Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 17


__ADS_3

“Kok dia di sini sih?” tanya Ellena kaget saat dia melihat sosok yang baru saja keluar dari mobil yang ada di depannya.


Ellena melihat ada Luna, wanita bergaun maroon di pesta Sean ada di sekolah ini. Dia datang dengan seorang gadis kecil dengan di antarkan seorang sopir. Wanita yang sangat tidak di sangka oleh Ellena kehadirannya di tempat ini.


“Kamu kenal sama dia, Ell?” tanya Siska.


“Hmm ... eh enggak, Bu. Cuma pernah ketemu aja,” jawab Ellena sedikit gugup.


“Anak itu sering banget ganggu Nathan kalo di sekolah. Bandel banget anaknya.”


“Anak itu? Itu kan cewek, Bu.”


“Iya ... namanya Aura. Dia emang di kenal bandel banget. Bukan cuma Nathan yang serinh dia gangguin, tapi yang lain juga suka di gangguin. Jahil banget anaknya.”


“Ya ampun, kok di diemin aja sih sama gurunya,” tanya Ellena penuh rasa khawatir.


“Udah kayanya, tapi kan dia orang kaya. Jadi mungkin dia berpengaruh di sini.”


“Aduuh ... lagi-lagi uang ga bisa di lawan.”


Ellena dan Siska segera masuk ke gedung sekolah. Mereka harus mencari Nathan yang tadi sudah berhambur masuk ke gedung sekolah bersama teman-temannya untuk menemui guru kelasnya.


Namun saat ada di gerbang kedua sekolah yang memisahkan gedung sekolah dan area parkir, Ellena berpapasan dengan Luna. Wanita itu tampak melihat juga ke arah Ellena bahkan sampai melepas kaca mata hitam yang bertengger di atas hidungnya.


“Kamu ... kamu yang ada di pesta Sean kan?” ucap Luna sambil melihat Ellena dari atas ke bawah.


“Iya, Bu. Maaf saya permisi duluan,” jawab Ellena malas untuk berbicara dengan Luna.


“Tunggu!” panggil Luna.


Luna mencari keberadaan Sean. Dia mengedarkan pandangannya ke sekitar sekolah dan tidak mendapati sosok Sean di sana. Luna merasa sedikit lega karena Sean tidak membohonginya saat tadi pagi pria itu mengatakan masih malas untuk bangun.


“Kamu kok bisa sekolahkan anak kamu di sini? Ini sekolah mahal dengan bayaran sekolah mahal. Sedangkan kamu ... bukannya kamu cuma pegawai rendahan di kantor Sean ya? Dapet uang dari mana kamu bisa sekolahkan anak kamu di sini? Kamu ga rau atasan kamu kan?” cibir Luna sambil melihat ke arah Ellena dari atas ke bawah.

__ADS_1


Luna melihat beberapa orang mulai melihat ke arahnya. Dia merasa tidak nyaman dengan apa yang dikatakan oleh Luna padanya. Tatapan orang-orang itu seolah sedang menantikan jawaban dari Luna.


“Maaf, Bu. Urusan menyekolahkan anak saya di mana itu urusan saya. Lagi pula saya bekerja dan saya masih bisa membiayai anak saya sekolah di sini,” jawab Ellena tegas.


“Kerja biasa di perusahaan gede berapa sih gajinya? Ga yakin itu mampu buat biaya hidup kamu juga. Apa kamu ga rayu atasan kamu buat tambahan?”


“Yang sopan kalo ngomong, Bu! Saya tidak serendah itu!” jawab Ellena disertai penegasan yang sangat kuat.


“Maaf, Bu. Jangan bikin keributan di sini. Mari kita dampingi anak-anak kita. Acara sebentar lagi akan di mulai,” ucap seorang guru yang kebetulan datang karena melihat ada yang sedang bersitegang di lingkungan sekolah.


Ellena yang mulai menyadari kalau dirinya terpancing dengan masalah yang dibuat oleh Luna. Ellena memilih untuk pergi terlebih dahulu meninggalkan Luna, dia tidak ingin dekat-dekat dengan wanita yang tidak dikenalnya itu tapi sudah benar-benar tidak sopan kepadanya.


Luna melihat Ellena sudah tidak sopan padanya. Bagaimana mungkin orang yang derajatnya lebih rendah bisa dengan seenaknya saja meninggalkan dirinya seperti itu. Luna sangat geram melihat Luna yang sepertinya juga sedang mendapat perhatian Sean.


Ellena mengikuti semua permainan yang di ikuti oleh Nathan, tentu saja dia tidak lupa mengambil foto dan video sang putra untuk momen itu. Ellena yang sudah mengenal beberapa wali murid di sana juga saling menyanjung anak-anak mereka.


“Bu Ell, ini Nathan ya saya perhatikan tiap hari kok makin ganteng aja lho.”


“Iya bener. Kulitnya itu kaya ga bisa item. Mana ini lih pipinya gembul banget jadi makin gemes. Padahal kan baru mau masuk SD ya, tapi udah bisa bikin kita suka sama dia.”


“Makasih ya semuanya. Jangankan Ibu sekalian, saya aja tiap hari jatuh cinta sama Nathan. Dia kalo bobo tuh makin ganteng. Makin gede makin ganteng, kaya Papanya,” ucap Ellena tanpa sadar.


“Papanya itu di tunjukin donk, Bu Ell. Masa disimpen aja.”


“Iya ... kasih liat fotonya lah.”


Ellena terdiam, dia menyadari kesalahannya tentang menyebutkan Papa Nathan. Selama ini dia menganggap Nathan tidak punya papa. Bahkan di akta kelahiran Nathan pun, dia harus menulis namanya sendiri. Ellena jadi sedikit sedih saat di mengingat hal ini lagi.


“Mama ... Nathan mau ikut tangkap ikan,” celetuk Nathan yang sedang sambil di suapi Siska.


“Mau ikutan. Minum dulu trus bersihkan mulutnya ya. Mama beresin ini dulu. Nanti mama nyusul ke sana,” jawab Ellena pada sang putra.


“Iya, Mama nanti lihat Nathan ambil ikan ya.”

__ADS_1


“Pasti jagoan. Nanti ikannya kita goreng ya.”


Nathan dan Siska pun meninggalkan Ellena dan beberapa Ibu yang masih menata bekal makanan mereka kembali. Setelah itu mereka semua akan ikut putra mereka ke kolam ikan yang siap untuk anak-anak tangkap.


Ellena melihat sosok Luna berdiri sedikit jauh dari pinggir kolam. Dia berdiri sambil memegang payung untuk melindungi tubuhnya dari sinar matahari. Ellena hanya tersenyum melihat keanehan yang di tunjukkan oleh Luna di antara semua orang.


Namun saat Ellena sedang asyik melihat keanehan Luna itu, tiba-tiba dia mendengar banyak suara teriakan memanggil nama Nathan. Mendengar nama anaknya di panggil Ellena reflek melihat ke arah kolam ikan yang airnya sudah sedikit di kuras itu.


“Ya Tuhan, Nathan!!”


Blug!


Blug!


Blug!!


Ellena segera menceburkan diri ke dalam kolam ikan setelah dia melihat putranya di ganggu oleh seorang gadis kecil, dia Aura anak Luna. Gadis itu mendorong Nathan ke belakang sampai membuat Nathan terjungkal dan hampir tenggelam. Melihat Nathan berusaha bangun dari kubangan air yang berlumpur, Aura malah melempar muka Nathan dengan lumpur dan mendorongnya lagi agar Nathan tenggelam.


“Jangan didorong! Ga boleh gitu!” ucap Ellena tegas sedikit membentak pada Aura sambil melangkah panjang untuk segera mengambil Nathan dam segera menggendongnya


Guru sekolah yang ikut ada di dalam segera menolong Nathan dan juga Aura. Aura sudah menangis kencang saat dia terjatuh, tapi Nathan tidak bergerak. Dia seperti sedang syok dengan kejadian tadi. Ellena menggendongnya dan menepuk-nepuk punggungnya. Akhirnya Nathan menangis juga.


Acara di kolam ikan dibubarkan setelah kejadian ini. Semua orang berkumpul untuk menjaga anaknya masing-masing. Termasuk dengan Ellena dan Siska yang masih berusaha menenangkan Nathan yang masih menangis. Ellena terus memangku Nathan sambil memeluk erat putra kesayangannya itu.


“Bu, Nathan gimana?” tanya salah satu guru sekolah Nathan.


“Dia ga papa. Kayanya masih kaget aja. Jadi dia masih nangis,” jawab Ellena sambil terisak.


“Apa perlu di bawa ke rumah sakit?”


“Ga usah, Bu. Saya mau coba tenangkan dia aja,” jawab Ellena sambil terus menggosok punggung Nathan.


“Heeh kamu!! Dasar orang miskin! Kamu udah berani celakai anak saya. Saya bakal tuntut kamu secara hukum!” ucap Luna sambil menunjuk ke arah Ellena.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2