Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 130


__ADS_3

Ketika Frita, Jimmy, Pandu dan Heni sedang berbincang, Aditya keluar dari ruangan lalu duduk di kursi sambil menatap ponselnya. Tak lama kemudian Frita keluar dari ruangan bersama dengan Clarissa.


“Kamu mau ke mana Ris?” tanya Frita ketika melihat adiknya buru-buru pergi.


“Ke toilet dulu kak,” jawab Clarissa tanpa menoleh.


“Masih chatingan dengan Sherly?” tanya Frita sinis melihat Aditya sedang asik memainkan ponselnya.


“Kalo iya kenapa?”


“Nggak kenapa napa,” jawab Frita dengan nada jengkel.


Aditya hanya tersenyum saja. Sepanjang perjalanan ke rumah sakit tadi Aditya sengaja mengirim puisi romantis ke ponsel Frita. Tapi ketika Frita berterima kasih dan memujinya Aditya malah bilang jika itu sebenarnya untuk Sherly. Frita akhirnya menjadi kesal seperti itu kepadanya.


Sebenarnya Aditya sengaja melakukan itu untuk menambah keyakinan Jimmy kepadanya. Karena jika polisi seperti Jimmy sudah mencurigainya maka kebebasannya akan berkurang. Tak lama kemudian Dani datang menghampiri. Pandu juga keluar dari ruangan Heni.


“Fri, sebaiknya kita segera mengurus biaya pembayaran para karyawan.yang terluka, terlebih sejak William membuat kebijakan aneh waktu itu, kartu kesehatan mereka kemungkinan belum bisa digunakan kembali,” ajak Pandu.


“Tidak usah pak, semuanya sudah dibayar kok,” kata Dani.


“Sudah dibayar?”


“Ya, semuanya sudah dibayar oleh bos, eh maksud saya Aditya, bahkan sekalian dengan biaya pengobatan para staf restoran yang terluka juga,” jawab Dani sambil menyerahkan kartu debit milik Aditya.


“Memangnya berapa jumlahnya?” tanya Pandu.


Dani kemudian memperlihatkan bukti pembayarannya, Pandu dan Frita sangat terkejut karena totalnya mencapai seratus juta lebih. Pandu menatap tajam Aditya yang hanya tersenyum melihat reaksi kaget mereka berdua.


“Ini terlalu banyak Dit. Bagaimana kalau langsung kami ganti biayanya?”” tawar Pandu.


“Tidak usah pak, saya senang kok bisa membantu mereka semua. Mungkin saya cuma minta agar perusahaan segera mengurusi berbagai masalah dan fasilitas karyawan saja termasuk kartu kesehatannya,” jawab Aditya sambil pergi dari sana.


“Dia benar-benar orang yang baik,” ujar Pandu.


“Aku tidak menyangka jika Aditya punya uang sebanyak itu,” ucap Frita kagum sekaligus heran, muncul beberapa pertanyaan di benaknya tentang sosok Aditya yang sesungguhnya dan juga masa lalunya.


“Saya juga tidak menyangka,” timpal Dani.


Aditya berjalan menyusuri lorong, dia masih terus memikirkan kiranya siapa yang menyewa para pembunuh bayaran itu. Padahal dia merasa belum terlibat terlalu dalam di dunia gelap kota Bandung tapi sudah ada yang ingin segera menyingkirkannya. Sekilas dia melihat Arya sedang serius berbincang dengan seseorang di telepon, Aditya mendekatinya perlahan.

__ADS_1


“Apa kamu yakin mereka adalah pelakunya?” tanya suara pria yang sedang ditelepon Arya.


“Saya yakin, terlebih korban sendiri yang bilang jika mereka menggunakan alphabet untuk memanggil satu sama lainnya,” jawab Arya.


“Ini buruk, kenapa bisa bagian keamanan suatu perusahaan diincar oleh para pembunuh bayaran. Lalu petunjuk apa saja yang kamu dapatkan dari TKP?”


“Sayangnya saya tidak bisa mendapatkan petunjuk apapun. Kelihatannya kejadian ini sudah direncanakan oleh matang oleh mereka. Bahkan tabung gas airmata pun tidak bisa kami temukan.”


“Mereka benar-benar licin. Tapi jujur saja bagiku alasan mereka yang ingin membalas dendam kepada bagian keamanan sebuah perusahaan masih terlalu ambigu.”


“Saya juga berpikir demikian.”


“Lalu bagaimana dengan tewasnya para tahanan di penjara yang baru saja tertangkap itu?”


“Aku sudah mengambil beberapa kesimpulan. Motifnya kemungkinan untuk menutup mulut mereka, sedangkan trik pembunuhannya adalah menggunakan racun yang dicampurkan ke dalam makanan.”


“Tapi jika makanan, seharusnya tahanan biasa juga aka nada yang jadi korban.”


“Tidak, mereka adalah tahanan baru yang masih perlu di interogasi untuk menggali informasi yang mereka ketahui, jadi aktivitas mereka belum sama dengan tahanan lainnya. Makanan mereka juga langsung diantarkan oleh sipir penjara.”


“Jadi ada seseorang yang menyamar sebagai sipir penjara lalu meracuni mereka?”


“Mustahil.”


“Ya, itu adalah permasalahan pelik yang belum bisa kami selesaikan.”


“Lalu apa ada gambarang dalang dibalik kejadian itu?”


“Saat ini kami hanya mencurigai geng Serigala yang melakukannya, tapi kami tidak punya bukti sedikitpun bahkan mereka berhasil membuat bingung kami dengan beralasan mungkin saja ada yang memanfaatkan kejadian itu untuk mengkambinghitamkan geng Serigala.”


“Benar-benar merepotkan. Tapi terimakasih atas informasinya, berhati-hatilah.”


“Baik,” kata Arya sambil mengakhiri panggilan. Dia kemudian pergi dari tempat itu. Aditya sendiri terus merenung memikirkan pembicaraan Arya barusan. Kelihatannya dugaannya selama ini memang tepat perihal identitas Arya yang sebenarnya.


***


Di dalam sebuah ruangan yang luas terdapat sebuah meja besar berbentuk persegi dikelilingi oleh enam orang yang sedang duduk di kursi dengan santainya. Ruangan itu gelap gulita laiknya tidak ada lampu. Mereka hanya mengandalkan pencahayaan dari sinar rembulan yang menembus atap kaca. Itupun hanya cukup menyinari meja mereka saja seukuran besar atap kacanya.


Di hadapan setiap orang terdapat sebuah Portabel Computer canggih yang berupa monitor touchscreen. Sedangkan di tengah-tengah meja terlukis logo yang bernama Black Mafia. Samar-samar terlihat wajah mereka sangat serius dengan pembicaraan yang sedang berlangsung.

__ADS_1


“Aku mendengar kabar jika ada hantu yang gentayangan saat ini mulai mengusik dunia malam kita.”


“Memangnya kabar itu benar? Sebenarnya aku juga mendengar kabar yang sama.”


“Entahlah, tapi sejauh ini informanku benar-benar bisa dipercaya.”


“Maksudmu orang yang hilang entah kemana beberapa tahun yang lalu?”


“Ya, aku dengar dia sekarang mulai kembali lagi kemari.”


“Benar-benar merepotkan, padahal satu masalah besar kita saja belum beres!”


“Jika memang seperti itu, aku yakin orang yang menggagalkan penyelundupan narkoba baru-baru ini juga adalah dia.”


“Kenapa bisa sampai berpikir seperti itu?”


“Itu hanya firasatku saja.”


“Jika memang kamu yang mengatakannya aku juga percaya, sejauh ini firasatmu memang selalu tepat.”


“Tapi aku dengar dari informanku bahwa geng Serigala sedang berusaha menyingkirkan orang itu saat ini.”


“Barusan aku mendapat kabar dari informanku yang menyusup ke sana jika rencana mereka gagal, mereka bahkan kehilangan kontak dengan para pembunuh bayaran itu.”


“Sebaiknya kita ikut membantu geng Serigala untuk menghabisi Dark Assasins. Bagaimanapun mereka juga sudah mengetahui banyak hal perihal kita.”


“Kita semua pasti akan setuju dengan usulan seperti itu. Sayang sekali jika dunia kita kehilangan pembunuh bayaran berbakat seperti mereka.”


“Hahaha hilangnya mereka akan membuat bibit-bibit baru yang lebih berbakat segera muncul dan menunjukkan ketangkasannya.”


“Tapi permasalahannya apakah kita juga akan mengambil bagian dalam menghabisi orang itu?”


“Tidak, menurutku sendiri saat ini dia tidak berbahaya walaupun memang dalam waktu dekat kita harus tetap menyingkirkannya. Setelah lama menghilang dari sini pasti tidak akan mudah baginya mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi kita.”


“Aku setuju, firasatku juga merasa seperti itu. Lagipula jika kita tidak fokus ke satu permasalahan maka kita tidak akan bisa menyelesaikan semuanya. Permasalahan kembalinya orang itu memang merepotkan, tapi saat ini permasalahan pertama lebih berbahaya lagi jika kita biarkan. Aditya Laksmana saat ini masih belum berbahaya bagi kita.”


“Menurutku juga begitu! Permasalahan pertama kita adalah yang paling berbahaya karena ini menyangkut bisnis dan kehidupan kita jika tidak segera diselesaikan,” ucap seseorang dengan suara yang disamarkan dari PC yang ada di depan mereka.


“Jika memang itu menurut pendapat Ketua, maka kami juga setuju,” ucap semua orang di sana menyetujui.

__ADS_1


BERSAMBUNG…


__ADS_2