
Aditya akhirnya sampai di sebuah bangunan yang sering digunakan sebagai tempat pertemuan cadangan anggota geng Kujang. Di tempat itu hanya ada beberapa orang saja yang sedang berjaga. Aditya kemudian masuk ke ruangan Putra.
“Ternyata kalian baru selesai merenovasi bangunan ini ya?” tanya Aditya sambil duduk di kursi.
“Hahaha, tentu saja lah bos sudah berapa tahun bos tidak berkunjung ke sini. Mungkin jika bos mampir ke markas besar malah akan semakin kaget saja. Bisa-bisa bos ingin bergabung lagi.”
“Hahaha kalau masalah itu kemungkinan besar tidak mungkin walau tujuan kita memang masih sama. Mungkin kapan-kapan aku akan mampir ke sana.”
“Baguslah kami pasti akan mengadakan pesta penyambutan untuk bos. Btw kelihatannya bos tidak terluka sedikitpun,” puji Putra.
“Ya, Cuma lecet-lecet sedikit tadi pas melompat-lompat di pohon.”
“Lompat-lompat di pohon?”
“Iya, orang aku dikepung banyak orang bersenjata di bawah. Ya mau gimana lagi kalau bukan bersembunyi di atas.”
“Lalu apa yang bos dapatkan?”
“Aku berhasil memiliki bukti kuat untuk menghadapi William, tapi peran itu aku serahkan kepada polisi.”
“Sebenarnya ada apa dengan kendaraan bahan baku itu hingga William mempekerjakan banyak orang?”
“Sebenarnya isinya adalah berbagai jenis narkoba dalam jumlah yang banyak.”
“Pantas, jadi alasan dia menghubungi pasar gelap luar negeri itu untuk menyelundupkan narkoba ya.”
“Ya, walaupun sebenarnya sudah sejak lama dia berkecimpung dalam bisnis itu. Hanya saja kemungkinan yang sering datang ke pasar gelap adalah anak buahnya yang bernama Yana, sedangkan dirinya sendiri bersembunyi dengan rapi.”
“Apa bos juga akan menyeret dua orang lainnya dalam masalah ini?”
“Tidak, lebih tepatnya belum bisa. Mereka berdua terutama Jaya Sebastian kelihatannya masih susah untuk meringkusnya. Tapi tidak masalah juga soalnya sejauh ini mereka masih belum mencoba berbuat onar secara langsung. Mereka hanya memanfaatkan kesempatan yang ada untuk mengeruk keuntungan.”
“Maksud bos?”
“Dari informasi yang kamu dapatkan dan bukti yang kudengar. aku bisa sedikit memahami peran mereka berdua dalam masalah kali ini. Pertama, Daniel memang bermusuhan dengan William kemungkinan selain karena persaingan perusahaan, mereka bersaing dalam bisnis di pasar gelap.”
“Tapi kenapa mereka tiba-tiba jadi akrab?”
“Menurutku Daniel sudah sejak lama tahu watak William, dia sudah memperkirakan bahwa William akan mencoba menguasai perusahaan. Ketika dia tahu William mulai bertindak dengan segera dia memanfaatkan hal itu untuk memeras William dengan ancaman akan membeberkan identitasnya sebagai Bandar narkoba kepada para pemegang saham.”
“Aku paham, lalu hubungannya dengan Jaya bagaimana?”
“Aku yakin awalnya William juga bingung harus membuat langkah seperti apa, ketika melihat ada kesempatan menguasai perusahaan setelah Pak Pandu jarang datang ke kantor. Bagaimanapun jasa pak Pandu sangat besar hingga tidak mungkin para pemegang saham mau begitu saja menggantikan posisinya dengan orang yang belum jelas kualitasnya.”
__ADS_1
“Jadi karena itulah Jaya datang untuk menawarkan bantuan uangnya? Tapi apa keuntungan yang akan dia dapatkan?”
“Kamu benar aku yakin Jaya memainkan uangnya untuk mempengaruhi para pemegang saham. Dia sengaja melakukan itu karena masih kesal dengan insiden lamaran anaknya, Erik. Selain itu aku juga yakin dia akan mendapat keuntungan tambahan dari William meskipun saat ini aku masih belum yakin apa,” jawab Aditya sambil merenung.
“Besok senin kita hanya perlu menunggu pergerakan polisi saja, kita lihat apa langkah yang akan mereka ambil setelah menemukan narkoba itu,” tambah Aditya.
“Jadi begitu, btw soal masalah Erik, aku baru mendapat kabar dari anak buahku yang sedang mencari informasi di pasar gelap katanya Erik sudah lama berada di luar negeri.”
Aditya hanya mengangguk. Pikirannya kembali melayang untuk membuat simulasi kerjasama ketiga orang busuk itu, masih banyak hal yang belum bisa dia pahami termasuk proyek Jaya yang sedang membuat gudang yang akan digunakan oleh orang-orang di pasar gelap. Tiba-tiba seorang pria masuk.
“Nah ini orangnya yang sedang mencari informasi itu,” ucap Putra sambil menunjuk pria yang menghampiri mereka.
“Sebentar Put kenalanku memanggil,” kata Aditya sambil bangkit menerima panggilan Pandu.
“Ada apa pak?” sapa Aditya.
“Ini Dit..” jawab Pandu, namun ada suara kecil yang menyertai setiap kata-katanya.
“Sebentar pak, jangan bicara dulu,” ucap Aditya sambil memasang kupingnya tajam-tajam untuk mendengarkan suara samar apa yang terdengar tadi.
Aditya juga memberikan isyarat kepada Putra dan anak buahnya agar diam dahulu. Perlahan langkah Aditya mendekati anak buah Putra dengan wajah serius. Lalu tangannya menggeledah tubuh anak buah Putra. Sontak hal itu membuat Putra dan anak buahnya kaget namun Aditya membuat isyarat untuk tetap diam.
Perlahan Aditya mengangkat tangannya, jari tangannya terlihat memegang suatu benda berukuran sangat kecil. Wajah Aditya tiba-tiba berubah kesal lalu meremukkan benda yang dipegangnya.
“Maaf pak, nanti saya hubungi lagi,” kata Aditya.
“Oh iya, saya kemungkinan besok minggu baru pulang pak.”
“Iya Dit nggak masalah, yang penting kamu berhati-hati saja. Aku yakin kamu keluar kali ini bukan tanpa alasan.”
“Iya pak, terimakasih,” kata Aditya sambil mengakhiri panggilan.
“Kenapa bos?” tanya Putra heran karena Aditya terlihat begitu kesal.
“Kamu baru datang ke sini sehabis mencari informasi kan?” tanya Aditya kepada anak buah Putra.
“iya bos, memangnya kenapa?”
“Syukurlah. Aku tadi menemukan penyadap suara di balik bajumu.”
“Eh?” terlihat Putra dan anak buahnya kaget.
“Beruntung tadi kenalanku menelepon. Jika tidak mungkin banyak percakapan penting kita yang disadap oleh orang lain.”
__ADS_1
“Maksudnya siapa?” tanya Putra.
“Kok bisa ketahuan ada alat penyadap bos?” tanya anak buah Putra.
“Kamu ini begitu saj-“
“Sudahlah Put, biar aku jelaskan sedikit biar dia juga bisa berhati-hati kedepannya,” potong Aditya ketika Putra hendak marah.
“Jadi begini, beberapa alat penyadap suara eksternal alias bukan berupa software yang ditanam di ponsel. Biasanya bisa mengganggu pancaran gelombang komunikasi, tapi jika tidak jeli dan didengarkan baik-baik maka gangguan itu tidak akan dapat disadari. Kebetulan aku tadi menyadarinya,” jelas Aditya.
“Kebetulan katanya, orang bos mah sejak dulu juga memang orang yang jeli,” ucap Putra sambil tertawa.
“Maafkan saya bos. Jujur saya tidak sadar jika ada orang yang menempelkan alat seperti itu.”
“Baiklah, kamu bisa pergi,” jawab Putra.
“Menurut bos siapa orang yang menempelkan alat itu?”
“Entahlah karena banyak kemungkinan tersangkanya, tapi yang penting mulai saat ini kalian harus lebih waspada lagi, orang yang kita hadapi sekarang bukanlah musuh rendahan. Ada kemungkinan ini juga ulah para elit Black Mafia yang mulai mencurigai kalian.”
“Benar-benar merepotkan,” gumam Putra.
“Memang, tapi aku yakin sejak awal kamu bergabung dengan geng Kujang juga pasti sudah siap jika saat-saat seperti ini terjadi,” ucap Aditya sambil tersenyum.
“Ya, sudah sejak lama aku menantikannya,” jawab Putra dengan tenang.
***
Malam ini William terlihat begitu senang. Dia sedang berpesta dengan beberapa gadis dan anak buahnya di sebuah bar. Namun tiba-tiba saja wajahnya berubah murung ketika melihat Daniel bersama sekretarisnya datang ke ruangan bar itu.
“Wah wah, kalo lagi berpesta ngajak-ngajak napa. Kita kan sekarang sedang bekerjasama,” ujar Daniel.
“Cih, lu suka banget ganggu kebahagiaan orang, dasar tikus rendahan.”
“Aku selalu kesal kalau mendengar kata-kata itu dari mulut tikus buangan sepertimu.”
“Hahaha, tenang saja. Sebentar lagi lu nggak akan gue butuhin lagi. Jadi kita akan kembali seperti biasanya.”
“Percaya diri sekali. Memangnya sudah sejauh apa rencanamu hingga mulai berani berkata ingin memutuskan kerjasama denganku?”
“Sudah sangat jauh, besok senin tinggal langkah terakhirnya saja yang harus aku jalankan,” jawab William sambil tertawa kecil.
“Hati-hati biasanya orang yang terlalu percaya diri akan merasakan sakit yang lebih ketika terjatuh.”
__ADS_1
“Santai saja. Aku sudah merencanakan semuanya dengan matang sejak dulu. Jadi tidak mungkin akan gagal. Benar kan, Frita?” jawab William sambil melihat Foto Frita di layar ponselnya lalu tersenyum licik.
BERSAMBUNG…