Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 204


__ADS_3

“Kita pergi saja secepatnya dari sini, Dit. Mumpung orang itu belum melihat kita,” kata Diana pada Aditya.


Gadis itu segera ambil langkah cepat, yang diikuti oleh Aditya. Mereka bermaksud sembunyi di balik sebuah gubuk di dekat sungai.


Tapi, terlambat sudah.


Orang bermotor ugal-ugalan tersebut ternyata sudah berbelok di tikungan tepat di belakang mereka. Dia semakin ugal-ugalan memainkan tarikan gas motornya, membuat asap knalpotnya mengotori udara desa yang bersih.


Diana akhirnya menyerah dan berbalik badan, menatap tajam lelaki bermotor yang sudah jelas berusaha mengejarnya itu. “Mau apa lagi kamu?!” tanya gadis itu dengan ketus.


“Jangan cemberut begitu dong!” kata si lelaki bermotor, yang kini mengurangi laju motornya.


Aditya tak pernah tahu siapa lelaki itu. Sepertinya ia bukan warga asli desa ini. Dia juga gayanya seperti orang perkotaan saja. Motornya lumayan bagus dan mahal. Diana seperti membenci lelaki itu dengan sangat.


“Siapa dia?!” tanya si lelaki bermotor sambil menunjuk Aditya. Motornya segera saja mendekat dan berhenti. Dan mereka kini hanya berjarak dua meter saja.


“Siapa orang ini, Diana?!” tanya lelaki bermotor sekali lagi.


“Dia temanku. Tolong jangan ganggu aku, Dirga! Aku banyak urusan dengan teman ini,” jawab Diana dengan kesal.


Si lelaki bermotor itu ternyata bernama Dirga. Aditya tak pernah mendengar nama itu. Berarti memang bukan orang asli sini. Tapi, siapa dia?


Aditya tak bicara apa-apa karena dia merasa tak perlu. Tapi, Dirga sepertinya sangat songong dan berusaha membuat permusuhan dengannya. Terlihat dari caranya menatap mata Aditya yang mirip orang mengajak berkelahi.


“He, siapa loe? Ngapain jalan bareng Diana?!” katanya dengan kasar pada Aditya.


“Sekali lagi ini bukan urusanmu! Sudah, pergi sana!” sela Diana.


Aditya hanya tersenyum kecil melihat itu.

__ADS_1


“Aku cuma mau kita ke bioskop! Kapan kamu bisa, Diana? Dan ngapain juga kamu keluar sama orang gak jelas ini?!” kata Dirga sambil menuding-nuding wajah Aditya.


Kalau saja mau, Aditya sudah bisa menghajar habis-habisan lelaki ini, tetapi buat apa? Ia toh tak mau terlibat keributan lagi. Ia pulang kemari tujuannya untuk menikmati hidup yang sudah lama terasa membosankan.


“Bro, kalau sudah nggak mau, nggak usah memaksa begitu,” kata Aditya dengan santai.


“Gue gak ngomong sama loe, Bego! Gue cuma mau Diana pergi sama gue, bukan sama elo!” balas Dirga yang kini semakin terlihat emosi.


Aditya pun hampir terpancing emosi. Tapi Diana mengambil alih situasi. Gadis itu segera menarik tangan Aditya menjauh dan membiarkan Dirga mengoceh sendiri di situ dengan motornya.


“Siapa sih dia?” tanya Aditya sewaktu mereka sudah agak jauh dari Dirga.


“Anak kepala desa. Sejak awal dia sering mengangguku. Aku tak pernah mau atau sudi jalan dengannya. Siapa gak kenal Dirga? Banyak perempuan dipermainkan dan itu bukan hanya satu-satunya kelakuan buruknya,” jelas Diana panjang lebar.


Aditya merasa cukup mendengar semua itu. Ketika motor Dirga kembali terdengar di belakang mereka, dia segera berdiri menghadang, bersiap meninju mulut si anak kepala desa itu jika berani macam-macam.


Tapi, sepertinya Dirga bukan lelaki yang senekat itu. Ia jelas ketakutan melihat cara Aditya menatapnya. Tatapan Aditya memang terlihat mengerikan kalau sudah terbakar oleh emosi. Dengan ngedumel, si Dirga pun cabut dari situ.


Dirga menjauh dan motornya kini sudah tak lagi terlihat. Beberapa warga desa di dekat situ, yang kebetulan melihat Dirga mengamuk, cuma geleng-geleng kepala. Diana bilang, “Sudah, Dit? Ayo, kita pulang.”


Aditya penasaran, jadi dia bertanya soal Dirga: “Memangnya sejauh apa gangguan si Dirga ini padamu, Diana?”


“Yah, sebatas itu. Dia suka mendatangi rumah kontrakanku dan mengajakku pergi ke luar. Aku selalu menolak. Aku tak pernah senang cowok macam itu. Kasar dan tak punya adab. Tapi, dia gak pernah menyerah,” kata Diana.


“Soal kelakuan buruknya yang lain tadi?”


“Oh, itu. Yah, dia suka mabuk-mabukan dan bikin onar di desa sebelah. Bahkan tak jarang juga merusak pagar warga sini karena berkelahi. Entah sudah berapa kali Pak Lurah berurusan dengan polisi demi menolong si Dirga itu dari jerat hukuman.”


“Uang yang berbicara,” kata Aditya.

__ADS_1


“Pastilah. Bapak dan anak gak jauh beda!” ungkap Diana dengan jengkel.


Aditya saat itu belum tahu lurah di desanya sekarang adalah orang yang dulu sekali pernah jadi bahan pemberitaan dari mulut ke mulut. Tentang seorang mantan preman yang punya bisnis besi rongsok dari desa sebelah. Entah bagaimana suatu kali ia bisa menjadi lurah sini dan kini anaknya benar-benar sok berkuasa.


Sepanjang sisa pagi itu tidak ada yang dilakukan oleh Aditya selain menunggu sang paman pulang. Diana kembali ke kontrakannya untuk melanjutkan naskah novelnya itu, yang sedikit lagi sudah kelar.


Sekitar pukul 11.00, Paman Salim pulang. Jauh lebih awal dari jam biasanya, sebab ia sengaja tidak membawa banyak ubi pagi itu untuk dibawa berkeliling. Ia terlalu ingin tahu apa saja yang dibicarakan Aditya dan Diana tadi pagi.


“Bukan sesuatu yang istimewa, kalau itu yang Paman maksud,” kata Aditya dengan pura-pura mengantuk.


“Ndak ada yang lain? Paman kira Diana itu cocok buatmu, Le. Masa iya kamu kudu menikah saat Paman mati nanti?” kata sang paman dengan setengah kesal.


Aditya mengerti pamannya begitu kolot. Tapi, susah juga memberi pengertian pada beliau. Maka ia cuma bisa bilang, “Kalau jodoh gak akan ke mana, Paman. Sudah, gak usah cemas begitu. Yang penting sekarang Aditya sudah di sini dan Paman tidak lagi sendiri.”


Paman Salim duduk dan terdiam beberapa saat.


Lalu beliau berkata, “Biar kamu dengar sekarang mumpung belum terlambat. Dulu Paman sama sepertimu. Enggan cepat menikah, dan saat akhirnya ada gadis yang paman sukai, umur Paman terlalu tua. Dia memilih menikah dengan adik sepupu teman Paman sendiri.”


Aditya ingin berkata, “Tidak semua orang berpikiran seperti itu.” Tapi rasanya dia tak mau melukai hati sang paman. Ya, Paman Salim di hari tuanya, merasa sangat sepi dan sendiri, sekalipun ada Aditya kini. Entah apa jadinya jika Aditya tak pernah tergerak untuk pulang.


Tiba-tiba mereka dikagetkan dengan suara Diana, “Aditya! Aku butuh bantuanmu! Aditya, kamu di rumah?!”


Aditya melangkah keluar ruang tamu, diikuti oleh Paman Salim.


Di depan sana, Diana terlihat berlari tergesa-gesa menyeberangi tanah lapang. Ada sesuatu dari ekspresi wajahnya. Sebuah ketakutan yang luar biasa dan itu jelas membuat Aditya cemas.


Entah kenapa, yang terpikir pertama kali oleh Aditya hanyalah Dirga.


“Pasti ini soal Dirga. Si busuk anak lurah itu sudah berbuat apa pada Diana?” batin Aditya kesal.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2