
Frita kemudian menjelaskan bahwa alasannya tidak lain karena pekerjaan para sopir itu sedikit hingga mereka lebih banyak diam dan nganggur di kantornya. Alasan lainnya adalah agar setiap sopir bisa menjaga diri mereka sendiri dan penumpangnya ketika terjadi hal yang tidak diinginkan di jalanan.
Rani paham. Dia juga setuju dengan usulan Frita. Jika Aditya memiliki kemampuan bela diri mungkin saja Yana tidak berani lagi mengganggunya. Bahkan Aditya juga akan mampu menghadapi orang-orang seperti Gugun.
“Aku juga setuju denganmu Mbak,” kata Rani.
“Bagus deh kalo begitu. Kamu sekarang tolong kasih tahu bagian keamanan sama bagian sopirnya Ran. Aku akan mengurus persetujuannya sama ayah.”
“Oke siap, tapi teknis pelaksanaannya seperti apa Mbak?” tanya Rani.
“Gini saja. dari pagi para sopir harus berlatih di tempat bagian keamanan. Kalau ada panggilan pekerjaan untuk mereka baru bisa meninggalkan latihan.”
“Terus kapan Mbak, mereka akan mulai berlatih?”
“Kapan ya. Kita mulai besok saja deh Ran. Lagian aku yakin ayah juga pasti akan setuju dengan saranku ini.”
Rani mengerti, dia kemudian meninggalkan ruangan Frita untuk memberitahu bagian keamanan dan juga bagian sopir. Rani memanggil Heni Srikandi sebagai kepala bagian keamanan. Dia memberitahukan instruksi yang telah diberikan oleh Frita.
Setelah Heni pergi, Rani segera pergi menuju bagian sopir untuk memberitahukannya langsung. Dia sengaja tidak memanggil Hadi selaku kepala sopir karena ingin sekalian bertemu dengan Aditya. melihat Rani datang menghampiri Aditya, Wira dan Jana tampak senang karena menduga Rani datang untuk memberitahukan pemecatan Aditya dari Glow & Shine Co.
“Pagi Dit,” sapa Rani.
“Pagi juga Mbak. Ada apa ya pagi-pagi begini mbak sudah datang kemari?” tanya Aditya.
“Aku cuma ada keperluan sama bagian sopir nih.”
“Memangnya keperluan apa bu?” tanya Wira.
“Bu direktur mengatakan akan mewajibkan para sopir untuk berlatih fisik di bawah bimbingan bagian keamanan.”
“Latihan fisik untuk apa bu?” tanya Wira heran.
Rani kemudian menjelaskan tujuan Frita mengusulkan hal seperti itu. Wira dan Jana tampak sedikit kecewa karena ternyata Rani ke sana bukan untuk memecat Aditya tapi malah ingin memberitahukan perintah Frita. Mereka berdua juga kecewa karena mereka pikir latihan fisik hanya akan menyusahkan mereka saja. pastinya mereka tidak akan bisa leha-leha lagi.
“Bagus juga idenya. Dengan begitu aku bisa mengusir kebosanan karena tidak ada pekerjaan,” ujar Aditya.
“Iya, aku juga setuju denganmu Dit. Tapi nanti kamu harus hati-hati ya sama kepala bagian keamanan,” kata Rani mengingatkan.
“Memangnya kenapa Mbak?” tanya Aditya.
__ADS_1
“Dia itu orangnya galak banget, jadi jangan sampai kamu buat dia marah ya,” bisik Rani di telinga Aditya.
“Terus kapan Mbak pelatihannya dimulai?” tanya Aditya sambil tersenyum.
“Katanya sih besok Dit. Sudah ya aku beritahu pak Hadi dulu,” kata Rani sambil pergi meninggalkan mereka bertiga.
Wira dan Jana semakin kesal kepada Aditya. mereka tidak menyangka bahwa Aditya bisa seakrab itu dengan sekretaris Direktur. Mereka kemudian pergi meninggalkan Aditya sendirian. Aditya hanya tersenyum sendiri mengingat rencana itu diusulkan oleh Frita. Dia yakin jika Frita mencoba untuk mengerjainya.
“Rembulan mencoba untuk memperlihatkan sinarnya,” gumam Aditya sambil tersenyum.
Rani kembali ke ruangannya setelah memberitahukan perintah Frita kepada bagian sopir. Tampak banyak sopir yang mengeluhkan rencana itu terutama yang sudah mengetahui kalau kepala bagian keamanan begitu galak dan keras. Aditya sendiri memilih untuk pergi ke tempat parkir seperti biasanya.
Erik sudah sampai di kantor Glow & Shine Co. Dia keluar dari mobil dan menyuruh sopirnya untuk pulang duluan, Erik berjalan menuju ruangan Frita. Sebenarnya ada aturan untuk bertemu seorang Direktur, Erik harusnya menunggu saja di ruang tamu, karena orang luar seharusnya memang tidak boleh langsung masuk ke ruangan Direktur.
Namun tidak ada satupun pegawai yang berani melarang Erik. Mereka tahu seperti apa watak putra pemilik Unesia Corp. itu. Dengan santainya dia berjalan memasuki ruangan Frita. Di dalam ruangan tampak Rani dan Frita masih sibuk mengurus laporan pertemuan mereka dengan Mr. James.
“Halo rembulanku yang manis. Kamu makin cantik saja deh,” puji Erik.
“Hai Rik. Kok kamu datang ke sini mendadak banget nggak ngasih kabar dulu?,” tanya Frita.
“Kaget kan? Aku sengaja membuat kejutan untukmu Fri.”
“Aku ingin menanyakan jawaban lamaranku pada waktu itu.”
Mendengar jawaban Erik membuat Frita kaget. Dia lupa kalau saat acara lamaran dia belum menjawab pertanyaan Erik. Dia juga tidak menyangka jika Erik akan langsung datang ke sini hanya untuk mendapatkan jawaban darinya. Rani tampak mulai menahan tawanya ketika melihat Frita syok.
“Eh. Aku lupa Rik.”
“Ah nggak apa-apa kok Fri. lihat nih aku sudah memilihkan gaun pengantin terindah untukmu,” ujar Erik sambil memperlihatkan foto gaun pengantin yang telah dipilihkan sekretarisnya.
“Eh, bagus kok. Tapi kayaknya kita nggak bisa sampai sejauh itu deh Rik,” kata Frita ragu-ragu dalam menjawab, dia takut kalau Erik marah-marah.
“Maksudnya?”
“Ya sebaiknya kita temenan saja Rik.”
“Kamu menolak lamaranku Fri?”
“Iya Rik. Maaf ya. Aku ingin fokus membuat perusahaan ini semakin berkembang lagi.”
__ADS_1
“Oh begitu. Aku paham,” kata Erik sambil tersenyum. Rani dan Frita heran melihat Erik tersenyum.
“Baiklah kalau itu memang keinginanmu, sebagai calon suami yang baik aku pasti akan mendukungmu untuk mewujudkan cita-citamu dulu. Aku siap kok menunggumu,” kata Erik dengan wajah senang.
Rani yang mendengar perkataan Erik segera memalingkan wajahnya karena sudah tidak kuat lagi menahan tawa. Sedangkan Frita hanya tersenyum bingung menanggapi Erik. Setidaknya dia pikir untuk saat ini dia aman dari kemarahan Erik.
“Tapi jika gaun ini memang sudah cocok akan aku pesan saja langsung. Takutnya keburu dibeli sama orang,” ucap Erik sambil tersenyum.
“Sebaiknya tidak usah Rik. Aku tidak ingin merepotkanmu. Lagipula kita kan cuma teman saja” kata Frita mencoba mencegah Erik sambil kembali menegaskan status mereka.
“Tidak apa-apa Fri. ini mah tidak seberapa dengan kebahagiaanmu.”
“Tapi Rik-“
“Sudahlah Fri. oh iya btw kemarin siapa nama sopir yang mengganggu acara lamaran kita?” tanya Erik dengan wajah serius.
Melihat wajah Erik yang serius seperti itu, membuat Frita sedikit senang karena dia pikir Erik akan memarahi Aditya karena kejadian kemarin. Erik bilang dia ingin diantar oleh Adit karena sopir pribadinya ada keperluan mendadak.
Erik kemudian pamit meninggalkan ruangan Frita, sebenarnya Frita agak kecewa ketika Erik berkata hanya ingin diantar oleh Aditya, bukan untuk memarahinya. Erik berjalan dengan wajah serius menuju kantor bagian sopir.
“Ada perlu apa ya Pak?” tanya Hadi cemas.
“Di mana Aditya? saya ingin bertemu dengannya sekarang,” tanya Erik. Hal ini membuat Hadi de javu dengan kejadian saat Frita datang ke kantornya.
“Sebentar pak akan saya panggilkan dia,” kata Hadi.
Erik memeriksa ponselnya yang bergetar. Tampak anak buahnya sudah mengirimkan lokasi mereka saat ini. Erik tersenyum lebar dan memerintahkan anak buahnya untuk bersiap. Tak lama kemudian Hadi datang bersama dengan Aditya.
“Ada perlu apa ya Pak?” tanya Aditya.
“Tolong antar saya ke lokasi ini ya, saya ada pertemuan penting di sana,” jawab Erik sambil memperlihatkan lokasi di map.
“Setahu saya di sana cuma ada gubuk tua doang Pak,” jawab Aditya.
“Saya ketemuan di sana, tapi habis itu langsung pergi ke restoran di dekat sana,” jelas Erik dengan wajah kesal, ternyata menipu Aditya tidak semudah yang dia kira.
“Baiklah Pak.”
Walaupun Aditya sedikit curiga melihat gelagat Erik. Aditya kemudian menyiapkan mobil yang biasa dia gunakan. Erik masuk ke dalam mobil. Aditya mengemudikan mobilnya ke jalanan menuju lokasi yang Erik tunjukan tadi. Namun tiba-tiba di depannya tampak ada empat sepeda motor yang menghalangi jalan. Dua orang pria sangar muncul dan menghampiri mobil mereka.
__ADS_1
BERSAMBUNG…