Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 122


__ADS_3

“Itu Yana kan?” bisik Frita.


“Iya Mbak,” jawab Rani.


“Bawa mereka semua ke kantor, aku akan menyelesaikan urusan di sini dahulu,” perintah Jimmy kepada anak buahnya.


Di halaman terdengar sorakan ramai karyawan yang meneriaki William karena ditangkap oleh polisi. Para pemegang saham bahkan sangat kebingungan dengan kejadian itu. Pandu akhirnya memutuskan untuk mengadakan rapat bersama para pemegang saham dan juga Jimmy terkait masalah yang menimpa William.


Frita, Rani dan Sherly mengucapkan terimakasih kepada Aditya yang sudah menyelamatkan mereka bertiga dari jebakan licik William. Setelah melakukan rapat dengan para pemegang saham, Pandu juga mengumpulkan semua kepala bagian dan petinggi lainnya untuk membahas perihal perubahan kembali sistem yang ada di perusahaan saat ini. Frita, Rani dan Sherly juga mengikuti rapat itu.


“Kamu Aditya kan?” tanya Jimmy setelah selesai memberikan penjelasan terkait penangkapan William.


“Iya pak,” jawab Aditya.


“Bisa kita bicara sebentar? Aku ada yang perlu ditanyakan sedikit,” kata Jimmy sambil duduk di kursi, diikuri oleh Aditya.


“Ada apa pak?” tanya Aditya.


“Aku ingin menanyakan kronologis waktu penculikan adiknya Frita. Waktu itu apa yang terjadi sebenarnya?”


“Waktu itu aku dibawa oleh para penculik. Tapi di tengah jalan tiba-tiba saja mereka mulai berebut uang tebussan bahkan sampai saling baku tembak dan berkelahi. Saat orang terakhir masih bertahan aku segera menghajarnya namun dia masih sempat menembakku.”


“Oh, jadi itu bukan karena ulah komplotan penjahat lain?”


“Bukan, mereka sendiri yang ribut.”


“Baiklah, terimakasih atas informasinya,” kata Jimmy, lalu dia pamit meninggalkan Aditya dan Dani.


Aditya dan Dani kemudian ikut bersama karyawan lainnya untuk merayakan kebebasan mereka dari William. Acara seremonial yang awalnya untuk meresmikan William kini jadi acara seremonial untuk penangkapan William, para karyawan lama terlihat begitu gembira.


“Seperti yang kalian tahu, beberapa kebijakan yang William ambil kemarin benar-benar membuat para karyawan menderita,” kata Pandu setelah menjelaskan masalah penangkapan William.


“Lalu sekarang bagaimana pak?”


“Saya tadi sudah mengadakan rapat dengan para pemegang saham. Akhirnya mereka setuju jika peraturan yang sudah ditetapkan William dihapus kembali.”

__ADS_1


“Yes!”


“Syukurlah.”


“Beruntung dia cepat ditangkap,” ujar beberapa orang yang hadir.


“Terus untuk posisi Presdir sendiri bagaimana pak?”


“Untuk posisi Presdir saat ini massih akan saya pegang. Sementara untuk posisi wakil Presdir akan diemban oleh pak Haikal dari bagian produksi. Itu adalah kesepakatan para pemegang saham.”


“Kenapa tidak bu Frita saja?” tanya seorang peserta, Pandu kemudian melirik kepada Frita.


“Untuk saat ini saya masih belum bisa menerima jabatan itu, saya rasa masih perlu banyak belajar lagi agar lebih matang. Setelah beberapa kali menghadapi permasalahan yang rumit baru saya menyadari kekurangan saya. Terimakasih kepada rekan-rekan semua yang memang telah pervaya kepada saya selama ini,” Jawab Frita.


“Lalu bagaimana dengan nasib para pekerja yang sudah dipecat dan mengundurkan diri kemarin?”


“Saya akan mencoba menghubungi mereka kembali terutama orang-orang yang memang sudah berpengalaman dan memiliki loyalitas tinggi kepada perusahaan,” jawab Pandu.


“Kalo masalah para pekerja baru bagaimana pak? Soalnya mereka masih belum bisa diandalkan untuk mengisi para karyawan yang sudah biasa, jika para karyawan kembali malah mereka akan menganggur.”


Setelah semua permasalahn diselesaikan rapat hari itupun diakhiri. Hasil rapat juga diumumkan kepada karyawan lainnya. Hari itu mereka merasakan kebahagiaan yang luar biasa, bahkan ada beberapa orang yang menangis karena senang. Ketika Frita keluar dari ruangan Jimmy segera menghampirinya.


“Sudah selesai Fri?”


“Sudah Jim, aku sekarang merasa lega karena masalah ini sudah berakhir, kamu kok belum pulang?”


“Aku sedang mengumpulkan bukti rekaman CCTV di ruangan itu. Mungkin ke depannya aku juga akan memintamu dan dua orang lainnya menjadi saksi terkait kejadian di ruangan itu.”


“Tentu saja, oh iya dulu katanya kamu ada keperluan dengan Aditya?”


“Oh, kami sudah bertemu tadi.”


“Aku kira belum, aku boleh bertanya sesuatu tidak?”


“mau nanya apaan Fri?”

__ADS_1


“Kamu bilang tadi kepolisian bisa meringkus para penjahat yang membawa narkoba itu tepat waktu, tapi kamu juga bilang kalau polisi mendapat laporan bahwa sedang ada tawuran geng di sana, aku agak sedikit janggal dengan penjelasan bagian itu,” selidik Frita.


“Hemh, sebenarnya kami ke sana memang karena mendapat laporan dari orang misterus tentang adanya tawuran geng yang menggunakan senjata api. Tapi ternyata ketika sampai di sana hanya ada satu geng saja, terlebih mereka juga sudah dalam keadaan diikat. Sehabis itu malah ada orang misterius lagi yang mengirimkan berbagai informasi terkait keadaan di sana. Dari info itu juga kami akhirnya tahu kalau William itu adalah Bandar narkoba.”


“Jadi intinya semua ini juga berkat orang misterius itu ya?”


“Iya Fri, tapi kamu jangan bilang siapa-siapa ya, takutnya ada pihak yang malah memanfaatkan info ini.”


“Iya aku nggak akan bocorin info ini kok.”


Jimmy kemudian pamit hendak kembali ke kantor. Frita hanya tersenyum sendiri setelah Jimmy pergi. Dia sangat yakin jika Aditya adalah orang misterius yang Jimmy maksud, dia masih ingat ketika Aditya masuk ke dalam ruangan, dia memanggil William dengan sebutan Bandar narkoba.


“Aditya, kamu selalu membuatku kagum,” gumam Frita.


Di tempat lain Sherly juga sedang merenung sambil memainkan koin di tangannya, lalu tersenyum karena bayangan Aditya muncul di pikirannya. Rani yang sedang berada di ruangannya juga tengah tersenyum memikirkan Aditya sambil menatap jam tangan antik miliknya.


Di balik kerumunan para karyawan baru yang sedang bersenang-senang menikmati hiburan terdapat seorang pria yang sedang memakan cemilan, tapi matanya terus tertuju kepada Aditya.


“Bro, lu nggak mau makan?” tanya karyawan lain sambil mencoleknya.


“Bentar aku masih mau makan ini nih,” jawab pria itu sambil memperlihatkan cemilannya.


“Makan itu doang mah nggak bakalan kenyang bro, sana makan cepat yang lain juga sedang antri, kapan lagi kita bisa makan makanan enak kayak begini,” ucap karyawan lain sambil menunjukan piringnya yang pernuh dengan nasi dan lauk pauk.


“Nanti saja deh, cemilan ini juga enak,” jawab pria itu sambil kembali melirik ke arah Aditya.


Aditya kemudian melangkah pergi menuju toilet. Pria itu mengikutinya perlahan dari belakang sambil menyelinap agar tidak terlihat oleh Aditya. pria itu melihat Aditya masuk ke ruangan toilet pria. Melihat hal itu dia kemudian mengeluarkan pisau dari balik bajunya lalu masuk ke ruangan toilet. Di sana hanya ada empat bilik toilet.


Pria itu memegang pisau sambil mendekati ke sebuah toilet, dari dalam terdengar suara gemericik air tanda kran sedang dibuka. Pria itu mengendap-endap dengan pisau terhunus. Perlahan dia memegang gagang pintu toilet dan menggerakannya sedikit.


“Dikunci dari dalam rupanya,” batin pria itu sambil tersenyum.


“Pintu plastik kayak begini mah ditarik paksa juga gampang,” pikir pria itu sambil mulai mengumpulkan tenaganya di tangan. Dia berniat untuk menarik paksa pintu itu dari luar.


“Brakk.” akhirnya pintu itu berhasil dia buka dari luar.

__ADS_1


BERSAMBUNG…


__ADS_2