Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 300


__ADS_3

Beberapa hari sebelumnya ...


Setiawan Budi terlihat menjauh dari kerumunan pesta pernikahan itu.


“Anda kenapa kemari, Tuan? Ada Pak Bambang dan Pak Yanto di sana. Mungkin Tuan Budi bisa menyapa mereka,” bisik Hestu sambil menunjuk dua orang politikus di tengah ruang pesta.


“Gue tetap di sini saja,” kata Setiawan Budi dengan muak.


Hestu cuma menunduk dan berlalu dari situ. Entah ke mana. Setiawan Budi sudah tidak peduli pada ‘anjingnya’ yang satu itu. Sosok ‘anjing’ penjaga yang belakangan ini mulai sering lancang memberinya saran-saran dan masukan tanpa diminta. Sosok ‘anjing’ penjaga yang sepertinya sudah tak berguna.


Di dekatnya, berdiri Rama Subandi, yang juga tidak ingin bicara banyak. Baru saja Rama mendapatkan perintah dari Setiawan Budi untuk mengancam ayahnya sendiri.


“Dia harus menyetorkan uang yang sudah gue sebutkan jumlahnya,” kata Setiawan Budi pada Rama.


“Kalau Ayah menolak?” tanya Rama dengan cemas.


“Paksa dia! Berapa kali harus gue ajarin hal-hal sederhana yang harusnya kalian bisa cari tahu sendiri! Kalian itu ... loe, Reza, Herman, dan lain-lain, masih muda tetapi goblok semua!” geram Setiawan Budi.


Rama cuma mengangguk, sambil menunduk patuh.


“Kalau bisa, loe bunuh bapak loe sendiri juga enggak masalah,” kata Setiawan Budi setelah diam beberapa saat.


Rama tak berani membantah, meski terkejut juga. Kondisi keuangan Setiawan Budi kini memang anjlok drastis setelah ‘dirampok’ diam-diam oleh orang dalamnya sendiri. Seorang pengkhianat yang tidak bisa dilacak oleh beberapa ahli IT yang kini sudah dia bunuh tanpa sisa.


Maka, Setiawan Budi memeras setiap politikus dan pengusaha yang terkait dengan dirinya, yang selama ini dibantu olehnya, ‘dilindungi’ olehnya dari segala permasalahan hukum dan para musuh.


***


Suatu hari Setiawan Budi menyuruh Hestu membereskan semua itu.


“Loe datangi mereka. Kalau menolak, loe bunuh saja,” katanya.


“Saya bisa bunuh Aditya dengan tangan saya sendiri,” sahut Hestu.


“Tidak. Gue tidak mau loe yang eksekusi Aditya,” tukas Setiawan Budi.


“Kenapa?”


“Karena loe terlalu kasar! Gue mau Aditya mati dengan perlahan, dengan tersiksa lebih dulu! Bukan seperti cara loe yang main tembak kepala orang tanpa membuatnya belajar!” kata Setiawan Budi dengan geram.


“Tapi pada akhirnya mereka juga belajar, Tuan. Mereka belajar setelah jadi arwah penasaran!” bantah Hestu.

__ADS_1


“Goblok! Apa gunanya membunuh orang, tanpa membuat mental dan fisik mereka kesakitan? Gue mau orang lain yang gue percaya untuk bunuh Aditya itu. Dan gue ada kenalan lama. Kerjaan loe urusin semua pengusaha dan politikus itu saja!” bentak sang bos mafia.


Hestu tampak penasaran. “Siapa pembunuh kenalan lama Tuan itu?”


“Putri Maut. Biar dia yang siksa Aditya sampai mati dengan cara yang paling baik,” katanya.


Ya, tentu saat itu Putri Maut alias Brenda Sukma batal membunuh Aditya. Dan ini membuat Hestu merasa mendapat peluang. Tapi ia belum juga diberi kepercayaan untuk mengeksekusi Aditya.


Setiawan Budi bilang, “Loe pastikan dulu para politikus yang tak menurut itu mati dengan cara yang gue inginkan. Baru setelah itu gue serahin Aditya ke tangan loe.”


“Baiklah, Tuan. Saya akan buktikan,.” balas Hestu semangat merespons tantangan dari sang tuan.


***


“Bagaimanapun, kalian berutang banyak pada dia,” kata Hestu di hari yang lain.


Itu saat dia mendatangi seorang pengusaha di Jakarta, yang sering dibantu Setiawan Budi, meski lama tak bertemu.


Pengusaha itu diminta menyetor uang pada sang mafia itu demi membangkitkan lagi kekuatannya yang mulai rapuh.


“Saya bakal dapat apa?” kata si pengusaha.


“Dapat perlindungan,” balas Hestu.


“Brengsek,” gumam Hestu pendek. “Dia bisa melakukan apa pun yang dia ingin!”


Hestu segera menembak jidat orang itu. Sebuah tembakan seketika yang, menurut Setiawan Budi, tak memberi pengusaha itu pelajaran.


Beberapa kematian politikus dan pengusaha lain juga dikabarkan tak lama setelah itu. Setiawan Budi belum merasa Hestu layak menuruti keinginannya membunuh sosok Aditya.


Setiawan Budi malah berkata, “Loe goblok dan akan selalu goblok, Hestu! Kalau begini caranya, biar nanti gue tunggu kesempatan! Gue sendiri yang bakal siksa bocah itu sampai mati!”


Hestu diam-diam sakit hati atas ketidakpercayaan dari sang tuan. Tapi tentunya dia diam saja.


***


Di pesta pernikahan Aditya dan Ratna, Hestu juga lebih memilih menjauh dari sang tuan. Ia malah mengobrol dengan sejumlah orang di luar kerumunan pesta. Orang-orang yang tak pernah dikenal Setiawan Budi. Orang-orang berjas rapi, tapi bertampang liar seperti penghuni rimba.


Orang-orang itu mendengar bisikan Hestu, “Kalian seret dia ke tempat sepi. Bikin seolah-olah dirampok.”


Sosok yang terlihat jauh lebih ‘bersih’ dan tampan, muncul dari balik tembok toilet. Sosok tampan itu bernama Nino Darsono. Seorang kenalan lama Hestu saat ditahan di sebuah penjara.

__ADS_1


Nino-lah yang membawa orang-orang liar itu kemari.


Nino bilang, “Siapa korbannya?”


“Rama Subandi,” jawab Hestu.


“Berani berapa loe bayar gue?” tanya Nino.


“Sejumlah yang loe minta waktu itu,” kata Hestu sambil menunjukkan layar ponsel pintarnya, dan mengirim sejumlah uang elektrik ke rekening Nino detik itu juga.


“Loe boleh juga, Hestu,” puji Nino. “Uang dari mana sebanyak itu bisa loe dapat?”


“Itu bukan urusan loe. Sikat saja bocah tengil itu,” balas Hestu segera berlalu dari sana.


Ya, itulah malam di saat Rama Subandi ditemukan mati tak jauh dari area parkir di seberang gedung pesta.


Mati seolah sebagai korban perampokan.


Setiawan Budi geram, heran, bingung, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Ia sama sekali tak menaruh curiga kepada Hestu. Termasuk tak pernah menyangka bahwa pengkhianat itu kini sedang berlagak seolah menjadi ‘anjingnya’ yang paling setia, padahal diam- diam membawa duri untuknya.


“Sudah saya bilang sebaiknya saya bunuh saja Aditya itu,” kata Hestu. “Saya bisa cepat membuatnya mati.”


“Loe pikir kematian Rama karena ulah dia?!” sahut Setiawan Budi.


“Memang ulah dia, Tuan. Siapa lagi musuh kita saat ini?” kata Hestu.


“Brengsek! Memang benar mungkin itu ulah Aditya,” sahut Setiawan Budi mulai terpengaruh hasutan Hestu. Namun ia tampak berpikir. Bukannya segera memberikan Hestu perintah.


“Bagaimana, Tuan?” Suara Hestu memecah keheningan.


“Tunggu sampai ‘upeti’ itu terpenuhi. Gue masih butuh dana sebanyak yang sudah gue targetkan.”


“Sampai kapan?” tanya Hestu tak sabaran.


“Sampai loe bisa mengancam semua orang-orang yang sudah gue bantu!”


Hestu memohon izin berlalu dari ruangan itu. Dia terlalu kesal. Terlalu tak sabaran ingin segera menuntaskan nyawa Aditya. Tampaknya sang tuannya terlihat ragu setelah Aditya menikah dengan Ratna.


Bagi Hestu, kekuatan keluarga Ratna bukanlah masalah. Dia bisa membunuh siapa pun kalau dia mau. Dengan cara Setiawan Budi yang mulai lamban ini, bisa-bisa semua kesempatan itu hilang. Bisa-bisa kelak Hestu akan merangkak pada Aditya, memohon untuk dijadikan ‘anjingnya’.


“Ini tidak bisa dibiarkan,” gerutu Hestu malam itu.

__ADS_1


Lalu ia pun berbalik, menghunus sebilah pisau lipat dari balik jasnya. Dan berjalan ke ruangan sang tuan. Berjalan dengan amat tenang, tak menimbulkan suara. Itu malam yang benar-benar bermakna bagi hidup Hestu.


Bersambung....


__ADS_2