
“Saya ingat, semalam seorang pria ganteng yang bawa Mbak kemari,” jawab perwat itu.
“Terus ibu tahu siapa namanya? Ciri-cirinya?” tanya Frita terlihat senang.
“Saya sih nggak tahu namanya. Cuma ciri-cirinya gimana ya, emm. Tubuhnya kekar, wajahnya ganteng, rapi, itu saja sih yang saya ingatmah.”
“Begitu ya, terus kemana dia pergi?”
“Saya nggak tahu. Cuma yang saya inget dia pergi kemudian bapak ini datang,” jawab perawat sambil menunjuk Aditya.
Aditya hanya diam, Frita menatapnya tajam. Perawat itu kemudian pamit meninggalkan mereka. Frita terlihat murung ketika masuk ke dalam mobil. Dia mungkin kecewa karena jawaban perawat tidak sesuai dengan harapannya.
“Dit tadi malam kamu melihat orang yang membawaku ke sini tidak?” selidik Frita.
“Memangnya kenapa Mbak?” tanya Aditya. Dia masih memikirkan jawaban yang masuk akal agar Frita tidak curiga.
“Kata perawat tadi, kamu datang setelah orang yang membawaku pergi.”
“Saya tidak memperhatikan apapun waktu itu.”
Frita diam kembali. meski begitu Aditya yakin jika Frita bukanlah orang bodoh yang tidak akan curiga dengan apa yang terjadi. Kemungkinan saat ini dia harus berhati-hati lagi dalam bertindak.
Mereka sudah sampai di rumah Pandu. Frita masuk ke dalam rumah dengan wajah murung. Pandu menghampiri Aditya karena heran dengan sikap putrinya.
“Frita kenapa Dit?”
“Dia barusan menjenguk Jimmy di rumah sakit. Lalu mampir di klinik yang merawatnya tadi malam.”
“Untuk apa pergi ke klinik itu?”
“Saya rasa dia ingin mencari tahu identitas orang yang menyelamatkannya.”
“Kenapa tidak kamu beritahu saja kalau kamu orangnya?”
“Hemh.. saya tidak ingin Frita terlalu jauh terlibat di kehidupan saya.”
“Apa salahnya? Aku malah senang jika kalian bisa bersama.”
Aditya tidak menjawab. Dia pergi untuk bersiap mencuci mobil. Clarissa datang menghampiri Pandu dan merengek agar Pandu mau menemaninya pergi keluar. Pandu terpaksa menuruti keinginan putrinya.
__ADS_1
Aditya mulai bimbang dengan keputusannya, sambil mencuci mobil pikirannya terus melayang memikirkan langkah yang harus dia ambil. Dia tidak ingin Frita terlibat ke dalam dunianya yang kelam, hal itu juga akan mengancam keselamatannya. Tapi dia juga berpikir hal itu tidak berpengaruh, sekarangpun tetap saja Frita masih berada dalam bahaya.
“Tolong..” tiba-tiba Aditya mendengar Frita berteriak meminta tolong.
Dengan cepat dia menghampiri arah datangnya suara itu. dia sangat kaget ketika Frita berada di tengah kolam renang dengan tangan melambai dan tubuhnya hampir tenggelam. Aditya langsung menceburkan tubuhnya ke kolam renang dan membawa Frita di pangkuannya. Lalu dia membaringkan Frita di kursi yang ada di tepi kolam renang.
“Fri, kamu baik-baik saja kan?” tanya Aditya cemas.
“Aku baik-baik saja kok,” jawab Frita membuka kedua matanya sambil tersenyum.
“Kamu kok bisa sampai tenggelam?”
“Kakiku kram tadi.”
“Sebentar aku akan membawakan handuk dulu,” ucap Aditya sambil pergi, namun langkahnya terhenti ketika Frita memegang tangannya, dan menatapnya tajam.
“Ada apa Fri?”
“Tidak apa-apa,” jawab Frita kemudian melepaskan tangan Aditya.
Sejak saat itu hingga sore hari, Aditya merasa kalau Frita terus memperhatikan dirinya. Saat dia main catur dengan Pandu, memancing ikan di kolam bersama Clarissa bahkan ketika dia makan sekalipun Frita terus menatapnya. Sore harinya dia bersama Clarissa pergi keluar untuk membeli keperluan rumah bulanan.
“Kak, hari ini aku lihat kak Frita terus melihatmu loh,” ujar Clarissa.
“Iya! tadi saat kita mancing juga dia sembunyi-sembunyi merhatiin kak Aditya.”
“Mungkin dia lagi cari ide buat ngerjain.”
“Apa iya ya. Tapi aneh banget tahu, nggak biasanya dia sampe begitu.”
Sebenarnya Aditya sendiri tahu akan hal itu. dia sekarang semakin bingung entah harus senang atau khawatir, jika Frita benar-benar mencurigainya sebagai orang yang selalu menyelamatkannya. Saat ini dia hanya sedang mempertimbangkan langkah terbaik yang akan dia ambil ketika Frita benar-benar sudah mengetahuinya.
Setelah selesai berbelanja, petang harinya mereka kembali pulang ke rumah. Alangkah terkejutnya ketika sampai di rumah ternyata barang-barangnya sudah ada di luar kamar. Tampak petugas fogging sedang berada di dalam kamarnya. Clarissa juga heran melihatnya.
“Apa mungkin ini rencana Frita?” batin Aditya.
“Ini ada apa pak?” tanya Aditya kepada Pandu.
“Itu, tadi Frita bilang kalau dia lihat tikus dan beberapa kecoa di kamarmu,” jawab Pandu.
__ADS_1
“Tikus?,” gumam Aditya. Seingatnya selama ini dia belum pernah melihat sepotongpun tikus di kamarnya. Kecoa juga sama, jangankan banyak, satu kumisnya pun belum pernah dia lihat ada di kamarnya.
“Terus kok ada petugas fogging segala?”
“Frita yang menelepon mereka. Katanya kamarmu harus dibersihkan hari ini biar tikus dan kecoanya tidak berkembang biak.”
Aditya semakin bingung. Dia hanya bisa pasrah, daripada dia malah dituduh mengembang biakan tikus dan kecoa di kamarnya. Setelah selesai petugas fogging kemudian pergi. Frita baru datang menghampiri mereka setelah tahu pengasapan kamar Aditya selesai.
“Tikus oh tikus,” gumam Aditya sembari hendak memasukan kembali barangnya ke dalam kamar.
“Jangan Dit. Sebaiknya malam ini kamu nggak usah tidur di kamar itu. lagian tempat tidurnya juga dipindahkan,” cegah Frita.
“Lah, aku kan bisa tidur di lantai.”
“Jangan Dit. Biarkan dulu efek foggingnya bekerja, bahaya kalau kamu tidur di kamar itu. malam ini kamu bisa tidur di kamarku biar aku tidur di kamar Clarissa dan Clarissa tidur bersama Frita.”
“Ih nggak mau,” sela Clarissa.
“Biar saya tidur di sofa saja pak,” jawab Aditya berusaha mencegah pertengkaran kakak adik terjadi.
“Seriusan Dit?”
“Malah saya yang nggak enak kalau harus tidur di kamar bapak. Lagian kalau di sini kan saya bisa tenang,” jelas Aditya. Pandu akhirnya menyetujuinya. Frita telihat tersenyum sambil pergi meninggalkan mereka bertiga,
Malam harinya Aditya sedang duduk di sofa sambil membaca berita di ponselnya. Tiba-tiba Frita datang membawa dua gelas jus menghampirinya. Aditya mengernyitkan dahinya karena heran.
“Ini untukmu Dit,” ujar Frita sambil menyodorkan satu gelas jus kepadanya.
“Dalam rangka apa nih?” tanya Aditya curiga.
“Kamu itu negative thinking terus ya. Aku tuh cuma mau berterimakasih sama kamu soalnya tadi sudah nolongin aku di kolam renang,” jawab Frita dengan wajah kesal.
“Tumben banget.”
“Yasudah aku tidur deh, kamu ini emang nyebelin!” ucap Frita dingin. karena Aditya masih terus mencurigainya.
Aditya hanya tersenyum, dia merasa senang karena Frita masih bersikap dingin kepadanya seperti biasa. Dia kembali membaca berita terutama berita tentang kasus kriminal di sekitar kota Bandung. Dia berharap ada sebuah petunjuk yang berkaitan dengan penculikan Frita. Tak lama kemudian dia tertidur di sofa.
Setelah melihat Aditya tertidur pulas Frita menghampirinya. Dia harus memastikan sesuatu yang selama ini mengganjal di benaknya. Perlahan dia duduk di dekat Aditya yang benar-benar tidur pulas karena meminum jus yang sudah dia berikan obat tidur. Tangan kirinya memegang bagian leher dan wajah bagian kiri Aditya.
__ADS_1
Hatinya mendadak berdebar, jantungnya berdetak cepat. Perlahan tangannya merapikan rambut Aditya. Airmatanya tak terasa lagi mengalir ke pipinya. Hatinya semakin berdebar seakan tidak percaya dengan apa yang sedang dia lihat saat ini.
BERSAMBUNG…