
Aditya terduduk di taman depan gedung apartemen itu, ketika banyak preman entah sejak kapan sudah mengepungnya dari segala sudut.
“Bangsat, siapa kalian?!” kata Aditya yang tentunya tahu mereka semua ada di sini untuk mecelakainya.
“Kami bukan siapa-siapa!” jawab salah satu dari preman itu, lalu melempar botol pecah ke muka Aditya.
Aditya menangkis botol itu dengan kedua tangannya, tapi ia jadi tak siap mendapat pukulan tongkat baseball ke tengkuknya.
Aditya jatuh berguling. “Anjing!” teriaknya kesakitan.
Aditya menoleh ke belakang dan melihat sebuah sepatu dan batu bata mengarah ke wajahnya.
Duak!
Aditya kembali terkapar. Kali ini hidung dan mulutnya berdarah.
“Hajar terus, Bro! Jangan kasih jeda!” teriak seseorang.
Aditya sudah akan bangkit lagi, tapi ia tak sempat melihat seseorang menyabet paha kirinya dengan pisau cutter.
Aditya menjerit kesakitan, dan jatuh lagi. Seseorang tidak buang waktu, langsung mengepruk kepala Aditya dengan botol kaca dari depan dan belakang.
Pyar!
Botol-botol itu pecah berserakan.
Darah di kepala Aditya bercucuran. Ia mencoba menghalau aliran darah ke matanya, tapi gagal. Ia tak bisa melihat dengan jelas gerakan para lawannya.
Berikutnya Aditya tak tahu lagi sudah terluka di mana saja. Ia tentu sempat melukai sebagian lawannya, tapi mereka terlalu liar. Dia ditendang ke sana kemari, dihajar oleh entah senjata apa saja. Tapi lucunya, mereka seperti sengaja tak membuatnya mati oleh luka yang terlalu parah.
Hanya kaki kiri Aditya saja yang lebih sering menjadi sasaran. Seolah mereka mau membuatnya cacat.
Namun Aditya tahu niatan itu setelah seorang dari mereka mencoba menghantam dengkul kirinya dengan balok kayu, serta seorang lagi mencoba menginjak kaki kirinya setelah melompat sangat tinggi.
Aditya berusaha menghindar sebisa mungkin. Berusaha membalas dengan tinjuan dan tendangan sebisa mungkin.
Namun jumlah mereka terlalu banyak.
Pada saat itu, orang-orang yang berjalan di sekitar taman mulai berdatangan menonton.
__ADS_1
Mereka tak berani terlalu mendekat, karena takut. Mereka hanya mencoba merekam adegan itu dari jarak yang lumayan aman, berharap para pelaku pengeroyokan itu wajahnya bisa diviralkan jika nanti mereka mencoba lolos.
***
“Lima puluh orang? Kalian serius?” tanya Hendy di seberang telepon.
“Ya, serius dong!” jawab Reza.
“Gue ke sana, ya? Jadi penasaran!” kata Hendy Prakoso, lalu menutup teleponnya.
Hendy menatap Sherly yang mengenakan gaun anggun dan terlihat sangatlah cantik, tapi wanita itu tak henti menangis. Hendy bertanya, “Kamu kuantar pulang, ya?”
Sherly mengangguk.
Hendy cepat-cepat menggiring Sherly ke tempat parkir, menggandengnya seakan mereka pengantin baru. Hendy sungguh naksir berat pada Sherly. Ia berharap suatu hari nanti bisa meniduri wanita ini sepuasnya. Seperti yang biasa dia lakukan pada para wanita lain di luar sana. Wanita-wanita yang disukainya.
Herman Kusuma, yang juga sahabat dekat keluarga Setiawan Budi, turut dalam mobil Hendy.
“Mestinya dia naik taksi saja, Bro, biar kita enggak kelewat lihat tontonan seru itu,” kata Herman pada Hendy.
“Kamu jangan bersikap kasar pada wanita!” tukas Hendy tak terima, lalu melirik ke arah Sherly, yang tak henti terisak-isak.
***
Ketika Hendy datang, para preman itu sudah tidak ada.
Ia hanya menemukan mobil salah satu sepupunya yang terpakir di dekat taman.
“Hei, ke mana mereka semua?” tanya Hendy setelah turun dari mobilnya sendiri dan berjalan tergesa ke depan mobil Rama.
Herman mengikutinya berjalan ke situ.
“Ini dia di sini,” kata Rama Subandi, lalu menjambak rambut Aditya yang berlumur darah, tak berdaya, dan nyaris sekarat.
“Anjing! Segampang ini ternyata, ya? Katanya dia sulit dikalahkan!” kata Hendy.
Tak ada yang menanggapi ucapan itu. Aditya memang sulit dikalahkan seperti tadi. Hanya jika ia tak mendapat persoalan lain seperti yang barusan menimpa. Keresahan hati atas marahnya Frita membuat Aditya tak bisa fokus. Itulah yang menyebabkan dia kalah.
“Buruan kita cabut. Tuh, warga sudah pada ngelihatin!” kata Rako yang menunjuk ke arah samping.
__ADS_1
Beberapa penonton pengeroyokan tadi tampak saling berbisik, bingung kenapa Rama dan Rako yang tadi mengusir para preman dengan pistol (sambil mengaku polisi) tak juga membawa Aditya ke rumah sakit.
“Nanti mereka curiga, Bang!” sambung Rako cemas.
“Ya, ya. Gue berangkat!” sahut Reza yang duduk di bangku kemudi.
Hendy pun mengikuti mobil mereka, berlalu dari tempat itu. Ia masih penasaran apa yang akan mereka lakukan pada Aditya. Jadi ia harus ikut. Kali ini Herman yang nyetir. Ia bisa mengikuti mobil Rama yang berjalan lumayan kencang.
Mobil yang dikemudikan Reza Bastomi itu membelah jalanan kota Bandung yang malam. Menuju tepi kota.
Sepanjang perjalanan, Hendy tak henti membayangkan, “Kalau aku menikahi Frita, apa mungkin aku masih bisa meniduri Sherly?”
Hendy benar-benar tak tahan melihat kecantikan Sherly. Ia sungguh menginginkan bukan hanya hati perempuan itu, tetapi juga tubuhnya. Tubuh yang terlalu indah, bahkan meski setelah ia melahirkan bayi nanti.
Hanay saja, Hendy tak terlalu tahu apakah ia bisa berharap soal itu, dan kini malah jadi pusing sendiri. Namun itulah rencana mereka. Menikahkan Frita yang patah hati dengan sosok selembut Hendy. Meski dia playboy, Hendy mampu bersikap lembut pada wanita. Ia dianggap paling pas untuk menjadi suami Frita.
Setiawan Budi dan para konconya akan dengan senang hati menguasai perusahaan keluarga Pandu dan Frita. Itu hanya akan terjadi jika Hendy sesegera mungkin datang pada wanita patah hati itu, dan menjadi suami barunya, untuk menutupi omongan orang yang pahit.
Sungguh sebuah rencana jahat yang bermula dari kebusukan hati Ovie.
***
“Janji apa yang belum dia lunasi, Reza?” tanya Rama kepada Reza setelah mereka berhenti di dekat sebuah pom bensin sepi.
“Telanjang di depan umum,” jawab Reza dingin.
Lalu tanpa ambil jeda, Reza menendang wajah Aditya, membuatnya terkapar dan tak berdaya. Aditya tak bisa mencegah mereka yang segera melucuti seluruh pakaian dan bahkan ****** ******** juga.
Dalam waktu singkat, Aditya ini sudah telanjang bulat!
“Hahaha! Inilah yang harusnya loe lakuin waktu itu, dasar pecundang!” ledek Reza pada Aditya, lalu menendang perutnya.
Mereka sengaja meninggalkan Aditya di tempat yang agak ramai. Dalam kondisi tak berpakaian sama sekali!
Waktu masih menunjuk pukul 21.00. Masih banyak orang terjaga. Masih banyak pula mobil dan kendaraan lalu lalang. Warga heran melihat tubuh telanjang lelaki itu. Para warga yang iseng memfoto tubuh Aditya. Menuliskan entah apa saja di akun medsos mereka.
Aditya tak bisa mencegah itu juga. Tenaganya hampir habis. Ia berbaring telanjang, penuh luka, seperti orang gila yang disiksa oleh entah siapa.
Aditya tak sadarkan diri tak lama setelah tubuhnya dicampakkan ke tepi jalan.
__ADS_1
Bersambung...