Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 304


__ADS_3

Brenda Sukma tak lagi bicara setelah mereka melaju beberapa menit kemudian. Dia menurunkan Aditya di tempat yang sama, di jalan sisi selatan rumah Pandu Saputra. Dia bilang pada Brenda, “Kita akan saling berkabar soal ini, Tante?”


“Ya,” jawab Brenda Sukma.


Shelly D masih terlihat shock dan tak berminat bicara apa pun pada Aditya. Gadis itu cuma meringkuk di bangku belakang mobil.


“Baiklah,” kata Aditya. “Kalian tinggal di mana?”


“Terpaksa harus pindah lagi. Untuk saat ini aku belum bisa memberimu tahu alamat kami. Nanti akan kutelepon mungkin,” kata Brenda.


Akhirnya Aditya melepas mereka pergi, dan kembali lagi ke dapur Pandu setelah ia melompati pagar belakang, melintasi taman luas di mana dulu Yusi dan Deri mengajari Paman Salim menaiki ATV.


Frita menyambutnya dengan heran di dapur, “Kamu ke mana aja, Mas? Ambil es batu kok lama.”


Aditya sulit mencari jawaban, jadi ia bilang saja seadanya: “Aku mulas barusan. Jadi ke WC dulu deh. Hehehe.”


Untunglah tadi Aditya memang memakan seblak yang lumayan pedas. Jadi itu bisa dia bikin sebagai alasan. Frita tak curiga. Hanya merasa aneh saja Aditya buang hajat di toilet luar di halaman belakang.


“Kan kamu bisa ke toilet dalam. Kok malah di luar?”


“Ya, kan kebeletnya pas di dapur sini,” jawab Aditya sambil terkekeh. Ia tentu tak ingin Frita dan semua orang yang hadir di sini menyadari bahaya lain yang mungkin saja mengincar mereka.


Frita cuma ber-oh pelan. Tak curiga sama sekali.


Aditya belum tahu secara pasti siapa itu Hestu. Dan, orang yang mungkin bisa dia mintai jawaban, hanyalah Guru Tanpa Nama.


***


Di sebuah restoran di puncak hotel berbintang.


Aditya menunggu seseorang itu datang. Sudah lima belas menit. Ia belum kunjung tiba. Padahal biasanya sosok itu datang begitu cepat, dan tak terduga.


“Maaf, Nak. Tadi ada sedikit kendala,” kata Guru Tanpa Nama yang mendadak saja muncul menjawil leher Aditya dari arah belakang.


Dia tak datang sendirian. Kali ini bersama seorang gadis usia dua puluhan awal. Aditya tak kenal gadis ini.


“Oh, ya. Kenalin dia Rinda. Muridku juga, tapi baru kali ini kami sempat ketemu. Sudah berapa lama ya, Rinda?” tutur Guru Tanpa Nama mencoba mengenalkan Aditya dengan gadis itu.


Rinda bilang, “Lima tahun.”

__ADS_1


“Nah, lima tahun kami enggak ketemu, Dit. Dan tahu-tahu dia ada di Bandung. Jadi kuputuskan mengajaknya jalan-jalan saja.”


Aditya menjabat tangan Rinda dan mereka saling tersenyum. Rinda jelas jauh lebih muda darinya maupun Amy Aurora. Entah Aditya belum menanyakan secara pasti siapa sebenarnya sosok sang guru ini. Apakah semacam tukang rekrut agen rahasia, atau apa? Aditya malas membahas itu.


Ia bertanya, “Di mana Amy?”


“Pergi. Entah dia pergi tanpa pamit. Aku butuh informan untuk jaga-jaga saja. Dia tahu itu. Tapi dia malah pergi!” jawab Guru Tanpa Nama.


“Dan saya menggantikan tugas Amy,” sela Rinda tanpa diminta menjelaskan.


“Nah. Dia enggak kalah pintar dari kalian, Dit. Mulai sekarang informasi soal Hestu akan datang darinya,” tukas Guru Tanpa Nama yang terlihat senang dan bangga.


“Sepenting itukah Hestu? Saya pikir dia cuma semacam ‘anjing’ penjaga saja,” ujar Aditya pelan.


Pelayan datang saat itu. Mereka seketika diam sejenak. Sang Guru Tanpa Nama dan Rinda memesan beberapa menu dengan santai. Aditya merasa tak lapar, jadi ia sekadar meminta minum saja.


“Kamu tidak makan?” tanya Guru Tanpa Nama.


“Tidak, Pak Gandi. Tadi sudah sarapan,” jawab Aditya.


“Ya, ampun. Aku hampir selalu lupa kalau kamu sudah beristri,” gumam lelaki tua itu.


Mereka diam sampai pelayan itu berlalu pergi.


“Oh, ya?” tanya Aditya seperti tak percaya. Penampilan Hestu memang tidak terlalu meyakinkan. Ternyata profilnya cukup berbahaya. Ia bahkan sampai kini dicari oleh interpol.


“Hestu sekadar salah satu nama palsunya. Nama julukannya entah ada berapa. Ada yang bilang dia Serigala Busuk, ada yang bilang dia Siluman Maut. Entah berapa lagi julukan yang Hestu dapatkan. Dia terlindungi karena kemampuannya membunuh,” jawab Guru Tanpa Nama.


“Rama dan Setiawan Budi mati di tangan dia?” tanya Aditya mencoba menebak saja.


“Tebakanmu memang benar. Siapa lagi, kan? Cuma Hestu tak bekerja sendiri.”


“Dengan siapa?” tanya Aditya.


“Itulah yang akan Rinda cari tahu.”


Guru Tanpa Nama merasa tak ada lagi yang bisa dikatakan, jadi mereka pindah ke topik yang seru dan menyenangkan. Aditya tak terlalu menanggapi obrolan seru kedua orang ini. Dia terus memikirkan apa yang kini dilakukan Hestu? Apakah dendam pribadi Setiawan Budi padanya akan dibalaskan juga oleh Hestu?


Aditya pikir, “Hestu mungkin merasa aku dan Frita bukan siapa-siapa baginya. Kan dia bunuh Setiawan Budi? Untuk apa juga dia membunuh musuh majikan yang telah dia bunuh?”

__ADS_1


Pikiran itu sedikit membuatnya tenang.


Dua orang pelayan datang, menyodorkan piring-piring pesanan dan minuman. Guru Tanpa Nama dan Rinda menikmati sajian resto hotel berbintang itu dengan santai selagi Aditya masih terus melamun.


Aditya tak sadar ponsel pintarnya berdering sejak dua menit yang lalu. Dia segera menyadari itu setelah mendengar seorang bocah berteriak senang karena mendapatkan kado ulang tahun dari sang mama. Bocah itu berada persis di seberang meja mereka.


“Yeah! Akhirnya aku dapat kado!” teriaknya, membuat seisi restoran menoleh pada si bocah.


Aditya segera bangkit berdiri, memberi isyarat tatapan pada sang guru untuk dapat menerima telepon di tempat yang lebih tenang. Rahman Sugandi mengangguk pendek.


Aditya berlalu dari ruangan itu, ke luar balkon di lantai ke sekian hotel mewah itu. Di telepon terdengar suara orang yang begitu asing di telinganya.


“Saya bicara dengan Aditya, bukan?” tanya orang itu.


“Ya. Benar. Saya Aditya. Saya bicara dengan siapa?” tanya Aditya.


“Oh, saya Hestu. Saya bukan siapa-siapa. Hanya pesuruh yang ingin mengundang Anda ke acara pemakaman Tuan Setiawan Budi besok sore,” jawab suara itu.


Aditya seketika terpaku. Ia tak menyangka orang yang mungkin mengancam nyawa dia dan keluarganya menelepon seperti ini.


“Oh, ya? Hmm, baiklah. Ya, ya, saya akan datang,” jawab Aditya singkat. Tak tahu kenapa ia malah menjawab begitu.


Aditya hanya berpikir untuk sesaat bahwa undangan Hestu barusan terdengar tak terlalu buruk di telinganya. Seperti undangan perdamaian saja. Tapi, apa benar?


Ia tak bicara apa pun pada sang guru begitu kembali ke mejanya.


Lalu Rahman Sugandi berkata di sela kegiatan asyiknya menyantap menu nikmat itu. “Kamu harus hati-hati, Dit. Hestu orang yang picik. Ajakan berdamai darinya yang kurasa bakal datang tak lama lagi, boleh jadi justru peringatan terakhir buatmu.”


“Begitu, ya?”


“Ya. Kau jangan percaya semua kata-kata baiknya,” tukas Guru Tanpa Nama.


“Barusan dia undang saya datang ke upacara pemakaman mantan majikannya,” ujar Aditya.


“Apa?! Kau bersedia datang?!” sahut Guru Tanpa Nama nyaris tersedak.


“Ya, saya bilang mau datang.”


Guru Tanpa Nama terlihat tak senang, tapi memang itu satu-satunya pilihan untuk Aditya. Ia pun berkata, “Ya, sudah. Nanti kita datang bertiga ke sana. Kau tak perlu ajak Frita atau keluargamu. Datang bertiga saja denganku dan Rinda.”

__ADS_1


Aditya mengangguk. Ia sangat penasaran apa yang bakalan terjadi di upacara yang harusnya sakral bagi para penjahat itu?


Bersambung.....


__ADS_2