Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 132


__ADS_3

Esok harinya Aditya menunggu Frita di dalam mobil, Pandu dan Clarissa sudah berangkat menuju sekolah. tak lama kemudian Frita keluar dari dalam rumah dengan wajah yang murung. Di depan rumah terdengar suara mobil yang berhenti.


“Duh pagi-pagi begini sudah murung saja Mbak, ada apa sih? Biasanya juga semangat,” tanya Aditya.


“Aku akan berangkat dengan taksi online saja,” jawab Frita.


“Loh kok begitu? Memangnya saya salah apa? Gara-gara chat tadi malam?”


“Bukan!” tegas Frita pendek sambil berlalu menuju taksi.


Aditya menghela nafas dalam. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang sudah membuat Frita bersikap seperti itu kepadanya. Dia kemudian mengemudikan mobilnya menuju perusahaan. Sepanjang jalan dia terus memikirkan kiranya kesalahan apa yang dia perbuat hingga membuat Frita seperti itu.


Di perusahaan Aditya juga tidak berkonsentrasi dalam beraktifitas, entah kenapa hatinya selalu gelisah memikirkan Frita yang tiba-tiba terasa menjauhinya. Ketika istirahat Aditya menyendiri duduk di bangku tepat di bawah pohon yang rindang. Makanan yang dia beli sama sekali belum tersentuh. Tiba-tiba saja Rani menghampirinya.


“Kamu sedang apa Dit sendirian saja di sini?” tanya Rani sambil duduk di samping Aditya.


“Aku sengaja ingin makan di sini Ran,” jawab Aditya.


“Tapi kok makananmu masih utuh?”


“Entahlah, hari ini aku tiba-tiba tidak nafsu makan.”


“Kamu kenapa sih? Cerita dong sama aku, siapa tahu aku bisa membantumu.”


“Aku juga bingung apa yang harus aku ceritakan. Aku sendiri bingung sebenarnya apa yang terjadi dengan diriku.”


“Kamu sedang jatuh cinta?” tanya Rani sambil tertawa kecil.


“Kamu ini ada-ada saja, sudah jelas aku sedang bingung malah dibilang sedang jatuh cinta,” ucap Aditya sambil ikut tertawa.


“Gini aja deh, keluarin semua unek-unek di hatimu itu satu persatu biar nanti kita lihat sebenarnya masalah apa yang membuatmu bingung begitu,” kata Rani sambil tersenyum.


“Hemh, Aku juga tidak bisa bilang apapun kepadamu.”


“Kamu sedang bertengkar dengan Mbak Frita?”


“Eh, nggak lah, kok kamu bilang begitu?”


“Soalnya seharian ini Mbak Frita juga terlihat murung banget, aku yakin masalah biasa saja tidak akan membuatnya begitu. Dia murung seperti itu biasanya karena ada masalah pribadi yang rumit,” jawab Rani sambil menatap jauh. Aditya hanya terdiam.

__ADS_1


“Kamu suka kan dengan Mbak Frita?” tanya Rani tiba-tiba. Aditya yang hendak makan kembali menaruh makanannya, entah kenapa pertanyaan itu terasa sangat mengejutkan.


“Saat kamu menolak perasaanku waktu itu dan bilang ada wanita lain di hatimu aku sudah curiga. Sejak awal hubungan kalian memang terlalu aneh jika hanya sekedar bos dan sopirnya saja. Aku yakin kalian menyembunyikan sesuatu dariku. Tapi kalau memang kamu tidak mau cerita juga tidak masalah kok,” ujar Rani kembali.


“Saat itu, aku merasa tidak pantas untukmu. Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik dariku,” kata Aditya pelan.


“Jadi itu juga yang menjadi permasalahanmu dengan Mbak Frita ya?” tanya Rani sambil tersenyum. Aditya hanya diam menatap langit tanpa menjawab sepatah katapun.


“Kata-katamu barusan sudah bisa membuktikan bahwa kamu orang baik Dit. Aku memang tidak tahu masa lalumu, aku juga tidak tahu apa saja yang sudah kamu perbuat hingga kamu sendiri merasa bahwa keberadaanmu hanyalah sebuah hal yang tak layak disamakan dengan manusia. Mengingat kesalahan memang sangat baik, tapi jangan sampai hal itu membuat hidupmu jadi lebih terpuruk.”


“Kamu juga harusnya sadar jika kata-katamu barusan itu bukti penyesalanmu, kamu selama ini terlalu sibuk memikirkan semua kesalahanmu di masa lalu sampai-sampai kamu tidak menyadari bahwa saat ini kamu sendiri sudah berubah serta sudah banyak membantu orang lain. Aku salah satunya.”


“Aditya, dulu perasaanku benar-benar sudah mati dengan yang namanya cinta. Tapi berkatmu aku kembali merasakannya, karena itulah perasaanku kepadamu tidak akan berubah sampai kapanpun,” kata Rani sambil bersandar di bahu Aditya.


Entah kenapa perasaan Aditya saat ini menjadi lebih tenang setelah mendengar kata-kata Rani. Aditya sadar jika yang dikatakan oleh Rani itu memang benar, dia selalu sibuk dengan sisi jahat dirinya sendiri tanpa melihat sisi baiknya sedikitpun. Dia saat ini sudah memutuskan untuk mencoba memperjuangkan perasaannya sedikit dan mengesampingkan masa lalunya.


“Terimakasih, Rani,” gumam Aditya.


Sore harinya Frita pulang menggunakan taksi online lagi. Di rumahnya pun Frita tidak banyak bicara, dia lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar. Hal itu membuat Aditya tidak punya kesempatan berbicara dengannya.


“Kakak aneh banget ya hari ini,” ujar Clarissa.


“Iya, sejak pagi dia murung terus,” timpal Aditya.


“Marahan?” tanya Aditya sambil tertawa.


“Iya kelihatannya kak Frita berusaha menjauhi kak Aditya, kalau bukan sedang bertengkar apa lagi coba?”


“Kakak juga nggak tahu Ris.”


“Masa tunangan sendiri nggak tahu.”


“Tunangan ya,” gumam Aditya pelan.


“Kalau kami tidak berbicara mana mungkin tahu sebabnya Ris,” kata Aditya.


“Ya bicara dong, tinggal samperin ke kamarnya terus cari tahu masalahnya.”


“Kami baru tunangan Ris bukan suami istri,” ucap Aditya tertawa sambil mencubit pipi Clarissa.

__ADS_1


Esok paginya Frita kembali berangkat menggunakan taksi online, bahkan pagi ini dia sama sekali tidak menanggapi perkataan Aditya. saat ini dia hanya bisa menghela nafas sambil menatap Frita dari kejauhan.


“Kok kak Frita semakin menjauhi kak Aditya ya pa?” tanya Clarissa sambil menatap Aditya.


“Sudah jangan ikut campur masalah mereka, ayo masuk nanti kamu terlambat ke sekolah.”


“Ih, papa pasti tahu sesuatu. Kak Frita jadi begitu setelah kedatangan mama kemari kan?”


“Kamu ini kepo terus, biarin saja nanti mereka baikan lagi kok.”


Akhirnya sambil cemberut Clarissa masuk ke dalam mobil untuk pergi sekolah. Aditya juga pergi menuju perusahaan sambil memikirkan cara untuk membujuk Frita agar mau berbicara dengannya.


Siang harinya sebuah mobil mewah berhenti di halaman kantor perusahaan Glow & Shine Co. seorang pria dengan pakaian rapi, berkacamata hitam keluar dari dalam mobil di dampingi oleh dua orang bodyguard yang kekar dan sangar. Dia masuk ke dalam kantor dan berhenti di resepsionis.


“Ada yang perlu saya bantu pak?” tanya resepsionis. Pria itu membuka kacamatanya dengan tatapan kesal.


“Menurutmu memangnya umurku berapa tahun?” tanya pria itu.


“Eh maaf. Maksud saya kakak ada yang bisa saya bantu?” tanya resepsionis mengulangi pertanyaannya.


“Aku ingin bertemu dengan calon istriku sekarang,” jawab pria itu dengan santai. Si resepsionis hanya bengong mendengarnya.


“Maaf kak memangnya siapa ya calon istrinya?”


“Siapa? Kamu berapa jam sih kerja di sini?”


“Saya sudah dua tahun bekerja di perusahaan ini kak.”


“Masa sudah bertahun tahun belum tahu calon istriku siapa!”


“Maaf, memangnya siapa ya kak?”


“Frita Larasati! Direktur perusahaan ini, masa nggak tahu!”


“Maaf kak, tapi saya beneran baru tahu. Lalu kakak sendiri siapa ya?”


“Kan calon suaminya Frita!”


“Maaf, maksudnya namanya, biar saya mudah menyampaikannya kepada bu Frita.”

__ADS_1


“Diaz Argawijaya, dia pasti tahu kok,” jawab pria itu dengan wajah kesal. Resepsionis kemudian menelepon Rani untuk menyampaikan kedatangan Diaz.


BERSAMBUNG…


__ADS_2