginya dan terutama Pak Salim?
Untunglah Aditya cepat datang bersama Yusi dan Deri. Mereka sudah bicara bertiga selagi di mobil tadi bahwa Deri akan ditinggal di desa ini untuk menemani Paman Salim dan menjaga Diana dari kelakuan Dirga yang mungkin sudah sakit hati.
“Lagian kamu kenapa juga harus memukul dia, Dit,” bisik Diana pada Aditya yang sudah siap membawa koper ke mobil bersama Yusi.
“Yah, aku sudah gak bisa menahan kesal melihat kelakuannya padamu. Maafkan, ya. Ada Deri di sini sampai aku balik beberapa hari lagi. Dia akan menjaga kalian,” kata Aditya.
Deri terlihat senang saja walau harus ditinggal. Sebab, selain Diana cantik, ia juga lumayan menikmati suasana pedesaan yang lama tidak dirasakannya. Deri bertubuh kekar dan kuat. Itulah kenapa Aditya tak ragu menyerahinya tugas menjaga pamannya dan Diana.
Deri sendiri tadi sudah memastikan, “Lima tahun saya jadi bodyguard-nya seorang selebriti terkenal, jadi kamu tenang saja. Saya sudah cukup pengalaman untuk menjaga siapa pun.”
Mobil berangkat setelah Paman dan Aditya berpelukan sebentar. Diana sebenarnya bisa saja pergi besok atau nanti malam, sebab naskahnya sudah kelar setelah ia berhasil membawa pulang flashdisk-nya tadi.
Hanya saja, dia mencemaskan Pak Salim. Dan, diam-diam, dia mengagumi sosok Aditya juga. Antara resah membiarkan diri tinggal di desa yang kini terasa tidak aman, dan keinginan mendalam untuk kembali menemui Aditya. Semua bercampur menjadi satu.
Bersambung...
__ADS_1