
The Green Devil atau Iblis Hijau adalah julukan yang sudah lama disandangnya. Ia tak segan membunuh para korban, asalkan klien meminta dan membayarnya mahal. Tak peduli targetnya hanya anak kecil tak berdosa.
Maka, ia dengan angkuh berkata pada Aditya, “Gue bakal membunuh loe terlebih dulu sebelum menghabisi mereka. Tentu saja sebelum gue bunuh, mereka akan gue tiduri.”
Aditya tahu yang dimaksud The Green Devil siapa saja. Yaitu Clarissa dan terutama Frita. Entah bagaimana si Iblis Hijau ini bisa tahu seluk beluk kehidupan Aditya, tapi ia memang tahu dan akhirnya menyebutkan siapa saja yang akan dibunuhnya setelah dia membunuh Aditya.
“Paman Salim yang malang itu juga pasti akan mati. Tapi akan gue biarkan lelaki tua itu mati pelan-pelan. Gue gak akan membunuhnya seketika, tapi gue bikin cacat saja dulu. Gimana menurut loe?” ledek The Green Devil yang saat itu nangkring di atas genteng rumah Shelly D.
Aditya terbakar amarah, lalu melompat seakan tubuhnya ringan. Kekuatan dan skill beda diri serta tarung keduanya memang cenderung seimbang, jadi Aditya tak mungkin mengalahkannya begitu saja.
“Pakai tangan kosong kalau loe berani!” geram Aditya.
“Oke siapa takut?” balas Iblis Hijau.
Lebih hebatnya lagi, pertarungan itu bahkan nyaris berlangsung tanpa suara.
***
Shelly D dan Clarissa memutuskan menonton film Saving Private Ryan sebuah film perang lama tentang seorang prajurit tempur biasa yang dijemput oleh sebuah pasukan demi memulangkan sang prajurit itu pada ibunya. Prajurit itu sebenarnya baik-baik saja, tapi sang ibu tak lagi memiliki anak, kecuali si prajurit tersebut, setelah para anaknya di medang perang harus gugur.
“Jadi mau tak mau mereka harus membawa Ryan pulang agar sang ibu tidak sedih dan kecewa pada negara,” terang Shelly D ketika Clarissa menanyakan sinopsis singkat film itu.
Clarissa sangat penasaran dan setuju menontonnya. Mereka menyiapkan beberapa roti bakar dan dua gelas susu cokelat hangat.
Itu film yang sangat menegangkan. Saking serunya film itu, Clarissa dan Shelly D sampai lupa apa yang tadi terjadi di arena balap Vanessa Yan. Mereka terlalu fokus pada para prajurit yang berjuang menjemput Ryan di garis depan untuk membawanya pulang. Ironisnya, dalam perjalanan itu, justru banyak prajurit yang harus berkorban nyawa. Ini mereka lakukan demi seorang ibu.
Suara tembakan, suara teriak kesakitan, ledakan bom, mengiringi film itu sehingga apa yang terjadi di luar sana tak mereka dengar.
__ADS_1
Clarissa justru sesekali berkata di awal film, “Gimana sih wajah Ryan ini? Sungguh bikin penasaran!”
“Tonton saja. Nanti pasti kamu ngefans,” sahut Shelly D yang sudah entah berapa kali nonton film lama itu.
Begitu tiba di adegan ketika Ryan muncul, Clarissa akhirnya berteriak senang. Apa yang dibilang Shelly D ternyata benar. Pemeran Ryan tak lain aktor yang juga dia sukai di film yang belum lama ini ditontonnya di bioskop: Ford vs Ferrari.
“Ini benar-benar pertarungan hidup dan mati, ya, Kak,” gumam Clarissa sepanjang sisa film sambil tak henti mengunyah roti bakarnya.
Ya, memang sebuah pertarungan hidup dan mati.
***
Begitupun dengan yang terjadi antara Aditya dan The Green Devil.
Keduanya sudah sepakat untuk tak berhenti sampai ada salah satu yang mati dan baru saat itulah pertarungan mereka akan berhenti.
“Jadi cuma gini kemampuan loe?” ledek Aditya setelah di satu kesempatan berhasil memukul perut The Green Devil hingga pembunuh bayaran profesional itu terjatuh dan berguling ke halaman belakang rumah tetangga Shelly D.
“Bangsat!” umpat The Green Devil segera bangkit.
Aditya tak ingin Shelly D atau Clarissa menyadari pertarungan mereka, jadi dia pun mengikuti The Green Devil, turun ke bawah, saling hajar di sana dengan entah jurus apa saja.
Segala kemampuan benar-benar Aditya kerahkan.
Satu kali The Green Devil berhasil menjerjangnya, membuat Aditya jatuh dalam posisi berbaring dan sang pembunuh segera saja menindihnya dari atas dan lalu mulai mencekiknya.
Aditya mencoba melepas cekikan itu, tapi kedua tangan The Green Devil bagaikan besi baja yang mencengkram, berasa ia bertarung lawan robot. Karena sulit melepaskan cekikan itu, Aditya terpaksa mencolok mata sang Iblis Hijau, bahkan bukan cuma jari jempolnya mencolok, tapi menusuk begitu dalam.
__ADS_1
“Anjing! Sakit goblok!” umpat The Green Devil yang segera melepaskan cekikan di leher Aditya dan berguling menjauh untuk memasang kuda-kuda lagi.
Namun tampaknya jurus melukai mata dari Aditya tadi lumayan mengurangi skill mata sang pembunuh. Aditya sengaja berlari keluar pagar rumah kosong tersebut, lalu menyeberang ke sebuah taman kecil, dan terus berlari menuju ke taman kanak-kanak tak jauh dari situ.
“Mau lari ke mana loe, Banci!” pekik The Green Devil, tak sadar ia dipancing kian menjauh dari rumah Shelly D.
Di sinilah Aditya bisa bertarung dengan lebih leluasa dan tak khawatir mencelakai orang lain. Di tempat sepi, tidak akan ada orang yang melihat atau terkena dampak dari pertarungan mereka.
Akhirnya, setelah mencoba mencolok mata The Green Devil sekali lagi, Aditya pun berhasil melemahkan lawannya. Mungkin memang itu cara yang kurang fair, tetapi apa boleh buat? Menghabisi orang jahat tak harus selalu menggunakan cara-cara yang fair, itulah yang Aditya putuskan saat itu.
Di satu momen, ketika The Green Devil sibuk memulihkan penglihatannya, ia tidak sadar Aditya berada di belakangnya, menyerangnya dengan amat telak. Sebuah pukulan di bagian belakang kepala seketika membuatnya ambruk.
Namun, The Green Devil tak lantas kalah; ia geram dan mengeluarkan sebilah pisau cukur, mencoba mencukur pembuluh darah utama di leher Aditya. Sayangnya ia gagal. Aditya berhasil merebut pisau itu setelah lengannya sempat tersayat cukup dalam. Kini The Green Devil meregang nyawa dengan leher yang nyaris putus.
Aditya sungguh sudah muak. Ia sudah muak melihat darah dan kematian seperti ini. Tapi, ia terpaksa harus melakukannya. Demi melindungi semua.
Setelah menyingkirkan mayat The Green Devil dari taman kanak-kanak itu, dia pun pulang ke rumah Frita, dalam kondisi lelah dan tubuh yang hampir kehabisan darah. Itu tadi luka sayatan ternyata cukup dalam.
Aditya hanya bisa menjaga sebisa mungkin agar darahnya tak terlalu banyak yang keluar. Ia menumpang taksi, menolak saat diantar ke rumah sakit.
“Tapi Mas terluka parah begitu! Kecelakaan atau dirampok, Mas?”
“Sudah, Pak. Jangan banyak tanya! Antar saja ke alamat yang saya minta!” katanya tegas.
Sopir taksi itu cuma mengangguk pelan, ketakutan.
“Ini ambil kembaliannya. Jangan bilang Bapak sudah mengantar saya,” kata Aditya sembari menyodorkan tiga lembar uang seratus ribuan.
__ADS_1
Sopir itu tak lagi bicara dan mengantarnya sampai ke rumah Frita.
Bersambung...