Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 236


__ADS_3

Aditya ternyata tidak pingsan. Ia memang sengaja memejamkan mata agar Sherly tak mengajaknya terlalu banyak bicara saat mobil melaju. Sherly menyadari itu ketika mobilnya akhirnya berhenti di garasi rumahnya.


“Aditya, kamu tadi kukira pingsan!” katanya tak percaya.


“Belum. Tapi, tubuhku sudah lumayan capek nih,” sahut Aditya.


Ia memang kehabisan lumayan banyak darah.


Perawat yang datang lima menit kemudian yang juga teman dekat Sherly bilang, “Ia harus dibawa ke rumah sakit. Aku nggak bisa menanganinya sendiri begini.”


“Kamu bisa merawat luka, bukan? Itu saja cukup,” tukas Aditya sambil berbaring di sofa halaman belakang rumah Sherly. Saat itu Sherly sendiri di rumah. Entah Aditya tak pernah tahu dengan siapa dia tinggal belakangan ini atau bagaimana kehidupan gadis ini setelah mereka lama tak bertemu.


“Ya, tapi lukamu cukup dalam dan saya tidak yakin!” ujar perawat itu, tapi ia tetap terus bekerja, membersihkan luka Aditya dan memberikan penanganan sebisanya.


“Sher, aku ini perawat yang belum berpengalaman, lho! Kalian bisa saja menyesal, tapi tolong jangan salahkan aku kalau sampai nanti ada apa-apa sama orang ini,” tegas si perawat teman dekat Sherly itu.


“Sudah kamu tenang saja. Kamu pasti bisa,” kata Aditya dengan nada yang coba ia bikin santai, padahal tusukan The Green Devil tadi lumayan sakit juga. Memang orang misterius itu kurang ajar, batin Aditya. Memiliki kemampuan hebat hanya untuk bikin celaka orang-orang yang tak bersalah.


Setelah dirawat beberapa lama, Aditya diperbolehkan untuk istirahat di kamar milik Sherly. Kamar itu luas dan aromanya sangat harum. Khas kamar gadis sepertinya. Tetapi Aditya sama sekali tidak berpikir yang macam-macam. Ia hanya ingin tidur setelah coba menelepon Skuad Malam.


Nancy di seberang telepon berkata, “Para pembunuh itu cuma enam orang. Sudah kami sikat semua, Dit.”


“Bagus. Terima kasih, Nancy. Entah kalau nggak ada kalian, aku mesti minta tolong pada siapa,” kata Aditya.


“Ah, kamu sudah banyak membantu orang. Semesta tahu itu dan saat kamu butuh bantuan, pasti akan ada saja yang bersedia membantumu, Dit,” sahut Nancy.


Aditya tertawa pelan mendengar itu. Entah Nancy membaca kalimat motivasi yang sebagus itu dari buku karya siapa.


Aditya kembali bertanya, “Apa kalian menemukan di mana Christian Santoso?”

__ADS_1


“Belum. Orang itu benaran licin seperti belut. Tapi kamu tahu kita punya Baskara,” jawab Nancy terdengar optimis.


“Ya, bocah IT itu pasti tahu di mana bajingan itu bersembunyi. Bisa saja kita tidak ambil pusing dan lapor polisi. Tapi aku tidak rela Frita diperlakukan seperti itu. Biar dia merasakan akibatnya dulu sebelum polisi mengurusnya nanti,” kata Aditya.


“Jadi, kau tak akan membunuhnya?”


“Tidak, kalau dia bisa diajak ‘bekerjasama’. Dalam hal ini, kalau Christian bangsat itu tidak mencoba kabur atau membayar sejumlah pembunuh seperti malam ini,” jawab Aditya.


“Baiklah, itu terserah padamu, Dit. Kami akan selalu ada untuk membantu. Bahkan Pak Komandan juga menyuruh kami untuk terus memburu Christian Santoso sesuai dengan apa yang kamu mau,” sahut Nancy.


Aditya senang mendengar itu.


Telepon dengan Nancy ditutup.


Tepat setelah itu, Sherly masuk kamar dan membawa nampan berisi makanan dan segelas susu hangat. Aditya dipaksa untuk menelan semua itu agar stamina dan kondisi tubuhnya kembali pulih.


Aditya mengucap terima kasih padanya dan menuruti perkataan gadis itu. Dia pun makan sambil diiringi tatapan antara rindu dan penuh hasrat dari Sherly, juga sekaligus takut.


Apalagi saat makan itu Aditya juga tak henti bercerita tentang Frita dan masalahnya. Jadi kini ia tahu misi Aditya saat ini lagi-lagi tentang Frita. Sherly tak ingin bicara lagi soal itu. Ia mengalihkan Aditya ke topik obrolan lain.


Mereka mengobrol tak terasa hampir setengah jam sampai segelas susu itu tandas dan Aditya merasa kenyang.


“Terima kasih, Sher. Aku harus membalas seperti apa kebaikanmu ini?” tanya Aditya.


“Enggak perlu. Kamu jaga diri baik-baik saja. Besok pagi akan kubangunkan. Jam berapa?” jawab Sherly.


“Sepagi mungkin. Kalau bisa, ya aku pasti bangun sendiri.”


“Oke.”

__ADS_1


Sherly pun meninggalkan Aditya tidur di situ, sementara ia pindah ke kamar lain, di seberang kamarnya sendiri yang kini ditempati Aditya.


Sherly jujur saja tak bisa tidur. Terus memikirkan Aditya. Dan tak henti merasakan kecemburuan hebat pada Frita. Apa saja yang sudah dilewatkannya? Aditya entah sudah berapa kali bilang soal rencana pernikahan dengan Frita. Jauh di lubuk hatinya, Sherly tak berharap itu pernah terjadi.


Lalu, entah setan apa yang lewat, mendadak saja Sherly merencanakan sesuatu. Oh, tidak. Ia tidak sepenuhnya ingin merusak hubungan Aditya dengan Frita. Dia hanya ingin untuk kali terakhir, Aditya bisa memberikan kenangan terindah baginya.


Maka, Sherly pun menunggu. Ia tahu Aditya lelah dan sebentar lagi ketiduran. Dan ia tak salah menduga. Ia pergi mengintip ke kamar di mana Aditya berada. Di sana dia sudah tertidur pulas.


Dengan tenang, Sherly memasuki pintu kamar sambil berbisik. “Sentuhlah tubuhku, Aditya. Tidurlah denganku semalam. Dan hanya untuk malam ini saja.”


Ya, itulah yang terjadi.


Sherly membuka satu per satu penutup bajunya. Ia melangkah dengan amat sangat pelan, menaiki tempat tidurnya sendiri yang kini dipinjam oleh lelaki pujaannya yang tak akan bisa ia miliki selamanya.


“Jika kita tak bisa selamanya, apa salah kuharap malam ini bisa memilikimu?” batin Sherly.


Ia tak berpikir itu salah. Ia benar-benar berada dalam kondisi telanjang bulat kini, berada di atas tubuh Aditya yang terlelap kelelahan.


Aditya sendiri memang sangat lelah dan tak merasakan ada gerakan lembut di dada dan perutnya, juga di bibirnya. Sherly tak henti menyentuh dan mengecupnya. Itu terus berlangsung hingga beberapa menit dan membuat gadis itu semakin tak terkendali.


Pada akhirnya Aditya pun juga tak lagi mengenakan celana panjang seperti yang seharusnya. Kaosnya juga dilepas dengan begitu telaten oleh Sherly. Mereka menyatu di malam yang dingin itu. Dengan keadaan Aditya yang sangat lelah, Sherly tak berharap banyak, tapi mungkin saja Aditya saat itu sedang bermimpi.


“Oh, kamu hebat juga, Sayang,” bisik Sherly yang merasa bahagia.


Tak disangkanya, Aditya malah merenggut tubuh Sherly dengan liar, dan merespon ajakan bersetubuh itu dengan baik. Ya, memang Aditya sedang bermimpi bersama Frita. Sayangnya, ketika tersadar esok paginya, yang didapati tidur di sisinya bukanlah calon istrinya itu, melainkan Sherly.


Sherly yang tidur membelakangi tubuhnya, dalam kondisi tanpa sehelai benang pun!


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2