Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 120


__ADS_3

Hari senin ini terasa sangat berbeda dari biasanya. Hari ini adalah hari seremonial untuk meresmikan William sebagai Presdir baru perusahaan. Frita terlihat lesu ketika keluar dari rumah, sedangkan Aditya dengan sikap tenang menunggunya di dalam mobil.


“Aku nitip Frita ya Dit, aku juga akan segera berangkat ke kantor setelah mengantar Clarissa nanti,” ucap Pandu.


“Iya pak,” jawab Aditya.


“Ayo Mbak nanti kita terlambat, bisa-bisa Presdir baru potong gaji kita nanti,” canda Aditya. Frita masuk ke dalam mobil sambil cemberut.


“Aku sebenarnya nggak berniat datang ke sana hari ini, males banget!” gerutu Frita.


“Sudahlah, nanti kamu dianggap tidak menghargai keputusan para pemegang saham,” jawab Aditya sambil menyetir.


Frita hanya diam saja karena kesal. Aditya mengemudikan mobilnya dengan cepat menuju kantor perusahaan. Dari kejauhan sudah terlihat berbagai hiasan dan karangan bunga dari mitra perusahaan memenuhi halaman kantor. Frita terlihat semakin sedih, matanya mulai berkaca-kaca. Aditya yang paham segera menghiburnya.


“Kamu mau langsung ke mana Dit?” tanya Frita ketika mobil sudah berhenti di halaman kantor.


“Aku mau ke gedung keamanan dulu, katanya hari ini Dani akan masuk kerja.”


“Nggak nunggu acara di sini bareng aku saja?” tanya Frita.


“Aku rasa kamu dan Rani akan sangat sibuk, lagipula para direktur dan petinggi perusahaan lain mungkin akan risih jika melihatku,” jawab Aditya.


“Baiklah.”


Frita kemudian pergi ke dalam kantor bersama Rani. Sedangkan Aditya langsung pergi untuk menemui Dani di bagian keamanan. Sampai di sana ternyata hanya ada Dani, Hadi dan Heni. Tidak ada orang lain selain mereka.


“Yang lainnya kemana?” tanya Aditya.


“Mereka tidak datang hari ini bos, kebanyakan sih memang sudah dipecat,” jawab Dani.


“Benar-benar parah nih perusahaan.”


“Di halaman sudah banyak orang belum Dit?” tanya Heni.


“Belum bu, tadi saya lewat mah masih sepi.”


“Jadi nggak nih acaranya? Masa jam segini belum berkumpul,” gerutu Heni.

__ADS_1


“Kalau begitu aku pergi keliling keliling dulu,” ujar Aditya sambil melangkah pergi.


“Aku ikut bos,” kata Dani sambil berjalan mengikuti Aditya.


Mereka berdua berjalan mengelilingi perusahaan. Terlihat orang-orang yang masuk hari itu sangatlah sedikit. Ketika berada di bagian keuangan Aditya menanyakan keberadaan Sherly kepada teman-temannya. Tapi mereka bilang jika Sherly barusan di panggil oleh William.


Di dalam ruangannya terlihat William sedang duduk santai di kursi, di depannya ada Frita, Rani dan Sherly yang sedang duduk menghadapi tiga lembar kertas dan bolpoin. Ekspresi mereka bertiga terlihat sangat kesal dan penuh emosi.


“Apa maksudnya ini Will?” tanya Frita dengan tatapan tajam.


“Baca dong Fri, aku sengaja letakin di situ agar kalian membacanya,” jawab William dengan santai.


“Iya apa maksudnya dengan surat pengundura diri ini!” bentak Frita.


“Wah, jangan bentak-bentak begitu dong nanti cepet tua loh.”


“Kenapa kami bertiga harus mengundurkan diri?” tanya Sherly.


“Aku tahu kontribusi kalian begitu besar, tapi suatu saat kalian bisa menjadi ancaman bagiku. Karena itulah aku ingin mengantisipasinya.”


“Eh lu nggak punya otak ya Will! Mbak Frita dan pak Pandu sudah berjuang selama ini demi perusahaan! Lu nggak tahu malu malah merebut hak mereka!” bentak Rani.


“Kamu benar-benar keterlaluan Will! Aku nggak menyangka jika kamu bahkan akan memecat kami bertiga!”


“Memecat? Aku minta kalian mengundurkan diri kok. Kalau mau aku bisa saja langsung memecat kalian, tapi aku masih menghargai kalian!” tegas William.


“Aku lebih senang dipecat daripada harus menyerahkan surat pengunduran diri kepada manusia serakah sepertimu!” tegas Sherly.


“Yasudah. Aku padahal punya tawaran lain yang lebih menarik jika kalian memang masih ingin bekerja di perusahaan ini,” ujar William.


“Aku akan menikahi kalian bertiga, dengan begitu kalian masih bisa bekerja di perusahaan ini,” tambah William sambil tersenyum.


“Kurang ajar!” jawab Frita sambil menggebrak meja.


“Mau marah silahkan! Mau robek surat pengunduran dirinya silahkan! Lihatlah ada CCTV di sini, jika kalian melakukan hal yang mencurigakan aku bisa dengan mudah membuat rekamannya seolah-olah kalian berbuat kejahatan. Tentunya kalian akan berhadapan dengan hokum. Aku yakin dengan uang, kalian bisa dihukum dengan berat,” ancam William.


“Lu emang manusia rendahan!” bentak Frita.

__ADS_1


“Aku lebih suka melajang seumur hidup daripada menikah dengan orang busuk seperti lu!” tegas Rani.


“Sebaiknya lu ngaca dulu sana, mana ada wanita normal yang mau menikah denganmu,” balas Sherly dengan tenang.


“Lihatlah, kalian punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. Karena itu aku membutuhkan kalian untuk menjadi pendamping hidupku. Aku tidak mau menyia nyiakan kecantikan kalian bertiga.”


“Sebaiknya kita segera menandatangani surat ini lalu pergi dari sini! Aku sudah muak melihat tampangnya!” tegas Rani.


“Jangan gegabah Mbak, sebaiknya baca dulu sampai akhir,” cegah Sherly dengan tenang.


“Apa ini!” bentak Frita sambil menunjukan surat pengunduran diri kepada William. Di dalamnya juga tertulis jika mereka bertiga mengundurkan diri dan menandatanganinya maka itu berarti mereka juga bersedia menjadi istri William.


“Lu benar-benar licik! Kita pergi saja dari sini,” kata Rani sambil bangkit.


“Hahaha sial, padahal aku sangat menunggu kalian menandatanganinya. Yah tapi kalian juga tidak akan bisa pergi dari sini karena pintunya terkunci dengan rapat. Aku juga bisa loh membuat keadaan kita saat ini seolah-olah kalian mencoba menyuapku dan menghasutku demi pekerjaan. Ujung-ujungnya sih pasti tetap berurusan dengan hokum,” jawab William.


“Jadi intinya manusia bejat ini tidak memberikan pilihan lain kepada kita, yang bisa kita lakukan sekarang hanya berteriak meminta tolong atau menghubungi polisi dengan ponsel kita,” ucap Frita.


“Ya, meskipun aku yakin dia juga sudah mengantisipasi hal itu,” ujar Sherly.


William hanya tersenyum puas. Dari luar terdengar acara seremonial sudah dimulai. Terdengar beberapa sorakan meriah dari para pekerja baru yang direkrut oleh William. Tiba-tiba William mengeluarkan pistol dan menodongkannya kepada mereka bertiga. Frita dan Rani terlihat terkejut, sedangkan Sherly masih duduk dengan tenang.


“Ayolah, jangan buat aku jadi lebih bejat lagi. Istri-istriku,” kata William.


“Kurang ajar! Dasar tikus got!”


“Sampah busuk!”


“Sebaiknya kalian jangan mengumpatku dong. Ayolah tanda tangan atau aku tarik pelatuknya dan kalian akan segera jadi mayat. Oh aku juga bisa loh buat adegan kalian seolah kecelakaan, pokoknya jangan coba melakukan hal yang aneh-aneh di sini!” ancam William.


“Polisi akan memeriksa CCTV ruangan ini,” gertak Sherly.


“Hahaha Sherly, polisi juga manusia loh, mereka butuh makan. Alias mereka juga butuh uang. Siapa sih manusia yang nggak butuh uang?”


Mereka bertiga hanya terdiam dengan amarah yang dipendam. Sementara William terlihat semakin senang karena kemenangannya sudah ada di depan mata. Tapi tiba-tiba terdengar suara dentuman keras, pintu ruangan itu rusak dan terbuka. Ternyata Aditya mendobraknya.


“Apa yang mau lu lakuin kepada mereka hah? Bandar narkoba!” tegas Aditya dengan penuh emosi setelah mendengar setiap ancaman William.

__ADS_1


“Mustahil, pintu setebal itu bisa di dobrak sendirian tanpa apapun, terlebih dia menyebutku bandar narkoba?” gumam William mulai cemas.


BERSAMBUNG…


__ADS_2