
Entah sudah berapa puluh kali Clarissa mencoba menelepon Aditya. Ia tidak bisa dan tidak ingin mengangkatnya. Ia merasa ia harus datang langsung pada Frita nanti di saat tubuhnya sudah pulih. Ia merasa harus bicara empat mata dengan istri yang sudah dilukainya itu.
Seandainya yang menelepon Frita, pasti sudah ia angkat. Aditya seolah berharap ke sesuatu yang tak mungkin.
“Mungkin besok lusa aku akan kembali ke Bandung,” katanya pada Diana. “Aku sudah mulai baikan.”
Saat itu Ratna menginap di sebuah hotel tak jauh dari apartemen Diana. Ratna pergi ke aparetmen Diana tiap pagi, menjenguk Aditya. Ia tidak suka mendengar ide itu.
“Mau apa kamu ke Bandung?” tanyanya.
“Menyelesaikan urusan ini, Ratna. Paling tidak aku bisa meminta maaf langsung pada Frita.”
“Baiklah, aku antar kamu nanti,” kata Ratna.
Diana hanya diam saja. Ia merasa tak dipedulikan di sini. Ia merasa seperti orang luar saja. Namun, tentu Diana tak bisa berbuat lebih. Ia hanya mampu mewujudkan rasa kagum dan cintanya pada Aditya dengan perbuatan sederhananya kini: membantu lelaki itu agar segera sembuh.
Aditya mendapat telepon dari nomor tak dikenal sore itu. Saat itu ia duduk berdua saja dengan Diana. Ratna sedang keluar untuk membeli sesuatu.
“Siapa ini?” sapa Aditya.
“Halo, Dit. Ini gue, Jimmy Wijaya.”
Jimmy bertanya di mana pastinya posisi Aditya kini. Aditya menjelaskan setelah ia bertanya pada Diana alamat apartemennya.
“Ini soal Frita? Apa yang terjadi padanya?” Entah kenapa Aditya bertanya seperti itu.
“Kurang lebih begitu. Tapi ini lebih ke tentang diri loe, Dit,” jawab Jimmy.
Aditya merasa aneh. “Memangnya kenapa gue?”
“Tunggu saja nanti. Lebih baik kita bicara langsung,” jawab Jimmy lalu menutup telepon itu.
Aditya menunggu entah berapa lama. Malam sudah larut ketika akhirnya Jimmy tiba di apartemen Diana. Aditya merasa tak enak sudah merepotkan gadis itu. Kini dia tertidur karena lelah bekerja dan sekaligus merawatnya di sini. Jadi, Aditya menemui Jimmy di tempat parkir.
__ADS_1
“Kita tidak masuk saja?” tanya Jimmy.
“Ini tempat yang lebih baik untuk mengobrol. Gue khawatir teman gue nanti jadi terbangun. Dia sudah tidur,” jawab Aditya sambil berjalan dan menunjuk ke seberang tempat parkir.
“Baiklah,” tukas Jimmy.
Di situ ada tempat duduk panjang dari besi. Mereka duduk agak berjarak. Jimmy menawarkan rokok pada Aditya, tapi ditolaknya dengan halus.
“Ada apa?” tanya Aditya tanpa ingin berbasa-basi.
Jimmy masih menyalakan rokoknya, lalu melirik perban di tubuh Aditya. Ia sudah tahu itu ulah orang-orang suruhan Rama. Dua hari terakhir Jimmy menelurusi beberapa tempat, menggali informasi di sana-sini. Ia tahu sebagian besar persoalan ini.
“Sherly hamil. Tapi itu bukan anak loe,” kata Jimmy setelah mengisap rokoknya itu dalam-dalam, dan mengembuskan asapnya ke udara.
“Apa?” tanya Aditya tak percaya.
“Itu anak gue, Dit. Yah, kalau bicara soal ini, bakalan panjang. Yang jelas jangan merasa bersalah. Itu anak gue. Dia hamil lebih dari dua bulan saat menemuimu di mall waktu itu.” jelas Jimmy.
“Jadi, itu...?”
Aditya menatap foto-foto telanjang dirinya dengan beberapa gadis yang pernah dia tiduri di masa lalu, jauh di masa lalu, termasuk ada juga foto Amy Aurora yang telanjang bulat dengannya di situ. Dia memang tahu itu foto editan, meski benar ia tidur dengan beberapa wanita itu. Lagi pula, siapa juga yang sempat mengambil fotonya saat terlelap di pelukan para wanita itu?
“Ya, benar. Ini memang editan,” jawab Aditya pelan. Lalu ia menyadari sesuatu. Ia melihat ada foto beberapa wanita lain yang tak pernah ia tiduri.
“Kok bisa? Gue nggak pernah tidur dengan wanita ini. Juga yang satu ini!” katanya lagi sambil menunjuk beberapa foto.
“Inilah masalahnya. Mereka sengaja merusak pernikahan kalian. Sengaja foto-foto ini dilebih-lebihkan oleh mereka,” kata Jimmy.
“Rama dan kawan-kawan, ya?”
“Ya, siapa lagi?”
Aditya dan Jimmy sama-sama terdiam untuk beberapa saat.
__ADS_1
Lalu Aditya menggumam, “Gue sudah mendapat peringatan ini dari seseorang di keluarga itu. Paman Rudi. Begitulah beliau meminta gue panggil.”
“Oh, ya? Rudi saudara Setiawan Budi? Yah, gue rasa orang itu sudah dipojokkan di keluarganya sendiri,” kata Jimmy.
“Bagaimana loe bisa tahu?” tanya Aditya.
“Informan gue ada di mana-mana, Dit,” jawab Jimmy pendek, lalu menjatuhkan puntung rokok yang belum habis itu ke tanah, dan menginjaknya sampai padam.
Jimmy berkata lagi, “Yang terbaru, Frita dipaksa menerima lamaran keluarga itu. Ya, dia dipaksa menikahi sepupu Rama! Loe tahu loe tidak bersalah. Mungkin masa lalu itu sulit Frita terima. Maksud gue, soal loe tidur dengan gadis-gadis itu. Tapi Sherly bukan mengandung anak loe.”
Aditya terlihat antara senang, bingung, juga geram. Ia kini tahu peringatan Paman Rudi itu benar adanya.
“Jadi, rencana loe apa?” tanya Jimmy.
“Menemui Frita,” jawab Aditya pelan. Terdengar agak ragu.
“Jangan khawatir. Besok kita berangkat. Gue akan bantu jelasin soal Sherly. Gue harap kita tidak terlambat. Mungkin saja Rama dan saudara-saudaranya akan datang lagi ke Frita,” kata Jimmy sambil bangkit dari tempat duduk itu.
“Yah, besok gue berangkat. Tapi, loe tidak harus ikut, Jimmy.”
“Gue harus ikut. Bayi di perut Sherly itu perbuatan gue. Dan sekarang pernikahan kalian hancur karenanya.”
Jimmy menjelaskan secara singkat hubungannya dengan Sherly. Adiyta segera saja meminta maaf karena waktu itu sempat tidur dengan Sherly.
“Gue tahu itu bukan niatan loe. Sherly sengaja meletakkan sesuatu di gelas loe saat itu,” jawab Jimmy.
Mereka tak mau lagi membahas itu. Kini Jimmy pamit pergi. Ia menginap di salah satu hotel tak jauh dari situ. Hotel yang sama dengan hotel Ratna.
***
Ratna tampak heran melihat seorang lelaki yang tak asing di matanya, keluar dari lift malam itu. Gadis itu baru saja merokok di luar karena sulit tidur. Ia membuntuti lelaki itu sampai masuk ke pintu kamarnya.
“Itu polisi bernama Jimmy? Kenapa dia di sini?” bisik Ratna pada dirinya sendiri. “Ini pasti soal Frita. Ada apa lagi? Saat aku sudah mendapat kesempatan dekat dengan Aditya lagi.”
__ADS_1
Dengan kesal ia masuk kamarnya, berusaha tidur lebih cepat, agar besok pagi bisa bangun lebih awal untuk memastikan Aditya tak pergi ke mana-mana.
Bersambung....