Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 242


__ADS_3

Para warga berkerumun menyaksikan tiga orang terkapar tak berdaya, tetapi hanya dua di antara mereka yang bersimbah darah.


Ratna dan Takeshi Yobu terlihat seperti sudah tak bernyawa saja. Aditya cemas dan meminta Linda serta Nancy untuk membimbing Paman Salim ke dalam rumah karena beliau terlihat shock.


“Baskara, tolong telepon ambulans,” kata Aditya kemudian.


Ternyata Ratna masih bernapas, meski kemungkinan besar ia bakal tak selamat. Itu tak bisa Aditya pastikan. Ia hanya berusaha semampu mungkin untuk menahan aliran darah agar tak memancar terlalu banyak dari perut Ratna yang tertusuk samurai.


Ambulans yang memang sejak awal siaga tak jauh dari desa itu, karena rumor sang pembunuh atau pemburu (atau apa pun julukan yang disematkan pada sang samurai itu) sudah pergi, ternyata salah.


Maka, cepat saja ambulans tiba di halaman rumah Paman Salim.


Suara sirenenya memekakkan telinga.


“Awas, awas! Bapak, ibu, mas, mbak, semuanya! Tolong beri saya jalan!” teriak si sopir ambulans yang berbadan bongsor.


Orang-orang pun memberikan jalan agar ambulnas yang berisi beberapa orang perawat itu bisa segera mengevakuasi Ratna, sosok gadis kota yang pernah mereka lihat waktu Pak Lurah diciduk dulu, serta yang malam ini membantu mereka menumpas sang samurai.


Tentunya warga sangat penasaran dengan wajah Takeshi Yobu yang saat itu masih bertopeng. Mereka segera membukanya. Terlihatlah mata melotot si tukang bantai yang entah bekerja untuk siapa dan demi apa.


“Oh, jadi ini orang yang membunuh keluarga dan teman-teman kita?” kata seorang warga dengan kesal.


Lalu dia menendang tubuh tak bernyawa Takeshi Yobu.


“Bajingan!” sahut warga yang lain, tak kalah geram dan ikutan menendang perut si samurai yang sudah tak bergerak lagi itu.


“Orang macam ini pantasnya dibuang ke jurang saja!” tukas warga yang lain lagi.


Banyak warga yang mengikuti tingkah mereka. Entah berapa jenis umpatan yang mereka lontarkan pada Takeshi Yobu dan entah juga berapa tendangan yang melayang ke tubuh si samurai. Teo dan Charlie sia-sia saja mencoba membuat warga tenang.


“Dia sudah membuat desa ini berduka, Mas! Dia pantas disiksa, bahkan setelah dia mati begini!” sembur seorang warga yang terlihat terbakar emosi.

__ADS_1


“Tapi, percuma juga, Pak. Toh dia juga sudah mati,” kata Teo dengan kesal.


Nancy melangkah keluar dan membantu menenangkan warga.


Ia bilang, “Tolonglah, Pak, Mas. Biarkan kami menyelidiki dulu siapa orang yang menyuruh penjahat gila ini untuk datang ke sini dan membuat masalah. Kalau mayatnya rusak, bagaimana kami bisa tahu dia siapa?”


Ucapan itu rupanya berpengaruh juga. Para warga saling tatap dan mengangguk. Lalu mereka mundur menjauhi mayat Takeshi Yobu sampai para polisi datang.


Pada saat itu, Aditya sudah berada di dalam ambulans bersama Ratna, Yusi, dan Baskara. Sisanya tak ikut karena menjaga Paman Salim dan memastikan agar warga tak kembali marah pada mayat Takeshi Yobu.


Di rumah sakit, Aditya tak bisa berbuat banyak ketika pihak rumah sakit meminta untuk mengisi dokumen milik Ratna yang akan dioperasi. Ia tak tahu harus mengisinya dengan apa.


Yusi bilang, “Bukankah itu sahabat dekatmu? Ya, sudah tulis saja seadanya.”


Aditya bisa saja mengarang alasan kenapa Ratna bisa terluka begitu, tapi itu jelas tak perlu. Kini awak media sudah meluncur ke Desa Sumber Kencana untuk meliput berita matinya seorang samurai yang sudah membantai banyak warga.


Berita itu bahkan sudah muncul di TV dini hari berikutnya, ketika Aditya terduduk sambil menahan kantuk di ruang tunggu bersama Yusi dan Baskara. Tampak halaman depan rumah Paman Salim disorot oleh kamera TV dari dalam helikopter. Terlihat juga mayat Takeshi Yobu diusung ke dalam ambulans setelah dimasukkan ke kantong mayat.


“Ya,” kata Aditya.


“Dan orang segera bertanya-tanya untuk apa samurai itu membantai warga desa,” sahut Yusi lagi.


Aditya tampak termenung. Beberapa jam lalu sesaat setelah Ratna masuk ke ruang operasi, Aditya mendapatkan info terbaru dari Baskara yang berhasil melacak jejak sang samurai. Ternyata ia adalah sosok yang terkait dengan Gunawan Mahdi.


“Kalau media tahu Gunawan Mahdi, sang mafia narkoba internasional itu, mati di tangan kita, entah apa lagi yang bisa kita lakukan,” kata Aditya pada Baskara yang juga tak tahu harus bilang apa.


Jelas saja mereka bakal ketahuan, karena sang samurai secara spesifik menyerang Paman Salim semalam, dan siapa lagi yang dekat dengan lelaki tua itu selain Aditya? Ini membuat Aditya pusing.


Ia segera teringat Frita yang menunggu dengan cemas di Bandung sana. Teringat impiannya untuk ‘pensiun’ di usia yang terbilang sangat muda demi sebuah kedamaian.


“Kalau mereka tahu pamanku, otomatis orang juga akan tahu siapa calon istriku. Di luar sana, jujur saja, musuhku sangat banyak,” kata Aditya pada Yusi.

__ADS_1


“Mari kita berharap tak terjadi sesuatu yang buruk,” tukas Yusi mencoba membuat Aditya tenang.


***


Subuh itu juga akhirnya polisi yang semalam sibuk mengurus TKP dan jasad sang samurai, menemui Aditya di ruang tunggu rumah sakit setempat.


Aditya bilang, “Saya harus menemui seseorang.”


Beberapa petugas kepolisian lantas mengajak Aditya berjalan menjauh, ke lorong rumah sakit, dan mereka bicara dengan sangat pelan. Membuat Yusi sangat penasaran dan bertanya-tanya apa yang sedang mereka bicarakan?


Aditya berbisik pada seorang petugas, “Anda harus mengantar saya ke alamat yang tertera di sini.”


“Untuk apa?”


Aditya terlihat menjelaskan dengan sangat serius. Dan para polisi itu mengangguk, tak lagi bertanya-tanya.


***


Yusi tak tahu beberapa menit lalu Aditya kembali mendapatkan kabar. Sebuah kabar yang bukan hanya mengejutkan Aditya sendiri, melainkan juga mungkin Frita dan setiap orang yang mengenal Aditya.


Kabar itu datang dari seorang pria lima puluh tahunan, bernama Rahman Sugandi. Dulu Aditya mengenalnya ketika sempat bertualang ke berbagai kota semasa ia belum bergabung ke kemiliteran.


Rahman Sugandi kolektor benda seni yang punya banyak koneksi di seluruh dunia, mulai dari pejabat bersih hingga pejabat korup, para penegak hukum kelas teri hingga level tertinggi, serta setiap penjahat yang mungkin pernah mencoba berurusan dengan pasar gelap di mana barang-barang seni langka diperjual-belikan.


Kabar itu berupa pesan teks singkat berbunyi:


Aditya, inilah saatnya kamu membayar janjimu beberapa tahun lalu.


Sejujurnya Aditya hampir melupakan itu. Tapi nama Rahman Sugandi, yang tidak pernah disebut-sebut dalam obrolan biasa selain dijuluki “Guru Tanpa Nama” tak akan pernah hilang dari ingatannya.


Aditya tahu, jika sang Guru Tanpa Nama ini mengiriminya pesan, artinya ia harus berangkat. Berangkat untuk sebuah misi yang baru.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2