Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 85


__ADS_3

“Ah nggak kok,” jawab Aditya pelan.


“Kamu ini bikin orang cemas saja,” ucap Ratna sambil membereskan berkas di tangannya.


“Kamu sudah selesai belum Dit?” tanya Ratna ketika Aditya malah memfoto lembaran data di tangannya.”


“Udah kok, yang kucatat ada sekitar delapan orang.”


“Oh, yang kucatat ada lima belas orang.”


Mereka berdua mengembalikan berkas data siswa itu. Aditya kemudian menulis nama-nama di setiap amplop itu. Setelah memberikan amplop berisi santunan mereka berdua pergi kembali ke kantor.


“Aku dari tadi agak heran deh,” ujar Aditya.


“Heran kenapa?”


“Kok kamu yang ngewakilin perusahaan buat ngasih santunan? Bukannya ada bagian yang lebih pantas ya, lagian kamu kan sekretaris direktur.


“Oh, aku sengaja memintanya. Aku selalu senang memberikan sedikit bantuan kepada orang yang tidak mampu. Sekalian juga biar bisa bernostalgia dengan masa-masa SMA ku dulu, kalau kamu tadi ngerasa nostalgia nggak?”


“Aku juga merasa nostalgia. Mungkin kalau bisa aku malah ingin waktu ini tidak pernah berjalan, aku ingin terus menikmati masa-masa sekolahku dulu.”


“Eh ternyata kamu bisa begitu ya.”


“Maksudmu?”


“Selama ini aku lihat kamu santai-santai saja menjalani kehidupan saat ini seperti orang yang tidak punya beban.”


“Ada-ada saja, aku juga punya beberapa penyesalan dan kenangan di masa lalu. Aku juga punya beberapa beban pikiran.”


“Penyesalan ya, kelihatannya setiap orang memang punya penyesalan di dalam hatinya.”


“Setiap manusia mungkin pernah merasakannya. Karena manusia selalu menginginkan kesempurnaan dalam kehidupannya, hanya saja hal itu tidak akan pernah tercapai,” kata Aditya.


“Eh btw kamu masih punya foto saat masih SMA nggak Ran?” tanya Aditya mencoba mengalihkan pembicaraan.


“Eh buat apaan?”


“Aku cuma penasaran doang ingin lihat.”


“Ih malu tahu, mana mungkin aku mau menunjukannya.”


“Kok malu sih, padahal aku yakin loh dari dulu kamu juga sudah cantik.”


“Pokoknya nggak akan aku kasih lihat.”

__ADS_1


“Oh aku tahu, aku nanti akan stalking saja deh di sosmed milikmu.”


“Jangan! Aku blok sekarang nih akunmu.”


“Ih kejam amat,”


“Biarin!”


Mereka sampai di kantor dengan selamat. Rani berterimakasih karena Aditya sudah mau menemaninya memberikan santunan ke sekolah. Aditya bilang kalau dia senang bisa menemani Rani hari ini.


Beberapa minggu sudah berlalu sejak Aditya memberikan santunan bersama Rani. Mulai saat itu dia sudah mulai akrab dengan beberapa sopir lainnya termasuk Jana dan Wira, kehidupan damai terasa begitu indah baginya. Jika bisa dia ingin ketenangan seperti ini tidak pernah berlalu.


Hubungannya dengna Frita msih dingin seperti biasa. Jimmy dan Arya juga beberapa kali datang ke perusahaan untuk memberitahukan kasusnya yang tidak pernah menemukan titik terang. Sore ini di rumah Pandu terasa sepi. Kemarin Pandu baru saja berangkat ke luar negeri karena ada keperluan bisnis. Frita juga seminggu ini sudah terlalu sibuk dengan pekerjaannya.


“Kelihatannya memang harus aku sendiri yang membuatnya,” gumam Aditya sambil menatap layar ponselnya.


“Duh Clarissa belum pulang juga ya,” gumam Frita.


“Mungkin ada kegiatan di sekolahnya,” ujar Aditya sambil bangkit pergi menuju gudang.


“Dasar tu anak, mentang-mentang ayah sedang pergi dia malah semakin sering keluyuran,” gerutu Frita.


Aditya kemudian kembali ke dalam rumah sambil membawa beberapa kardus berdebu, di dalamnya berisi bekas dekorasi ulang tahun Frita. Hal itu membuat Frita langsung marah kepada Aditya karena sudah membawa kardus kotor ke dalam rumah. Aditya hanya menanggapi semaunya sambil mengeluarkan beberapa barang dari dalam kardus.


Frita terlihat begitu kesal karena Aditya selalu berbuat semaunya saja. Dia kemudian pergi menuju kamarnya. Aditya kemudian mulai membersihkan bekas dekorasi itu, dia juga pergi ke warung untuk membeli peralatan lainnya. Malam harinya terdengar suara mobil pergi keluar rumah Frita yang penasaran segera keluar dari kamarnya.


“Apa Aditya yang melakukannya,” gumam Frita. Dia masih bingung kenapa Aditya melakukan hal seperti itu di rumahnya.


“Apa mungkin hari ini..” Frita melihat tanggal di ponselnya ternyata memang benar dugaannya. Hari ini adalah ulang tahun Clarissa. Frita memegang kepalanya sambil menghela nafas. Dia benar-benar tidak ingat jika hari ini adalah hari ulang tahun Adiknya.


Matanya berkaca kaca, dia tidak menyangka jika Aditya seperduli ini kepada keluarganya. Frita tersenyum melihat keadaan ruangan yang sudah didekorasi hingga terlihat indah, bahkan Aditya merubah bentuk dekorasi bekas ulang tahunnya menjadi bentuk yang baru yang berbeda dari sebelumnya. mobilnya terdengar kembali datang.


“Kamu dari mana Dit?” tanya Frita sambil tersenyum manis.


“Aku baru mengambil kue pesananku. Tolong urus sisanya ya, aku mau mandi dulu,” jawab Aditya sambil pergi ke kamarnya. Frita meletakan kue yang dibawa oleh Aditya di atas meja, dia teringat sesuatu kemudian pergi ke dapur.


“Kamu lagi ngapain Fri?” tanya Aditya yang sudah berganti pakaian.


“Aku ingat makanan kesukaan Clarissa, setidaknya aku ingin membuatnya sendiri malam ini”


“Memangnya kamu bisa masak?” ledek Aditya.


“Bisa lah,” jawab Frita dengan percaya diri.


“Ah ini masih kurang garam Fri,” ujar Aditya sambil menaburkan garam.

__ADS_1


“Kamu bisa masak?”


“Iyalah, kalau nggak bisa mati aku di kostan dulu.”


Mereka berdua kemudian menyiapkan beberapa makanan untuk pesta ulang tahun Clarissa. Frita terlihat begitu senang, dia terus menatap Aditya. Hatinya benar-benar tersentuh melihat ketulusan Aditya. Semua persiapan sudah selesai tinggal menunggu kedatangan Clarissa saja.


Frita kemudian menelepon ibunya, namun ternyata Gina sendiri sudah menelepon Clarissa tadi pagi karena tidak bisa mengadakan pesta malam ini, sebab sedang berada di luar kota. Frita kemudian menghubungi Pandu. Ayahnya malah terkejut, dia juga benar-benar lupa jika besok adalah ulang tahun Clarissa.


“Hemh, kelihatannya cuma ibu yang masih mengingatnya,” ujar Frita sambil berjalan menghampiri Aditya yang sedang duduk di sofa.


“Terimakasih ya Dit,” ujar Frita pelan.


“Kamu jangan salah paham dulu, aku melakukan ini hanya karena permintaan ayahmu saja,” jawab Aditya bersikap dingin.


“Oh, padahal ayah sendiri lupa kalau besok adalah hari ulang tahun Clarissa,” jawab Frita sambil tertawa kecil.


“Oh, gampang lah nanti aku minta upahnya langsung sama ayahmu, karena sudah susah-susah menyiapkan pesta ulang tahun putrinya.”


Frita hanya tertawa kecil melihat Aditya kaget. Dia yakin kalau Aditya hanya berusaha menyembunyikan kepeduliannya saja. Kelihatannya selama ini dia memang sudah salah menilai sikap Aditya. Ponselnya berdering karena Jimmy menerlepon, lalu Frita menerima panggilannya.


“Ada apa Jim?”


“Adikmu Fri!” ucap Jimmy dengan nada cemas.


“Clarissa kenapa Jim? Dia kenapa?” Frita mulai panik.


“Aku mendapat laporan kalau Clarissa diculik ketika pulang dari rumah temannya.”


“Apa! Lalu bagaimana sekarang?” Frita terlihat semakin panik, tubuhnya mulai gemetar karena khawatir. Tiba-tiba saja telepon rumahnya berdering. Frita hendak mengangkatnya tapi Aditya mencegahnya, dia sendiri yang akan menerima panggilan itu.


“Malam, kediaman Pandu Saputra di sini,” sapa Aditya.


“Kebetulan sekali Hahaha, anak perempuan lu sekarang ada di tangan gue!” jawab suara pria yang menelepon.


“Apa? Lu siapa hah?”


“Jangan banyak omong!”


“Kak..” teriak Clarissa.


“Sudah denger sendiri kan? Kalau mau dia selamat siapin uang cash lima ratus juta sekarang juga. Jika sampai jam delapan malam uangnya belum siap anak lu bakalan mati!”


“Eh yang bener, gue harus kirim kemana uangnya?”


“Nanti jam delapan malam gue telepon lagi, ingat jangan sampai polisi terlibat!” ancam orang itu.

__ADS_1


Aditya terlihat marah dengan tangan mengepal. Dia tidak menyangka jika Clarissa juga mulai dijadikan sasaran. Frita terlihat panik mendengar percakapan Aditya dan penculik itu.


BERSAMBUNG…


__ADS_2