Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 103


__ADS_3

“Kakek,” gumam Ratna.


“Gue emang setuju membiarkan mereka berduel. Tapi gue nggak pernah setuju ada pembunuhan di sini!” jawab Bima dengan tegas.


Semua orang yang ada di sana merasa merinding merasakan aura intimidasi dari sorot mata kedua Ketua geng itu. Jaja memang yang paling muda diantara Goni dan Bima namun kemampuannya sangat hebat. Sedangkan Bima walau sudah berumur tapi kekuatan dari pengalamannya jelas bukan omong kosong belaka.


“Satu kali lagi ada yang berbuat curang, akan kupastikan dia menemui ajalnya dengan tanganku sendiri!” kata Bima lalu kembali duduk.


“Cih! Kalau lu melakukan hal itu, jelas-jelas lu sendiri yang menyulut peperangan terjadi,” ucap Jaja sambil kembali duduk.


“Lu masih bisa maju Lang?” tanya Gerald.


“Santai bos, pukulan kakek tua mah mana mungkin bisa membuatku tumbang,” jawab Gilang dengan nafas memburu dan meringis menahan sakit.


Viktor kemudian dibawa kesebuah ruangan di restoran untuk mendapat pengobatan. Gilang kembali maju sambil berkoar koar menantang. Aditya kembali duduk, dia tadi cuma khawatir jika Jaja dan Bima akan bertarung.


“Aku paling tidak suka pengecut, karena itu akan aku singkirkan lu sekarang juga,” ujar Egi sambil maju ke arena.


“Oh, sekarang Gagak yang bakalan maju rupanya. Siapa nama lu?”


“Hehm, gue sebenarnya nggak mau ngenalin nama gue sama pengecut. Tapi kasian juga, gue Egi!”


“Kita lihat sampai dimana kesombonganmu!” teriak Gilang sambil maju.


Egi menghindari semua serangan Gilang. Dengan cepat dia balas menyerang, satu pukulan berhasil ditangkis Gilang. Satu tendangan berhasil mengenai perutnya lalu satu pukulan lagi berhasil menghujam wajahnya hingga terkapar di lantai.


“Kelihatannya pukulan Ketua geng Merak memang membuatmu jadi sampah tidak berdaya,” ledek Egi sambil mengangkat tangannya. Brian kemudian maju untuk menghadapi Egi.


“Aku sering mendengar kehebatan tiga petinggi geng Gagak di jalanan. Aku harap kemampuanmu bisa membuatku terhibur,” kata Brian.


“Jadi lu yang akan maju, Brian. Aku dengar desas desus jika kemamuan geng Merak sekarang semakin melemah. Jadi apa itu benar?”


“Lu nggak akan tahu sebelum mencoba beradu tinju denganku.”


Brian maju lebih dulu, Egi juga maju menyambut serangan Brian. Mereka berdua terus jual beli serangan. Kemampuan mereka bisa dibilang berimbang. Beberapa kali mereka malah sengaja saling serang tanpa menangkis atau menghindar seolah mencoba menjajal daya tahan tubuh lawannya. Semua orang di sana mulai bersorak kembali mendukung pilihannya masing-masing.


“Aku tidak menyangka jika pertandingan ini akan seimbang,” gumam Ratna.

__ADS_1


“Mereka berdua memang hampir seimbang, kemenangan mereka akan sulit ditentukan jika hanya mempertimbangkan kekuatan saja.”


“Lalu menurutmu siapa yang akan menang Dit?”


“Aku sendiri bingung jika harus memilih. Tapi walaupun sebentar aku pernah melawan Brian, aku rasa keunggulannya ada pada kecerdasannya. Sebenarnya dia akan lebih seimbang jika menghadapi Adrian.”


Ratna terlihat kagum dengan analisis Aditya. Sherly terlihat mulai kurang nyaman mendengar pembicaraan mereka berdua. Dia kemudian meminta Aditya mengantarnya ke toilet karena takut. Aditya pergi menemani Sherly. Ratna hanya terdiam kesal.


“Kenapa kita tidak pulang saja Dit?”


“Maafkan aku Sher, aku belum bisa pulang sekarang. Aku khawatir dengan beberapa hal saat ini.”


“Memangnya apa yang kamu khawatirkan?”


“Banyak hal, salah satunya adalah kakek Ratna.”


“Memangnya ada hubungan apa sih kamu dengan dia?”


“Aku dan Ratna hanyalah teman biasa, tapi kakeknya pernah menyelamatkanku dahulu. Karena itu aku khawatir jika seseorang berniat jahat kepadanya.”


“Memang benar, tapi tetap saja aku tidak enak karena hutang budiku sendiri. Tapi aku juga tidak akan memaksamu untuk tinggal di sini kok. Kalau mau aku akan meminta orang untuk mengantarmu.”


“Tidak usah Dit, aku nanti pulang bareng sama kamu saja, datang ke sini juga keinginanku sendiri kok,” jawab Sherly sambil tersenyum.


Pertarungan Egi dan Brian semakin sengit. Mereka terus saling bergantian menyerang. Jika dilihat sepintas mereka memang terlihat seimbang. Tapi sebenarnya serangan yang dilakukan Brian lebih fokus untuk melemahkan tubuh Egi, sedangkan Egi sendiri menyerang tanpa strategi yang matang. Kini tubuhnya mulai terasa sakit karena serangan Brian memang lebih matang.


Melihat hal itu Brian tidak menyia nyiakan kesempatan. Dia terus menyerang Egi secara bertubi-tubi beberapa pukulannya tepat sasaran. Tubuh Egi mulai oleng, Brian kemudian mengakhirinya dengan satu tendangan ke tubuh Egi hingga terpental ke orang-orang yang ada di belakangnya.


“Masih mau lanjut?” tanya Brian sambil tersenyum mengejek.


“Cih tentu saj-“


“Sudahlah Gi, kamu tidak akan menang saat ini melawannya, jangan memaksakan diri,” cegah Adrian mencoba menghalangi Egi yang sudah babak belur.


“Aku akan menggantikanmu,” ucap Arfa sambil masuk ke dalam arena.


“Jadi lu yang akan membalaskan dendamnya ya,” sapa Brian.

__ADS_1


“Sayang sekali karena gue menghadapi orang yang sudah kehabisan tenagannya. Sebaiknya lu menyerah saja,” ledek Arfa.


“Hahaha, saat ini tenaga gue masih bisa buat menghadapi belasan orang seperti diri lu!”


“Kalau begitu jangan menyesal!”


Arfa menyerang dengan sangat cepat. Brian terlihat kesusahan menghadapi serangan Arfa yang bertubi-tubi. Serangan cepatnya membuat dia kesusahan untuk menyusun strategi yang tepat menghadapi Arfa.


“Gue tahu tadi lu sengaja menyerang Egi di titik yang sama terus agar efek rasa sakitnya cepat terasa,” ujar Arfa sambil terus maju menyerang.


“Cih, kelihatannya strategi seperti itu memang tidak akan mempan melawanmu,” jawab Brian sambil terus menjaga jarak.


“Dalam duel, kecerdasan memang bisa dipakai untuk mengalahkan lawan. Tapi jika tidak punya waktu untuk berpikir percuma saja.”


Arfa menyerang Brian dari samping namun berhasil dihindari. Tapii kaki Arfa dengan cepat berhasil menendang Brian hingga terpental. Dia segera bangkit kembali. Tapi Arfa dengan cepat kembali menendangnya, walau berhasil ditangkis tapi tenaganya berhasil merobohkan Brian kembali.


Brian maju menyerang. Arfa dengan mudah menangkis tinju Brian, kaki Brian juga berhasil dihalau. Dalam sekejap Arfa melepaskan dua pukulan beruntun kepada Brian hingga terkapar di lantai. Brian berusaha untuk berdiri kembali namun Bima segera memerintahkan dua anak buahnya untuk membawa Brian keluar dari arena.


“Sebaiknya jangan memaksakan dirimu Brian,” ucap Bima.


“Kamu memang bijaksana, gue padahal baru mau memintanya buat menyerah saja,” kata Arfa dengan tajam menatap Bima.


“Siapa lagi yang akan maju?! Apa sudah menyerah semua?!” teriak Arfa mencoba memprovokasi semua lawannya.


“Dasar maniak pertarungan,” gumam Adrian pelan.


“Jangan belagu! Gue yang bakalan maju!” bentak Edgard sambil melompat ke dalam arena.


“Pakek lompat segala, kayak bocah SD saja,” ledek Arfa.


“Jangan terpancing Ed, dia sengaja melakukannya,” sela Gerald.


“Aku tahu!” tegas Edgard.


Aditya dan Sherly kembali duduk di dekat Arena. Dia sadar jika Gerald terus memperhatikannya. Arfa terlihat mengyingsingkan lengan bajunya. Sementara Edgard membuka jaketnya. Tatapan tajam mereka beradu.


BERSAMBUNG…

__ADS_1


__ADS_2