Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 156


__ADS_3

Aditya dan Frita mulai berdansa mengikuti alunan musik. Mereka terlihat begitu bahagia. Sinar bulan purnama yang terang membuat suasana terasa semakin romantis. Keduanya dengan terlihat menunjukan kemampuan dansanya yang memukau. Sembari berdansa mereka juga saling melempar pujian satu sama lain.


“Kamu sangat cantik malam ini Fri,” puji Aditya.


“Kamu juga sangat tampan Dit, andaikan setiap hari kamu berpenampilan seperti ini,” balas Frita sambil tersipu.


“Jadi kamu ingin aku setiap waktu berpenampilan serapi ini ya?”


“Eh nggak deh, nanti makin banyak saja cewek yang deketin kamu. Sekarang saja sudah banyak.”


“Kok kamu kayak cemburu gitu sih, padahal kamu kan harusnya malam ini di lamar orang lain,” goda Aditya sambil tertawa kecil.


“Kamu juga kok tiba-tiba ngajak aku dansa sih? Padahal kita kan bukan siapa-siapa.”


“Aku juga bingung tiba-tiba saja ingin berdansa denganmu. Padahal kan kita sudah bukan tunangan lagi.”


“Memangnya siapa yang membatalkan pertunangan kita?” tanya Frtia sambil tersenyum.


“Memangnya belum batal ya?” pancing Aditya.


“Kamu sendiri memangnya ingin membatalkannya?” balas Frita.


“Emm.. nggak deh, kalau batal nanti siapa yang akan mengawalmu?”


“Ih alesan doang,” ujar Frita sambil tertawa kecil. Aditya juga ikut tertawa. Walaupun mereka berdansa sambil berbincang namun gerakan dansa mereka sangat selaras dan serasi. Kelihatannya chemistry mereka juga semakin menguat seiring bertambahnya waktu yang telah mereka lewati bersama.


“Dit, kenapa kamu tidak melaporkan masalah ini ke polisi saja bukankah dengan begitu semua masalah ini akan cepat selesai?”


“Tidak sesederhana itu Fri, selagi aku masih hidup aku yakin mereka akan terus berusaha menangkapku. Jika memang polisi bisa menangkap mereka seharusnya dari dulu juga sudah tertangkap. Tapi kenyataannya mereka memang pandai bersembunyi hingga saat ini. Karena itu satu-satunya pilihanku juga adalah menghadapi mereka.”


“Tapi aku tidak mau kenapa-napa,” ucap Frita dengan berkaca kaca. Aditya malah tersenyum.


“Memangnya kamu tidak tahu aku siapa? Aku kan pengawal terbaik sang Rembulan kota Bandung. Mereka pastinya tidak akan berkutik menghadapiku, setelah semuanya selesai pasti aku akan menemuimu dengan keadaan baik-baik saja,” jawab Aditya. mereka berdua kemudian berhenti berdansa, Frita mengulurkan jari kelingkingnya ke hadapan Aditya.


“Janji?” tanya Frita sambil tersenyum.


“Aku berjanji,” jawab Aditya tersenyum sembari mengulurkan jari kelingkingnya juga. Mereka membuat simbol ikatan janji, bulan purnama yang bersinar terang menjadi saksi perjanjian kedua insan itu.


Mereka berdua tertawa kecil sambil beradu pandangan. Senyum Frita malam itu terlihat begitu menawan bagi Aditya begitu pula sebaliknya. Hati mereka berdebar-debar saat beradu pandangan. Aditya perlahan menggenggam tangan Frita. Jantungnya terasa berdetak sangat kencang.

__ADS_1


Perlahan mereka berdua semakin dekat. Jantung mereka berdua mulai berdetak semakin kencang. Hati mereka tambah berdebar-debar ketika wajah mereka semakin dekat satu sama lainnya. Perlahan Frita memejamkan kedua matanya, wajah mereka semakin dekat. Sebuah kecupan di keningnya terasa begitu lembut bagi Frita. Perlahan dia kembali membuka matanya.


“Ah nggak seru deh,” ujar Clarissa yang ternyata sedang memperhatikan mereka di lantai dua.


“Ih kamu lagi ngapain di situ?!” tanya Frita dengan wajah memerah karena malu.


“Kak Aditya nggak seru ah masa malah cium kening doang, padahal sedang aku video loh,” rengek Clarissa sambil cemberut. Aditya hanya tertawa kecil.


“Kamu ini kepo banget ya hus hus masuk sana,” usir Frita.


“Ciee yang lagi kasmaran nggak ingin diganggu, padahal tadi dansanya kelihatan seru banget tahu,” ledek Clarissa sambil tertawa lalu menunjukkan rekaman di ponselnya.


“Ih kamu ya, awas nanti!” gertak Frita.


“Cie, Cie,” goda Clarissa sambil masuk ke dalam ruangan.


“Tuh anak ada-ada saja ya pake di rekam segala.”


“Dari tadi dia memang sudah ada di sana Fri sebelum kita berdansa juga,” ujar Aditya sambil tersenyum.


“Ih kamu lagi kok nggak bilang-bilang,” kata Frita dengan tersipu malu. Mereka berdua kemudian tertawa kecil. Tiba-tiba Aditya menggendong Frita di pangkuannya sambil berjalan menuju ke dalam rumah.


“Nggak apa-apa biar kaki kamu nggak pegel, lagian deketi ini,” kata Aditya sambil tersenyum. Aditya kemudian menurunkan Frita saat sudah berada di dalam rumah. Dengan senang Frita kemudian pergi ke lantai dua untuk menemui adiknya. Aditya sendiri pergi ke ruang tamu untuk menemui Pandu.


“Ris,” kata Frita sambil masuk ke dalam.


“Ih kakak main masuk-masuk saja, aku lagi nonton adegan film romantis nih,” ledek Clarissa sambil memperlihatkan video dansa Frita.


“Kamu usil banget ya, sini kakak pinjem,” ucap Frita sambil merebut ponsel adiknya.


“Ih kakak,” rengek Clarissa. Frita sambil tersenyum kemudian mengirimkan video itu ke ponselnya lalu menghapus video asli yang ada di ponsel Clarissa.


“Kakak jahat deh kok malah dihapus, padahal aku mau tunjukin ke temen-temen.”


“Ih kamu itu ya nakal banget. Untung udah kakak hapus.”


“Ih dasar, tapi nggak apa-apa deh aku masih inget dengan jelas kok adegannya, terutama saat kakak meremin mata, eh malah kening yang di cium,” ledek Clarissa sambil tertawa puas.


“Ih itu juga gara-gara kamu tahu pake ngintip-ngintip segala, awas ya! Kalau kamu bilang-bilang nanti kakak bilangin ke ayah biar setahun nggak di kasih uang jajan,” ancam Frita.

__ADS_1


“Nggak asik deh kakak mah,” rengek Clarissa.


Frita kemudian keluar dari kamar adiknya sambil tersenyum sendiri. Malam itu sebelum tidur dia terus memutar ulang video yang direkam oleh Clarissa sambil senyum-senyum sendiri. Hatinya terasa begitu bahagia sekali.


***


Malam ini Arya sedang memeriksa beberapa file terkait insiden di hutan pinus di dalam ruangannya. Jimmy saat itu sedang ada tugas malam. Tak berapa lama kemudian ponselnya berdering. Tampak Jimmy meneleponnya. Arya menerima panggilan itu.


“\kamu sekarang sedang berada di mana Ar?” tanya Jimmy dengan nafas terengah-engah.


“Aku sedang berada di kantor mengurus beberapa laporan, kamu habis lari marathon Jim? Ngos-ngosan begitu,” tanya balik Arya.


“Kalau begitu sebaiknya kamu segera ke sini membantuku, nanti akan aku kirimkan lokasinya.”


“Memangnya ada apa di sana Jim? Jangan nakut-nakutin dong.”


“Dua orang pelaku yang berhasil melarikan diri baru saja kami temukan tewas kecelakaan di dalam mobil.”


“Apa? Tunggu apakah kecelakaan tunggal?”


“Ya, mereka terperosok ke jurang. Sekarang kami sedang menunggu mobil untuk menarik kendaraan mereka dari jurang. Beberapa anak buahku yang turun ke bawah bilang kalau mereka berdua sudah tewas.”


“Cih! Aku akan segera ke sana. Tolong bilang kepada anak buahmu agar jangan sampai merusak TKP, kalau bisa mobilnya jangan dulu ditarik. Aku akan langsung memeriksanya ke bawah,” ucap Arya sambil membereskan berkasnya.


“Oke aku akan mengirimkan lokasinya kepadamu,” kata Jimmy sambil mengakhiri panggilannya, tak lama di ponsel Arya ada notifikasi dari Jimmy yang telah mengirimkan lokasi kejadian.


“Cih! Mereka benar-benar sulit ditangkap. Aku semakin yakin kalau insiden kemarin juga berhubungan dengan Black Mafia. Merepotkan,” gerutu Arya sambil mengambil ponselnya lalu pergi menuju mobil. Di perjalanan tiba-tiba seseorang meneleponnya.


“Malam Ar, wah dari suaranya kelihatannya kamu sedang terburu-buru nih,” sapa seorang pria.


“Malam juga. Saya memang sedang terburu-buru. Mungkin nanti akan saya laporkan kejadiannya kepada anda juga,” jawab Arya sambil menyetir dia menggunakan earphone di telinganya.


“Wah kedengarannya sangat serius. BTW aku baru saja mendapatkan informasi terkait Aditya Laksmana yang kamu minta.”


“Terimakasih sebelumnya, saya benar-benar sudah merepotkan anda.”


“Tidak masalah. Yang jelas kamu pasti akan sangat terkejut mendengar semua informasi yang aku dapatkan ini,” ucap pria itu dengan nada serius.


BERSAMBUNG…

__ADS_1


__ADS_2