Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 125


__ADS_3

“Apa maksud lu?” tanya penjahat.


“Hahaha, sudah jangan pura-pura. Gue tahu itu lu, pake samar-samarin suara segala. Asal lu tahu gue masih inget logat gaya bicara, postur tubuh dan cara berjalan lu. Jadi nggak mungkin gue salah,” jawab Aditya sambil mengendap-endap.


“Ho, jadi waktu itu lu emang sadar kalau gue ikutin ya, lumayan juga.”


“Jadi beneran elu ya, padahal gue tadi Cuma nebak doang.”


“Cih, baru kali ini gue terjebak,” gumam si penjahat.


“Perasaan waktu itu di toilet juga terjebak,” kata Aditya.


“Gue sengaja waktu itu masuk ke toilet karena tahu ada orang di sana, gue juga sengaja nggak nyalain keran air. Buat liat reaksi lu. Ternyata lu malah buka pintu toilet itu secara paksa. Gue semakin penasaran sama identitas lu tapi ternyata di dompet lu nggak ada identitas sama sekali,” jelas Aditya sambil melesatkan tembakan. Namun tidak mengenai sasaran.


“Jadi begitu ya, pantas sekarang lu bawa pistol. Lalu kenapa lu nggak ngeringkus gue waktu itu?”


“Gue khawatir lu nggak sendirian, jika gue bertindak waktu itu bisa saja jatuh korban banyak karena gue tahu orang-orang berdarah dingin seperti lu nggak akan segan buat membunuh,” papar Aditya sambil melompat ke tempat si penjahat namun ternyata dia sudah tidak berada di sana lagi.


Aditya kembali memasang telinganya tajam. Sekilas dia mendengar penjahat mengokang pistolnya, dengan cepat Aditya berlari ke balik tiang, penjahat melepaskan beberapa tembakan mengikuti Aditya namun tetap tidak mengenai sasaran.


“Kalian sudah membereskan sisanya?” tanya si penjahat lewat earphone.


“Sudah A, mereka sudah berhasil ditangkap semuanya nggak ada yang tersisa,” jawab rekan penjahat.


“Cepat kalian kemari, ternyata target kita ini lumayan juga.”


“Hahaha baru kali ini gue denger lu minta bantuan A.”


“Cepat kesini, biarkan si F yang berjaga di sana.”


“Beres lah.”


Penjahat itu bergerak ke arah Aditya berlari tadi, tapi dengan cepat Aditya menyambutnya dengan tendangan. A sempat melepaskan tembakan namun tendangan Aditya membuat tembakannya tidak tepat sasaran. Kini giliran Aditya yang menembak tubuh A namun dia tidak beraksi apa-apa. Malah A berbalik menendang tangannya. Kini pistol mereka sama-sama terlempar jauh.


“Cih, rompi anti peluru rupanya,” gumam Aditya.

__ADS_1


“Lu pikir gue datang ke sini juga tidak memperhitungkan semua kemungkinan yang ada?” tanya A sambil melayangkan beberapa pukulan.


“Sial,” gumam Aditya karena tubuhnya ternyata sudah mentok di dinding. Terpaksa beberapa pukulan A berhasil mengenai tubuhnya.


“Siapa sebenarnya yang memerintahkan kalian buat menghabisi gue?” tanya Aditya sambil berguling menghindari serangan A.


“Lu pikir gue bakalan jawab?” tanya A sambil melompat dengan tendangan kaki kirinya.


Aditya berhasil menghindar dengan tiarap ke lantai. Dengan cepat dia memegang kaki A namun A menghentakkan kakinya lalu tendangan kaki kanannya berhasil mengenai leher Aditya hingga terpental. Aditya sadar jika orang yang dihadapinya benar-benar hebat, bahkan dia menggunakan tehnik beladiri campuran dengan baik.


Aditya mulai serius dengan kuda-kuda ala beladiri wing chun. A kembali menyerang dengan ayunan tangan kanan kirinya, Aditya memainkan telapak tangan kanannya dengan cepat untuk menangkis dan balas menyerang. A mundur menjaga jarak setelah terkena serangan beruntun Aditya.


A kemudian menyerang kembali dengan tendangan kaki kirinya, Aditya mengelak. Serangan tinju A juga berhasil dia tangkis, Aditya kembali mengelak dari hantaman lutut A. secepat kilat Aditya berhasil melayangkan tinjunya ke leher A hingga dia tersungkur ke lantai.


“Katakan siapa yang menyuruh lu ngabisin gue!” tanya Aditya sambil mencengkram tangan A dengan teknik kuncian.


“Gue nggak akan jawab!” tegas A sambil berusaha melepaskan diri tapi tangannya semakin sakit ketika bergerak.


“Katakana tau gue patahin tangan lu!” bentak Aditya sambil mengeratkan cengkraman tangannya.


“Aaargh..” teriak A ketika terdengar suara tulang yang patah.


Aditya kemudian bangkit lagi sambil meringis kesakitan. Sementara A terlihat berlutut menahan sakit setelah tangannya patah. Empat sosok bayangan sudah berdiri di sekeliling A. Aditya mulai waspada, matanya terus mencari pistol yang tadi terlempat.


“Lu kalau mau nendang lihat-lihat dulu C!” bentak A.


“Sorry bro gelap, gue pikir dia nggak lagi ngunci tangan lu,” kata si C.


“Sial! Sebelum kita menghabisinya siksa saja dulu!” gerutu A sambil memegang tangan kirinya yang patah.


“Lu ceroboh juga A,” ledek seorang wanita. Walaupun suara mereka disamarkan tapi jelas-jelas yang barusan berkata adalah seorang wanita.


“Lu coba saja hadapi dia, B!” bentak A karena tidak terima disebut ceroboh.


“Hahaha kayak bocah belajar alphabet saja pake A, B, C, D segala,” ledek Aditya sambil terus bergerak mencari pistolnya.

__ADS_1


Mendengar hal itu si D bergerak menyerang Aditya secara langsung. Tubuh Aditya kembali terpental setalah terkena tendangan si C yang tiba-tiba menyerang dari samping ketika sibuk melawan si D. tapi dia Aditya sekarang merasa lega karena para penjahat itu tidak membawa pistol lagi.


“Jangan remehin dia!” kata A memperingatkan.


“Jangan samain gue sama lu!” jawab si D.


“Lu sebaiknya menonton saja di sini,” kata si C sambil mengeluarkan pisau dari saku bajunya.


“Matanya tajam juga,” gumam si B sambil menatap Aditya.


“Bukannya dia tipe lu banget, B?” tanya si E.


“Sayang sekali kalau dia harus dibunuh oleh kalian, padahal aku sangat ingin menyayat nyayatnya dulu,” gumam si B sambil tersenyum mengerikan.


“Dasar psikopat gila,” ujar si E.


Si D bersiap dengan tangan kosong sedangkan si C mulai menghunuskan pisaunya. Si E dan si B masih tetap berdiri di samping si A. Aditya harap kemampuan empat orang yang baru datang itu di bawah A, karena jika mereka setara saja pasti akan membuatnya kewalahan.


Aditya maju menyerang, si D menghadapinya dengan tangan kosong, si C maju mengayunkan pisaunya dengan cepat. Aditya menghindar lalu memutar tubuhnya dan menendang si C namun berhasil ditangkis oleh lengannya, si D menyerang dari belakang dengan cepat tapi Aditya mengelak ke samping sambil melayangkan tinju kanannya ke wajah si D, namun tangannya sudah dipegang oleh si E yang datang hendak mematahkan tangannya.


Dengan gesit Aditya mendorong tangannya ke tubuh si E lalu menghentakkannya sekaligus hingga berhasil lepas. Kaki kirinya menghujam perut si E namun dia melompat. Si C datang mengayunkan pisaunya tapi Cuma menggores baju yang Aditya pakai. Tubuhnya berbalik tapi ditendang oleh si D. walau bisa ditahan tapi dia terpaksa mundur. Tangannya tiba-tiba terasa perih. Sontak Aditya mengibaskan tangannya lalu melompat ke belakang.


“Hihihi gimana ya rasanya darah lu,” ujar si B sambil tertawa menakutkan.


“Cih, pisau ya?” gumam Aditya sambil melihat lengannya yang tersayat sedikit.


“Bukan, ini silet loh,” jawab si B sambil menunjukan sela-sela jarinya yang penuh dengan silet.


“Gue akui refleks lu lumayan juga,” kata si E sambil maju menyerang kembali.


Aditya berusaha menghindar tapi si D sudah berada di belakangnya sambil melayangkan tendangan. Aditya menahan dua serangan itu namun si C dan si B juga menyerangnya. Aditya dengan gesit mengelak ke samping lalu menahan pisau si C dengan jarinya. Si D sudah melayangkan tinjunya kembali. Si E juga menyerangnya dengan tendangan tehnik karate.


Kedua serangan itu berhasil mengenai tubuh Aditya hingga dia terpental membentur beberapa kursi di belakangnya, darah keluar dari tepi bibir Aditya. tiba-tiba dua suara tembakan terdengar jelas, ternyata si A sudah memegang kedua pistol yang terlempat tadi. Beruntung kedua tembakan itu hanya mengenai meja di dekat Aditya.


“Cih, karena menahan sakit tembakanku jadi meleset,” gerutu si A.

__ADS_1


BERSAMBUNG…


__ADS_2