Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 48


__ADS_3

Aditya pikir ini mungkin karena dia berani menggoda Ratna hingga orang-orang itu iri kepadanya. Beberapa kali tubuhnya terkena serangan dari lawan. Namun Aditya masih bisa mengimbangi mereka dengan kemampuannya. Vivi tampak sedang menghadapi beberapa orang saja. dia sendiri tampaknya bisa mengatasi mereka.


Namun jumlah mereka yang begitu banyak membuat mereka bertiga mulai kehilangan harapan. Sehebat apapun mereka tentunya masih memiliki keterbatasan energi. Aditya pikir situasi ini benar-benar buruk. Wajah marah Frita terbayang di benaknya. Mungkin saat ini Pandu dan Frita sedang cemas menunggu kedatangan Clarissa.


***


Di tempat lain tampak dua orang pria sedang duduk di kursi sambil mendengarkan musik yang sedang trending saat ini. Beberapa pria sangar juga berdiri di ruangan itu. Telepon di ruangan itu berdering. Seorang pria dengan luka di tangan kanannya menyuruh pria yang sedang berdiri untuk mengangkat telepon itu.


“Bos ada laporan penting dari anak buah kita,” kata pria yang menerima telepon.


“Laporan penting ya,” gumam pria yang memiliki luka di tangan kanannya itu sambil bangkit mendekati telepon.


“Ada apa?” tanya dia.


“Bos Adrian?”


“Ya.”


“Ini bos, ada balapan besar yang sedang berlangsung di wilayah kita.”


“Apa?! Siapa yang mengizinkan mereka melakukan balapan di sana?!” bentak Adrian.


“Kami tidak memberi mereka izin Bos. Kelihatannya polisi di wilayah ini juga sudah di suap agar tidak mengganggu jalannya balapan.”


“Keparat! Beraninya mereka melakukan balapan illegal di wilayah kita!”


“Maaf Bos. Saya benar-benar bersumpah tidka memberi mereka izin.”


“Kumpulkan semua orang di wilayah itu sekarang!”


“Baik Bos!”


Panggilan telepon diakhiri, tampak Adrian begitu kesal mendengar laporan dari anak buahnya. Dia tidak menyangka ada orang yang berani melakukan balapan besar tanpa izin dulu kepada mereka. Adrian mematikan musik di ruangan itu hingga pria lain yang sedang duduk menatapnya tajam. Pria itu tampak memiliki luka di pipi kanannya.


“Drian! Apa maksud lu matiin musiknya?” tanya pria itu tampak geram.


“Gua punya kabar yang lebih menarik, gua yakin lu akan ikut sama gua, Arfa,” jawab Adrian.


“Kabar seperti apa hah?!”

__ADS_1


“Aku mendapat laporan bahwa ada orang yang mengadakan balapan besar di wilayah kita seenaknya saja,” jelas Adrian.


“Maksudmu mereka tidak memnta persetujuan dari anak buah kita yang ada di wilayah itu?” tanya Arfa.


“Ya. Jadi kurasa seharusnya kita memberi mereka sedikit pelajaran!”


“Keparat! Mereka tidak tahu apa wilayah itu milik geng Gagak!” gerutu Arfa.


“Apa kita akan memberitahukan ini kepada Ketua dulu?” tanya Arfa.


“Tidak perlu, lagipula aku yakin Ketua tetap akan memerintahkan kita untuk memberikan pelajaran kepada mereka.”


“Aku ikut kalau begitu.”


Mereka berdua segera mengenakan jaket dengan gambar Gagak mengerikan di belakangnya, jaket itu sebagai identitas mereka. Setiap orang yang mengenakan jaket seperit itu akan ditakuti oleh seluruh preman dan warga Bandung. Geng Gagak adalah salah satu dari tiga geng besar yang ada di kota Bandung. Banyak wilayah yang mereka kuasai termasuk tempat balapan yang diikuri oleh Aditya.


Mereka berdua melangkah keluar menuju garasi. Mereka membawa mobil sport masing masing. Sembari berjalan menuju lokasi balapan mereka berniat untuk mengumpulkan para anggota geng Gagak sebanyak mungkin untuk memberi pelajaran kepada orang yang menyelenggarakan balapan illegal di wilayahnya.


“Kudengar ada laporan baru dari anak buah kita bahwa banyak pembalap liar terkenal yang mengikuti balapan itu,” kata Adrian lewat earphone.


“Begitu ya. Mungkin saja Mentarinya Bandung ikut juga balapan itu,” jawab Arfa.


“Aku hanya penasaran dengan kemampuannya balapan. Aku dengar selama ini dia belum pernah ada yang mengalahkannya dalam balapan.”


“Dasar maniak balapan. Aku lebih tertarik dengan orang yang berani mengadakan balapan di sana tanpa seizing kita.”


“Hal itu juga membuatku penasaran.”


“Aku sudah sabar melihatnya menangis dan babak belur meminta maaf kepada kita.”


Tampak mereka berdua tersenyum sambil terus menyetir menuju lokasi balapan. Di perjalanan mereka sudah berhasil mengajak lebih dari enam puluh orang untuk ikut pergi ke lokasi balapan illegal. Semua warga biasa yang melihat geng Gagak berkonvoi seperti itu di jalanan segera menyingkir karena ketakutan.


Adrian, Arfa beserta anak buah mereka yang ikut sudah sampai di jalanan yang tidak jauh dari lokasi balapan. Tampak di sana sudah berkumpul orang sebanyak tujuh puluhan. Jika di total maka geng Gagak yang berkumpul di sana sudah lebih dari seratus tiga puluhan. Adrian dan Arfa keluar dari mobil mendekati anak buahnya yang bertanggung jawab di lokasi itu.


“Kenapa lu sampai kecolongan seperti itu hah?!” bentak Arfa sambil menampar anak buahnya.


“Maaf Bos. Kami benar-benar kecolongan,” kata pria itu sambil berlutut meminta maaf.


“Lalu apa lu tahu siapa orang yang telah berani mengadakan balapan illegal di sini?” tanya Adrian.

__ADS_1


“Julukannya Mr. K Bos. Dia yang menyelenggarakan balapan di sini.”


“Apa lu tahu siapa saja yang ikut balapan?” tanya Arfa.


“Saya dengar banyak pembalap terkenal yang ikut balapan. Salah satunya adalah Mentarinya Bandung.”


“Begitu ya. Menarik.”


“Tapi saya dengar dia sudah dikalahkan oleh pembalap amatiran yang hebat.”


“Itu namanya bukan amatiran tolol!” bentak Arfa.


“Iya Bos maaf. Tapi itu yang saya dengar, soalnya penyelenggara juga tidak tahu siapa nama pria itu.”


Arfa tampak termenung. Dia tidak menyangka ada orang yang mendahuluinya mengalahkan Mentarinya Bandung. Dia semakin penasaran ingin melihat seperti apa pria yang mampu mengalahkan orang sehebat itu. Setelah bersiap, Adrian memimpin konvoi geng Gagak menuju lokasi balapan yang tidak jauh dari sana.


Di tempat balapan, Aditya tampak sudah kelelahan, begitu juga dengan Ratna dan Vivi. Melihat lawannya sudah kelelahan para preman itu malah semakin beringas maju menyerang. Namun dari kejauhan terdengar suara deru kendaraan banyak yang mendekat ke sana. Semua orang kaget termasuk Aditya. mereka melihat puluhan kendaraan datang ke sana. Dari atributnya tampak mereka merupakan salah satu geng besar Bandung.


“Geng Gagak?” gumam Aditya.


“Kenapa geng sebesar itu ada di sini?” gumam Ratna.


“Ada apa kak?” tanya Clarissa muncul dari dalam mobil.


“Entah. Tiba-tiba banyak kendaraan datang kemari,” jawab Vivi.


Arnold tampak mengintip dari kaca mobil. Konvoi kendaraan itu berhenti. Tampak ratusan orang muncul dan berjalan mengepung tempat itu. Clarissa, Arnold dan Vivi tampak ketakutan karena orang yang datang semakin banyak. Aditya dan Ratna hanya mernatap tajam ke arah mereka.


Adrian memerintahkan anak buahnya untuk menghabisi semua preman yang ada di sana. Sekejap saja suasana di sana semakin mencekam karena terdengar banyak jeritan, teriakan dan tangisan. Adrian juga menyuruh orang agar mencari dan membawa Mr. K ke hadapannya. Arfa dengan senang tampak menghajar para preman yang ada di hadapannya.


Kemampuan beladiri Arfa benar-benar luarbiasa. Dengan mudahnya beberapa preman dia tumbangkan hingga banyak yang menjerit. Suara tulang yang patah semakin banyak terdengar di lokasi itu. Tiba-tiba saja mata Arfa menatap tajam ke arah Ratna dan Aditya dia pun mendekati mereka. Clarissa dan yang lainnya tampak ketakutan melihat Arfa mendekat.


“Kak bagaimana ini?” kata Clarissa dengan wajah pucat. Karena takut, dia dan Vivi segera mendekati Aditya.


“Kita tenang saja dulu Ris. Yang penting kita jangan membuat mereka marah pasti kita akan baik-baik saja,” hibur Aditya sambil tersenyum.


“Kelihatannya Bos mereka malah datang ke arah kita,” ujar Ratna ketika melihat Arfa mendekat.


“Aduh aku nggak mau mati di sini kak,” rengek Clarissa sambil memeluk erat punggung Aditya.

__ADS_1


BERSAMBUNG…


__ADS_2