
Frita bersiap pergi ke kantor ketika ia melihat undangan itu terselip di bawah pintu rumahnya.
“Ini dari siapa, ya?” bisiknya pelan.
Ovie?
Nama itu membuat Frita kaget dan tak percaya, sekaligus senang. Ia bahkan sampai berlari ke kamar mandi, menghambur ke sana, meski Aditya belum selesai membasuh tubuhnya dengan sabun.
Frita tak peduli kalau harus ganti baju lagi karena pakaiannya basah. Ia toh terlalu senang.
“Aduh! Ada apa ini? Kamu pelan-pelan dong!” kata Aditya yang matanya pedih kemasukan sabun.
“Mas, ini undangan ulang tahun Ovie!” kata Frita.
“Ovie? Anak Tante Meilisa yang angkuh itu?” balas Aditya sambil terus membasuhi matanya dengan air dingin.
Frita mengangguk senang.
Aditya melanjutkan membasuh, lalu menghanduki wajahnya, dan membaca tulisan di undangan itu.
“Undangan ulang tahun untuk kita berdua?” kata Aditya heran.
“Ya. Dia juga nulis di sini, bilang minta maaf karena enggak sempat datang ke pesta pernikahan kita waktu itu,” sahut Frita.
Mereka lalu keluar dari kamar mandi beriringan. Frita bilang, “Kita harus datang. Ini sesuatu yang bagus untuk mengembalikan hubungan keluarga Mama dengan Tante Meilisa.”
“Ya, semoga saja tidak terjadi sesuatu.” Entah kenapa Aditya malah bilang begitu. Mungkin saja ia tetap tak bisa menyingkirkan firasat buruk setelah waktu itu mengobrol berdua dengan Paman Rudi.
Paman Rudi berkata, “Musuhmu ada di mana-mana dan kadang kau harus melihat dengan mata lebih terbuka. Orang yang tak terlihat jahat padamu, boleh jadi justru yang terkejam.”
“Kamu apaan sih, Mas,” kata Frita sambil mencubit perut Aditya yang belum pakai baju.
“Eh, kamu jangan cubit begitu dong. Aku nanti pengen lho. Hehehe,” goda Aditya dengan genit.
“Semalam kan sudah!” balas Frita sembari memasang muka cemberut. Lalu Frita terlihat serius lagi. “Memangnya apa yang bisa terjadi, Mas? Kok kamu bisa-bisanya curiga begitu sih?”
“Enggak. Tadi cuma kelepasan ngomong. Hehehe. Oke, kita bakalan datang ke sana. Dengan catatan, kali ini aku yang menyetir mobil,” jawab Aditya.
Frita mau tak mau menyanggupinya.
Setelah Aditya selesai berpakaian, mereka pun berangkat ke kantor.
Ya, memang sudah seminggu ini mereka selalu berangkat bersama. Sebab Aditya sudah diberikan pekerjaan di perusahaan Frita, untuk mengatur para pegawai marketing dari kantor. Sebuah perkerjaan yang terbilang mudah bagi Aditya, dan tentu saja tidak mempertaruhkan nyawa seperti dulu.
__ADS_1
Keadaan itu membuat Aditya semakin bahagia saja. Tanpa sadar ia sudah berada di ujung tanduk.
Bukan kematian yang menunggunya, tapi kehancuran.
***
Pesta itu digelar di salah satu gedung di pusat kota Bandung. Ovie menginginkan sebuah pesta yang meriah, yang dihadiri ratusan sahabat dan kolega, baik dari dirinya sendiri maupun keluarga papa dan mamanya.
Entah Aditya dan Frita tak tahu siapa saja yang bakal mereka jumpai di sana, tetapi Aditya memutuskan untuk tak ambil pusing. Ia akan datang bersama istrinya, melalui sejam atau dua jam di pesta itu, dan pulang dengan tenang.
“Semoga saja tak terjadi sesuatu.” Itu terus berkali-kali terucap oleh batinnya.
Aditya menyetir mobil dengan santai sambil tak henti memikirkan itu.
“Tumben kamu enggak ngebut?” tanya Frita.
“Sejak kita menikah, bukankah kamu yang selalu nyetir?” balas Aditya melirik sang istri dengan genit.
“Eh, iya juga sih. Kita lewat sini saja, Mas.” Frita menunjuk belokan dari sebuah pertigaan. “Lebih cepat. Jalan di depan macet.”
“Oke.”
“Hmm. Aku tak sabar ketemu Ovie. Semoga saja nanti enggak canggung, ya, Mas,” kata Frita sambil menatap wajahnya sendiri dengan cermin, lalu melapisi bibirnya lagi dengan lipstik.
“Sepertinya begitu.”
Clarissa saat itu duduk di belakang, tapi ia tak banyak bicara, dan hanya diam saja. Ia bukan sedih atau apa. Clarissa justru sibuk bermain game di ponsel pintarnya.
Mereka tiba di lokasi pesta lima belas menit kemudian. Aditya sengaja berjalan agak di belakang, karena matanya tak henti memindai situasi di sekitar gedung itu. Ini sudah kebiasaannya sebagai seorang yang waspada.
“Tak ada yang kukenal,” gumamnya sendiri.
Frita dan Clarissa bergandengan beberapa meter di depannya.
Lalu Aditya mendadak dikagetkan oleh suara seseorang.
“Hei, Bung, apa kabar?”
Aditya tentu saja kaget. Itu tak lain suara Reza Bastomi! Dan, ia berdiri dengan si Herman Kusuma. Sosok yang waktu itu ribut dengannya di klub malam The King.
“Hei? Kalian bisa ada di sini, ya?” balas Aditya heran. Tak tahu antara ingin marah atau mengakrabi mereka. Tapi wajah Reza dan Herman tampak santai dan bersahabat.
Reza malah berkata, “Turut bahagia atas pernikahan loe, ya? Sorry waktu itu bikin malam pertama loe enggak nyaman.”
__ADS_1
Tentu saja Reza tidak bilang kalau ialah yang mengirim The Green Devil, meskipun Aditya sudah tahu dialah yang melakukannya. Aditya diam saja dan terus berjalan. Dia tak berminat bertanya dari mana mereka kenal sepupu Frita, si Ovie itu.
Namun kini Aditya mulai tahu ia sedang berada di ambang bahaya.
***
Aditya merasa agak lega setelah Frita dan Ovie bertemu. Mereka terlihat akrab lagi. Julio dan Clarissa pun demikian.
Mereka tampak mengobrol di pojok ruangan, di sebuah meja besar. Terpisah agak jauh dari para tamu.
Kejutan tak terduga berikut yang menimpa Aditya datang bersama Hendy Prakoso. Sherly Embunsari terlihat begitu anggun dengan gaun yang sengaja dipesankan oleh Ovie dari desainer ternama.
Aditya tentu juga tak tahu kenapa juga Sherly ada di sini?
“Memangnya dia kenal Ovie?” tanyanya pada diri sendiri.
Waktu itu Aditya sedang mengambil minuman, yang agak jauh dari Frita. Ia merasa tak nyaman saat Sherly dan Hendy mendekat ke meja Frita.
Ovie menyapa Sherly, memeluknya, lalu menyuruhnya bicara pada Frita.
“Apa-apaan itu?” kata Aditya yang merasa cemas.
Aditya tak tahu apa yang dibicarakan Ovie dan Sherly pada Frita saat ini.
Namun, ia tahu pasti Frita tampak shock.
Frita coba membantah Sherly, tapi ia tidak berdaya. Sherly menyodorkan beberapa foto.
Frita segera menatap Aditya dari jauh. Sebuah tatapan marah yang sulit teriringi kata maaf.
Aditya setengah berlari, menuju ke meja itu. Namun Frita buru-buru bangkit dan pergi meninggalkannya ke arah lain.
Clarissa dan Julio duduk agak berjarak dengan Frita. Tak tahu apa yang dibicarakan Sherly Embunsari dan Ovie pada Frita. Tapi mereka juga tahu Frita sedang marah pada Aditya.
“Kenapa sih?” tanya Julio dengan polosnya.
“Bukan urusan loe, Adik yang manis,” jawab Ovie sambil bangkit dan berlalu pergi.
Sherly terduduk sendiri di situ, ditemani Hendy yang tampak kebingungan antara mengikuti Ovie atau tetap menemani Sherly yang ia sukai karena cantik.
Aditya tahu Sherly menangis.
Aditya juga tahu kini rahasia kehamilan itu sudah terbongkar.
__ADS_1
Bersambung....