Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 184


__ADS_3

Aditya melesat hendak menyerang Jaja namun Gilang, Vendi dan Edgard menghalangi jalannya.


“Lu bukan lawan yang sepadan untuk bos gue!” teriak Egi sambil menendang Gilang.


“Cih, kurang ajar!” bentak Gilang sambil menyerang balik Egi.


“Pengkhianat seperti lu sudah seharusnya mati di sini!” kata Adrian sambil menyerang Vendi.


“Hahaha Ketua goblok seperti dia memang sudah seharusnya mati,” ucap Vendi sambil menangkis serangan Adrian.


“Bos maju saja, biar gue yang melawan sampah yang suka curang ini,” kata Arfa sambil menatap tajam Edgard.


“Kelihatannya lu masih belum kapok juga,” ledek Edgard sambil melayangkan tinjunya ke arah Arfa.


“Sayang sekali kali ini trik curang seperti apapun nggak akan bisa menyelamatkanmu dari kematian!” tegas Arfa sambil menahan tinju Edgard dengan mudahnya.


Aditya kembali berlari untuk menyerang Jaja yang sedang bertolak pinggang menyaksikan keributan yang terjadi di ruangan itu. Namun beberapa anak buahnya segera menghadang Aditya. dengan beringas Aditya menghajar mereka hingga tewas, namun seolah tidak ada habisnya, lagi-lagi dia dikepung oleh puluhan anak buah Jaja.


Dengan waspada Aditya menghela nafas dan membuat gerakan kuda-kuda dalam gerakan beladiri silat andalannya. Ketika puluhan orang itu maju Aditya melesat menghajar mereka tanpa ampun. Pergerakannya benar-benar sempurna, dia bisa menghindari serangan lawan sekaligus menyerang balik di titik vital musuhnya hingga terkapar tak berdaya.


Melihat serangan puluhan orang itu tidak berguna membuat Gerald berinisiatif untuk maju menghadapi Aditya, sedangkan Brian dan Viktor yang sudah babak belur dikepung oleh anggota geng Serigala lainnya. Bima sendiri bersama Ratna saling melindungi dari serangan semua lawan–lawannya sambil bergerak keluar dari ruangan itu.


“Langkahi dulu mayatku sebelum lu melawan Ketua!” tegas Gerald sambil menyerang Aditya dengan teknik seni beladiri tarung drajat.


“Dengan senang hati!” balas Aditya sambil menahan serangan Gerald.


“Selama gue masih hidup nggak akan pernah gue biarin lu berhadapan dengan Ketua!”


“Kalau begitu riwayat lu bakalan tamat di sini!”


Mereka mulai bertarung dengan sengit. Bahkan tidak ada yang berani mendekati mereka karena takut melihat kemampuan mereka berdua yang sangat hebat. Namun kemampuan Aditya tetap saja masih diatas kemampuan Gerald.


Gerald mencoba untuk memukul Aditya namun tangannya ditangkap. Tubuhnya ditarik lalu lehernya dihantam oleh siku, kakinya ditendang oleh Aditya. tubuhnya roboh ke lantai. Darah mulai keluar dari mulut dan hidungnya. Namun dia berusaha untuk bangkit kembali.


“Aditya!” teriak Gerald sambil melayangkan tinjunya.

__ADS_1


“Sayang sekali,” ucap Aditya sambil menangkis tinju Gerald. Dia kemudian mengumpulkan tenaga di tangan kanannya, lalu secepat kilat tangannya meninju perut Gerald hingga dia muntah darah. Tubuhnya ambruk ke lantai.


“Bos Gerald!” teriak beberapa anggota geng Serigala yang terkejut karena Gerald sudah ditumbangkan Aditya.


“Sekarang giliran lu, Jaja!” kata Aditya sambil melangkah menghampiri Jaja.


“Hahaha, sudah lama gue tidak sesemangat ini. Maju Belati Maut!” tantang Jaja sambil tertawa lebar.


Aditya melesat melayangkan tinjunya ke perut Jaja. Serangannya berhasil namun Jaja terlihat tidak kesakitan sedikitpun. Jaja membalas meninju wajah Aditya namun dia juga tidak terlihat kesakitan. Mereka berdua terus menyerang seperti itu tanpa menahan serangan lawannya. Hal itu membuat semua orang yang ada di sana kagum dengan daya tahan tubuh mereka.


Mereka berdua mundur untuk menjaga jarak lalu memasang kuda-kuda. Aditya bersiap untuk menggunakan teknik beladiri silat andalannya sedangkan Jaja juga bersiap menunjukkan teknik beladiri silat yang dia kuasai. Mereka mulai maju saling menyerang dengan menggunakan kemampuannya. Terlihat gerakan mereka sangat terlatih.


Pertarungan mereka semakin sengit setelah keduanya menunjukkan kemampuan terbaiknya. Bahkan setiap benturan serangan mereka terdengar jelas di telinga orang-orang yang ada di ruangan itu. Bima dan Ratna berhasil keluar dari ruangan itu. Namun mereka kembali terjebak di tengah pertarungan yang berada di ruangan lain.


“Kita harus segera pergi dari sini,” ucap Bima.


“Kenapa kek?” tanya Ratna.


“Jika kita berada di sini nyawa kita juga terancam, aku dengar dari geng Kujang kalau para anggota Black Mafia juga berada di sini,” jawab Bima.


“Dia bersama temannya sudah menyusun rencana untuk mengatasinya, karena itulah dia ingin kita pergi dari sini.”


“Tapi kek.”


“Percayalah kepadanya Rat, dia bilang tidak ingin melihatmu terluka di sini,” kata Bima sambil menghajar orang yang mencoba menyerang mereka.


Kemampuan Bima benar-benar luar biasa, bahkan satu pukulan saja bisa membuat lawannya langsung tumbang. Mereka berdua terus berusaha keluar dari villa itu. Berkat kemampuan Bima dan beberapa anak buahnya yang membantu akhirnya mereka berhasil keluar dari villa.


Ratna dan Bima segera pergi menuju lapangan untuk masuk ke dalam mobilnya. Kericuhan juga sedang terjadi di luar bangunan villa. Semua anggota geng sedang berkelahi satu sama lain karena adu domba yang dilakukan oleh Jaja. Ketika Ratna hendak masuk ke dalam mobil, Bima secepat kilat langsung berdiri di belakang Ratna.


“Kakek..” gumam Ratna pelan melihat dada Bima tertembus peluru, tubuhnya yang ambruk segera ditahan oleh Ratna.


“Sniper?” gumam anak buah Bima.


“Cepat masuk ke dalam mobil bos! Kelihatannya ada sniper dari atas villa itu,” ucap seorang anggota geng Merak.

__ADS_1


“Cepat bawa mobil menuju rumah sakit!” perintah Ratna sambil terus memegang Bima yang mulai kesusahan bernapas. Air matanya mulai mengalir keluar.


“Kek.. kakek..” ucap Ratna sambil tersedu-sedu.


“Ratna.. maafkan kakek..” ucap Bima terbata-bata.


“Kakek jangan tinggalin Ratna.. kakek..” kata Ratna sambil menggenggam erat tangan Bima.


“Ma-af..” ucap Bima seiring tangannya yang terkulai lemas.


“Kakek..” teriak Ratna di dalam mobil. Tangisnya sudah tidak bisa ditahan lagi, bahkan anggota geng Merak yang sedang menyetir juga terlihat menangis.


Rintik-rintik hujan mulai berjatuhan dari langit. Namun hal itu tidak menghentikan pertarungan yang sedang berlangsung di villa milik Jaja. Pertarungan Aditya juga masih berlangsung sengit menghadapi jaja. Bahkan terlihat keduanya kini sudah mengeluarkan darah dari mulut mereka. Pertarungan yang terlihat cukup seimbang.


Tubuh mereka berdua juga terlihat mulai memar dan lebam karena serangan lawannya. Namun stamina Aditya lebih unggul dari Jaja yang umurnya sudah tua dari dirinya. Hal itu dimanfaatkan dengan baik oleh Aditya, satu pukulannya bahkan berhasil membuat Jaja terpental jatuh. Sontak hal itu membuat semua orang kaget.


Selama ini yang orang-orang tahu Jaja tidak pernah terkalahkan dalam duel satu lawan satu, yang bisa mengimbanginya selama ini hanyalah Bima saja. Tapi kini dia berhasil dipukul jatuh oleh Aditya. Jaja bangkit dengan raut wajah kesal, dia kemudian membuka bajunya dan bertelanjang dada memperlihatkan bentuk tubuhnya yang berotot dan kekar.


“Hahaha baru kali ini gue merasa kembali serius saat berkelahi,” ucap Jaja sambil bersiap memasang kuda-kuda.


“Majulah Aditya!” tantang Jaja.


“Jangan sombong!” ucap Aditya sambil membuka kancing bajunya. Tubuhnya yang atletis terlihat sedikit dari bajunya yang terbuka. Lima kalung tanda pengenal yang dia pakai juga terlihat jelas di lehernya.


“Sebaiknya lu menyerah saja Jaja! Renungi semua kesalahan lu dipenjara!” teriak Aditya sambil menyerang Jaja.


Perkelahian mereka semakin sengit. Benturan pukulan, tendangan dan suara serangan yang mengenai tubuh lawan terdengar begitu jelas. Aditya melompat ke atas untuk menghindari serangan Jaja. Namun Jaja memutar tubuhnya dan menendang Aditya. serangannya berhasil ditahan oleh tangan Aditya.


Aditya balas menyerang dengan tinju tangan kanan namun dihindari oleh Jaja. Aditya kembali melayangkan pukulannya sambil berputar namun berhasil ditahan oleh Jaja. Aditya menunjukan serangan andalannya yaitu lima serangan beruntun dalam tiga detik. Tiga serangan berhasil mengenai Jaja.


“Lu?” gumam Aditya saat sekilas melihat tattoo ular di punggung Jaja. Giginya berbunyi karena emosi, tangannya mengepal kuat-kuat, tatapannya semakin tajam menatap Jaja. Bayangan ketiga rekannya muncul kembali di pelupuk mata Aditya.


“Jaja!” teriak Aditya dengan keras. Semua orang yang berkelahi di ruangan itu mulai gemetaran. Bahkan Egi, Arfa dan Adrian ikut kaget mendengarnya.


BERSAMBUNG…

__ADS_1


__ADS_2