Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 229


__ADS_3

Ternyata sedikit keributan di tempat bersenang-senang bisa membuat Aditya merasa sembuh dari kekacauannya. Setidaknya itulah yang lelaki itu pikirkan. Kini, ia merasa kembali menjadi seorang anggota pasukan khusus. Ia merasa mendapatkan energi yang berlebih untuk melawan kejahatan.


Siapa kejahatan itu? Ia belum tahu pasti.


Yang jelas, ia tahu Yusi dihajar, dan di situ ada pula Clarissa serta Shelly D yang menjerit-jerit meminta tolong.


“Hei, Bangsat! Stop! Kalian banci, ya? Main keroyok begitu!” ledek Aditya yang sudah setengah mabuk.


Para anak buah Herman Kusuma menoleh dan saling pandang. “Siapa orang ini?”


“Enggak tahu!”


“Anjing, loe mau mati juga ya!” seru seorang dari mereka, yang segera menerjang Aditya tanpa banyak pikir.


Sayangnya, terjangan itu tak berguna. Aditya bukan tandingannya, membuat orang itu justru terpelanting ke atas bar dan menabrak rak minuman, menimbulkan suara botol botol pecah dan sangat berisik.


Pada saat itu, Yusi tahu ia terselamatkan. Semua anak buah Herman dan Rama kini mengepung Aditya. Clarissa berlarian menyeret tubuh Yusi yang terluka parah terutama di bagian kepala, ke pinggir pintu toilet. Sementara itu Shelly D entah ke mana. Sudah berhasil dibawa pergi Herman naik entah ke lantai berapa.


“Kita harus menolong Shelly D,” kata Yusi.


“Aku nggak berani, Bang! Memangnya kamu bisa ke sana! Jangan-jangan di atas sana mereka semua bawa senjata tajam atau malah pistol!” kata Clarissa.


Benar juga. Melawan anak buah Lima Bintang yang tanpa senjata saja Yusi tidak bisa. Maka, mereka hanya berharap pada pertolongan Aditya.


Aditya dengan gesit menghajar habis sekitar 7 atau 8 orang di lantai bawah itu. Dia tak tahu pasti karena tak sempat menghitung, dan lagi pula lantai ini terlihat tak begitu terang.


Aditya bilang, “Clarissa, Yusi, kalian balik ke mobil. Biar Shelly D jadi urusanku!”


“Hati-hati, Kak!” sahut Clarissa cemas.


Aditya tak perlu merasa hati-hati. Ia mudah saja menghajar orang-orang di setiap lantai yang tak siap akan kehadirannya. Ternyata gedung berlantai empat itu berisi cukup banyak anak buah Rama dan Herman. Tapi tak ada yang jadi tandingan Aditya.


Di lantai tiga, Aditya menemukan Shelly D sedang dipaksa duduk menemani Rama Subandi yang benar-benar sudah mabuk berat.


Aditya langsung menghajar para pengawalnya yang tak terlalu banyak.

__ADS_1


“Hei! Loe siapa berani ganggu pesta gue!” bentak Rama.


Herman Kusuma maju ke depan, menghadang Aditya, tapi segera mendapat tinju di pelipisnya, membuat Herman sempoyongan dan jatuh ke atas karpet.


Entah berapa menit berlalu. Entah perkelahian dengan gaya apa saja yang Aditya keluarkan saat itu.


Yang jelas Shelly D baru pertama itu melihat orang bisa bertarung dengan sangat hebat dan ganas.


Shelly D mungkin tak bisa membaca isi kepala Aditya yang berisi tentang Frita dan kejadian pemerkosaan itu. Kalaupun bisa, ia mungkin akan memahaminya.


Aditya berpikir tiap orang yang dihadapinya terlibat dengan kasus itu, meski ia tahu anak buah Christian Santoso mungkin malah tidak terkait dengan Rama Subandi atau siapalah itu yang sedang berpesta di sini.


“Aku hanya perlu menghajar siapa pun untuk membalas sakit hatiku!” batin Aditya.


Karena tak berdaya, Rama Subandi mendorong Shelly D dengan kesal, dan segera menelepon kantor polisi.


Meski mabuk, Rama Subandi masih bisa berbicara, “Ada keributan di Klub The King! Tolong, Pak Polisi tertibkan pelakunya!”


***


Ketika polisi datang, Aditya baru selesai menghajar anak buah terakhir Rama Subandi. Ia tak terlihat emosi seperti tadi ketika petugas berkata, “Angkat tangan!”


“Gila, orang ini beneran kayak di film-film action itu, ya,” bisik seorang petugas ke petugas lainnya.


“Ya, nggak mungkin segini banyak lawannya bisa dibikin pingsan.”


“Tapi ini kejadian, Bro!”


Aditya sama sekali tak melawan ketika digiring ke mobil polisi. Shelly D justru tak ingin kabur demi menghindari pemberitaan media yang sering kali memiringkan ataupun mengubah fakta. Ia memilih ikut serta menemani Aditya.


Clarissa dan Yusi di tempat parkir melihat itu, dan mereka pun terpaksa mengikuti mobil polisi yang membawa Aditya.


Di kantor polisi, Aditya bertemu kembali dengan Jimmy.


Jimmy bilang, “Dit, gue gak salah lihat, kan?”

__ADS_1


“Sama sekali enggak.”


“Gue pikir loe sudah mati, Dit,” kata Jimmy tak percaya. Ia memang sama sekali belum tahu petualangan Aditya selama ini setelah dibebaskan dari hukuman mati waktu itu.


Jimmy tak bisa berbuat apa-apa selain memproses laporan pihak klub malam The King karena Aditya sudah membuat keributan di sana. Tentu saja ia penasaran dan tak lupa menanyakan kabar Frita.


“Bagaimana kabar, Frita?” tanya Jimmy setelah memberi jeda beberapa saat setelah ia membicarakan kasus Aditya malam ini.


“Dia baik-baik saja,” kata Aditya pendek.


“Sebentar lagi mereka akan datang,” kata Clarissa yang berdiri tak jauh dari meja di mana Jimmy sedang mengetik laporan kasus Aditya.


“Siapa?”


“Papa, Mama, dan Kakakku,” jawab gadis muda itu.


Aditya hanya bisa menunduk. Seharusnya itu tak perlu. Bukankah keributan malam ini harus ia tanggung seorang? Bukankah Frita sendiri sedang terbelit masalah yang jauh lebih menyesakkan?


Yusi tak terlihat lagi karena Clarissa meminta seseorang mengantarnya ke rumah sakit malam itu juga. Shelly D duduk di pojok ruangan lain, memberi kesaksian tentang kejadian di The King malam ini.


Suasana menjadi agak canggung saat Frita, Pandu Saputra, dan Gina Lisnia datang. Jimmy menyapa Frita dengan kalimat yang terdengar kaku.


Tapi, apa boleh buat? Pandu dan Gina harus kemari. Mereka tentu tak ingin Aditya mendapat masalah dan Aditya harus bebas malam ini juga. Mereka akan menjamin itu. Sebab hanya Aditya yang mungkin mampu membantu menyelesaikan masalah Frita saat ini.


“Kami tidak tahu harus bagaimana lagi. Persoalan Frita dengan orang kepercayaan Christian Santoso hanya bisa kita selesaikan bersama,” bisik Pandu pada Aditya dengan nada memohon.


Frita terlihat menunduk diam sambil memegangi tisu yang menutupi hidungnya di sudut ruangan.


Aditya mengerti itu. Ia tadi hanya merasa sedikit kacau saja. Kini, setelah peristiwa di The King, justru ia merasa mendapat energi besar untuk membantu Frita.


“Saya pasti akan melakukan apa pun yang diperlukan demi Frita, Pak,” kata Aditya.


“Saya tak tahu apa kamu masih menginginkan Frita sebagai istrimu setelah kejadian ini. Tapi pertolonganmu akan sangat berarti,” balas Pandu.


Aditya hanya menepuk pundak calon mertuanya itu, dan Jimmy memutuskan untuk memberi mereka waktu bicara. Jimmy tak tahu apa masalah Frita yang jadi bahan bisik- bisik ini. Tapi, ia memutuskan tak bertanya.

__ADS_1


Pandu dan Gina merasa sudah cukup bicara dengan Aditya. Pandu segera mengajak Clarissa cabut dari ruangan itu, memberikan sedikit kelonggaran agar Frita bisa bicara empat mata saja dengan Aditya.


Bersambung...


__ADS_2