Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 246


__ADS_3

Guru Tanpa Nama lebih senang dipanggil Pak Gandi oleh orang-orang terdekatnya. Ia pun juga berprinsip begitu dulu ketika sempat menampung Aditya beberapa bulan di Surabaya dalam persembunyiannya.


Namun, ia tak keberatan ketika Amy Aurora menyebutnya Tukang Perintah. Ia suka kepada gadis cerdas itu. Ia bahkan menyayanginya seperti anak sendiri. Hanya karena Amy dan Aditya ditolongnya di masa yang berbeda, kedua ‘murid’ ini sama-sama saling tak kenal.


Maka, ketika Aditya dan Amy tiba, Rahman Sugandi menyambut mereka dengan ucapan, “Aku tak pernah menyangka kalian telah bertemu dan saling mengenal di dunia yang kejam dan penuh tipu daya ini.”


“Kami hidup dengan tipu daya, dan itulah sebabnya kami bisa saling kenal,” kata Aditya sambil melirik Amy Aurora.


“Seratus persen benar,” sahut Amy tak membantah Aditya.


Reuni ini benar-benar sangat canggung. Tapi Sang Guru Tanpa Nama adalah sosok orang yang hangat dan mudah mencairkan suasana. Maka, ia mendekati Aditya untuk memeluknya dengan erat.


“Apa kabar, Dit?”


“Baik. Pak Gandi sendiri?”


“Oh, sangat baik. Kuharap pertemuan seperti ini tak terjadi. Tapi, aku tidak tahu lagi harus minta bantuan pada siapa. Pencuri sialan itu butuh bertemu orang sepertimu, Aditya,” katanya.


“Baiklah. Saya siap mendengarkan.”


Pada saat itu, tayangan di televisi yang disetel oleh Rahman Sugandi menyiarkan berita terhangat tentang sebuah desa yang diserang oleh sesosok samurai. Lelaki yang rambutnya sudah memutih semuanya itu menyuruh Aditya dan Amy untuk duduk.


“Lihat,” katanya sambil menuding televisi tersebut. “Ini desamu, Dit? Kamu tahu apa yang membuat samurai gila itu menyerang kalian?”


“Dendam pribadinya karena orang yang dia hormati mati karena saya,” jawabnya singkat.


“Sebagian dari itu benar. Ada alasan lain yang belum kamu tahu. Tapi, kurasa kamu tidak ingin mendengarnya, ya?”


“Ya, lagi pula dia sudah mati,” tukas Aditya datar. Ia sesungguhnya tak pernah bisa yakin Rahman Sugandi hanya bergelut di bisnis barang antik dan membantu penegak hukum untuk meringkus para pencuri bahkan hingga level internasional. Ia mengira sang guru tanpa nama justru lebih dari ini.


Tapi, Aditya tak mengungkap pikirannya itu.

__ADS_1


Ia hanya bertanya-tanya, “Siapa sebenarnya kamu, wahai Pak Gandi?”


Rahman Sugandi sambil duduk di kursi terus saja mengoceh tentang sang samurai itu. Ia menyebut-nyebut samurai itu terkait kelompok lain, semacam pembunuh bayaran beregu yang bekerja pada seorang mafia di Jepang.


“Mungkin kamu juga pernah membuat masalah dengan mafia itu?” tanya Rahman Sugandi.


“Seingat saya tidak. Ia memang menyerang kami, tapi seorang diri. Dan alasannya hanya untuk seseorang yang sudah mati. Gunawan Mahdi. Anda tahu?”


“Ya, tahu. Awak media tidak tahu kematian Gunawan Mahdi dengan penyerangan desamu itu berhubungan, dan semua berkat Amy Aurora. Berterima kasihlah padanya,” kata Guru Tanpa Nama.


“Ya, aku cuma minta bantuan ke sana-sini. Ada banyak kenalan. Kamu tahu itu tak terlalu sulit,” kata Amy.


Aditya menatap Amy dengan lembut. Ia kini bisa jauh lebih tenang sekalipun harus pergi sekali lagi.


“Syukurlah jika mafia Jepang yang pernah kerja dengan samurai itu tak berurusan denganmu. Kukira jika itu terjadi, kamu harus waspada, Dit,” kata Rahman Sugandi.


Rahman Sugandi meminta mereka menemaninya makan. Waktu masih menunjuk pukul 3 dini hari. Jadi keduanya menolak.


Mereka terdiam beberapa saat.


“Kalau begitu, kamu bisa berkemas di kamar ujung itu, Dit. Ada perlengkapan dan koper, serta beberapa dokumen baru untukmu. Identitas baru agar Rai Siluman tidak menyadari siapa kamu,” kata Guru Tanpa Nama.


Aditya melangkah ke kamar tersebut, menemukan sebuah koper dan pakaian yang sederhana. Ia mandi terlebih dulu di kamar mandi di pojok ruang itu. Lalu mengganti pakaiannya. Perutnya yang tersayat sedikit oleh Yobu terasa nyeri. Tapi sudah terawat dengan baik oleh suster di rumah sakit. Ia pikir tak akan ada masalah.


Lima belas menit kemudian, setelah Rahman Sugandi berhasil memaksanya makan sebab perjalanan Aditya menemui makanan ‘normal’ cukup panjang setelah misi baru ini, mereka pun pergi ke penjara rahasia itu.


“Akan ada kepala sipir yang menunggumu,” kata Amy pada Aditya sewaktu mereka sudah menumpang mobil. “Dialah salah satu ‘temanku’ di penjara itu. Dia yang akan mengatur agar kamu bisa bersama Rai Siluman nanti.”


***


Perjalanan ke penjara itu ternyata tidak terlalu lama. Mereka menumpang sebuah helikopter, menuju ke perairan dalam di sebelah selatan Pulau Jawa. Ada sebuah pulau kecil yang di keempat sudut penjurunya memiliki tiang-tiang aneh berlampu.

__ADS_1


“Kita harus mendarat di bebatuan khusus yang ada di sebelah sana,” kata sang pilot tanpa diminta Aditya, seolah senjaga menjadi tour guide bagi penumpangnya kali ini.


Pilot itu menunjuk ke arah di bawah sana, dan diikuti oleh tatapan mata Aditya.


Aditya melihat tempat pendaratan khusus helikopter yang dibangun di atas bebatu karang. Untuk ke penjara itu, dari bebatuan itu mereka diantar oleh perahu motor yang dikemudikan seorang tentara.


“Ini penjara tersembunyi tempat Rai kini ditahan. Penjara untuk orang khusus yang ditakutkan akan kabur dengan mudah jika dipenjara di tempat biasa,” jelas Amy pada Aditya.


Aditya cuma mengangguk. Mengerti kalau penjara yang seperti ini bukan hanya ada satu saja. Cuma memang kebanyakan orang awam tak akan dan tak mungkin tahu. Penjara yang seperti ini biasa dijaga oleh militer dan pasukan khusus. Ternyata lokasi di mana Rai Siluman berada, berbeda dengan tempat di mana dulu Si Tua Leo ditahan.


Dalam waktu singkat, Aditya segera disambut sang kepala sipir yang bernama Jim Kristanto. Jim minta Aditya diantar ke ruangan khusus untuk mempersiapkan misinya kali ini. Saat itu juga Amy Aurora pamit pulang. Mereka berpelukan sebentar tanpa kata.


Di ruang itu, Aditya mengganti pakaiannya dengan baju narapidana dengan dilihat oleh Jim.


Dengan santai, Jim bertanya, “Kau tahu penjara macam apa ini?”


“Tempat orang-orang terkejam berkumpul?” tebak Aditya dengan tanpa menatap wajah Jim.


“Sayangnya bukan, Nak. Ini tempat kau diperlakukan dengan sangat keras. Tapi, di sini tak ada orang-orang brutal seperti di penjara lain di mana kau dulu pernah mendapat misi menipu Si Leo Tua.”


“Menarik. Jadi seperti apa penjara Anda, Pak Jim?”


“Penjaraku penuh para pendiam. Mereka berbuat kejahatan-kejahatan di luar nalar, kadang terkait nyawa, kadang harta yang jumlahnya tak akan pernah bisa kau sangka. Orang-orang bejat ini berpendidikan, dan tak pernah membuat kerusuhan di satu waktu dalam tempat macam ini.”


Aditya mengangguk dan kini selesai mengganti pakaiannya.


“Baiklah. Saya sungguh penasaran bagaimana sosok Rai Siluman itu? Sediam apa dia?”


“Nah, kau akan segera tahu,” tukas Jim dengan penuh semangat.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2