Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 48


__ADS_3

“Anak Sean?” gumam pelan Ellena yang langsung menoleh ke arah Sean.


Ellena sangat kaget dengan apa yang dikatakan oleh Luna saat ini. Dia ingin percaya pada Sean kalau Aura bukan anak orang yang dia cintai itu. Tapi sepertinya kini kepercayaan itu sedikit goyah saat Ellena mengingat kalau dulu Sean juga suka sekali menghabiskan malam panjang bersama banyak wanita.


“Ell, Aura itu anak siapa?” tanya Siska sambil memegang lengan Ellena.


“Ga tau, Bu,” jawab Ellena tanpa mengalihkan pandangan pada Sean dan Luna.


Sean terlihat sangat murka saat ini. Wajahnya sudah memerah penuh amarah. Mungkin kalau Luna itu seorang laki-laki, pasti akan dipukul dan dihabisi oleh Sean saat ini juga. Tangan Sean sudah mengepal kuat tanda dia sudah siap melayangkan bogeman mentah pada wanita yang terus menentangnya itu.


Luna tetap berdiri tegap di depannya. Dagunya terangkat seolah dia memang benar ingin menantang Sean saat ini. Entah apa yang dia rencanakan saat ini, bahkan dia tetap membiarkan Aura anaknya itu menangis guling-guling di lantai toko.


“Jangan ngomong sembarangan kamu, Luna!!” bentak Sean.


“Aku ga ngomong sembarangan. Kamu yang ga inget kejadian malam itu. Kita menghabiskan malam dan kamu pergi ninggalin aku gitu aja cuma buat wanita murahan itu!!” ucap Luna lebih kencang sambil menunjuk ke arah Ellena.


“Dasar cewek sarap!! Ga tau malu!!”ucap Sean penuh amarah.


Sean malas melayani emosi Luna saat ini. Dia sangat tahu dan hafal bagaimana Luna kalau sudah seperti ini. Sebentar lagi pasti teriakan histeris akan datang. Oleh sebab itu dia memilih untuk segera meninggalkan toko itu dan membawa Ellena serta keluarganya.


Luna yang melihat Sean pergi meninggalkan dia kini berteriak memanggil nama Sean. Dia menangis sambil memeluk Aura yang juga menangis. Dia ingin merebut simpati para pengunjung dan staf yang melihat mereka.


“Lihat itu!! Calon suamiku pergi sama pelakornya. Dia lebih memilih wanita bangsat itu!!” teriak Luna histeris.


Sean mendatangi Ellena. Dia segera menggandeng tangan Ellena dan mengajaknya pergi. Dia tidak ingin lagi berurusan dengan Luna yang sedang tidak bisa dikendalikan itu.


"Kita pergi dari sini! Ga akan bisa selesai kalo terus ngurusin orang gila kaya dia!" ucap Sean kesal.


"Eh ... iya," jawab Ellena sambil meraih kartu debit di tangan kasir setelah dia selesai membayar semua belanjaannya.


Ellena tidak bisa menolak apa yang dilakukan Sean kepadanya. Dia memberi kode pada Siska untuk membawa semua barang belanjaan mereka yang sudah dibeli tadi. Ellena berjalan cepat karena tangannya ditarik oleh Sean.


Langkah kaki Sean terhenti di depan pintu toko. Dia kini berhadapan dengan seorang wanita paruh baya yang tadi tampak berjalan terburu-buru menuju ke toko baju anak itu. Tatapan sendu wanita itu tampak memancarkan sebuah permohonan pada Sean.

__ADS_1


“Maaf Tante, Sean ga bisa bantu lagi. Luna makin keterlaluan dan tidak terkendali. Serahkan saja pengobatannya pada Mama, Sean sudah tidak tahan lagi,” ucap Sean.


“Tapi Sean, Luna cuma ...,” ucap Maya yang segera dipotong oleh Sean.


“Kita pergi, Ell,” ucap Sean sambil kembali menarik tangan Ellena.


Ellena melihat wanita paruh baya itu sekilas sebelum dia pergi. Ellena menangkap sorot mata putus asa pada diri wanita itu saat Sean mengatakan kalau dia mundur. Tapi Sean seolah tidak memedulikan apa yang sedang terjadi saat ini. Pria itu tetap membawa Ellena pergi dari sana.


Sean yang tadinya ingin mengajak Ellena dan Nathan makan malam di mall ini, seketika jadi membatalkan niatnya. Dia yang sudah dipenuhi amarah akhirnya memutuskan untuk mengantar Ellena pulang saja. Mereka segera menuju ke lobi mall untuk menunggu mobil Sean di ambil oleh petugas parkir.


“Bu, maafin Sean ya. Tadinya Sean mau ajak makan di sini, tapi ternyata kok ada kejadian kaya gini. Sean ga mau kita makin lama di sini. Nanti malah jadi bahan liatan orang,” ucap Sean sopan.


“Ga papa, Ibu ngerti kok. Ibu juga ga mau lama-lama di sini. Lagian itu Nathan kayanya juga udah ngantuk. Mana sini biar Ibu gendong,” jawab Siska sambil memberikan tas belanjaan mereka pada Ellena dan mengambil Nathan dari gendongan Sean.


“Apa kita makan di luar aja? Saya jadi ga enak ini,” usul Sean lagi.


“Ga usah, Sean. Tadi kami udah makan kok di rumah. Kita pulang aja, lagian itu Nathan juga udah tidur,” sahut Ellena.


“Ya udah kalo emang kaya gitu. Lain kali kita makan bareng sama Nathan lagi ya. Eh kalian tadi bawa motor ga?” tanya Sean memastikan.


“Ya udah kebetulan banget. Yuk kita pulang.”


Mobil sudah tiba di depan mereka. Sean membiarkan Siska masuk dulu ke dalam mobil lalu memberikan Nathan yang sudah tertidur itu pada neneknya. Ellena memasukkan barang belanjaan mereka ke dalam jok belakang juga karena belanjaan mereka memang tidak terlalu banyak.


Sean melajukan mobil ke arah rumah Ellena. Tidak ada pembicaraan apa pun yang terjadi di dalam mobil sepanjang perjalanan mereka. Sean melihat lurus ke depan. Sesekali tangannya masih terlihat mencengkeram kemudi mobil yang sedang dia pegang itu.


Ellena tidak berani bertanya apa pun. Dia lebih baik menunggu saja. Menunggu Sean yang akan bicara tentang alasan Luna mengatakan hal itu. Termasuk alasan Luna yang mengatakan kalau Aura adalah anak Sean.


“Makasih ya nak Sean, Ibu masuk dulu,” pamit Siska saat mereka sudah tiba di depan gang rumah Ellena.


“Sama-sama, Bu. Perlu di bantu?” tanya Sean.


“Ga usah. Ell, nanti kamu yang bawa barang belanjaannya masuk ya. Ibu duluan, kasian Nathan.”

__ADS_1


“Maaf Bu, minta waktu bentar,” ucap Sean yang segera mendatangi Siska yang ada di depannya.


Sean mengusap rambut Nathan lembut lalu mengecup puncak kepala itu berkali-kali. Rasanya masih kurang puas dia bersama jagoan kecilnya itu. Tapi dia harus rela berpisah sejenak, karena Nathan juga sudah tidur.


Setelah itu Siska pun pergi meninggalkan Ellena dan Sean. Dia tidak ingin mengganggu dua orang itu karena sepertinya akan ada banyak pembicaraan yang harus segera mereka selesaikan.


“Ikut aku bentar. Kita perlu cari tempat buat bicara,” ucap Sean sambil menyuruh Ellena untuk masuk ke dalam mobil kembali.


Ellena mengerti apa yang di maksud oleh Sean. Dia pun segera berjalan memutar untuk segera masuk ke dalam mobil. Saat ada di dalam mobil, Ellena melihat Sean sedang menghubungi seseorang lewat ponselnya. Dia tidak tahu siapa yang sedang dihubungi oleh kekasihnya itu.


“Awasi portal berita besok pagi. Ada kejadian di mall menyangkut aku dan Luna. Turunkan semua beritanya!” perintah Sean pada lawan bicaranya.


Baru bicara sebentar, Sean sudah meletakkan ponselnya lagi. Baru setelah itu dia segera menjalankan mobilnya lagi untuk mencari tempat nyaman untuk berbicara pada Ellena.


“Kamu habis hubungi Pak Mathias ya?” tanya Ellena.


“Iya ... aku cuma mau memastikan kalau tidak ada berita yang akan naik ke media besok pagi. Gila, Luna udah keterlaluan!” ucap Sean sambil mencengkeram kemudi lagi.


“Tapi Aura bukan anak kamu kan?” tanya Ellena sedikit ragu.


“Bukanlah, Ell! Kamu ga percaya sama aku?”


“Bukan ... aku percaya sama kamu, tapi kalo aku denger langsung dari kamu kaya gini kan lebih enak. Lalu ... Aura anak siapa?”


“Aku ceritakan nanti kalo kita udah nyampe.”


“Emang kita mau ke mana?” tanya Ellena sambil menoleh ke Sean.


“Hotel.”


“Hotel?? Mau ngapain di hotel? Kan kalo cerita bisa di mana aja.”


“Siapa bilang aku mau cerita. Aku mau tidur! Aku mau kita tidur bareng. Aku dan kamu!”

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2