Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 5


__ADS_3

Karena kaget dengan sosok yang keluar dari pintu lift, secara reflek kaki Ellena mundur ke belakang menjauhi sosok yang ada di depannya itu. Ellena seperti orang ketakutan saat ini, dia ingin menghindari orang yang tidak sangka akan secepat ini dia temui.


“Ellena,” panggil Mathias saat melihat Ellena semakin mundur dari jangkauannya.


Mendengar panggilan dari Mathias membuat Ellena segera berbalik arah dan berlari menjauhi Mathias. Entah kenapa rasa takut kembali menyerang Ellena saat ini. Dia takut Mathias akan menyeretnya pergi ke hadapan Sean lagi.


Bruuk!


Ellena yang berlari tanpa melihat arah tidak sengaja menabrak seseorang yang ada di depannya. Badan Ellena terpental namun dipegangi oleh orang yang dia tabrak tadi.


“Heeyy Ell, kamu kenapa?” tanya Devan sambil memegang kedua lengan Ellena.


“Haah ... Pak Devan,” ucap Ellena dengan wajah kebingungan.


“Kamu kenapa? Kamu sakit?”


“Emmm anu ... anu, Pak,” ucap Ellena terbata.


Ellena menoleh ke belakang. Dia masih melihat Mathias ada di belakangnya dan berjalan ke arahnya. Dia segera menegakkan badannya yang sedikit bergantung di lengan Devan.


“Selamat pagi, Pak Devan,” sapa Mathias di belakang Ellena.


“Pagi. Kamu udah dateng, apa Sean udah dateng juga?” tanya Devan.


“Sudah Pak, Pak Sean sudah ada di ruangannya. Akan ada meeting pagi hari ini membahas kinerja perusahaan.”


“Iya aku tahu itu, rajin banget dia ternyata,” puji Devan pada sepupunya itu.


Ellena sedikit mengkerut saat ia mendengar suara Mathias. Posisi Ellena masih membelakangi Mathias meskipun dia sudah sedikit bergeser ke samping agar dia tidak berada tepat di depan Devan yang sedang berbincang dengan Mathias.


“Ell, kamu sehat kan? Hari ini kita ada rapat penting lho,” tanya Devan sambil mengingatkan Ellena.


“Saya ga papa, Pak. Saya cuma ini ... saya mau ke kamar mandi. Saya rada kebelet, permisi,” jawab Ellena asal lalu dengan segera pergi meninggalkan dua pria itu.


Mathias membiarkan Ellena pergi saat ini. Dia hanya melihat Ellena yang kini berjalan semakin menjauh darinya ke arah kamar mandi. Seandainya tidak ada Devan, pasti dia sudah akan membawa Ellena ke hadapan Sean.


‘Dia ada di perusahaan ini. Aku akan segera membawa dia ke hadapan Bos sebelum dia menghilang lagi. Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar untuk mencari kamu, Ell,’ gumam hati Mathias.


Mathias segera berpamitan pada Devan, dia segera menuju ke ruang kepegawaian untuk mencari tahu di mana posisi Ellena bekerja. Dia harus melaporkan secara lengkap kepada Sean sebelum pemuda yang juga atasannya itu akan memarahinya lagi.

__ADS_1


“Ellena ... Ellena mana ya? Ada tiga nama Ellena di kantor ini, Pak,” ucap staf bagian kepegawaian.


“Ellena siapa ya. Pokoknya yang rambutnya panjang dan cantik itu. Kenal sama Pak Devan, mungkin bawahannya,” jawab Mathias yang kebetulan juga tidak tahu nama lengkap Ellena.


“Ooh Ellena Hartono. Dia di bagian pemasaran, Pak. Dia sedang dipromosikan saat ini menjadi ketua tim pemasaran.”


“Promosi?” tanya Mathias lagi.


“Iya, Pak. Hasil kerjanya juga bagus banget, dia bisa naik jabatan lebih cepat kayanya. Soalnya prestasinya beberapa bulan ini luar biasa,” puji staf itu tentang Ellena.


“Oh ya udah kalo gitu, makasih ya.”


Begitu mendapatkan informasi tentang Ellena, Mathias segera pergi meninggalkan ruang bagian kepegawaian. Dia akan segera menuju ke ruangan kerja Sean yang ada di lantai atas.


Mathias segera masuk ke ruangan Sean dan menghadap pemuda tampan yang sedang duduk di singgasananya sambil memeriksa berkas yang ada di atas meja.


“Ada apa? Apa sekarang rapatnya?” tanya Sean tanpa melihat ke arah Mathias.


“Belum, Bos. Masih 30 menit lagi. Tapi ada yang ingin saya laporkan,” ucap Mathias dengan sangat yakin.


“Soal apa itu?”


Mendengar nama Ellena, tubuh Sean serasa membeku. Tangannya tidak lagi bergerak untuk memeriksa berkas yang ada di depannya dan secara perlahan dia mengangkat wajahnya melihat ke arah Mathias.


“Ellena? Maksud kamu Ellena yang waktu itu?” tanya Sean berusaha memastikan.


“Iya, Bos. Ellena yang menghilang pagi itu.”


Braaak!!


Sean menggebrak meja melampiaskan rasa kesalnya. Rasa kesal pada Ellena yang sudah sangat pintar bersembunyi selama tujuh tahun ini darinya.


“Di mana dia? Di mana dia sekarang!” tanya Sean dengan nada kesal.


“Dia ternyata bekerja di perusahaan ini. Dia ada di bagian pemasaran,” jawab Mathias.


“Pemasaran? Kamu yakin itu Ellena yang sama? Apa kamu ga salah orang?”


“Tidak, Bos. Itu Ellena yang sama. Ellena Hartono.”

__ADS_1


“Seret dia sekarang juga ke sini!”


“Baik, Bos.”


Sean mengepalkan kedua tangannya menahan emosinya saat ini. Dia sangat geram saat mendengar Ellena ternyata bekerja di perusahaannya. Kenapa selama beberapa hari ini dia tidak pernah melihat sosok Ellena sekali pun. Padahal mereka hanya terpisah beberapa lantai saja.


Sean jadi teringat tentang kejadian malam itu. Malam saat dia melihat seseorang di meja resepsionis yang mengingatkan dia akan sosok Ellena.


Mathias segera berjalan menuju ke ruangan pemasaran. Dia akan segera memanggil Ellena untuk dibawa ke ruangan presdir. Ellena tidak akan bisa lari saat ini.


“Ellena ... dipanggil Bu Silvia, kamu di suruh ke kantornya sekarang,” ucap teman satu kantor Ellena.


“Ok, makasih ya. Aduuh ngapain lagi sih. Ini laporan belum kelar lagi,” gerutu Ellena sambil berdiri dan melangkah ke ruangan atasannya.


Ellena melangkah ke ruangan atasannya dan mengetuk pintu. Setelah dipersilakan masuk dia membuka pintu ruangan itu dan kembali kaget karena melihat ada sosok Mathias duduk di ruangan Silvia.


“Masuk, Ell. Pak Mathias mau ketemu kamu,” ucap Silvia menyuruh Ellena masuk.


“Maaf ada apa ya?” tanya Ellena dengan perasaan tidak enak.


“Saya mau bicara sama kamu. Ikut saya sekarang. Bu Silvia, saya bawa Ellena sebentar,” ucap Mathias sambil berdiri.


“Silakan, Pak.”


Mathias melangkah keluar dari ruangan Silvia. Ellena yang sejak tadi berdiri di dekat pintu akhirnya mau tidak mau harus mengikuti ke mana Mathias akan melangkah. Ellena sudah mempunyai firasat kalau mereka pasti akan bertemu Sean saat ini.


‘Aduuh ... mereka mau apa sebenarnya. Ga mungkin kan kalo mereka akan minta kembali uangnya atau mungkin mereka minta aku tidur lagi ama Sean? Aaahh ga bisa. Aku bukan orang kata gitu,’ gumam Ellena dalam hati.


Ellena kini berdiri di depan ruangan presdir. Dia melihat pintu coklat yang sangat kokoh berdiri di depannya. Mathias membuka pintu dan segera mengajak Ellena masuk.


“Bos, ini Ellena,” ucap Mathias di depan Sean yang masih bekerja.


Ellena berdiri menunduk di depan pria yang pernah menyentuh tubuhnya itu. Pria yang pernah menikmati madu tubuhnya di malam kelam itu.


Sean berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Ellena. Dia berjalan semakin dekat dengan tubuh Ellena yang masih sangat dia ingat aromanya. Aroma yang tidak pernah bisa lupakan selama tujuh tahun ini.


“Kenapa kamu menghilang. Kenapa kamu menipu aku!” ucap Sean di depan Ellena.


“Menipu?!” tanya Ellena dengan penuh rasa bingung, “Apa maksud Anda dengan saya menipu, Pak?” tanya Ellena dengan memberanikan diri menatap wajah tampan di depannya itu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2