Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 89


__ADS_3

“Sial,” gumam Aditya. Bahu kirinya tertembak.


“Mati lu bajingan!” bentak bos penculik yang ternyata sudah bangkit lagi sambil memegang pistol di tangannya.


“Bener-bener keras kepala,” gerutu Aditya.


Sebelum bos penculik menembak lagi Aditya segera bergerak ke balik pohon. Bos penculik asal menembak saja dan tidak mengenai apa-apa. Perlahan dia mendekati balik pohon dengan cepat dia melompat lalu menembak. Namun Aditya sudah tidak ada di sana.


Aditya segera menghantamkan batu besar ke kepala penculik hingga dia berteriak dengan darah bercucuran dari kepalanya. Aditya kemudian menghela nafas dalam sambil bersandar di sebuah pohon yang tidak jauh dari sana. Dia mencoba untuk mengurangi pendarahan di bahu kirinya, Aditya menggunakan bajunya sendiri untuk mebalut luka di bagunya.


Perlahan dia mencoba bangkit dan berjalan ke arah dia datang. Nafasnya semakin tidak beraturan, ketika menarik nafas saja terasa begitu sesak. Tubuhnya mulai terasa demam. Pandangannya semakin kabur. Kakinya sudah mati rasa, tubuhnya roboh ke tanah. Jantungnya berdetak semakin kencang.


“Apa aku akan mati di sini?”


“Padahal aku masih mencoba untuk jadi orang baik.”


“Apa aku akan berakhir di tempat seperti ini?”


“Pada akhirnya aku berakhir sama dengan kalian semua. Hanya saja tanpa kehormatan dan kebanggaan.”


Airmatanya berlinang lalu turun bercampur dengan darahnya. Terlintas kenangan buruk yang pernah dia alami seumur hidupnya. Tatapannya semakin gelap. Aditya tersenyum mengingat semua yang telah dia lalui selama ini. Bayangan Frita tergambar jelas di pelupuk matanya sebelum akhirnya pandangannya gelap.


“Bos! Dia ada di sini!” teriak seorang polisi.


Jimmy beserta anak buahnya segera ke sana, mereka sangat kaget bercampur takut ketika melihat bekas pertarungan berdarah Aditya. Para penculik tergeletak tak bernyawa dengan keadaan mengerikan.


“Apa yang sudah terjadi di sini?” gumam Jimmy.


“Dia masih hidup,” kata seorang polisi yang memeriksa keadaan Aditya.


“Segera buat tandu darurat! Kita harus membawa dia secepatnya ke rumah sakit,” perintah Jimmy.


“Sisanya segera kumpulkan mayat-mayat penculik itu, telepon beberapa ambulan segera, koper uangnya segera amankan. Kita harus segera pergi dari tempat ini. Lakukan dengan hati-hati jangan sampai merusak TKP!” perintah Jimmy lagi.


“Baik!”


Semua anak buahnya mulai sibuk melakukan perintah Jimmy. Dia sendiri sedang memfoto keadaan di sana. Beberapa kali Jimmy termenung memikirkan kejadian yang ada di hadapannya. Setelah semuanya siap mereka segera kembali sambil membawa mayat para penculik dan Aditya yang tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Frita dan Clarissa kaget ketika beberapa ambulan datang ke lokasi mereka, jantungnya berdtak kencang. Nafasnya mulai tidak teratur. Clarissa kembali menangis sambil memeluknya. Jimmy dan anak buahnya datang ke sana sambil membawa beberapa tandu darurat. Para petugas ambulan mulai sibuk. Frita hendak mendekat namun Jimmy mencegahnya.


“Kenapa? Apa yang terjadi? Di mana Aditya?” tanya Frita sambil berusaha mendekat, namun Jimmy tetap menahannya.


“Di mana kak Aditya pak? Dia baik-baik saja kan?” tanya Clarissa dengan deraian airmata.


“Sebaiknya kalian jangan melihatnya dulu. Kita harus segera pergi ke rumah sakit,” jawab jimmy sambil menepuk pundak mereka berdua.


“Aditya..” gumam Frita pelan.


Jantungnya serasa berhenti, tatapanny semakin nanar karena airmatanya keluar. Clarissa ambruk tidak sadarkan diri. Anak buah Jimmy segera membaringkannya di mobil Frita. Jimmy terus menghibur Frita yang terisak menangis. Dia tidak menyangka jika kejadian pahit seperti ini akan terjadi.


“Ayo kita berangkat sekarang!” perintah Jimmy kepada semua anak buahnya.


“Sebaiknya kita segera pergi dari sini Fri,” ucap Jimmy sambil menuntun Frita masuk ke dalam mobil. Sedangkan mobilnya sendiri dibawa oleh anak buahnya.


“Aditya..”


“Kita sekarang hanya bisa berdoa semoga dia masih bisa diselamatkan.”


Frita hanya terdiam sambil terus terisak. Bayangan wajah Aditya terus muncul di pikirannya, hari-hari saat mereka bersama, saat mereka bertengkar. Bahkan tadi sore merak masih masak bareng-bareng untuk membuat pesta kejutan bagi Clarissa. Beberapa kali Aditya sudah menyelamatkan nyawanya. Tapi kini dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk Aditya.


“Bagaimana keadaan Aditya Dok?” tanya Frita sambil menghampiri dokter.


“Oh, tidak usah khawatir Mbak. Pak Aditya masih bisa diselamatkan. Lukanya tidak terlalu fatal hanya saja dia kehabisan banyak darah.”


“Syukurlah,” ucap Frita lega. Clarissa terlihat tersenyum bahagia karena Aditya masih bisa diselamatkan.


“Ya, sebentar lagi pak Aditya akan dipindahkan ke ruangan biasa. Mbak bisa menemaninya di sana.”


Dokter kemudian pergi meninggalkan mereka berdua. Clarissa kembali memeluk kakaknya karena senang Aditya tidak terluka parah. Setelah Aditya dipindahkan Frita dan Clarissa menemaninya di dalam kamar. Frita kemudian memberitahu Pandu tentang kejadian yang terjadi hari ini. Pandu bilang jika dia besok juga akan pulang.


Clarissa terus menatap Aditya dari dekat. Frita hanya tersenyum melihat kelakuan Adiknya, dia rasa Aditya benar-benar sudah Clarissa anggap sebagai kakaknya sendiri. Frita kemudian keluar untuk membeli beberapa makanan. Di luar diar melihat Arya sedang berbincang serius dengan Jimmy.


“Eh Frita, bagaimana kondisi Aditya?” tanya Arya.


“Sekarang dia masih belum sadarkan diri, tapi dokter bilang jika kondisi Aditya sudah lebih baik.”

__ADS_1


“Syukurlah. Sekarang mau ke mana?”


“Aku mau beli makanan sebentar.”


“Biar aku belikan saja, kamu istirahat di dalam,” tawar Jimmy.


“Nggak usah Jim terimakasih, aku bisa sendiri kok.”


Frita pergi meninggalkan mereka berdua. Arya sengaja datang ke sini setelah mendapat laporan dari Jimmy. Dia juga sudah melihat beberapa foto yang diambil Jimmy di lokasi kejadian.


“Bagaimana menurutmu Ar?”


“Benar-benar menarik, aku rasa hanya ada dua kemungkinan yang masuk akal terkait kejadian yang terjadi di sana,” gumam Arya.


“Apa saja?”


“Pertama semua penculik berusaha untuk menguasai uangnya sendirian sehingga mereka berkelahi dan sandera memanfaatkan hal itu. Kedua, ada komplotan lain yang berusaha merebut uang itu namun gagal karena polisi keburu datang,” jelas Arya.


“Apa tidak ada kemungkinan lainnya?”


“Ada, hanya saja bagiku hal itu tidak masuk akal, kita ambil dua kemungkinan itu saja.”


“Apa yang akan kita lakukan sekarang?”


“Kita hanya bisa menunggu orang itu siuman. Setelah dia pulih baru kita akan menanyakan kronologis yang dia ketahui.”


Frita kembali lewat membawa beberapa makanan. Jimmy dan Arya mengikutinya dengan alasan ingin melihat kondisi Aditya saat ini. Setelah selesai memeriksa kondisinya mereka kembali pergi meninggalkan Frita dan Clarissa.


“Jika saja waktu itu aku tidak ke rumah teman, mungkin hal ini tidak akan terjadi,” kata Clarissa.


“Jangan begitu Riss, ini bukan cuma kesalahanmu doang kok,” hibur Frita.


“Tapi kesalahan terbesarnya tetap saja aku kak.”


“Semua orang tidak tahu apa akibat dari keputusan yang mereka ambil. Karena itu ini bukan kesalahanmu, aku yakin penculik itu juga sengaja mengikutimu untuk mencari kesempatan membawamu,” hibur Frita sambil memeluk Adiknya.


“Aditya, terimakasih.” gumam Frita sambil menatap wajah Aditya yang masih terbaring.

__ADS_1


BERSAMBUNG…


__ADS_2