Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 176


__ADS_3

Mendengar suara sirine mobil polisi yang semakin mendekat membuat para penyusup yang sedang menembaki rumah Bima mendadak berhenti. Mereka saling pandang sambil bersiap untuk pergi meninggalkan senjatanya. Tapi Viktor yang berada di luar beserta anak buahnya segera menutup pintu gerbang hingga para penyusup itu tidak bisa keluar.


“Apa yang terjadi di sini?” tanya Jimmy yang turun dari mobil menatap tajam Viktor.


“Ini pak tiba-tiba ada banyak orang yang datang ke sini lalu mereka malah menembaki rumah kami,” jawab Viktor dengan tenang.


“Mereka bersenjata?” tanya Jimmy sambil memegang pistolnya.


“Iya, pak,” jawab anak buah Viktor.


“Angkat tangan kalian ke atas lalu berlutut! Jika ada yang melawan akan kami tembak di tempat!” perintah Jimmy sambil menodongkan pistol kepada para penyusup.


“Buka gerbangnya,” perintah Jimmy. Viktor dan anak buahnya segera membuka gerbang. Tampak para penyusup itu sudah menuruti perintah Jimmy.


“Cepat bawa mereka ke kantor polisi!” perintah Jimmy kepada anak buahnya. Para penyusup itu kemudian dibawa ke kantor polisi.


Sementara itu Aditya di dalam rumah sedang menatap Vendi yang kabur lewat jendela. Dia tidak menyangka jika Vendi malah mengorbankan anak buahnya sebagai tameng agar dia tidak tertangkap. Dia kemudian membereskan para penyusup yang tergeletak. Tak lama kemudian beberapa polisi masuk ke dalam rumah untuk memeriksa keadaan.


Aditya kemudian melihat keluar rumah setelah membersihkan pisau belati miliknya. Terlihat kalau Brian sedang menjelaskan kronologis kejadian, semau ceritanya dibuat agar mereka tidak ikut menjadi tersangka dalam kejadian itu. Jimmy terlihat sangat terkejut saat melihat Aditya ada di rumah Bima. Karena penasaran dia kemudian meminta penjelasannya di dalam rumah.


Brian kembali menjelaskan kronologi kejadian yang terjadi di rumah itu. Dengan kepintarannya dia bisa dengan mudah menepis kecurigaan Jimmy dan juga bantahan yang sempat diucapkan oleh para penyusup.


“Jadi seperti itu pak kronologis kejadiannya,” ucap Brian setelah selesai menceritakan semua kejadian di rumah itu.


“Begitu, masuk akal memang,” kata Jimmy mengangguk paham.


“Lapor pak kami juga tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan di rumah ini,” kata anak buah Jimmy.


“Baiklah, kelihatannya kejadian kali ini memang murni kalau geng Merak hanyalah korban semata. Kalian bisa pergi ke kantor duluan, nanti aku akan menyusul,” ucap Jimmy, semua anak buahnya hanya mengangguk paham sambil pergi dari kediaman Bima.

__ADS_1


“Sebenarnya kedatangan pak polisi kemari karena mendapat laporan dari warga atau karena hal lain?” tanya Ratna yang baru datang dari dapur sambil membawa minuman untuk Jimmy.


“Mentari kota Bandung,” gumam Jimmy sambil menatap Ratna dengan penuh kekaguman. Kecantikannya memang luar biasa di mata para lelaki.


“Kenapa pak?” tanya Ratna.


“Ah tidak, aku hanya teringat kepada temanku saja,” jawab Jimmy sambil tertawa. Dia ingat kalau Arya pernah bilang kalau dia begitu mengagumi Mentarinya kota Bandung.


“Saya juga penasaran dengan tujuan bapak datang kemari,” kata Brian.


“Kedatanganku kemari sebenarnya ingin menanyakan sesuatu kepada Ketua kalian. Tapi tiba-tiba saja kami mendengar suara tembakan dari rumah ini kami juga tidka menyangka kalau ada orang-orang yang menyerang rumah ini,” jawab Jimmy.


“Sayangnya Ketua kami baru saja pulang dari rumah sakit jadi kami tidak bisa mempertemukan anda dengan beliau,” jawab Brian sambil menunduk minta maaf.


“Tidak masalah jika seperti itu.”


“Kalau berkenan, mungkin anda bisa mengatakan keperluan anda kepada kami,” kata Ratna.


“Wilayah itu memang menjadi salah satu tempat kami berkumpul, hanya saja kami tidak tahu kalau ada kejadian seperti itu di sana,” jawab Viktor.


“Memangnya diantara korban itu ada yang membawa atribut geng Merak pak?” tanya Brian.


“Memang tidak ada, hanya saja aku khawatir kalau geng kalian juga terlibat,” jawab Jimmy sambil menatap tajam Brian.


“Kalau memang ada yang membawa atribut geng Merak mungkin kami bisa membantu kepolisian, hanya saja jika tidak ada maka akan sulit untuk memastikannya,” ucap Brian.


“Diantara anggota kami memang masih banyak yang sering mencari keributan pak, karena itu kami juga berharap kalau kepolisian bisa membantu kami. Jika memang ada anggota kami yang membuat masalah bisa langsung mengabari kami agar kami yang langsung mengantarkannya ke kantor polisi,” timpal Viktor.


“Terimakasih, tapi sejak dulu kelihatannya tiga geng besar Bandung memang selalu lolos dari kejahatan,” ucap Jimmy sambil tertawa, kata-katanya setengah menyindir mereka.

__ADS_1


“Bapak ini ada-ada saja, kelihatannya kami memang orang baik-baik karena itu tidak pernah ada kasus yang melibatkan kami. Ya walaupun memang tetap saja masih banyak anggota kami yang susah diatur hingga sering berbuat kejahatan,” kata Brian.


“Ngomong-ngomong kamu sedang apa di sini Dit?” tanya Jimmy sambil mengalihkan tatapannya kepada Aditya.


“Saya kebetulan sengaja datang kemari untuk menjenguk Ketua geng Merak,” jawab Aditya sambil tersenyum.


“Kamu mengenal Bima?”


“Ya, saya berhutang budi kepada beliau. Dulu saya pernah diselamatkan olehnya, dia benar-benar orang yang baik.”


“Oh mengejutkan sekali. Aku tidak pernah menyangka jika kamu mengenal salah satu geng besar. Tapi tidak heran sih kalau mengingat latar belakangmu,” ujar Jimmy, dia ingat kalau Aditya juga seorang mantan tentara pastinya wajar saja kalau dia bisa mengenal salah satu ketua geng besar Bandung.


“Iya pak. Tapi saya tidak menyangka kalau malah akan terjebak di situasi berbahaya seperti tadi.”


“Hahaha memang situasi seperti itu kadang datang tanpa bisa diduga sebelumnya.”


“Oh iya, saya mau pamit nih. Saya kuatir kejadian seperti tadi kembali terjadi,” ucap Aditya sambil bangkit.


“Kamu mau pulang sekarang Dit?” tanya Ratna.


“Iya, lagipula sekarang kan Ketua sudah kembali ke rumah. Karena itu aku ingin pulang dulu,” jawab Aditya sambil tersenyum.


“Kalau begitu aku akan mengantarmu pulang, kebetulan aku ingin sedikit berbicara denganmu,” kata Jimmy. Aditya paham kalau Jimmy ingin membicarakan masalah Frita.


“Baiklah kalau anda tidak keberatan,” jawab Aditya.


Mereka berdua kemudian pamit lalu pergi dengan mobil Jimmy meninggalkan kediaman Ratna. Jimmy mengajak Aditya untuk mampir dulu ke café untuk membicarakan permasalahan Frita. Aditya juga setuju dengan usulan Jimmy itu. Mereka kemudian berhenti di sebuah café pinggir jalan. Di halaman café Aditya mengernyitkan keningnya karena ada satu mobil yang cukup familiar baginya.


“Ayok ke dalam, tenang untuk hari ini biar aku yang traktir,” ucap Jimmy.

__ADS_1


“Terimakasih pak,” jawab Aditya sambil berjalan mengikuti Jimmy masuk ke dalam. Aditya tersenyum karena di dalam memang benar ada seseorang yang dia kenal, sesuai dengan dugaannya, walaupun orang itu masih belum menyadari keberadaannya.


BERSAMBUNG…


__ADS_2