
“Silahkan duduk,” ucap Jimmy.
“Aku akan ikut memeriksa ke atas sebentar,” kata Arya sambil pergi.
“Coba ceritakan apa yang kamu ketahui dalam kejadian ini,” pinta Jimmy.
“Yang saya tahu malam ini kami janji berkumpul untuk makan-makan di restoran ini, kami hanya dikagetkan dengan salah satu teman kami yang terluka parah,” kata Aditya kemudian menjelaskan semua kronologisnya, tentunya dengan mengurangi peran dia sendiri dalam cerita itu.
“Lalu kenapa kalian tidak memutuskan untuk menelepon polisi sejak awal?”
“Mungkin itu salah satu kesalahan kami. Waktu itu kami takut jika menelepon polisi maka nyawa teman-teman kami yang entah di mana, malah berada dalam bahaya, terlebih kami pikir jika para penjahat terus mengawasi gerak gerik kami dari kamera CCTV.”
“Lain kali sebaiknya kalau ada kejadian seperti itu kalian lapor polisi terlebih dahulu.”
“Iya pak.”
“Aku sudah memeriksa kamera CCTV dan beberapa ruangan di restoran ini tapi tidak ada satupun barang bukti yang bisa ditemukan,” kata Arya yang datang menghampiri.
“Bukankah kamera CCTV nya aktif? Aku dengar tadi dari staff pengawas CCTV kalau kamera itu aktif, para penjahat juga terus mengawasi keadaan restoran dari sana.”
“Memang aktif, tapi entah kenapa kami tidak menemukan data rekamannya. rekaman CCTV hanya sampai sebelum para penjahat itu masuk ke dalam restoran dan menyekap para staff dan pelayan restoran.”
“Kelihatannya rencana mereka benar-benar sudah matang,” gumam Aditya.
“Aku ingin bertanya satu hal kepadamu, apa kamu tahu kenapa para penjahat itu mengincar kalian?” tanya Arya sambil duduk.
“Ya, sebab terlalu aneh jika niat mereka ingin merampok. Mereka terlihat dengan sengaja mempersiapkan ini semua untuk kedatangan kalian. Bahkan mereka juga menyiapkan pelayan dan chef yang bertugas untuk melayani kalian,” timpal Jimmy.
“Aku tidak tahu pasti, tapi aku berspekulasi jika ini ada kaitannya dengan kegiatan kami di perusahaan.”
“Maksudnya?”
“Maksudnya kami semua yang hadir di sini sering berkumpul di gedung bagian keamanan bahkan berlatih dan kadang ikut melaksanakan tugas keamanan bersama mereka. Aku rasa ada orang dari luar perusahaan yang pernah terganggu atau bagaimana hingga menaruh dendam kepada kami semua,” jelas Aditya. Jimmy dan Arya menatapnya tajam.
“Tapi kenapa mereka tidak langsung menghabisi kalian saja satu persatu? dengan begitu tidak perlu repot-repot mengurung kalian semua,” tanya Arya.
“Kemungkinan mereka berniat membuat kami tewas seakan-akan karena kecelakaan. Kebakaran atau karena menghirup gas yang bocor dan sebagainya. Jika mereka menghabisi kami satu persatu maka sama saja dengan mengundang para penyidik dari kepolisian untuk bergerak,” jawab Aditya.
“Ternyata pemikiranmu cukup tajam untuk seorang pegawai biasa,” puji Arya sambil tersenyum puas.
“Apa kamu pernah melihat wajah salah satu penjahat itu?” tanya Jimmy.
“Tidak, yang saya tahu mereka sekilas mengenakan pakaian serba hitam dan wajahnya tertutup topeng.”
__ADS_1
“Ada berapa jumlah mereka yang kamu lihat?”
“Saya tidak yakin karena suara mereka di samarkan. Tapi ketika saya menguping pembicaraan mereka kemungkinan ada empat laki-laki dan satu perempuan. Tapi katanya di lantai bawah juga ada satu orang.”
“Apa saja yang kamu dengar dari mereka?”
“Saya tidak tahu, hanya samar-samar saja. Terlebih saat itu saya dikeroyok dan benar-benar bingung. Yang bisa saya lakukan hanyalah melawan mereka sebisanya.”
“Kalau begitu sebaiknya kita segera pergi ke rumah sakit sekarang. Aku dengar ada korban lain di lantai dua selain dia ini, mungkin kita bisa mendapat info lebih darinya,” ucap Arya sambil pergi.
“Tunggu, aku ingin menanyakan satu hal kepadamu,” cegah Jimmy ketika Aditya hendak pergi.
“Apa pak?”
“Sebenarnya hubungan kamu dan Frita itu seperti apa?” tanya Jimmy dengan wajah serius.
“Saya hanya sopir pribadinya saja kok pak,” jawab Aditya tenang.
“Serius? Kok aku setiap ngelihat kalian itu rasanya hubungan kalian itu terlalu dekat jika sebagai sopir dan bos doang mah, terlebih kalian kan tinggal seatap,” kata Jimmy masih ragu. Aditya mendekati Jimmy lalu berbisik di telinganya.
“Saya sebenarnya ditugaskan oleh pak Pandu untuk terus menjaga Mbak Frita terutama dari orang-orang yang berniat buruk, karena itulah beliau ingin aku menjadi sopir dan berlatih bersama bagian keamanan. Pak Jimmy pasti tahu sendiri seperti apa rasa sayang pak Pandu kepada anak anaknya,” bisik Aditya.
“Apa itu benar?”
“Baiklah aku paham situasinya,” kata Jimmy sambil tersenyum senang.
“Kalau begitu boleh aku minta satu hal kepadamu, em-“
“Aditya pak.”
“Ya Aditya, saya ingin kamu menjadi mata-mata saya untuk Frita.”
“Untuk apa pak?”
“Saya ingin kamu memberi saya info tentang kegiatan Frita, makanan, film, dan berbagai hal kesukaannya dia. Saya juga ingin kamu mengawasi setiap pria yang dekat dengan Frita.”
“Beres deh pak. Sebagai info awal saya beritahu saja bahwa ada seorang pria yang mungkin bisa menjadi saingan pak Jimmy untuk merebut hati Mbak Frita.”
“Siapa?”
“Namanya Erik, dia putra Presdir Unesia Corp. dia bahkan sempat melamar Mbak Frita dulu.”
“Oh orang itu, kelihatannya dia bukan saingan berat, terlebih Frita sendiri kelihatannya tidak suka dengan dia.”
__ADS_1
“Jangan salah pak, kadang sifat meremehkan itu bisa menjadi penyesalan di kemudian hari loh.”
Jimmy hanya mengangguk paham. Mereka berdua kemudian saling menulis nomor telepon agar mudah dalam berkomunikasi. Jimmy terlihat semakin senang. Sedangkan Aditya sendiri mulai merasa lega karena bisa mempengaruhi Jimmy. Aditya mengikuti polisi untuk pergi ke rumah sakit. Dalam perjalanan Aditya tersenyum sendiri sambil chattingan dengan Frita.
***
Para pembunuh bayaran semakin jauh meninggalkan lokasi kejadian. Mereka terus memacu mobilnya dengan kecepatan penuh. Sementara A terlihat sudah tidak sadarkan diri karena lukanya cukup parah.
“Sebaiknya prioritas kita saat ini adalah membawa A ke rumah sakit, jika dibiarkan terlalu lama kemungkinan dia tidak akan selamat,” ucap E sambil membuka topengnya.
“Kenapa kalian bisa babak belur seperti ini? Bukankah kalian hanya melawan target saja!?” tanya F dengan penuh emosi.
“Dia bukan orang sembarangan F!” bentak E.
“Cih, bilang saja kalian sudah semakin lemah! Aku bahkan dikeroyok puluhan orang sendirian!” tegas F dengan penuh kebanggaan.
“Eh lu pikir lu bisa ngalahin target kita sendirian hah! Kemampuan lu bahkan di bawah gue!” bentak C.
“Sebaiknya kita jangan berdebat! Kita sendiri yang ceroboh mengambil tugas ini,” ucap D sambil menyetir.
“Padahal aku sangat ingin menyayat tubuhnya itu,” timpal B.
“Memangnya siapa target kita sebenarnya? Biar nanti gue sendirian yang menghabisinya, tapi bagian kalian juga bakalan gue ambil.”
“Ambil saja semuanya, gue sendiri lebih memilih tidak terlibat masalah dengan orang itu.”
“Siapa sih? Kok kalian jadi pengecut begitu.”
“Dia satu-satunya orang yang masih hidup dari unit pembunuh pertama yang pernah dibentuk pasukan khusus di militer, Belati Maut itu julukannya.”
“Apa?” gumam F, tubuhnya terlihat gemetar.
“Aku tidak menyangka akan bertemu dengan dia seperti saat ini. Keahliannya dalam membunuh benar-benar melegenda. Kita masih hidup setelah bertatap muka dengannya saja sudah beruntung.”
“Cih, bukankah sudah lama seharusnya dia pensiun?”
“Ya, kudengar setelah kejadian beberapa tahun yang lalu dia memutuskan untuk pensiun dari militer. Tak kusangka kemampuannya masih sangat terasah.”
“Lalu langkah apa yang akan kita ambil selanjutnya?”
“Sebaiknya kita segera pergi dari pulau jawa, tidak. Mungkin lebih baik kita segera pergi ke luar negeri untuk cari aman, aku yakin ada banyak mafia di luar sana yang mau menampung kita,” jawab E. semua orang di sana hanya mengangguk. Mereka lebih memilih untuk pergi menjauh agar tidak bertemu Aditya kembali.
BERSAMBUNG…
__ADS_1