
Aditya tertidur nyenyak selama berada dalam pesawat menuju Jakarta. Ia bermimpi saat itu. Seakan-akan dirinya kembali menjadi anak kecil yang berlarian di jalanan desa. Seakan semua itu terasa nyata. Aditya bahkan bisa menghirup aroma basah hujan saat di dalam mimpi itu.
Di mimpi itu, Aditya menemukan seseorang yang lama tidak dia jumpai. Dia seperti tak bisa menyebutkan nama orang itu, padahal masih menempel di ingatannya. Tepatnya lidahnya tak bisa berkata-kata.
Lelaki tua itu berkata, “Hanya akulah satu-satunya penghubung masa lalumu.”
Entah apa maksudnya. Ketika terbangun dari tidurnya, Aditya merasa panik sampai bangkit tergesa-gesa dari kurisnya dan mengurung diri di dalam toilet pesawat. Ulahnya itu membuat Nancy dan Rudi saling memandang keheranan.
“Dia kenapa sih?” tanya Rudi pada Nancy.
“Ya loe coba tanyain sendiri sana. Seperti baru saja mimpi buruk,” ujar Nancy.
“Ogah!”
“Apalagi gue!” balas Nancy dengan ketus.
“Orang seperti itu bisa mimpi buruk juga, ya?” balas Rudi sambil bercanda.
Aditya kembali lagi ke kursinya sebelum mulut Rudi kering oleh candaannya baru saja. Tapi Aditya seperti tak mendengar apa pun sebab terlalu sibuk berpikir. Dia duduk di dekat Nancy dan tak berkata apa-apa.
“Loe mimpi ya?” tanya Nancy.
“Ya.”
“Mungkin karena kurang istirahat.”
“Kita bisa minta libur panjang pada Komandan setelah ini,” potong Rudi yang tak terlalu mengamati ekspresi Aditya.
Nancy menendang pelan sepatu Rudi yang duduk di sisi satunya, memberi isyarat agar jangan banyak omong. Bukankah mereka sama tahu Aditya tadinya minta pensiun dini? Rudi tak bicara dan melakukan gerakan pelan seakan mengunci mulutnya sendiri.
Aditya tak menyahut. Dia terus memandangi keluar jendela pesawat. Tentu tak ada apa pun yang bisa dilihat di luar sana, kecuali langit. Hari itu langit benar-benar cerah. Aditya mulai bisa berpikir jernih setelah berdiam di toilet lima belas menit terakhir.
Mimpi itu tadi membuatnya terkenang pada sang paman. Berapa tahun ia pergi dari desa itu? Berapa lama ia memutuskan hubungan dengan satu-satunya keluarganya yang tersisa?
__ADS_1
Mendadak saja, setelah banyak hal berlalu, setelah segala misi yang membahayakan nyawanya itu, Aditya merindukan rumah. Benar-benar merindukannya. Ia berasa ingin kembali menjadi bocah kecil yang hidup tanpa beban di desa itu. Ia tak pernah bicara pada siapa pun tentang betapa jenuhnya hidup ini.
Mereka tiba di Soekarno-Hatta disambut oleh sejumlah rekan di kemiliteran dan entah tak tahu berapa banyak bunga-bunga yang dipajang dan barisan orang berseragam tentara di sana. Nancy sampai grogi karena tatapan banyak mata. Termasuk Profesor Joe yang penggugup.
Situasi itu membuat bingung para penumpang yang juga turun dari pesawat yang sama.
Seorang penjaga keamanan bilang, “Bapak dan Ibu sekalian tidak perlu cemas. Ini acara penyambutan rekan-rekan kami yang baru pulang tugas dari luar negeri!”
Para penumpang pun tidak lagi terlihat bingung. Tentu saja Malik tak bisa bilang ke orang-orang itu kalau Aditya dan kawan-kawannya belum lama ini berjasa besar bagi negara, sebab para pelaku misi tingkat-S tidak boleh bocor ke pihak mana pun.
Tampaknya cuma Rudi yang menikmati sambutan meriah yang sengaja direncana oleh Malik untuk menyambut pahlawan penyelamat harta karun nasional itu. Ia bahkan mencari-cari siapa tahu ada tentara wanita yang manis yang meminta selfie dengannya, seakan dirinya artis terkenal saja.
Aditya berbisik pada komandannya, begitu mereka turun dari pesawat dan saling berpelukan, “Ini terlalu berlebihan, Pak.”
“Malah kalian berhak mendapat lebih dari ini,” kata Malik.
Saat itu juga, dengan disaksikan banyak rekan tentara, Nancy melakukan gerakan hormat khas militer dan melapor kepada Komandan Malik bahwa misi tingkat-S mereka sukses. Seluruh pengorbanan yang terjadi tidak sia-sia. Semua itu berkat jasa dari seorang Aditya.
“Aku juga nggak bisa berbuat banyak kalau nggak ada kalian,” kata Aditya mulai merendah. “Amy Aurora juga banyak membantu.”
“Bagaimanapun, kaulah inti dari misi ini, Dit. Benar kata Nancy. Tanpa dirimu, tak akan ada yang bisa membawa pulang Profesor Joe,” kata Malik. Lalu ia berbalik badan dan menatap sang profesor yang menoleh ke sana kemari seperti orang tersesat.
“Apa kabar, Prof? Saya Malik, pimpinan pasukan khusus yang bertugas membawa Anda pulang. Bagaimana keadaan Anda sekarang?”
“Saya sehat-sehat saja. Terima kasih. Tapi, tolong bawa saya pulang. Saya benaran kangen istri dan anak!” tukas sang profesor.
“Baiklah, baiklah! Mari semuanya!”
Mereka pun pergi meninggalkan bandara setelah menanggapi beberapa pertanyaan singkat dari rekan-rekan tentara.
Mobil mereka langsung meluncur ke hotel, kecuali mobil untuk sang profesor yang langsung mengarah ke alamat rumah keduanya di Jakarta. Di sana telah menunggu istri dan anaknya.
Aditya mendapatkan kembali handphone miliknya dan pakaiannya sebelum ia pergi ke penjara rahasia sebagai pembunuh bayaran palsu. Malik menyerahkan barang-barang itu dalam sebuah tas.
__ADS_1
“Anda harus mempertimbangkan permintaan saya kali ini, Komandan,” kata Aditya tiba-tiba.
Komandan Malik sudah tahu ini bakal terjadi, tapi dia mencoba pura-pura tak paham maksudnya. “Apa maksudmu, Dit?”
“Permohonan pengunduran diri atau apa pun itu istilahnya. Saya ingin pulang dan hidup dengan tenang,” kata Aditya.
Malik tak bisa menjawab langsung.
“Misi tingkat-S kali ini berjalan lancar. Bukankah itu utang saya? Sudah saya bayar lunas, Komandan!”
“Aku mengerti, Dit. Tapi apa yang bakal kamu lakukan setelah berhenti dari militer? Hidup macam apa yang bakal kamu jalani?”
“Saya punya hidup yang kemungkinan berlangsung baik di desa asal saya.”
Malik sama sekali tak tahu dari mana asalnya Aditya, tapi dia tentu tak bisa berkata lagi, terutama tak bisa mencegah pemuda itu. Lagi pula ia sudah berjasa besar dan kini saatnya Aditya melakukan apa yang memang ingin ia lakukan.
“Baiklah,” kata Komandan Malik setelah berdiam beberapa menit. “Kamu bisa dan boleh berhenti. Kamu bisa menenangkan diri sesuai keinginanmu. Tapi, kita masih bisa mengobrol lagi kalau-kalau saya membutuhkanmu, bukan?”
“Tentu bisa, Pak. Anda bisa mencari saya di alamat yang akan saya tuliskan nanti. Yah, asal bukan untuk memberi saya misi baru saja.”
“Oh, tidak. Hanya bersilaturahmi tidak ada salahnya, bukan?”
Aditya menjabat tangan sang komandan dan mengucap terima kasih. Mereka tiba di hotel tak lama setelah jabat tangan itu kelar. Nancy memeluk Aditya dan meminta maaf atas ulahnya yang sempat bikin tegang waktu itu.
Aditya bilang, “Kalau memang masih mau menghajarku, boleh saja. Kutunggu di kamarku sampai besok pagi.”
“Kenapa besok?”
“Kan sudah kubilang pada komandan kalau besok pagi gue sudah cabut dari Jakarta dan pulang ke kampung!”
Rudi dan Malik hanya saling tatap, tak mengerti maksud perkataan mereka. Aditya dan Nancy jelas ogah menceritakan yang terjadi waktu itu di tempat Garry Lee hanya agar mereka lolos dari kecurigaan Si Tua Leo.
Bersambung...
__ADS_1