
“Ini anakmu, Dit,” kata Sherly dengan suara yang sangat dingin dan pelan. Aditya sangat tersiksa atas ucapan dan ekspresi wanita itu.
Kalimat itu membuatnya ingin muntah, akan tetapi Frita sudah mencapai pintu lift. Kini istrinya itu masuk ke dalam lift dan berbalik badan, mendapati sang suami berdiri mengobrol dengan wanita entah siapa.
“Mas, kamu ngapain? Siapa itu?” Terdengar suara Frita dari sana, yang mencoba menahan pintu lift dengan lengannya.
“Eh, ini ada Sherly,” jawab Aditya dengan canggung.
Sherly pun menoleh pada Frita dan melempar senyum semanis mungkin. Dengan ketenangan yang luar biasa, Sherly berkata, “Oh, kalian sudah nikah, ya? Selamat, ya, Mbak.”
“Terima kasih, Sherly. Kamu apa kabar?” balas Frita yang terlihat riang.
Mereka lumayan lama tak lagi bertemu sejak Sherly memutuskan untuk keluar dari perusahaan. Entah Frita tak tahu Sherly bekerja di mana atau menjalin hubungan dengan siapa. Tapi ia tahu Sherly hamil.
“Wah, kamu calon ibu, ya?” kata Frita.
“Ya. Terima kasih, Mbak. Aku berharap diucapkan selamat sih,” tukas Sherly yang kini terlihat tersenyum.
Aditya sungguh tak tahan, tapi ia mencoba sedapat mungkin untuk tak terlihat aneh di mata Frita.
Mereka kemudian berjalan. Frita memutuskan agar mereka mengobrol saja di kafe atau tempat makan di dalam mall itu. Sherly tidak bilang pada Frita, dengan siapa dia hamil.
Sherly hanya bilang, “Yang jelas ini bayi yang kudambakan, bersama seseorang yang kucintai. Kamu enggak kenal siapa lelaki itu, Mbak.”
Aditya terlihat lega mendengar perkataan Sherly itu. Tapi wanita itu tiada hentinya menatapnya diam-diam di luar sepengetahuan Frita, hanya demi membuatnya merasa berdosa dan bersalah.
Aditya tak bermaksud membela diri, meski sebenarnya bisa saja, sebab waktu itu ia sama selali tak berniat meniduri Sherly. Ia justru digoda dan dibius entah dengan cara apa oleh Sherly. Tapi, Aditya tetap menyalahkan dirinya sendiri. Ia berpikir baik dirinya maupun Sherly, sama-sama bersalah dalam perkara ini.
Aditya membatin, “Semoga semua ini tak merusak kebahagiaanku dengan Frita.”
Hanya saja, di sisi lain, Aditya tak tahu harus berbuat apa pada Sherly. Bayi itu jelas bayi mereka. Meski bayi yang tak diharapkan, tetap saja itu anak kandungnya. Aditya kini tak tahan lagi. Ia izin pada Frita untuk ke toilet.
__ADS_1
“Ya, Mas. Kita nanti makan di Kafe Blue’s saja, ya? Kami tunggu di situ.”
“Oke,” jawab Aditya pendek.
Aditya berlari terburu-buru ke toilet, masuk ke salah satu biliknya yang kosong, dan menumpahkan isi lambungnya ke sana. Ia merasa sangat aneh dan konyol. Ia bahkan tak ingat lagi kapan terakhir kali ia muntah begini.
Aditya belum tahu apa yang mesti dilakukannya pada Sherly. Dan ia juga tak tahu penjelasan macam apa yang mesti dikatakannya pada Frita nanti. Namun, ia tahu bayi di dalam kandungan itu kelak bisa menjadi bom waktu bagi rumah tangganya yang masih seumur jagung.
Beruntunglah, malam itu berjalan normal. Sherly malah tak berlama-lama duduk bersama mereka, sebab katanya: “Aku takut mengganggu keromantisan pengantin baru ini.”
Tentu saja Sherly mengatakan itu sambil sekilas melempar tatapan dingin kepada Aditya, seolah mengancam, “Awas kamu, Dit. Kelak kamu akan mendapatkan balasan yang pantas!”
Aditya merasa tak sanggup menghabiskan seluruh makanannya.
Mereka berdua lalu pergi ke bioskop di mall itu juga. Membeli tiket secara antre, bukan online, membuat Aditya mesti berdiri beberapa menit dalam barisan selagi tak henti memikirkan Sherly.
Frita menyadari keanehan suaminya.
“Eh, enggak. Aku cuma bingung kita nonton film apa ya?” jawab Aditya asal-asalan.
“Sudah deh, Itu biar aku saja yang pilih,” jawab Frita mantap.
Mereka membeli tiket sekaligus camilan untuk berdua. Tak butuh waktu lama mereka duduk menunggu di luar studio, karena mereka datang tak lama sebelum jam tayang film itu dimulai.
Hanya saja, sepanjang film, Frita lagi-lagi menyadari Aditya tak fokus pada film yang harusnya seru itu. Berkali-kali Aditya membenahi posisi duduknya. Dua kali juga ia pergi ke toilet, membuat Frita heran dan akhirnya bertanya ketika mereka perjalanan balik ke tempat parkir.
“Kamu kenapa sih, Mas? Tadi berangkat baik-baik saja? Kok sekarang begini?”
“Mendadak perutku mulas, Sayang. Mungkin karena makanan pedas yang kutelan tadi. Hehehe,” jawab Aditya berbohong lagi.
Frita tak curiga. Memang makanan tadi pedas. Dan memang pula Aditya tadi pergi ke toilet dua kali, dan setiap kali ke toilet, dia cukup lama juga.
__ADS_1
“Hmm. Tapi besok enggak masalah kan? Besok kita ke Bali, lho. Nanti kamu mesti minum obat,” kata Frita sambil masuk ke mobil.
“Iya. Palingan besok pagi juga sembuh. Tadi lumayan juga sih pas ke toilet,” tukas Aditya dengan nyengir.
Aditya jelas dilanda kebingungan yang luar biasa. Ia tak mau menyakiti hati kedua perempuan ini. Ia juga tak mau merusak pernikahannya dengan Frita. Tapi, apa yang ia harus lakukan?
Malam itu mereka tidur lebih awal. Aditya bersyukur karena tak harus bicara lagi soal keanehannya tadi di mal.
Esok paginya, perjalanan ke Bali dengan pesawat terbang sama sekali tak mampu dinikmati oleh Aditya karena pikiran tentang bayi dalam kandungan Sherly. Bisa saja ia berpikir itu mungkin anak lelaki lain. Ya, bisa saja ia berpikir jahat dengan menuduh Sherly tidur bukan hanya dengannya.
Tapi Aditya tahu Sherly bukan wanita macam itu.
Sherly sendiri tampaknya tak ingin mengusik rumah tangga mereka dari jawaban yang ia lontarkan pada Frita.
“Tapi tatapan matanya padaku menyiratkan ancaman,” batin Aditya tak nyaman.
Bagaimanapun, mereka kini sedang berbulan madu. Aditya tak ingin merusak rasa nyaman dan bahagia di hati Frita. Maka, ia mencoba sedapat mungkin untuk tak terlalu memikirkan Sherly.
Pikiran tentang Sherly memang hilang untuk sementara di hari tibanya mereka ke Bali. Sebab, sebuah telepon secara mengejutkan membuat Frita menangis. Itu telepon dari papanya. Pandu mengabarkan bahwa Kakek Darma kini dirawat di rumah sakit.
“Kami baru saja sampai ke Bali, Pa,” jawab Frita.
“Kamu tenang saja. Kami semua ada di sini bersama Kakek Darma, kok. Papa cuma mengabari saja, karena kemarin Aditya pamit kalian akan ke rumah beliau begitu dari Bali, kan?” kata Pandu.
Frita mendengarkan lebih lama lagi.
Kakek Darma katanya jatuh di kamar mandi di suatu pagi yang dingin. Tapi kini beliau baik-baik saja dan dirawat di salah satu rumah sakit di Bandung agar keluarganya lebih mudah menjaganya.
Alhasil, dua hari di Bali itu, bagi Aditya dan Frita, sama-sama tak menyenangkan. Mereka tahu itu, tapi keduanya seakan sepakat dan tak membicarakan. Mereka hanya mencoba menghabiskan waktu di Bali, sedikit merasakan kenikmatan sebagai pengantin baru sebelum nanti kembali ke kehidupan yang sebenarnya.
Bersambung....
__ADS_1