
Pandu segera keluar dari rumah ketika mendengar Frita marah-marah. Dia melihat Frita sedang marah-marah kepada Aditya karena baru mengantar kembali Clarissa saat tengah malam seperti ini.
“Sudahlah Fri, ini sudah larut malam nanti tetangga denger nggak enak loh,” hibur Pandu.
“Sesekali mereka harus diberi pelajaran dong Yah,” ucap Frita ketus.
“Maaf Yah, aku tadi mendadak pergi nolongin temen. Ban mobilnya kempes tadi,” rengek Clarissa.
“Saya juga minta maaf Soalnya tadi ada sedikit kendala di perjalanan. Karena itu saya tidak bisa kembali pulang cepat-cepat,” kata Aditya.
“Lah pasti alesan doang!” gerutu Frita.
“Kamu tidur di luar saja malam ini! Besok aku pecat kamu ya!” ujar Frita lagi.
“Jangan sampai begitu juga Fri, Aditya kan sudah minta maaf,” ucap Pandu mencoba menenangkan kemarahan putrinya.
“Jangan begitu Yah. selama ini dia juga males-malesan kalo bekerja, kalo dibiarin terus nantinya kebiasaan. Kalo tadi terjadi apa-apa sama Rissa gimana coba yah.”
Aditya merasa Frita saat ini sedang meluapkan semua kekesalan di hatinya. Dia pikir mungkin saat ini Frita benar-benar senang karena ada kesempatan untuk memarahinya.
“Kakak jangan begitu dong. Aku juga nggak kenapa napa kok,” bela Clarissa.
“Kamu ini, sudah kabur dari rumah eh malah ngebela dia,” gerutu Frita.
“Biarin! Tadi kak Aditya juga bantu aku kok. Kalo nggak ada dia mungkin aku baru pulang besok.”
“Kamu cepetan tidur sana besok kan sekolah! Biarin dia tidur diluar.”
“Nggak! Kalo kak Aditya tidur di luar aku juga bakalan tidur di luar. Kalo kak Aditya di pecat aku nggak mau sekolah lagi,” tegas Clarissa.
Aditya hanya tersenyum kepada Frita karena dibela oleh adiknya sendiri. Frita sedikit heran mendengarnya, sejak kapan mereka berdua begitu akrab seperti itu. padahal sampai kemarin mereka berdua bahkan jarang mengobrol.
“Sudah kamu tidur saja Ris, nanti besok kesiangan loh. Biar kakak saja yang tidur di luar,” ucap Aditya, pura-pura menasihati Clarissa sambil tersenyum kepada Frita.
“Nggak kak biarin aku juga tidur di sini saja,” jawab Clarissa.
__ADS_1
“Kalian ini-“
“Sudahlah Fri, sampai pagi juga nggak akan selesai kalo berdebat terus mah. Lebih baik kita segera tidur, Aditya juga kan sudah minta maaf lagipula Clarissa juga baik-baik saja kan?” ucap Pandu.
Frita kemudian pergi ke dalam rumah tanpa berkata sepatah katapun. Clarissa dan Aditya malah Tos sambil tersenyum. Pandu hanya geleng geleng kepala saja. Clarissa kemudian pergi menuju kamarnya.
“Maaf pak jika saya baru bisa mengantar Clarissa pulang tengah malam,” kata Aditya.
“Tidak apa-apa, aku mempercayaimu. Yang penting Clarissa bisa pulang dengan selamat.”
“Terimakasih banyak pak.”
Mereka semua masuk ke dalam rumah. Ketika Aditya menengok ke arah kolam renang terlihat Frita sedang duduk di kursi sambil menatap bulan yang terlihat jelas di langit. Aditya sedikit merasa bersalah melihatnya. Dia kemudian menghampirinya.
“Malam yang indah ya,” sapa Aditya. Frita tidak menoleh sedikitpun apalagi menjawabnya.
“Aneh juga ternyata kalo lihat Rembulan yang sedang melihat bulan,” goda Aditya.
“Puas hah?! Kamu kesini untuk meledekku kan?!” jawab Frita.
“Kamu ini. Sesekali positif thinking dong. Aku ke sini cuma mau melihat tunanganku yang cantik ini,” rayu Aditya sambil duduk agak jauh dari Frita.
“Haha, ternyata kamu kakak yang perhatian juga ternyata. Padahal kalian sering banget bercekcok.”
“Semua pujianmu itu nggak berguna tahu! Aku jadi tunanganmu cuma demi ayah. Kamu jangan mimpi bisa lebih dari itu,” kata Frita sambil melangkah pergi.
“Mimpi ya. Selama ini bahkan aku tidak pernah bermimpi akan bisa bertunangan dengan wanita secantik dirimu Fri. aku bahkan merasa tidak pantas,” gumam Aditya sambil menatap kedua telapak tangannya.
“Tapi aku tidak bisa lari dari janjiku kepada ayahmu, terlebih saat ini mereka semua sudah mulai bergerak mengincarmu. Teruslah membenciku, karena kebencianmu itu akan menyelamatkanmu dari gelapnya duniaku,” ujar Aditya pelan. Setelah termenung cukup lama dia kemudian masuk ke dalam rumah untuk beristirahat.
Esok paginya. Aditya sedang menunggu Frita di mobilnya, padahal biasanya dia sudah siap pagi-pagi sekali berangkat bekerja. Clarissa dan Pandu keluar dari rumah. Namun Frita tidak kunjung muncul.
“Frita belum keluar Dit?” tanya Pandu.
“Belum Pak,” jawab Aditya.
__ADS_1
“Loh, padahal tadi pakaiannya sudah rapih kirain mau langsung berangkat.”
“Aku lihat tadi kakak ada di dekat kolam renang Yah. mau disamperin takutnya masih marah lagi,” ucap Clarissa sambil menunjuk ke arah kolam renang.
“Biar saya saja yang samperin,” ujar Aditya sambil beranjak ke dalam rumah.
Pandu bersama Clarissa pergi terlebih dahulu karena takut kesiangan datang ke sekolah. Dari dalam rumah Aditya melihat Frita masih berdiri di tepi kolam renang. Dia sedikti heran dengan kelakuan Frita hari ini. Apa mungkin dia masih marah karena masalah tadi malam.
“Ini sudah siang loh Mbak, nggak mau segera berangkat ke kantor?” tanya Aditya sembari mendekat.
“Terserah aku dong,” jawab Frita.
“Loh, nanti di gosipin para bawahan tahu kalo direkturnya masuk kesiangan.”
“Kamu nggak usah sok peduli ya!”
Serba salah emang. Nanti saya minta pak Pandu buat segera nikahin kita deh, siapa tahu Mbak bisa lebih semangat kerjanya.”
“Mimpi! Aku nggak akan biarin kamu maksa-maksa ayah lagi ya! Aku ternyata sudah membuat kesalahan fatal mau ditunangkan denganmu!” jawab Frita sambil menatap tajam Aditya.
Frita mondar mandir di tepi kolam renang, dia melihat jam tangannya kemudian tersenyum. Aditya bingung melihat kelakuan Bos sekaligus tunangannya itu. tiba-tiba Frita terpeleset dan hendak jatuh ke kolam renang.
Dengan sigap Aditya menangkap tubuhnya dan menariknya ke tepi kolam renang. Namun Frita malah berbalik mendorong tubuh Aditya hingga tercebur ke dalam kolam renang dan basah kuyup. Frita tertawa puas di tepi kolam renang, dia kelihatan begitu bahagia melihat Aditya basah kuyup.
“Duh maaf ya aku nggak sengaja,” ucap Frita sambil tersenyum.
“Bisa naik sendiri kan? Aku mau bantuin tapi nanti takut kesiangan,” tambah Frita.
“Kamu sengaja ya?” tanya Aditya dengan wajah kesal.
“Duh bisa nggak sih sesekali positif thinking dong sama aku. Begitu kan ucapanmu tadi malam?” tanya balik Frita sambil tertawa.
“Aku berangkat duluan ya Mr pemalas yang basah kuyup, kasian taxi pesananku mungkin sudah nunggu di luar. Bye..” ucap Frita sambil melambaikan tangannya.
Aditya menyeka wajahnya. Dia tersenyum sendiri karena tidak menyangka akan kembali terjebak oleh kejahilan Frita. Setelah berganti pakaian dia bergegas menuju mobil. Di kaca mobil terselip kertas berisi tulisan tangan Frita.
__ADS_1
“Hati-hati, jangan sampai terlambat datang ke kantor ya. Nanti bu Heni bisa memberimu hukuman berat loh.”
BERSAMBUNG…