Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 241


__ADS_3

Takeshi Yobu benar-benar menikmati kemenangannya belakangan ini. Ia tak puas memuji dirinya sendiri karena telah menghabisi banyak orang di Desa Sumber Kencana, sekaligus meninggalkan teror bagi mental Aditya.


Sayangnya, Yobu-San gagal menembak mati Paman Salim.


Ia tahu itu dan ia marah besar.


Seekor ular terlihat mati mengenaskan di atas batu, persis di dekat tempatnya duduk saat ini. Ular itu terlihat penyet seperti habis diinjak-injak.


“Kalau bukan karena gigitan ular sial ini, lelaki tua busuk itu tadi pasti sudah mati oleh peluruku!” gerutu Yobu-San yang tak henti memandang kesal mayat si ular.


Tadi ketika sudah membidik tepat kepala Paman Salim dan bersiap menarik pemicu, Yobu-San dikejutkan oleh gigitan ular berbisa yang cukup sakit. Tembakannya seketika meleset. Ia kesal dan menginjak-injak si ular itu dengan sangat liar.


Pengalaman dan ilmunya membuat sang samurai bisa selamat dari racun ular itu. Kini, Yobu-San kembali mengamati dari tempat tersembunyi di mana ia bisa menembak kapan pun ia mau. Menembak seorang lain yang mungkin saja berarti bagi Aditya. Ya, seorang gadis yang entah siapa.


Jujur saja, Yobu-San belum tahu siapa Ratna. Dan ia penasaran dengan kecantikan gadis itu. Tapi, Aditya terlihat begitu peduli padanya. Mereka terlihat mengobrol berdua saja. Oh, mungkin itu calon istrinya? Takeshi Yobu tidak yakin. Ia merasa tak ada waktu untuk mencari tahu lagi wajah Frita yang dikabarkan akan menikah dengan Aditya itu.


Namun, ia mendadak mendapat pilihan lain.


Sejumlah pemuda datang masuk ke rumah Paman Salim.


Takeshi Yobu tak mengenal mereka. Orang-orang itu membawa tas dan koper dan terlihat seperti sekumpulan turis nyasar saja.


“Siapa orang-orang itu?” pikirnya penasaran, tanpa ia tahu bahwa merekalah para anggota Skuad Malam yang sudah mengacak-acak markas tersembunyi Serigala Hitam tempo hari.


Sampai di sini, Takeshi Yobu merasa kalah langkah. Ia memutuskan berpindah ke titik yang lebih dekat dengan rumah Paman Salim. Tepatnya di puncak sebuah bukit kecil tak jauh dari tanah lapang itu.


***


Aditya, Skuad Malam, Yusi, dan Deri sudah siap.


“Pastikan apakah ini sudah terpasang dengan benar?” kata Ratna pada Aditya yang terlihat tenang saja.


Aditya tak berkata dan membiarkan Ratna memeriksa pakaiannya dengan teliti. Ia menatap mata lelaki itu dalam-dalam dan bilang, “Kamun gila, Dit.”


“Ya, apa lagi yang bisa dilakukan dalam situasi seperti ini, kecuali menjadi gila?” jawabnya.


Skuad Malam memberi isyarat pada masing-masing. Baskara dengan alat pelacak yang canggih, serta Nancy yang ahli dalam menembak jarak jauh, menyelinap dari pintu belakang. Mereka berdua menerabas kebun pisang dan singkong yang ada di situ, lalu menyusuri tepi sungai, dan mengitar, menuju ke arah hutan jati di mana Takeshi Yobu diyakin bersembunyi.

__ADS_1


Teo dan Charlie tidak mengenakan seragam taktis, melainkan tetap berpakaian yang seperti tadi, seperti para turis nyasar. Dan mereka melambaikan tangan, seolah-olah tak ada yang perlu mereka lakukan lagi sini. Seolah-olah mereka pamit pergi dari sini dengan ketakutan dan buru-buru.


Pemandangan dua orang tamu yang pergi itu terlihat aneh bagi Takeshi. Ia bisa saja menembak mereka, tapi apakah ini jebakan? Sang samurai tidak terlalu yakin.


Yusi dan Deri mendadak keluar dan menembak dengan membabi buta ke arah hutan jati yang berada di sisi kiri lapangan. Mereka tak perlu cemas sebab Baskara dan Nancy sudah tahu kapan harus melewati titik itu. Dan tak akan ada warga yang tertembak. Toh tiap warga sudah sembunyi di rumah masing-masing.


Setelah menembak membabi-buta, Yusi dan Deri berlarian pergi, berbelok ke gang- gang di antara rumah para warga, seakan pertanda mereka tak mau ada urusan dengan samurai itu.


Yusi dan Deri berteriak, “Biarkan kami pergi!”


“Oh, rupanya sekarang mereka terpecah belah. Sekarang tak ada lagi yang menjaga orang tua dan gadis itu, selain Aditya?”


Tapi, ke mana tiga turis lainnya?


Takeshi Yobu tak menyadari Linda diam-diam sudah memanjat atap rumah Paman Salim. Dengan teropong night vision-nya, Linda segera tahu di mana samurai itu kini berada. Itulah kenapa Teo, Charlie, Yusi, dan Deri tahu kapan dan ke arah mana mereka bisa pergi.


Semua itu terlihat sangat aneh bagi sang samurai. Ia segera memasang kacamata nhigt vision-nya, sebab listrik di seluruh desa mendadak padam. Ya, tentu saja itu ulah Teo dan Charlie.


Begitu kacamata itu terpakai, Yobu-San menyadari ia dibidik dari jauh oleh sesosok misterius dari atap rumah Paman Salim. Sesosok yang terlihat mengenakan topi pet. Ia yakin itulah Aditya, padahal sebenarnya Linda.


Dzing!


Yobu-San mengumpat dan merangkak turun ke bawah, mencari tempat sembunyi lain.


Linda tak kalah cepat memberi informasi pada Nancy dan Baskara bahwa bajingan itu baru saja berlari kembali ke arah hutan.


Saat itulah Aditya keluar, ia berlagak membungkuk, seperti orang sakit-sakitan. Itu memang perlu dilakukan, sebab ia kini menyamar sebagai Paman Salim. Sesosok lelaki tua yang dengan panik mencoba mencari jalan keluar dari sarang harimau.


Seperti yang mereka harapkan, Takeshi Yobu harus menjauh dari area hutan sebab di situ ia mendapatkan luka tembak baru di lengan kanan. Nancy terus menyerbunya dari kegelapan dengan peluru. Baskara secara akurat memastikan posisi keduanya tetap aman dengan tablet dan aplikasi canggih di dalamnya.


“Nah, kini biarkan aku berhadapan dengannya,” kata Aditya.


Saat melihat seorang bungkuk sedang kebingugan di sana, Yobu-San tak ambil waktu. Segera ia menembaknya. Lelaki bungkuk itu jatuh ke tanah, tak bergerak. Sang samuran sendiri kini mulai panik karena tak ada tempat berlindung dan entah berapa butir peluru bersarang di tubuhnya. Tembakan-tembakan baru berhasil mengenainya dari arah yang benar-benar acak.


Diam-diam Deri, Yusi, Teo, dan Charlie tersenyum girang dari tempat persembunyian mereka.


Kini, sang samurai terkepung, kecuali ia pergi ke arah rumah Paman Salim.

__ADS_1


Tentu saja Takeshi Yobu segera menyadari ini semua hanyalah jebakan, tapi dia tak bisa berbuat lain untuk menang sekaligus bertahan.


Maka, ia berlari menuju mayat lelaki tua bungkuk tadi., yang ia pikir adalah Paman Salim. Ia menghunus samurai dari pinggangnya, dan bermaksud mencari Aditya yang mungkin bersembunyi di dalam rumah.


Sayangnya, ia salah prediksi.


Lelaki tua itu bangkit begitu ia melewatinya. Lelaki tua yang mendadak terlihat tegap dan kekar, dengan pedang di tangannya.


Yobu-San tersayat di punggung dan berteriak, “Ah! Bangsat!”


Di situlah ia tahu ia sudah berhadapan dengan Aditya.


“Apa maksudmu membuat kekacauan di sini, he?!” bentak Aditya.


Samurai itu tak sudi menjawab dan mereka segera beradu pedang. Aditya tadi tak terkena tembak sebab memakai rompi anti-peluru. Tapi tebasan samurai dari Yobu-San membuat perutnya hampir robek. Untung dia cepat menghindar jadi hanya mendapatkan sayatan saja.


Melihat itu, Ratna yang sejak awal sembunyi di dalam tak tahan lagi. Ia keluar dan menyerang sang samurai dengan tongkat berduri, yang sayangnya kalah cepat.


“Rasakan ini perempuan ******!” pekik Yobu-San sambil menusuk perut Ratna.


Gadis itu ambruk.


Skuad Malam meninggalkan posisi masing-masing untuk membantu mereka.


Aditya berteriak marah, “Apa yang kau lakukan, Bajingan!?”


Serangan terakhir Aditya mungkin terlihat bagai kilatan petir di mata para warga yang menonton dari jendela masing-masing saat itu.


Samurai itu ambruk tak bergerak lagi.


Aditya juga tak bergerak.


Skuad Malam, Yusi, dan Deri berlarian mendekat.


Linda menembak mati samurai itu setelah dia berada cukup dekat di tempat dia dan Aditya berusaha saling bunuh barusan.


Listrik menyala tak lama kemudian. Para warga mendengar Paman Salim menangis, meminta pertolongan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2