
Ellena menoleh ke arah Sean yang saat ini ada di balik kemudi. Dia melihat pemuda itu menyetir dengan sangat serius bahkan tidak menoleh ke arahnya sedikitpun. Sorot mata Sean sangat tajam berbeda dengan saat dia memberikan air kepadanya tadi.
Ellena tidak berani bertanya. Dia hanya duduk diam di samping Sean dan sambil memegangi botol minum yang ada di tangannya. Tatapannya lurus ke depan dan dia tidak tahu ke mana Sean akan membawanya.
Sean membawa Ellena masuk ke dalam jalan tol. Lagi-lagi Ellena melihat ke arah Sean tapi apa yang dia lihat tetap sama. Sean tidak berekspresi apa pun bahkan hanya untuk sedikit melihatnya. Ellena masih takut untuk bertanya pada pemuda di sampingnya itu.
‘Ya ampun ini mau ke mana sih? Kan aku harus pulang juga. Masa iya dia mau culik aku,' ucap Ellena dalam hati sambil menunduk melihat ke arah bawah.
‘Astaga, aku cuma pake baju tidur sama sendal jepit doank? Ya ampuun ... aku bener-bener kaya babu dia aja,’ ucap Ellena sambil sibuk merutuki dirinya sendiri.
Ellena membenturkan kepalanya beberapa kali ke kaca jendela pintu secara pelan-pelan saat dia menyesali pakaian yang dia kenakan saat ini. Dia sudah menyangka sepertinya Sean akan membawa dia ke luar kota. Petunjuk arah itu mengatakan demikan.
“Kenapa kamu? Pusing?” tanya Sean yang sepertinya mendengar suara benturan di kaca mobil.
“Hmm ... eh enggak kok. Saya ga papa. Tapi kita mau ke mana?” tanya Ellena memanfaatkan kesempatan.
“Ke tempat yang cuma ada kita berdua.”
“Haah!! Di mana itu?" tanya Ellena sedikit kaget.
“Ga usah banyak nanya.”
Ellena kembali terdiam. Dia kembali menatap lurus ke depan seperti yang di lakukan oleh Sean saat ini. Dia berusaha untuk menurut saja dari pada dia nanti menantang bahaya.
Derrrtt
Terdengar suara getar ponsel yang ada di dashboard mobil. Sepertinya ada seseorang yang menghubungi Sean saat ini. Ellena tidak berani melihat ponsel yang lampunya menyala itu, tapi dia kepo siapa yang menghubungi Sean saat sedang bersamanya.
“Siapa itu?” tanya Sean.
“Ga tau,” jawab Ellena datar.
“Kalo ga tau ya diliat dong!”
“Eeh ... iya,” Ellena mengambil ponsel Sean yang masih menyala itu, “Mama,” ucap Ellena membaca tulisan yang ada di layar ponsel.
“Matikan ponselnya,” ucap Sean.
“Matikan? Tapi ini Mama kamu yang telpon.”
__ADS_1
“Matikan kataku! Ato kamu aja yang jawab.”
“Haahh, aku?? Mending kita matiin aja deh,” ucap Ellena yang segera menuruti apa yang di minta Sean.
Segurat senyum tipis tergambar di bibir Sean yang sedari tadi tampak biasa saja dan serius. Dia merasa Ellena terlalu lucu saat dia ketakutan. Ellena terlihat semakin menggemaskan membuat Sean sangat ingin berlama-lama melihat tingkah lucu Ellena yang membuatnya lupa dengan tekanan dari Luna tadi.
Mobil Sean keluar dari pintu tol yang menuju ke pusat ibukota. Ellena menghembuskan nafas dalam saat dia tiba di Ibukota yang sempat dia tinggali 7 tahun silam. Ellena mengalihkan pandangannya ke luar kaca jendela untuk menikmati pemandangan malam yang sudah lama sekali tidak dia lihat.
Mobil Sean masuk ke dalam lingkungan hotel mewah yang segera saja membuat ingatan Ellena kembali berputar pada 7 tahun lalu. Bangunan hotel itu tidak banyak mengalami perubahan di bagian depannya. Bangunan hotel tempat dia menjual dirinya pada Sean.
“Ngapain kita ke sini?” tanya Ellena.
“Mau tidur lagi sama kamu,” jawab Sean setelah dia memarkin mobilnya di basement hotel.
“Pak Sean! Jangan main-main ya, Pak! Saya mau pulang,” ucap Ellena marah sambil berusaha membuka sabuk pengamannya.
“Ga akan aku biarkan kamu pergi Ellena!” ucap Sean sambil memegangi pergelangan tangan Ellena.
“Lepasin!! Lepasin Pak, sakit tau!” berontak Ellena.
“Sakit? Baru kaya gini kamu bilang sakit? Lalu apa yang sudah kamu lakukan sama aku 7 tahun lalu. Sakit Ellena, kamu membohongi aku, lalu kamu menghilang begitu saja. Dan saat aku ketemu lagi sama kamu, ada anak kecil yang mirip aku. Jawab aku, siapa Nathan? Anak siapa Nathan!!”
Ellena melihat kilatan amarah di sorot tajam Sean. Tatapan mata Sean seolah menembus dirinya dan membuat dia tertekan. Membuat dia ketakutan melihat ke arah netra itu.
“Dia anak saya. Nathan anak saya,” jawab Ellena tegas.
“Anak kamu? Siapa ayahnya?”
“Ayahnya? Dia ... dia ... dia pergi jauh. Ga mau tanggung jawab,” ucap Ellena mencari alasan.
“Jawab jujur Ellena!!” bentak Sean.
Ellena kaget saat mendengar suara Sean yang sangat keras waktu membentaknya. Ellena bahkan sampai memundurkan badannya karena terlalu kaget. Matanya mulai berkaca-kaca karena tekanan yang diberikan oleh Sean terlalu bertubi-tubi padanya. Pertahanannya mulai rapuh.
Hati Sean teriris dan perih saat melihat mata Ellena yang mulai berkaca-kaca. Dia merasa sangat bersalah saat melakukan penekanan keras terhadap Ellena saat ini. Tapi Sean sangat bertekad akan meneruskan apa yang dia lakukan ini, sampai Ellena berkata jujur tentang Nathan.
“Jawan Ell, siapa Ayah Nathan,” tanya Sean lagi.
“Dia anak aku. Dia anak aku!!” jawab Ellena yang mulai terisak.
__ADS_1
“Jawab aku, anak siapa dia?? Apa perlu aku bawa dia untuk tes DNA denganku?”
“Untuk apa? Lagi pula kamu sudah punya anak. Kenapa kamu ga ngurus Aura aja. Dia pasti juga butuh kamu?”
“Aura?” Sean kaget dengan apa yang dikatakan Ellena, tapi dia tidak mau mengikuti Ellena yang sepertinya ingim mengalihkan pembicaraan.
“Ga usah bahas itu! Jawab aku siapa Ayah Nathan! Siapa, Ell!!” bentak Sean sekali lagi.
“Anak kamu! Dia anak kamu!! Puas kamu sekarang!!” bentak Ellena sambil menangis sesenggukan.
Ada rasa puas pada diri Sean saat mendengar pengakuan Ellena tentang Nathan. Ternyata selama ini ini dugaan Sean benar kalau Nathan adalah darah dagingnya.
Sean sudah tidak tahan dengan air mata yang membasahi pipi Ellena. Dia sudah ingin memeluk wanita itu dan menenangkanya, tapi belum saatnya untuk Sean lakukan itu sekarang.
“Kalo dia anak aku, kenapa kamu bawa dia pergi. Kenapa kamu ga bilang sama aku kalau kamu hamil saat itu?” tanya Sean lagi.
“Sean ... aku hanya menjual diri aku ke kamu. Apa kamu pikir orang seperti aku layak minta pertanggungjawaban dari kamu. Itu ga mungkin, Sean,” jawab Ellena sambil terisak.
“Paling ga kan kamu harusnya coba dulu. Kamu belum coba udah main hilang dan lari gitu aja. Kamu egois dan bodoh!”
“Iya ... aku memang bodoh! Aku emang bodoh bahkan aku harus sampai menjual diriku ke kamu demi sebuah hutang.”
“Bagus kalo kamu sadar kamu bodoh. Aku ga mau anak aku diasuh sama orang yang bodoh, aku akan ambil Nathan dari kamu!”
Bagai disambar petir, tubuh Ellena membeku, matanya membulat lebar saat dia mendengar apa yang dikatakan oleh Sean. Pemuda itu hanya tersenyum dengan mengangkat satu sudut bibirnya saat melihat Ellena kaget dengan apa yang dia minta. Menyerahkan Nathan itu sama saja dengan membunuh Ellena kedua kalinya.
“Apa?? Menyerahkan Nathan? Jangan harap kamu akan mendapatkan Nathan. Tidak akan pernah!!” ucap Ellena sedikit berteriak.
“Kenapa kamu ga mau serahkan Nathan. Dia akan hidup lebih baik dengan aku. Dia akan mendapatkan fasilitas terbaik nanti.”
“Fasilitas terbaik? Yang dibutuhkan Nathan bukan itu. Dia butuh kasih sayang. Dan kamu tidak akan bisa mendapatkan Nathan!” ucap Ellena memberikan peringatan.
“Aku tidak akan mendapatkan Nathan? Jangan egois kamu Ellena! Nathan bisa mendapatkan keduanya. Papa dan Mamanya!!” ucap Sean tegas sambil menatap netra Ellena yang masih basah.
“Maksud kamu?”
“Nikah sama aku!”
Bersambung....
__ADS_1