Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 117


__ADS_3

Dengan cepat Aditya menembak ban ketiga mobil box itu hingga menepi ke pinggir jalan. Aditya segera memacu mobilnya menjauhi rombongan itu. Setelah cukup jauh dia menepikan mobilnya di kebun jati. Lalu berlari kembali kearah rombongan mereka.


“Kurang ajar!” gerutu seorang pria sambil bertolak pinggang.


“Gimana nih bos apa kita perlu mengejarnya?”


“tidak perlu, prioritas kita saat ini adalah semua mobil ini. Cepat ganti semua ban mobilnya!” perintah pria itu.


“Sesuai rencana, mereka semua melupakan posisinya dan berkumpul di sana semua,” gumam Aditya sambil mengendap endap mendekat.


“Kalian semua kepung dia!” teriak pria itu tiba-tiba.


Aditya kaget, ternyata di belakangnya sudah ada beberapa orang yang mendekat. Beberapa orang mulai melepaskan tembakan kearahnya namun dengan gesit Aditya meliuk liuk bersembunyi dibalik pohon jati.


“Cih! Hitunganmu tidak akurat sama sekali Dark. Ternyata orang yang menjaganya bukan hanya di belakang mobil box tapi di depan juga ada,” gumam Aditya sambil terus bersembunyi.


“Kalian pastikan dia terkepung! Jangan sampai dia lolos!”


“Sisanya segera ganti ban mobil! Kita akan langsung pergi setelah menghabisinya!”


“Aku benar-benar terpojok,” gumam Aditya.


Tiba-tiba daun Jati terlihat bergerak seketika, orang-orang di sana segera mengarahkan tembakannya ke atas. Aditya segera membalas tembakan mereka dengan tepat, beberapa orang mulai tumbang dan menjerit.


“Jangan panik! Pastikan tubuh kalian tersembunyi dengan benar!”


“Daun yang bergerak di atas Cuma pengalihan, aku yakin si brengsek itu ada di balik pohon.”


“Cih, ternyata pemimpin mereka cukup jeli juga, benar-benar merepotkan.”


“Back up gue!” teriak seorang pria hendak mendekati Aditya namun tubuhnya langsung terkapar dengan luka tembak di dadanya.


“Gimana nih bos Rama?”


“Jangan gegabah! Kita masih belum tahu jumlah mereka ada berapa orang,” tegas Rama.


Aditya kemudian melemparkan jaketnya yang diisi batu, semua orang mulai menembakinya. Aditya memanfaatkan itu untuk merangkak perlahan kearah belakang lalu menghabisi beberapa orang di belakangnya dengan pistol.


Mendengar jeritan dan kegaduhan anak buahnya, Rama segera memerintahkan mereka semua bergerak maju. Namun tidak ada siapa-siapa di sana. Rama mulai cemas, dia memerintahkan anak buahnya untuk waspada.

__ADS_1


“Kita bagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok bersamaku di sini untuk mencari biang keroknya, sedangkan satu kelompok lagi berangkat untuk mengawal mobil bos ke tempat tujuan,” perintah Rama.


“Baik,” jawab beberapa orang lalu pergi menuju mobil box.


“Keluar lu keparat!” teriak Rama dengan tatapan tajam, tangannya memegang erat pistol miliknya.


“Bos, semua orang di sini sudah tewas! Semua ban cadangan juga sudah kemps!” teriak anak buahnya yang pergi menuju mobil box.


“Sialan! Kita sebaiknya berpencar mencari biang keroknya! Pastikan kelompok kalian lebih dari tiga orang,” perintah Rama.


Aditya yang sejak tadi berada di atas pohon tersenyum mendengarnya, dia memang sengaja membuat mereka semua terpisah agar lebih mudah lagi menghadapinya. Sekaligus bisa menghemat peluru pistolnya juga. Mereka terbagi ke dalam lima kelompok yang terdiri lebih dari tiga orang.


Aditya mulai mengikuti satu kelompok secara perlahan. Dengan cepat dia membekap satu orang lalu membuatnya tidak sadarkan diri, teman-temannya tetlihat panik karena beberapa orang mulai hilang satu-persatu. Akhirnya satu kelompok sudah berhasil dia tumbangkan. Dia kemudian berpindah mengikuti kelompok lainnya.


Di dalam gelapnya malam di tengah tengah hutan kemampuan Aditya benar-benar tidak bisa diremehkan, bahkan pergerakannya saja tidak menimbulkan suara, hanya dalam dua puluh menit dia sudah berhasil meringkus empat kelompok dan membuat mereka tidak sadarkan diri lalu mengikatnya. Dia kemudian berpindah ke kelompok terakhir yang dipimpin oleh rama.


“Kemampuan mereka benar-benar payah, mungkin William sengaja merekrut yang lemah agar tidak keluar banyak uang,” gumam Aditya pelan sambil mengikuti kelompok Rama.


“Tapi orang-orang elit pasar gelap memang luar biasa, mereka tahu jika orang yang direkrut William adalah orang-orang lemah karena itu mereka diberi pistol untuk menambah kekuatannya. Jika bukan di tempat seperti ini aku pasti sudah terluka parah,” pikir Aditya.


“Bos kita kehilangan kontak dengan kelompok lainnya.”


“Jika gagal aku bisa-bisa dimarahi oleh ketua,” gumam Rama.


Aditya terus mengikutinya dari belakang, namun tiba-tiba Rama berbalik lalu menembak kearahnya. Beruntung pelurunya hanya meleset beberapa centimeter darinya. Rama segera menuju ke tempatnya, Aditya segera memanjat keatas pohon.


“Ada apa bos?”


“Waspada! Aku yakin musuh kita sudah ada di sekitar sini,” jawab Rama.


“Ternyata pemimpinnya lumayan juga,” gumam Aditya.


“Diatas!” teriak Rama sambil menembak ke atas pohon.


Aditya segera melompat ke pohon lain, lalu melompat lagi untuk mengecoh penglihatan mereka. Tapi penglihatan Rama ternyata cukup tajam. Dia bisa terus mengikuti kemana Aditya bergerak dan menembaknya. Aditya berpindah lagi ke pohon yang lain sambil melepaskan beberapa tembakan.


Dua anak buah Rama terjatuh terkena tembakan Aditya, kini hanya tersisa tiga orang saja termasuk Rama. Mereka bersembunyi di balik pohon sambil terus menembaki Aditya. Namun dengan lincahnya Aditya segera turun dan bersembunyi di balik pohon jati.


“Akurasi tembakannya benar-benar hebat, sebenarnya siapa dia?” gumam Rama.

__ADS_1


“Mereka sudah tewas bos, gimana nih? Sebenarnya berapa orang sih musuh kita?” tanya anak buahnya.


“Jangan panik! Kita tidak boleh lengah, bisa saja selanjutnya kalian yang akan menjadi mayat.”


“Sial, kalau tahu begini gue ikut rombongan yang satunya lagi.”


“Pengecut!” bentak Rama.


“Sebenarnya aku berharap jika musuh yang kuhadapi saat ini hanya satu orang saja, tapi jika memang dia sendirian saja berarti kemampuannya benar-benar menakutkan,” gumam Rama.


Tiba-tiba Aditya sudah berada di belakang mereka, lalu dengan cepat berhasil menendang dua pistol milik anak buahnya. Ketika Rama hendak menembak Aditya segera menendang tangannya hingga pistolnya terlempar jauh.


“Hah, merepotkan sekali, aku sengaja ingin menangkap kalian hidup-hidup,” ujar Aditya.


“Cih, ternyata cuma sendirian ya,” gerutu Rama sambil menatap tajam Aditya.


“Mati lu!” teriak dua anak buah Rama yang menyerang dari belakang namun dengan cepat Aditya menghantam leher mereka hingga roboh ke tanah.


“Kenapa lu mengganggu kami?” tanya Rama.


“Gue cuma penasaran, barang apa yang ada di dalam mobil box itu? Terus siapa yang mempekerjakan kalian?” tanya Aditya.


“Gue cuma disuruh mengawal saja, isinya juga cuma bahan baku peralatan kosmetik,” jawab Rama dengan tenang.


“Jika cuma barang seperti itu kenapa geng seperti kalian ikut terlibat?”


“Ya mau bagaimana lagi, orang kami ditawarin pekerjaan bagus mana mungkin kami tolak.”


“Begitu ya, lalu kenapa kalian harus membawa pistol segala?”


“Pistol itu sudah jadi bagian dari kehidupan kami. Walaupun illegal tapi kami tetap harus membawanya. Lu sendiri siapa?”


“Gue nggak perlu menjawabnya, yang jelas gue masih belum percaya kalau isi mobil itu cuma bahan baku doang.”


“Terserah,” jawab Rama sambil tersenyum. Tangannya dengan cepat mengeluarkan sesuatu dari jaketnya.


“Stun Gun?” gumam Aditya kaget, sontak dia melompat kebelakang ketika Rama menyerangnya. Aditya berhasil menghindari serangan Stun Gun, namun Rama sudah menodongkan pistolnya sendiri sambil tersenyum puas.


“Checkmate!” ujar Rama sambil tersenyum.

__ADS_1


BERSAMBUNG…


__ADS_2