
Aditya membuang tongkat untuk penyamarannya ke tempat sampah di area parkir hotel. Ia menoleh ke sana kemari. Tak ada seorang pun. Ia juga membuang beberapa kantung kresek berisi sobekan kartu identitas barunya sebagai mahasiswa palsu.
“Guru Tanpa Nama belum meneleponku, tapi semua bukti sudah kudapatkan. Aku bisa bersantai sejenak,” katanya pada diri sendiri.
Setelah seluruh jejak penyamarannya terbuang, seperti biasa, Aditya menenangkan diri di tempat sepi. Tidak ada tempat sepi yang ‘aman’ untuknya merenung dan berdiam diri untuk saat ini, kecuali hotel.
“Kamar buat saya sendiri untuk semalam, ya, Mbak,” kata Aditya pada resepsionis yang menyambut.
“Kamar dengan single bed sudah penuh.”
“Pesan kamar apa pun yang tersedia,” tukasnya pendek.
Aditya melangkah masuk ke dalam lift tak lama kemudian, lalu menekan angka 9. Lantai di mana kamarnya berada. Ia tiba di dalam kamar sekitar tujuh menit kemudian. Aditya ke kamar mandi setelah meletakkan tas kecilnya, lalu membasahi diri dengan air hangat. Ia juga membiarkan kepalanya yang tegang akhir-akhir ini menjadi sedikit rileks dengan guyuran air hangat.
Setelah mandi, Aditya menghampiri pesawat telepon di kamarnya.
Ia ingin menelepon seseorang. Mungkin Frita. Mungkin juga Paman Salim, tetapi ia pikir itu tak perlu. Ia bisa menemui mereka tak lama lagi. Rasanya setelah seluruh misi selesai, ia ingin memiliki pekerjaan tetap. Sebuah pekerjaan yang tak membuat dirinya atau orang-orang di sekitarnya mati.
Sebuah pekerjaan reguler seperti orang kebanyakan. Ia sungguh tertarik menjalani sebuah kehidupan normal bersama Frita.
“Kira-kira apa pekerjaan yang cocok untukku, ya?” gumamnya sendiri.
Karena tidak ada yang dikerjakan, Aditya berbaring saja di kamar itu. Entah sudah berapa lama ia tak berbaring santai begini. Hidupnya seakan tak henti diberondong oleh rentetan peristiwa menegangkan yang penuh marahabaya.
Seakan-akan ia tak pernah tidur barang sekejap. Atau, jika saja ia memang sempat tidur, dalam tidur itu pasti dipenuhi mimpi buruk tak berkesudahan. Itu jelas sangatlah menyiksa.
Aditya berencana menyudahi ini sesegera mungkin, jadi yang ia lakukan kemudian menelepon Rahman Sugandi.
***
Guru Tanpa Nama menjawab telepon itu dengan tenang. Tak terdengar heran. Lagi pula ia tahu Aditya sudah tak betah. Dan biarlah kalau saja nanti Amy Aurora ngambek padanya.
“Ya, aku tahu tanpa kau bilang. Sudah selesai, bukan?” kata lelaki tua itu.
__ADS_1
“Sudah. Terlalu mudah misi ini untuk saya. Di mana kita bisa ketemu supaya saya bisa menyerahkan bukti keterlibatan Rama Subandi dan teman-temannya yang kaya dan manja itu?” tanya Aditya.
“Di hotel tempatmu menginap saja, Dit,” jawab Guru Tanpa Nama.
Aditya mengangguk pendek.
Lalu ia berkata, “Saya yakin Pak Gandi saat ini pastilah tahu saya mengenakan baju warna apa. Dan Bapak juga tahu saya menginap di kamar nomor berapa. Jadi, saya tak perlu memberikan alamat hotel ini.”
Rahman Sugandi terkekeh pelan. “Dit, terima kasih sudah banyak membantu. Soal misi ke Jepang itu, semua juga tahu, kalau tanpa ada kamu, belum tentu Rai bisa diajak kerja sama. Terima kasih.”
“Ya, Pak.”
Mereka terdiam beberapa lama.
“Saya penasaran siapa sebenarnya Pak Gandi? Saya tak sepenuhnya percaya kalau Bapak kolektor ternama. Terutama setelah kejadian belakanga ini,” ujar Aditya dengan tanpa tekanan.
“Yah, nanti kau juga akan tahu. Atau mungkin kau tak pernah tahu. Biarlah waktu saja yang menjawab, Dit.”
Telepon terputus. Aditya merasa lapar. Ingat kalau ia tadi pagi belum sarapan. Jadi ia memutuskan turun ke resto di lantai bawah, memesan sesuatu di sana, dan menikmati makanannya sendiri untuk kali pertama setelah sekian misi membuatnya merasa hampir mati.
***
“Anda secepat ini datang? Mau saya pesankan makanan juga?” sambut Aditya.
“Tidak usah, Dit,” jawab Rahman Sugandi yang kemudian duduk di seberangnya di meja bundar tersebut.
Jim ternyata ikut serta, bersama Komandan Malik. Entah apa kaitan mereka bertiga. Aditya sebenarnya berhak tahu dan bisa memaksa mereka mengatakan sesuatu, tapi dia ingin berhenti. Benar-benar berhenti dan tak perlu ada gangguan dari tiga orang ini.
Maka, Aditya cuma bilang, “Kalian bawa bukti yang sudah saya dapatkan. Dan biar saya melanjutkan hidup.”
Aditya membuka tas laptop yang tak berisi laptop, melainkan sebuah flash disk, CD, sejumlah foto cetak dari tangkapan layar ponsel Rako Subandi, dan beberapa bukti lain. Itu cukup memberatkan Rama dan geng elite-nya. Yang biasa sok berkuasa di klub-klub malam dengan membawa kekuasaan dan nama besar ayah mereka yang politikus.
Jim mengamati itu dan bergumam, “Yah, kupikir ini cukup.”
__ADS_1
“Kalian bisa meminta bantuan orang lain untuk menyergap atau menyerang mereka atau apalah. Itu sudah bukan urusan saya,” kata Aditya dengan menatap mata ketiganya dengan tajam. Lalu ia menyeruput minumannya.
“Ya, sekali lagi terima kasih, Dit,” kata Guru Tanpa Nama.
Aditya mengangguk. Ia menoleh ke pelayan, memintanya membawakan daftar menu. Aditya mendesak ketiganya agar mau menemaninya minum sebentar sebelum mereka pergi.
“Kita bisa bicara soal sehari-hari, tentu saja,” ujar Aditya kali ini tampak santai.
“Kami tak akan menyinggung soal misi apa pun,” sahut Malik dengan tertawa.
“Tidak untuk sekarang, besok, atau sampai kapan pun,” sambung Jim.
Guru Tanpa Nama hanya tersenyum saja. Tak henti menatap mata Aditya. Entah ada makna tersembunyi dari tatapan itu. Dan Aditya justru tak peduli. Rahman Sugandi lalu mengucapkan selamat atas pernikahannya yang mungkin akan digelar dalam waktu dekat ini.
“Ya, seharusnya kami sudah menikah beberapa waktu lalu. Berhubung harus pergi ke penjara dan dikubur hidup-hidup, saya harus menundanya,” jawab Aditya.
Setelah orbolan beberapa menit dan minuman mereka tandas, Jim dan Malik pamit untuk menyiapkan tim mereka, menyergap Rama dan kawan-kawan. Skuad Malam-lah yang bertugas di sini, namun tanpa Teo dan Linda yang masih dirawat, juga tanpa sosok panutan mereka: Aditya.
“Ada beberapa anggota baru di skuad itu,” kata Malik sebelum cabut. “Mungkin akan ada nama baru lagi nanti.”
Guru Tanpa Nama alias Rahman Sugandi masih duduk di situ ketika Jim dan Malik sudah meninggalkan resto, menghilang di balik tembok.
Aditya tak ingin berkata apa-apa, begitupun Rahman juga sulit mengatakan apa pun. Jadi keduanya terdiam saja. Tampak seperti sepasang ayah dan anak yang sedang sibuk berperang dingin.
“Ya, akhirnya kita berpisah, Dit,” kata Rahman setelah bangkit berdiri lima menit kemudian.
“Ya.”
“Ada kemungkinan kita akan bertemu lagi?”
“Saya harap tidak. Tapi, tanpa mengurangi rasa hormat, saya tetap menganggap Pak Gandi sebagai figure guru sekaligus ayah bagi saya. Saya tak akan melupakan kebaikan Anda di masa lalu itu,” tukas Aditya bijaksana.
Mereka berpisah usai berpelukan cukup lama. Sebuah pelukan yang entah kenapa terasa menyesakkan bagi Aditya.
__ADS_1
Bersambung....