Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 16


__ADS_3

“Ellena,” panggil seseorang dari arah belakang.


Ellena yang merasa mengenali suara itu pun segera menoleh ke belakang. Dia ingin memastikan apakah orang yang memanggilnya itu sama seperti orang yang dia sangka.


Mata Ellena membulat lebar saat di melihat sosok Sean ada di belakangnya. Meskipun Sean berdiri di tempat yang pencahayaannya kurang, tapi dia bisa melihat dengan jelas sorot mata tajam milik Sean mengarah kepadanya. Sorot mata yang membuatnya takut.


“Nathan,” ucap Ellena pelan.


“Bu, tolong bawa Nathan masuk dulu ya. Nathan, masuk dulu sama Anma ya. Nanti Mama nyusul,” ucap Ellena lagi pada dua orang terkasihnya.


“Siapa Ell?” tanya Siska sedikit berbisik.


“Nanti Ellena ceritakan. Buruan masuk, Bu.”


Mendengar perintah dari sang putri, Siska segera membayar belanjaan jajanan cucunya dan membawanya masuk ke dalam. Dia tidak ingin memperkeruh suasana kalau dia membantah.


Ellena segera mendatangi Sean, dia sangat tahu apa yang diinginkan oleh pemuda itu. Pasti dia ingin tahu soal Nathan. Dan bagi Ellena, pemuda itu tidak boleh tahu apa pun.


“Ada apa, kenapa ke sini?” tanya Ellena mencoba biasa.


“Siapa dia?” tanya Sean.


“Bukan siapa-siapa? Kenapa Bapak datang ke sini malam-malam.”


“Dia anak kamu?”


“Bukan urusan, Bapak.”


“Kamu belum nikah, Ellena. Kalo dia anak kamu, apa mungkin dia anak aku?”


Ellena kaget dengan dugaan Sean. Dia menatap tajam pada netra Sean yang juga sedang menatapnya tajam menunggu jawaban. Tapi Ellena tidak takut dengan tatapan itu.


“Itu bukan urusan, Bapak. Lagi pula Bapak ga berhak ikut campur dalam urusan pribadi saya, Pak. Selamat malam,” ucap Ellena sambil berbalik ingin pulang.


“Tunggu dulu!!” ucap Sean letus sambil meraih tangan Ellena mencegah wanita itu pergi.


Ellena menoleh lagi ke arah Sean, “Jangan memancing keributan di sini. Pergilah dam jangan datang lagi ke sini.”


“Ga bisa!! Dia anak aku kan?”

__ADS_1


“Bukan! Dia anak aku dan hanya anak aku!” ucap Ellena tegas.


“Ellena!!”


“Cukup Sean!! Aku sudah muak sama semuanya. Pergilah!!" bentak Ellena sambil menatap tajam pada Sean.


Ellena menghempaskan tangannya yang dipegangi oleh Sean. Setelah tangannya terlepas, dia segera pergi dengan langkah cepat untuk menghindari Sean. Dia segera menutup gerbang kecil dan juga pintu rumahnya rapat-rapat.


Sean masih berdiri di tempatnya, dia masih melihat ke arah rumah Ellena yang kini menyembunyikan Ellena di dalamnya. Di sekitar rumah Ellena masih banyak orang, Sean tidak ingin membuat keributan di sini.


“Dia pasti anakku. Akan aku buktikan itu, Ell. Anak itu akan jadi milikku,” gumam Sean.


Sean segera kembali ke mobilnya. Dia memang sengaja datang ke rumah Ellena dan menunggunya pulang dari kantor. Seharian dia tidak ada di kantor tapi bayangan Ellena terus saja menari di pikirannya. Entah kenapa wanita itu seolah menguasai dirinya seharian ini.


“Mathias, cari tau siapa ayah dari anak Ellena,” perintah Sean pada asisten pribadinya.


“Anak Ellena? Dia belum pernah menikah, Bos.”


“Dia punya anak. Anak laki-laki, anak siapa itu. Cari tau dengan segera!”


“Baik, Bos.”


“Ell, itu tadi siapa?” tanya Siska sambil duduk di tepi tempat tidur.


“Dia pemuda itu, Bu. Dia pemuda 7 tahun lalu,” ucap Ellena sambil menghembuskan nafas berat.


“Haaahh!! Dia Papa Nathan?” ucap Siska yang segera menutup mulutnya karena sadar ucapannya terlalu kencang.


“Ibu ih, nanti Nathan denger.”


“Maaf ... tapi kok bisa ke sini? Kok dia tau rumah kita? Tadi dia nanya soal Nathan?” berondongan pertanyaan keluar dari mulut Siska.


“Dia pimpinan tertinggi di kantor. Dia presdir di kantor Ellena. Pasti dia mudah cari tau soal Ellena. Dan dia sangat penasaran sama Nathan. Aduuh ... kenapa dia muncul lagi sih! Kenapa dia ga bikin hidup Ellena tenang,” ucap Ellena sambil mengusapkan kedua telapak tangannya ke wajahnya.


“Ya ampun, Ell. Terus kalo dia tau Nathan anaknya gimana?”


“Ga akan Ellena kasih, Bu. Dari dulu Nathan anak Ellena. Ellena ga akan kasih ke dia. Dia ga berhak atas Nathan!” ucap Ellena bercampur emosi.


Siska tidak berani bertanya lagi. Dia sangat tahu bagaimana perjuangan putrinya dulu untuk mengandung sampai membesarkan Nathan. Banyak sekali duka yang ditelan langsung oleh Ellena, bahkan Ellena sempat ingin menggugurkan kandungan.

__ADS_1


Tapi bayi itu tidak salah. Oleh sebab itu Ellena dan Siska berusaha untuk mempertahankan Nathan apa pun keadaannya. Dan sekarang Nathan tumbuh menjadi anak yang pintar, tampan dan hiburan di rumah sederhana mereka.


***


Ellena sedang bersiap untuk acara parenting day’s di sekolah Nathan. Dia dan Siska sedang berkutat di dapur untuk mempersiapkan bekal untuk mereka nanti. Kebetulan pihak sekolah juga memesan kue dari Siska untuk tambahan snack peserta. Jadi pagi ini Ellena dan Siska harus bangun lebih pagi.


“Kamu siapkan bekal buat Nathan aja gih. Jangan lupa makanan kecil sama buah kesukaan dia juga di masukkan. Kemarin dia milih sendiri di toko kita,” perintah Siska.


“Iya, Bu. Nanti Ellena bawa baju ganti ga ya, Bu?”


“Bawa aja. Katanya ada lomba untuk orang tua juga. Siapa tau kamu mau ikut nanti, biar akrab sama wali muridnya.”


“Ya udah deh, Ellena persiapan dulu ya.”


Ellena segera pergi ke kamarnya. Di sana sang putra masih tertidur lelap karena hari masih terlalu pagi. Ellena segera menyiapkan baju ganti untuk dirinya dan juga Nathan. Setelah semua beres, Ellena meletakkannya di kursi tengah agar tidak ketinggalan.


“Semua sudah siap? Trus ini kuenya gimana, Bu? Kan kita ga bisa bawa,” tanya Ellena saat melihat tumpukan kotak kue di atas meja makan.


“Mau di ambil kok sama pihak sekolah. Paling bentar lagi. Nah tuh ada bel, pasti pihak sekolah,” ucap Siska.


Mendengar ada bel berbunyi di rumahnya, Ellena sedikit takut. Takut kalau Sean nekat datang lagi dan ingin bertemu dengan Nathan. Namun setelah mendengar Siska menyapa ramah tamunya, hatinya menjadi tenang kembali.


Dengan mengendarai motor matic yang menjadi satu-satunya kendaraan mewah miliknya, Ellena membawa Nathan dan ibunya menuju ke sekolah Nathan. Jarak sekolah Nathan dari rumah tidak begitu jauh, tapi sekolah itu adalah salah satu sekolah terbaik di sana. Ada banyak anak orang kaya yang tinggal di sekitar juga sekolah di sana.


Sesampainya di sekolah, banyak teman-teman Nathan yang langsung menyapa bocah tampan itu. Nathan juga sangat senang bertemu dengan teman-temannya. Ellena membiarkan putranya bersama dengan teman-temannya selagi dia memarkir motornya.


“Ell, itu loh anak yang suka jahat sama Nathan,” ucap Siska yang ada di samping Ellena.


“Di sekolah ada yang jahat sama Nathan? Kok Ibu ga lapor gurunya?”


“Udah ... beberapa wali murid juga lapor karena anaknya juga jadi korban. Tapi Ibunya itu orang kaya, mungkin sekolah banyak dapet dukungan dari sana. Jadi aja cuma diperingatkan aja.”


“Kok gitu sih? Yang mana orangnya emang?” tanya Ellena kepo.


“Itu yang turun dari mobil mewah itu,” ucap Siska sambil menunjuk ke arah sedan mewah yang berhenti di tidak jauh dari mereka.


Ellena segera melihat ke arah mobil itu. Dia melihat ada seorang pria dan wanita turun dari sebuah mobil mewah dan juga seorang gadis kecil. Ellena mencoba mengenali wajah orang yang masih tertutup dengan kaca mata hitam itu.


“Kok dia ada di sini?”

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2