
Frita tak mendapat kabar dari Aditya selama dua hari terakhir. Ia cemas. Malam itu akhirnya ia mendengar suara Aditya lewat telepon.
“Semua baik-baik saja, Mas?” tanya Frita.
“Ya, semua aman. Setiawan Budi kabarnya di ambang kebangkrutan. Dia tak bisa sebebas dulu membayar orang untuk mengganggu kita. Dan, kabar baik lainnya: dia tak mengincar keluargamu lagi, Sayang,” jelas Aditya.
“Berarti kami sudah bisa balik ke Indonesia?” sahut Frita dengan senang.
“Semua belum pasti. Kalian belum bisa pulang,” jawab Aditya seketika. Ia jelas tak mau rencana pernikahan itu diketahui Frita. Sebisa mungkin Aditya berdoa semoga sandiwara pernikahan itu berakhir sebelum Frita sekeluarga balik dari Belanda.
“Tapi, kapan?”
“Semoga secepatnya, ya, Sayang,” jawab Aditya.
Frita pun menjelaskan pada orang tuanya, juga Paman Salim yang tinggal bersama dirinya di sebuah rumah bertingkat di pusat Kota Rotterdam. Mereka terlihat senang.
Pandu segera bicara, “Sebaiknya kita pulang saja besok. Aku bisa pesan tiket untuk kita semua malam ini.”
“Jangan dulu, Pa,” sahut Frita. “Mas Adit belum memastikan kita bisa balik dengan aman. Tapi situasi mulai membaik di sana.”
“Itu saja? Terdengar aneh,” sahut Gina yang terlihat tak sabaran ingin balik lagi ke Indonesia. “Sudahlah, kita balik saja. Kalau nanti Setiawan Budi itu berulah, kita bisa bayar penjahat lain untuk menghabisinya!”
“Enggak semudah itu, Gina,” ujar Pandu.
Yusi dan Deri saling berpandangan dan tersenyum satu sama lain.
“Tapi keponakanku baik-baik saja, kan?” tanya Paman Salim.
“Ya, dia sehat-sehat saja, Paman,” jawab Frita.
***
Keadaan yang terasa jauh lebih tenang itu, mendadak rusak esoknya, ketika Ovie mendadak menghubungi Frita.
Dia pikir sang sepupu itu mungkin akan meminta maaf perihal kejadian tempo hari itu. Perihal pernikahan dia dan Aditya yang nyaris hancur kalau tak ada Jimmy Wijaya yang membantu menjelaskan.
__ADS_1
Namun, Ovie justru berbicara soal hal lain.
“Kamu jadi wanita jangan terlalu bodoh, Sepupuku yang manis,” kata Ovie yang menghubungi Frita via video call.
“Maksudmu apa, Ovie?” tanya Frita dengan kesal.
“Oh, jadi kamu belum tahu, ya? Hi hi hi. Kasihan banget sih kamu jadi istri. Sekali lagi kamu dimanfaatin, ya. Aku turut prihatin deh,” balas Ovie dengan tampang resek.
“Katakan saja apa maksud kamu bicara melantur gini, Ovie! Aku nggak mengerti!” balas Frita habis kesabaran.
Ovie segera menyahut, “Aku enggak melantur lagi! Oke, oke! Tutup dulu telepon kita, ya. Nanti kukirimi foto terbaru. Foto paling hot bulan ini!”
Sambungan video call terputus dan beberapa detik kemudian muncullah foto-foto itu di aplikasi WhatsApp. Foto-foto pernikahan Aditya dan Ratna!
Frita sempat tak percaya. Tapi di-zoom berulang kali, wajah itu jelas wajah sang suami. Wajah mempelai wanita juga jelas wajah Ratna. Entah permainan macam apa itu yang sedang dimainkan Ratna, dan Aditya jelas tidak terlihat mabuk dalam foto.
Frita sungguh terbakar amarah. Namun ia tak ingin membuat orang tua dan Paman Salim cemas. Ia memutuskan diam-diam kabur hari itu juga. Kembali ke Indonesia seorang diri.
***
“Ya, terserah kamu,” jawab wanita itu yang berbaring tidur hanya mengenakan baju tidur tipis, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang seksi dan putih.
“Aku tidur di sofa lagi, tapi tolong jangan bangunkan, kecuali aku bangun sendiri,” kata Aditya lagi.
“Ya, suami palsuku! Silakan tidur di mana pun kamu mau!” tukas Ratna acuh tak acuh.
Meski begitu, Aditya tetap tak bisa tidur nyenyak. Dia khawatir akan terjadi sebuah persetubuhan yang tak disetujuinya. Ia jelas akan bersedia melakukan itu jika ia mau, tapi ia tak ingin melakukan itu.
Ratna terlihat tak bisa tidur juga. Di atas kasurnya, ia terus membolak- balik badan. Ia berkata dari balik tembok, yang membatasi tempat tidur dan meja TV, “Kuharap kita bisa begini selamanya, Dit. Paling tidak aku tidak melihatmu bersama wanita lain.”
“Kamu mabuk, ya?” sahut Aditya.
“Sedikit. Tadi sempat minum sebelum ganti baju.”
Ratna terdiam beberapa saat, lalu turun dari tempat tidurnya dan tanpa aba-aba, ia mencopot baju tidur tipisnya persis di depan Aditya. Ruang TV berada di dekat pintu kamar mandi. Siapa pun yang dari tempat tidur menuju ke kamar mandi, pastilah lewat area itu.
__ADS_1
Ratna melangkah dalam kondisi telanjang bulat, sengaja menoleh pada Aditya dan langkahnya juga sengaja dipelankan. “Aku pasti sudah gila kalau kamu tak tergoda atas semua ini, Dit.”
Aditya tersiksa melihat cara Ratna memperlakukannya, tetapi dia bisa menahan diri. Dia bilang, “Sebaiknya kamu jangan mandi malam-malam. Tidak sehat.”
“Terserah, ini tubuhku sendiri!” tukas Ratna sebal.
Aditya hanya bisa menepuk jidat.
Ia tak menyangka malam itu akan jadi panjang. Untunglah Ratna benar-benar tak serius mandi tadi, jadi setelah mengguyur tubuhnya sebentar di bawah pancuran air yang hangat, wanita itu segera balik dan mengenakan bajunya lagi, lalu melompat ke atas kasur.
“Baiklah, malam ini tak akan ada apa pun. Kamu bisa tidur, Dit. Aku juga sudah lelah,” kata Ratna.
Belum juga semenit suara Ratna berlalu, terdengar suara lain yang mencurigakan dari luar halaman. Dari depan malah. Seperti seseorang sengaja datang bertamu di jam selarut itu.
Aditya pikir mungkin Guru Tanpa Nama mendadak bertamu tanpa memberi kabar. Mungkin ada sesuatu yang baru yang harus beliau sampaikan secara langsung kepada Aditya.
“Apakah mungkin Setiawan Budi mati? Ah, kurasa aku terlalu senang berkhayal,” bisik Aditya sambil melangkah pelan ke ruang tamu.
Dari lorong tengah, ia bisa melihat sebentuk bayangan sosok yang tak terlalu besar, dan tak terlalu jangkung.
“Wanita? Siapa itu?”
Aditya mengira mungkin kali ini Brenda Sukma yang bertamu. Entah wanita itu ingin apa. Aditya berharap tak ada sesuatu yang buruk sepeninggal Rama. Ia berharap Setiawan Budi tak menggila atas matinya sang keponakan.
Namun, sosok yang bertamu malam itu justru sosok yang di luar dugaannya.
Frita berdiri dengan mata merah. Wajahnya juga terlihat basah, seperti telah takluk oleh air mata entah berapa jam lamanya.
“Frita? Kamu kok pulang?” kata Aditya terheran-heran.
“Mas, kamu ngapain di sini?!” balas perempuan itu dengan nada marah.
Ratna melangkah ke luar, mengintip dari balik bahu Aditya yang kekar, dan tenang saja dia menyapa Frita, “Hallo, Frita? Gimana liburan ke Belanda-nya? Seru?”
Frita makin terbakar amarah melihat tubuh Ratna hanya berbalutkan baju tidur yang sangat tipis.
__ADS_1
Bersambung....