
Amy Aurora menelepon Aditya subuh itu ketika lelaki tersebut baru saja bangun di atas sofa dalam kamar yang Garry Lee sediakan untuknya. Nancy yang masih terbuai mimpi di tempat tidur tampaknya tak mendengar ia bicara.
“Tunggu dulu, Amy. Bagaimana kamu bisa tahu aku memegang ponsel? Bukankah kita belum bertukar nomor sejak aku di Thailand?” tanya Aditya heran dengan suara bisik-bisik agar tak membuat curiga anak buah Garry yang mungkin berjaga di luar kamar.
“Kamu pikir aku ini siapa? Aku tahu apa-apa yang banyak orang tidak ketahui! Oke, kamu harus lebih waspada.” Suara Amy terdengar serius.
“Kenapa?”
“Sudah ketemu Gunawan Mahdi?”
Aditya kaget mendengar kalimat Amy itu dan berkata, “Kamu ini tiba-tiba muncul begini, setelah seharian gak ada kabar! Kenapa hati-hati segala? Memangnya apa yang kamu dapatkan dari Si Gunawan itu?”
“Sesuatu yang lebih besar dari Si Tua Leo. Bahkan lebih dari Aliansi Ular Kobra. Kamu perlu tahu. Tapi kita harus bicara langsung. Jangan lewat telepon.”
“Di mana?”
“Kutunggu di kebun belakang.”
“Baiklah,” kata Aditya lalu menutup sambungan telepon.
Nancy terlihat mengintip curiga dari balik selimut begitu Aditya berbalik badan. Ia tak bertanya apa-apa, karena tahu Amy Aurora sudah terlibat bersama mereka demi misi tingkat-S ini. Dan ia juga tahu tak ada yang menelepon Aditya selain wanita itu.
Empat jam kemudian, setelah matahari bersinar terang, mereka berdua berkumpul bersama Garry Lee di meja makan. Tidak ada Si Tua Leo. Katanya lelaki tua itu pergi terlebih dulu untuk mengatasi masalah soal perdagangan narkotika dengan Uncle Gun.
“Apa yang terjadi?” tanya Aditya.
“Enggak tahu. Sesuatu yang serius. Mereka bertengkar hebat,” kata Garry Lee.
Nancy saat itu tentu bersandiwara sebagai pelayan, sekalipun ia dibolehkan tidur di kamar Aditya. Jadi dialah yang menyiapkan makanan untuk mereka. Ia melirik Aditya penuh makna, seakan menuntutnya untuk memancing Garry Lee agar mereka mendapat informasi lebih dari ini.
Aditya memincingkan mata pada Nancy, pertanda tak ingin dianggap sepolos itu. Maka, ia kembali bertanya, “Sepertinya mereka berdua begitu akrab, ya?”
“Siapa?” tanya Garry Lee.
“Pamanmu dan Tuan Gunawan itu.”
“Oh, ya. Memang mereka bersahabat sejak muda. Mereka memulai semuanya dari bawah.”
__ADS_1
Garry Lee tampak tak ingin melanjutkan topik ini. Perkataannya barusan membikin wajahnya agak gelisah. Aditya sadar ia tak bisa bertanya lebih dari itu, karena mungkin saja pemuda itu bisa curiga. Jadi, ia bertanya soal lokasi rahasia yang dijanjikan Si Tua Leo semalam.
Aditya membatin, “Mungkin saja Profesor Joe ada di tempat itu!”
“Kita berangkat sekarang. Loe bakal tahu sendiri,” jawab Garry Lee lalu memberi isyarat pada sopir dan pengawalnya untuk meninggalkan ruang makan.
Mereka meninggalkan kota Bangkok selama setengah jam. Kemudian mereka tiba di sebuah tanah lapang yang seperti sudah lama telantar. Tanah lapang itu penuh dengan mobil rongsok berkarat. Nancy juga ikut serta. Dan wanita itu sudah mengontak si Rudi agar membuntuti mobil yang membawa Aditya dan Garry Lee menuju ke lokasi rahasia tersebut.
“Tempat macam apa ini?” Aditya menggumam.
“Pusat bisnis kami,” kata Garry Lee.
Mobil pun memasuki jalan setapak di tepi tanah lapang itu, yang diapit oleh pohon- pohon rindang. Jalan setapak itu mengitari tepi sebuah danau, lalu mereka tiba di area hutan gundul dengan sebuah gerbang berduri kawat yang cukup tinggi.
Dua petugas keamanan mengintip ke arah jendela dan Garry Lee mengangkat satu tangannya.
“Ada pamanku?” tanya Garry pada petugas itu.
“Di dalam bersama Tuan Gun.”
Gerbang dibukakan dan mobil masuk.
Betapa tidak? Tempat itu bagaikan surga bagi para pengedar sekaligus pecandu narkoba! Terlihat seperti sebuah kampung dengan para warga yang terbiasa menyentuh senjata dan obat-obatan terlarang. Termasuk orang-orang renta dan bahkan para bocah!
“Beginilah tempat kami,” kata Garry Lee. “Seperti sesuatu yang hanya akan terlihat dalam film-film.”
“Hebat!” kata Aditya, yang benar-benar kagum, sebab ia melihat obat-obatan ilegal bertebaran di mana-mana bagai permen kapas saja. Entah masa depan macam apa yang bakal anak-anak kecil itu jalani kelak.
Nancy sejak awal cuma diam saja.
Dari kejauhan, di depan semacam gudang, Aditya bisa melihat Si Tua Leo berbicara serius dengan Gunawan. Mereka terlihat sangat tegang. Lelaki tua yang meminta untuk dipanggil Uncle Gun itu sampai membanting cangkir kopi yang dipegangnya.
Garry Lee terlihat enggan bicara, tetapi Aditya menceletuk tak sengaja, “Ya, seperti ada sesuatu yang buruk terjadi.”
Ketika Aditya dan Garry Lee turun, kedua lelaki tua itu berhenti bicara dan terlihat seperti tidak ada pertengkaran saja. Namun Aditya tahu pasti mereka sedang berselisih soal sesuatu.
“Selamat datang, Nak. Di sinilah tugas pertama loe,” kata Si Tua Leo pada Aditya. Wajah lelaki tua kekar itu terlihat berkeringat. Biasanya ia tidak begitu.
__ADS_1
Lalu Si Tua Leo meminta Garry menemani dirinya di ruang bersantai.
Kata Leo, “Biar anak baru itu bicara dengan Uncle Gun.”
“Ya, kalian tunggu sampai kami menyusul di ruang bersantai,” sahut Uncle Gun.
Aditya menatap bingung, tapi tidak bertanya-tanya. Gunawan Mahdi mengajaknya berjalan-jalan untuk menjelaskan situasi yang mereka hadapi. Kabarnya bisnis mereka sedang terancam. Sesuatu yang besar mengganggu jaringan mereka dan Uncle Gun tak tahu siapa di balik itu.
“Apa yang terjadi, Tuan?” tanya Aditya yang berjalan dengan merangkul Nancy di sisinya.
“Seseorang berkhianat. Gue belum tahu, tapi seseorang berkhianat.”
“Apa hubungannya dengan saya? Kenapa Anda bicara tentang ini pada saya?” tanya Aditya heran.
“Bukankah itu sudah jadi tugas loe? Loe pembunuh! Reputasi loe mendahului nama dan tampang loe itu! Inilah tugas loe.”
Aditya masih belum menangkap maksud Gunawan.
Lelaki tua itu bilang. “Si Leo gak mau mengakui perbuatannya di penjara. Ia sudah bicara terlalu banyak demi menyelamatkan pantatnya sendiri di tempat busuk itu. Bisnis kami jadi korban! Nah, kalian di penjara bersama. Apa yang bisa loe tawarkan, Nak?”
“Membunuhnya?”
“Enggak sesimpel itu!”
“Lalu, apa?” tanya Aditya masih kebingungan.
“Buktikan siapa di antara kalian yang berkhianat. Jika loe mampu, silakan bunuh si Leo. Gak akan ada yang membalas.”
Aditya terpana menatap mata Gunawan. Nancy pun heran. Mereka datang kemari untuk menolong si ahli Biologi, tapi kini malah terlibat dalam konflik internal Aliansi Ular Kobra.
“Ya, buktikan siapa di antara kalian yang berkhianat. Kau atau si Leo Bodoh itu. Jika loe pelakunya, loe tahu sendiri akibatnya. Tadi kami bertengkar soal ini.”
“Saya tahu,” kata Aditya pendek.
Saat itu mereka baru saja tiba di bangunan yang seperti baru selesai direnovasi. Ada beberapa orang berjas laboratorium melangkah keluar dari situ. Gunawan berhenti bicara. Seseorang yang ada di ruang kontrol tak jauh dari situ membuat Aditya terkejut.
Seorang lelaki berkumis kelabu dan berkacamata setebal kelingking?
__ADS_1
“Kuharap itu dia!” batin Aditya begitu si Kumis itu melangkah ke arah mereka.
Bersambung...