
Selama berhari-hari Frita menyembunyikan diri. Tak ada yang tahu di mana wanita itu berada, kecuali Pandu dan Gina. Keduanya sepakat mengikuti apa yang Frita minta malam itu.
“Aku enggak mau ketemu siapa pun dulu untuk saat ini!” Begitulah kata Frita saat itu.
Bahkan Clarissa sendiri tak tahu di mana kakak kandungnya itu berada.
Clarissa juga mencoba mencari tahu di mana keberadaan Aditya kini. Namun usai kejadian viral video Aditya berbaring telanjang di tempat umum waktu itu, ia tak terlihat juga batang hidungnya.
Aditya bagaikan hilang ditelan bumi.
“Gimana ini? Kak Aditya dan Kak Frita sama-sama menghilang!” keluh Clarissa di depan Shelly D.
Shelly D sedang sibuk dengan jadwal manggungnya. Ia pun menyempatkan diri ke tempat Clarissa untuk menghiburnya. Ada Julio juga di sana, yang menunda balik lagi ke Prancis setelah menghadiri pesta ulang tahun Ovie yang membuatnya jengkel.
Julio sama sekali tak terlihat ceria, meski kerap bertemu penyanyi pujaannya itu.
***
Gina tak terima pernikahan putrinya dirusak oleh Ovie. “Gadis jahat itu harus diberi pelajaran!” gerutunya.
Pandu mencoba menenangkan mantan istrinya tersebut. Pandu berusaha sebisanya untuk membuat Gina dan Frita tenang. Namun, Frita tak henti menangis. Suatu kali dia bahkan mencoba menyayat tangannya sendiri. Waktu itu tengah malam. Frita diam-diam pergi ke kamar mandi, mengisi penuh bathtub dengan air, dan menyiapkan sebilah silet.
Untunglah Pandu menginap di situ juga malam itu. Ia menyadari perbuatan Frita.
“Kamu jangan bertindak bodoh, Frit!” bentak Pandu dengan sedih. Ia rebut segera silet itu dari tangan sang putri.
“Aku sudah nggak punya hidup lagi! Semuanya hancur!” kata Frita marah.
“Kamu boleh marah pada Aditya. Kamu juga boleh saja bercerai kalau mau, tetapi kamu tidak harus mati!” kata Pandu, lalu memeluk putri tersayangnya itu.
Mereka bersembunyi di suatu tempat yang tak diduga oleh siapa pun: rumah Kakek Darma. Lelaki renta itu hanya bisa mengelus dada, mendengar sikap Aditya. Ia sama sekali tak menyangka Aditya seorang lelaki seperti itu.
Namun, Kakek Darma tak banyak komentar. Ia hanya sering terlihat duduk di dekat Frita dalam beberapa hari terakhir, menemaninya tanpa bicara sepatah pun kata.
Frita pun juga terlihat malas bicara dengan siapa pun. Ia mematikan ponsel pintar miliknya dan tak terpikir menyalakannya dalam waktu dekat. Urusan perusahaan murni ditangani oleh papanya untuk sementara ini.
Frita segera menyadari perkataan sang papa. “Untuk apa aku mati? Bukankah itu yang akan membuat mereka semua bahagia? Aku bisa berdiri sendiri, bangkit sekali lagi dan tak harus membuat mereka menang,” batinnya setelah berhari-hari merenung.
__ADS_1
Frita mulai bisa menata hatinya, meski luka itu tak akan sembuh. Ia tahu itu tidak mungkin sembuh. Sesosok bayi di perut wanita lain, siap lahir karena perbuatan suaminya. Kapan mereka melakukannya? Ia terus bertanya-tanya dalam hati, tapi juga sekaligus enggan mencari jawabannya.
“Mungkin memang Sherly ditakdirkan untuk Aditya,” katanya pada diri sendiri.
Lalu suatu pagi Frita memutuskan kembali bekerja. Rencana Ovie masih berjalan, meski gadis jahat itu sudah balik ke luar negeri. Suatu sore Ovie mendapatkan telepon.
“Kamu harus segera menemukan di mana Frita bersembunyi!” kata seseorang yang meneleponnya.
“Aku juga enggak tahu! Mungkin dia sudah bunuh diri. Bodo amat!” ketus Ovie.
“Ingat, ya. Kalau sampai pernikahan Hendy dan Frita gagal, kamu bakal menelan akibatnya,” kata Rama Subandi. Ya, dialah yang menelepon Ovie, karena beberapa hari Frita menghilang.
Begitu Frita kembali bekerja seperti biasa, Rama terlihat senang. Ia mengumpulkan seluruh saudara dan rekan-rekan elite-nya.
“Di sini kita bisa memberikan semangat pada Hendy. Dia ujung tombak rencana besar ini,” katanya.
Tentu saja, dengan Glow & Shine Co. di tangan mereka, bisnis narkoba akan jauh lebih mudah dilancarkan. Mereka akan dengan mudah menyelundupkan barang-barang itu dalam kemasan kosmetik. Di luar itu, mereka juga akan mendapat keuntungan halal dari penjualan produk kosmetik tersebut.
Setiawan Budi tak banyak ‘bergerak’. Ia sekadar mendukung dengan dana dan tak jarang beberapa wejangan bagi para penerusnya itu. Setiawan Budi juga memiliki misi tersendiri: membuat Kakek Darma, musuhnya di masa lalu, hancur hatinya.
“Paling tidak, sakit hatiku di masa lalu bisa terbalaskan berkat kalian,” katanya pada para pemuda jahat itu.
Maka, suatu hari Rama sengaja datang kepada Pandu, bersama beberapa saudara dan kerabatnya. Bermaksud melamar Frita untuk salah satu sepupunya yang flamboyan.
“Hendy dan Frita pasti akan sangat cocok,” katanya pada Pandu.
“Tapi, Nak Rama. Frita belum bercerai dengan suaminya,” jawab Pandu dengan agak kesal. Ia tahu Rama dan kroni-kroninya ini adalah sekumpulan pemuda bejat yang tak kalah rusak dari para ayah mereka di gedung dewan. Bisnis-bisnis mereka juga tak pernah beres, meski selalu meraup untung.
Pandu tak pernah sudi Frita harus menikah dengan Hendy. Sekalipun ayah Hendy, Deddy Prakoso, bukan sosok yang mencolok di keluarga mereka. Apa pun itu, keluarga mereka terkenal punya reputasi jelek.
“Kalaupun anakku belum menikah, tetap saja aku tidak sudi,” batin Pandu kesal.
Namun ia hanya bilang pada Rama, “Tolong beri waktu kami untuk bernapas. Frita belum menyelesaikan masalah dengan suaminya. Tak mungkin ia bercerai begitu saja. Ada prosesnya, bukan?”
“Baiklah. Akan kami tunggu kabar berikutnya,” kata Rama, kemudian undur diri.
Pandu tak tahu bagaimana kelanjutan nasib Frita. Ia tak berani bicara soal lamaran Hendy pada Frita. Ia berharap Aditya segera muncul untuk menyelesaikan masalah ini. Mungkin itu jalan terbaik bagi Frita, kalaupun toh nanti mereka harus bercerai.
__ADS_1
***
Aditya tak pergi sejauh itu. Ia berada di Jakarta selama beberapa hari menghilang tanpa jejak. Di suatu apartemen yang tak terlalu mewah ia berada.
Sesosok perempuan menolongnya malam itu. Sebuah ketidaksengajaan yang ajaib. Penolong itu adalah Diana, sang novelis yang dulu membantu Paman Salim di desa.
Akhir-akhir itu Diana menetap di Jakarta untuk bekerja di sebuah penerbit raksasa. Ia sedang berlibur ke rumah teman kerjanya di Bandung ketika mendapati Aditya tak berdaya, dalam kondisi telanjang bulat.
Ia tahu itu Aditya setelah wajah Aditya yang berbaring menoleh menghadap ke arah mobilnya. Diana segera meminta temannya berhenti.
“Aku kenal orang ini. Kita tolong dia!” katanya.
Untunglah beberapa temannya lelaki, jadi tak merasa malu atau segan ketika harus menutupi tubuh Aditya dengan sebuah selimut yang tergeletak di bagasi mobil. Banyak warga yang mencoba menutupi tubuhnya dengan daun-daun atau koran, tapi melihat para penolong itu, warga merasa lega.
“Kalian kenal dia?” tanya warga.
“Dia teman saya, Pak,” jawab Diana.
Teman-teman kantor Diana tak banyak bertanya. Diana baru menjelaskan kepada mereka kalau Aditya dulu sosok yang menolongnya dari gangguan seorang begundal di Desa Sumber Kencana.
Aditya tak tahu siapa yang menolong, sampai pagi itu ia sadar, dengan kepala yang sangat pusing, berada di sebuah kamar VIP di salah satu rumah sakit di Bandung.
“Di mana aku?”
“Sstt ... kamu jangan bangun dulu. Lukamu masih basah,” kata Diana.
“Diana? Itu kamu ... Diana? Auh, sakit!” tanya Aditya tak percaya, sambil memegang bagian belakang kepalanya.
“Ya. Hehehe. Ini aku. Kamu istirahat dulu, ya,” ucap Diana kemudian.
Aditya tak bisa lagi membuka mata. Segera ia tertidur pulas lagi. Diana sebenarnya tak tahu kenapa ia harus bertemu lagi dengan Aditya kini. Tapi, dulu memang ia akui jika ia mencintai Aditya secara diam-diam.
Namun, apakah cintanya itu masih memiliki peluang?
Apa pula yang terjadi pada Aditya?
Batin Diana tak henti bertanya-tanya.
__ADS_1
Bersambung...