
Setan Hijau alias The Green Devil telah malang melintang di bisnis pembunuhan sejak bertahun-tahun lalu. Tak pernah ada yang tahu identitasnya, bahkan kliennya yang paling setia seperti Christian Santoso.
The Green Devil selalu memakai jaket kerudung hijau serta topeng yang menutupi seluruh wajahnya.
“Kau bisa datang malam ini?” kata Christian.
“Bisa.”
“Seperti biasa. Target ada beberapa, tapi harga dua kali lipat,” tukas Christian yang mencoba membuat dirinya merasa aman.
The Green Devil tak menyahut lagi, tanda sepakat. Ia segera menyiapkan sebelas anak buahnya, lalu pergi dengan motor-motor mereka, berpencar ke dua arah.
Christian Santoso memang pengusaha nakal. Ia suka menghalalkan cara apa pun demi meraih sukses. Kali ini, demi nama baiknya, ia meminta The Green Devil beserta para anak buahnya untuk menghabisi Aditya serta Pandu sekeluarga.
Ketika Aditya mendengar ancaman dalam keterangan Lucky, ia segera menelepon Nancy, “Kumpulkan Skuad Malam. Kami minta bantuan kalian melindungi Pandu dan Gina.”
“Kamu yakin papa dan mamaku diincar?” tanya Frita pada Lucky.
“Kemungkinan besar. Omku punya banyak kenalan, termasuk beberapa pembunuh bayaran,” jawab Lucky ketakutan.
“Sialan!” jerit gadis itu lalu menendang kaki Lucky yang sudah tak berdaya.
Frita akhirnya diantar oleh Aditya ke rumah Shelly D sebelum ia pergi ke alamat rumah Christian Santoso.
“Kamu akan menginap di sini,” katanya.
“Kamu sendiri mau ke mana, Mas?”
“Menemui paman tirimu itu. Aku harus menghentikannya,” jawab Aditya tegas.
Teo terlihat kebingungan di sini. Tadi Nancy memintanya datang ke rumah Pandu Saputra, kini kelihatannya Aditya butuh bantuannya.
“Tidak, Teo. Loe pergi ke rumah calon mertua gue. Tolong jaga agar jangan sampai mereka celaka,” pinta Aditya.
Teo pun menuruti perintah seniornya itu.
Hanya saja, dalam perjalanan dengan taksi online ke rumah Christian, Aditya tahu beberapa motor membuntutinya.
__ADS_1
Ia bilang pada si sopir taksi itu, “Pak, berhenti di belokan depan saja.”
“Tujuannya masih jauh lho, Mas,” kata sopir taksi itu.
“Di sini saja saya turun.”
Aditya tahu ia tak punya waktu banyak. Di belokan itu terdapat diskotik murahan di tepi kota yang belum pernah ia sambangi. Ia segera berlari ke sana.
“Hei, mau ke mana loe!?” teriak seorang pengendara motor yang membuntutinya.
Ada enam buah motor, yang berhenti dengan liar di parkiran diskotik itu. Salah satu di antara pengendara motor itu tentu saja The Green Devil.
Aditya belum sempat meloloskan diri lewat kerumunan pengunjung diskotik untuk kabur ke halaman belakang gedung itu. Dia terlebih dahulu diterjang dengan keras dari arah belakang oleh The Green Devil.
Aditya menoleh dan melihat siluet hijau di sana.
“Oh, Setan Hijau, ya? Apa kabar bapak loe?” kata Aditya meledek. Aditya jelas tahu sosok Setan Hijau ini. Sosok pembunuh bayaran profesional yang jeli dan tak bisa ditangkap.
“Bapak apa maksud loe, Bangsat,” kata The Green Devil sambil melangkah maju ke arah Aditya.
Ledekan Aditya itu membuat The Green Devil marah. Ia dan keenam anak buahnya yang juga bertopeng menyerang Aditya dari segala arah.
Pengunjung diskotik kocar-kacir ke luar dan berteriak ketakutan.
Aditya melihat dengan jeli dalam kecepatan gerak serang mereka: ada enam jenis senjata yang dipakai enam pembunuh bayaran super itu. Di antaranya adalah: samurai, pisau Swiss Army, parang, tongkat baseball, sumpit, dan bahkan sebatang pena yang kini terlihat dipegang oleh The Green Devil.
“Rupanya loe mau ngebunuh gue dengan pena itu, ya?” kata Aditya sambil dengan gesit mengelak dari serangan mereka.
Aditya berhasil merebut tongkat baseball dari tangan salah satu anak buah The Green Devil, lalu menghantamkan dengan keras benda itu ke kepala orang tersebut. Dia jatuh ke lantai dan tak bergerak.
“Brengsek! Kau apakan kakakku, ha?!” bentak seorang anak buah lainnya kepada Aditya.
“Oh, maaf. Dia kakak loe? Oke, ini rasakan!” balas Aditya memukul juga kepala si anak buah kedua dengan keras sampai parang di tangannya terlepas.
Aditya sigap mengambil parang itu dan menahan serangan The Green Devil dengan senjata tajam itu. The Green Devil terluka di bagian lengan, tapi dada Aditya tertusuk lumayan dalam oleh pena itu. Bahkan hampir mengenai jantung.
Aditya merasa ia harus mencari ruang yang lebih luas. Maka, ia berlari ke lantai atas.
__ADS_1
The Green Devil beserta beberapa anak buahnya yang tersisa mengejarnya juga ke atas.
Pada saat itu, polisi sudah menuju ke lokasi karena telepon dari pengunjung bar itu. Dari jauh terdengar sirene polisi menyalak keras ketika Aditya menembus pintu demi pintu untuk menjatuhkan satu per satu anak buah Setan Hijau tanpa harus dikepung.
Akhirnya, anak buah terakhir Setan Hijau berhasil ditebasnya tepat di leher ketika ia mencapai sebuah kamar di mana seorang pelacur sedang memuaskan pelanggannya. Aditya bilang pada pelacur itu, “Jangan pedulikan kami.”
The Green Devil yang akhirnya bisa mencapai Aditya di ruangan itu mendadak tak melanjutkan langkah, ia seperti membeku begitu saja. Sama seperti Aditya yang juga tak bisa bergerak melanjutkan duel satu lawan satu mereka.
Sebab, di bawah sana, para polisi sudah menyisir lantai satu diskotik dan akan naik kemari.
“Kali ini loe masih selamat, Bedebah,” kata The Green Devil sambil melangkah ke belakang dan menghilang di balik kegelapan.
Aditya juga membuang parang di tangannya dan menutupi dadanya yang tak henti mengucurkan darah segar. Ia menyamar di antara para pengunjung di lantai-lantai atas, hingga polisi tak menyadari kehadirannya.
“Polisi tak boleh tahu soal ini sampai Christian Santoso kuhabisi,” pikir Aditya. Dia tahu Frita sudah tak lagi kesulitan karena foto-foto itu sudah musnah. Namun, sakit hati atas perbuatan Christian Santoso tak bisa sembuh kecuali orang itu mendapat akibatnya.
Tak disangka, di antara kerumunan para pengunjung diskotik yang menyelamatkan diri itu, lagi-lagi Aditya bertemu dengan Sherly.
Sherly tak banyak bertanya, tapi ia cemas melihat Aditya terluka.
“Kali ini kamu nggak bisa menolakku. Ayo, kita pulang ke rumahku!” kata Sherly dengan tegas, melupakan perkataan Aditya tadi di Gedung Luxury ketika ia ada janji dengan teman lamanya.
Kini, Aditya berbaring lemas, kehabisan darah, di bangku depan di sisi Sherly, salah satu wanita yang mencintainya juga sejak lama.
Aditya mencoba membunuh suasana canggung di antara mereka dengan berkata, “Kamu tahu baru-baru ini aku mengenal penyanyi terkenal Shelly D itu?”
“Oh, ya?” tanya Sherly tak percaya.
“Tahu, nggak? Tiap kali aku ngobrol dengannya, aku selalu teringat namamu. Nama kalian bukannya hampir mirip?”
“Ya, benar juga,” kata Sherly pendek.
Aditya lalu tak berkata apa-apa lagi. Ia pingsan. Sherly berusaha secepatnya untuk tiba di rumahnya agar bisa segera mengobati Aditya.
Tak lupa ia menelepon seorang perawat yang tidak lain teman dekatnya sendiri. Ia berharap waktu berjalan sedikit lebih lamban agar Aditya terselamatkan.
Bersambung...
__ADS_1