
Aditya tersentak ketika mendengar kata-kata Bima, suara Ratna dan Shely juga terdengar begitu jelas di telinganya. Kata-kata terakhir temannya dulu juga terngiang kembali di telinganya. Bayangan Pandu, Clarissa, Rani dan Frita muncul di pikirannya. Gerald terus menghajarnya hingga terkapar di tanah.
“Jadi cuma segitu kemampuan lu ya, ini adalah pembalasan dendamku karena dulu lu mempermalukan gue di depan banyak orang!” tegas Gerald sambil tersenyum puas, kakinya lalu dihujamkan ke dada Aditya.
“Hemh, kata-katamu memang benar, untuk apa aku berusaha terus hidup jika pada akhirnya aku harus berakhir seperti ini,” gumam Aditya pelan, menanggapi perkataan Bima. Kedua tangannya berhasil memegang kaki Gerald.
“Cih, masih bisa bergerak rupanya,” ujar Gerald sambil terus menekan kakinya, namun Aditya malah tersenyum.
“Kelihatannya pertarungan ini akan berakhir sama seperti dahulu, Gerald!”
Aditya kemudian bangkit dan membuka mata kirinya yang sudah normal kembali. Sherly dan Ratna terliihat senang, mereka tanpa sadar saling melempar senyum. Bima juga kembali duduk setelah perasaannya lega, karena Aditya masih bisa bangkit kembali.
“Dari dulu lu nggak pernah berubah pak tua, selalu saja ikut campur masalah orang lain,” ujar Jaja.
“Sebenarnya tidak berpengaruh juga. Anak buahku akan tetap berhasil mengalahkan sampah itu meski tidak lu teriakun juga,” ucap Goni.
“Gue tidak tertarik dengan pembicaraan murahan kalian,” jawab Bima dengan tenang.
Aditya kini dalam posisi kuda-kuda menyerang. Saat ini semangat hidupnya mulai kembali lagi. Tatapan tajam matanya tertuju kepada Gerald yang sudah bersiap menghadapi Aditya lagi. Dengan cepat dia berhasil meninju bahu lawannya. Gerald terpental kebelakang lalu berdiri lagi.
“Mustahil, padahal perasaan tanganku sudah menangkisnya, apa refleksku terlalu lambat?” gumam Gerald sambil memegang bahu kirinya.
“Kecepatannya hampir mirip denganku saat muda dulu,” ujar Bima sambil tertawa kecil.
“Dia benar-benar akan sangat berbahaya jika dibiarkan saja, tapi saat ini aku belum bisa bertindak gegabah,” gumam Jaja sambil melirik ke atah Bima.
“Hahaha maju terus! Hajar sampah itu!” teriak Goni dengan gembira.
“Aku akan mengalahkanmu dalam lima detik seperti dulu,” ucap Aditya sambil tersenyum.
“Keparat! Tunjukin kalau memang bisa!” tantang Gerald sambil maju menyerang dengan tinju kanannya.
Aditya berhasil menangkisnya lalu bergerak ke samping Gerald. Tendangan kaki kanan berhasil mengenai lehernya. Gerald hendak melompat untuk menjaga jarak namun kakinya disapu oleh Aditya, tubuhnya roboh lalu Aditya mengumpulkan tenaganya dan menghujamkan tinjunya ke tubuh Gerald hingga muntah darah. Semuanya tepat lima detik dari serangan pertama hingga Gerald terkapar.
__ADS_1
Semua orang di sana kemudian bersorak atas kemenangan Aditya. Jaja kemudian menyuruh Edgard dan Gilang membawa Gerald yang tidak sadarkan diri. Geng Gagak bersorak karena Aditya berhasil mengamankan wilayah kekuasaan mereka bahkan mendapatkan wilayah milik geng lainnya.
“Ayo siapa orang terakhir yang akan maju dari geng Merak?!” tantang Goni dengan bangga, dia yakin Aditya tidak akan terkalahkan. Aditya kemudian menatap Ratna Riani.
“Gue yang bakalan maju!” teriak Ratna sambil masuk ke dalam arena. Semua orang di sana sangat terkejut dan menganggap Ratna bergitu nekat berani menantang Aditya, Sherly juga mengernyitkan dahinya karena heran.
“Yang bener? Pak tua, apa geng lu sudah kehabisan pria sampai harus wanita secantik dia yang maju?” ledek Goni.
“Bagaimanapun dia itu cukup hebat dalam bertarung, kalian jangan meremehkannya,” jawab Bima.
Ratna dan Aditya mulai saling beradu pukulan, dibandingkan wanita lainnya jelas-jelas kemampuan Ratna ada di atas rata-rata. Dia terlihat lincah dan cepat dalam melakukan serangan. Bahkan Aditya sendiri terlihat kagum dengan kemampuan Ratna.
“Lumayan juga,” puji Aditya.
“Ini baru permulaan,” ucap Ratna.
Semua orang kembali bersorak karena duel kali ini terlihat lebih menonjolkan keindahan dalam gerak seni beladiri. Ratna terus berusaha menyerang Aditya dengan cepat. Dengan lihai Aditya meliuk liukan tubuhnya menghindari semua serangan Ratna, beberapa kali dia juga membalas menyerang namun Ratna juga bisa mengatasinya.
Ratna melayangkan tinju kanannya, namun Aditya mengelak ke bawah tapi lutut Ratna sudah berhasil mengenai tubuh Aditya hingga tersungkur. Ratna dengan cepat memanfaatkan hal itu untuk merobohkan Aditya dan mengunci lengannya dengan tehnik kuncian.
“Aku menyerah,” jawab Aditya sambil terus meringis kesakitan. Semua orang di sana terlihat ikut meringis karena ngilu melihat Aditya dikunci, bergerak sedikit saja pasti tangannya akn patah.
“Baiklah,” ujar Ratna sambil melepaskan Aditya.
“Mustahil,” gumam Goni sambil terduduk lesu.
Semua orang di sana kembali bersorak untuk kemenangan Ratna yang mengejutkan. Dengan begitu maka orang yang berhak mendapatkan enam wilayah geng lain adalah Ratna dari geng Merak. Jaja hanya tersenyum sinis saja melihatnya.
“Kenapa bisa dia kalah seperti itu!” gerutu Goni.
“Sudah kubilang jika dia bukanlah anak buahmu,” ledek Jaja.
“Cih, orang luar sebaiknya jangan ikut campur!” bentak Goni karena jengkel.
__ADS_1
“Dia itu masih liar, jika lu emang Berjaya sebaiknya belajar dulu mengendalikannya,” hasut Jaja. Goni hanya terdiam kesal karena Aditya bisa-bisanya kalah oleh seorang wanita. Jaja kemudian tertawa kecil saja.
Semua anggota geng Merak mulai mengucapkan selamat kepada Ratna karena sudah berhasil memenangkan duel pertaruhan wilayah itu. Sementara geng Gagak dan geng Serigala terlihat lesu karena kehilangan wilayah mereka.
“Gue sebenarnya senang bisa mendapatkan wilayah kalian, tapi gue masih belum puas karena mengalahkan orang yang sudah kelelahan. Kerena itu gue kembalikan tiga wilayah milik geng Gagak kepada mereka kembali!” tegas Ratna.
“Tapi, tiga wilayah geng Serigala yang dipertaruhkan akan tetap menjadi milik geng Merak!” tambah Ratna. Semua orang bersorak senang terutama anggota geng Gagak yang tidak jadi kehilangan wilayahnya. Hanya Goni yang masih muram karena harga dirinya terasa dilecehkan saat ini.
“Beruntung dia mau berbaik hati.”
“Selamat gue, kalau kehilangan wilayah bisa-bisa gue nggak bisa makan,” ucap seorang anggota geng Gagak.
“Dasar, bos ternyata makin lemah saja sama wanita,” gumam Adrian sambil tersenyum.
“Cih, menyedihkan! Ayo kita pulang!” ujar Jaja kepada semua anak buahnya.
“Mau pergi kemana? Buru-buru amat, padahal kita masih bisa berpesta di sini,” ledek Bima, tapi Jaja tidak menanggapinya.
“Kamu tidak apa-apa kan Dit?” tanya Sherly sambil menghampiri Aditya.
“Aku baik-baik saja kok.”
“Duh, mata kamu bengkak kayak begitu.”
“Aw.”
“Eh maaf Dit, sakit ya?”
“Nggak kok aku cuma bercanda,” jawab Aditya sambil tertawa.
“Ih kamu ini bikin cemas orang saja.”
“Besok juga sembuh inimah Sher, nggak ada luka yang fatal kok paling pegel-pegel dikit doang.”
__ADS_1
Jaja melangkah pergi bersama semua anak buahnya, ketika berpapasan dengan Aditya langkahnya terhenti dan sorot matanya tajam menatap Aditya seolah ingin berkata bahwa semua ini belumlah selesai, tunggu pembalasanku. Setidaknya itu yang Aditya pikirkan ketika menatap Jaja.
BERSAMBUNG…