
Malam ini Aditya pulang menuju kediaman Pandu. Walaupun begitu dia masih terus merasa khawatir dengan keadaan Ratna. Terlebih dia masih belum tahu siapa musuh di balik selimut geng Merak yang sebenarnya. Setelah turun dari mobil dia segera menuju rumah. Pandu dan Frita terlihat sedang menonton TV.
“Eh Dit kamu baru pulang?” tanya Pandu saat melihat Aditya masuk ke dalam rumah.
“Iya pak,” jawab Aditya.
“Bagaimana keadaan kakekmu Dit?” tanya Frita seolah menyindir, sambil tersenyum.
“Kakekku lagi, dia baik-baik saja saat ini,” jawab Aditya sambil tersenyum.
“Sudah makan belum?” tanya Pandu.
“Belum pak, nanti masak mie saja lah.”
“Kok masak mie, sayang loh padahal Frita sudah susah payah masak,” ucap Pandu sambil tertawa kecil.
“Ih ayah gitu deh,” ujar Frita dengan wajah tersipu.
“Katanya mulai hari ini dia ingin belajar masak,” tambah Pandu.
“Wah bagus tuh jadi penasaran ingin cicipin masakannya,” ujar Aditya sambil tertawa.
Aditya langsung pergi ke dapur untuk makan. Frita terlihat mondar mandir ke dapur untuk mengambil cemilan, padahal dia hanya penasaran ingin melihat bagaimana reaksi Aditya memakan makanannya. Sebenarnya ada beberapa hal yang kurang di masakan Frita tapi Aditya terus memakannya dengan lahap untuk menghargai usaha tunangannya itu.
Esok harinya mereka berangkat ke kantor seperti biasa. Hubungannya dengan Frita juga semakin dekat, walaupun ketika di perusahaan mereka berusaha menyembunyikan status pertunangan mereka seperti sebelumnya. Hari ini saat senggang Aditya mencoba untuk menghubungi Ratna.
“Ada apa Dit? Tumben banget kamu telepon aku,” sapa Ratna sambil tertawa kecil.
“Aku cuma mau nanyain kabar kakekmu doang,” jawab Aditya.
“Oh, kamu nggak mau tahu kabarku gimana?”
“Kan sekalian. Jadi gimana kabar kakekmu?”
“Sekarang dia masih belum sadarkan diri Dit, tapi kata Dokter saat ini kondisinya lebih stabil.”
“Aku yakin kakekmu akan baik-baik saja. Lalu apa ada perilaku yang mencurigakan dari ketiga rekanmu?”
“Tidak ada Dit, aku malah jadi meragukan kalau memang diantara mereka ada yang berani meracuni kakek.”
“Kalau bukan salah satu diantara mereka kemungkinannya cukup kecil Rat, walaupun saat ini aku masih belum paham dengan trik yang mereka gunakan.”
“Menurutmu jika memang ada yang berniat menghabisi kakek apa keuntungan yang mereka dapatkan?”
__ADS_1
“Kamu ini ada-ada saja Rat, ya pasti banyaklah. Oh iya sudah dulu ya aku mau makan siang dulu,” kata Aditya.
“Yah, oke deh.”
Aditya kemudian mengakhiri panggilan. Dia berjalan menuju café perusahaan untuk makan siang. Namun dia tiba-tiba berhenti saat ponselnya kembali berdering. Aditya pergi mencari tempat yang agak sepi untuk menerima panggilan dari Putra.
“Ada apa Put?” tanya Aditya.
“Aku dapat informasi yang sangat penting,” jawab Putra dengan nafas yang terengah engah.
“Kamu di mana sekarang? Informasi seperti apa?”
“Aku sedang melarikan diri dari anak buah Black Mafia.”
“Apa? Dimana kamu sekarang? Aku akan membantumu,” tawar Aditya dengan nada serius.
“Tidak perlu bos, aku sudah berhasil pergi, hanya saja ada dua rekanku yang tewas tertembak, tapi beruntungnya kami tidak menggunakan atribut geng Kujang. Jadi mereka tidak akan mengenalinya,” ujar Putra dengan nada sedih.
“Aku turut berduka Put,” kata Aditya ikut bersedih, bagaimanapun dia merasa bersalah atas kematian anak buah Putra.
“Jangan diambil hati begitu bos, semua orang yang masuk ke dalam geng Kujang sudah siap untuk menghadapi keadaan seperti itu. Jika memang mereka takut menghadapi Black Mafia maka sejak awal aku tidak akan pernah menerimanya masuk. Yang penting saat ini kita harus berusaha agar pengorbanan mereka tidak sia-sia,” hibur Putra.
“Tentu saja, lalu apa yang kamu dapatkan?”
“Kalian benar-benar hebat, kalau begitu nanti sore aku akan menemui kalian di tempat biasa, sekaligus menyusun rencana untuk menggali informasi darinya.” puji Aditya.
“Akan kami tunggu, Bos.” Jawab Putra sambil mengakhiri panggilan. Aditya kemudian pergi menuju café untuk makan siang.
Sore harinya Aditya pulang bersama Frita ke kediamannya. Namun tak berselang lama Aditya bersiap membawa pakaian ganti untuk pergi menemui Putra. Hal itu membuat Pandu dan Frita heran karena raut wajah Aditya juga terlihat sangat serius. Dia kemudian pamit kepada keluarga Pandu.
“Kamu mau kemana Dit?” tanya Pandu.
“Iya pake bawa pakaian ganti segala,” tambah Frita tampak khawatir.
“Oh iya, aku mungkin tidak akan masuk beberapa hari ke kantor. Tapi aku sudah bilang kok sama pak Hadi dan bu Heni.”
“Memangnya mau ke mana?”
“Seperti yang bapak tahu kalau kemungkinan besar saat ini yang menjadi target utama komplotan penjahat adalah saya. Karena itu secepat mungkin saya ingin bergerak mendahului mereka. Saya ingin pergi selama beberapa hari untuk menyusun rencana menghadapi mereka.”
“Kenapa tidak tinggal di sini saja Dit?” tanya Frita, dari raut wajahnya terlihat jelas kalau dia sangat khawatir dengan keselamatan Aditya.
“Aku tidak akan leluasa bergerak kalau di sini. Mulai besok kamu akan diantar jemput oleh Dani,” jawab Aditya sambil tersenyum.
__ADS_1
“Tapi gimana kalau mereka mengincarku lagi?” tanya Frita, dia masih bersikeras agar Aditya tidak pergi.
“Tenang saja, aku jamin mereka tidak akan berani mengincarmu lagi.”
“Tapi..” rengek Frita sambil tertunduk.
“Kamu jangan mengkhawatirkanku. Aku pasti menepati janjiku kok,” ucap Aditya sambil memegang lembut pipi Frita.
Aditya kemudian pergi meninggalkan rumah Pandu menggunakan taksi online. Tak lama kemudian dia sampai di markas kecil tempat dia bertemu dengan Putra. Para anak buah Putra menyambut kedatangan Aditya dengan hangat. Dia diantar menuju ruangan Putra.
“Cepat juga kamu datang ke sini bos,” sapa Putra.
“Aku tidak ingin melewatkan kesempatan sekecil apapun, lebih baik kita akan segera bertindak sebelum mereka bergerak dengan rencananya,” jawab Aditya sambil duduk.
“Memang benar lagipula aku sudah tidak tahan ingin menghabisi mereka.”
“Tapi penting bagi kita untuk menyusun rencana dengan sangat matang. Lalu seperti apa orang yang menjadi bagian dari Black Mafia?”
“Ini dia orangnya, dia sangat terkenal di pasar gelap. Dua rekanku berhasil membongkar kedoknya sebagai salah satu anggota elit Black Mafia. Hanya saja nyawa mereka tidak bisa diselamatkan,” jawab Putra sambil memberikan foto dan juga berkas yang didapatkan oleh Putra dan anak buahnya.
“Pria ini? Jadi dia adalah anggota Black Mafia?” tanya Aditya dengan sangat kaget melihat foto orang yang diberikan oleh Putra.
“Bos mengenalnya?”
“Ya, aku pernah berjumpa dengannya. Tapi aku tidak menyangka jika dia adalah salah satu musuh kita,” jawab Aditya dengan penuh rasa heran.
“Lalu apa yang akan bos lakukan?”
“Besok setelah pemakaman kedua rekanmu, aku akan langsung pergi menemuinya sendirian.”
“Jangan gegabah bos! Kami tidak akan membiarkanmu sendirian,” tegas Putra dengan wajah terkejut.
“Tidak, aku akan pergi sendirian menemuinya. Aku hanya ingin meminjam salah satu mobil kalian saja.”
“Tapi dia adalah anggota elit musuh kita bos! Kami tidak akan membiarkanmu menghadapi bahaya sebesar itu sendirian,” tegas Putra sambil menggebrak meja.
“Percayalah padaku Put! Aku tidak akan segegabah itu, lagi pula aku sudah berjanji kepada seseorang bahwa aku akan menyelesaikan ini dan tetap hidup,” tegas Aditya dengan wajah serius.
“Aku punya alasan sendiri kenapa aku ingin menemuinya sendirian,” tambah Aditya.
“Baiklah jika itu maumu, tapi kalau ada sesuatu yang berbahaya segera hubungi kami,” ucap Putra. Dia mencoba untuk percaya dengan apa yang mantan bosnya katakan.
BERSAMBUNG…
__ADS_1