
Frita dan Ratna berduka atas kematian Aditya. Tentu saja mereka tidak tahu bahwa kematian itu palsu. Amy Aurora sengaja berperan di sini.
Suatu kali Amy mendatangi Rahman Sugandi dan berkata, “Kita bisa memberinya misi baru lagi, Pak Gandi. Suatu misi yang mengharuskannya menjauh dari orang-orang terdekatnya.”
Rahman Sugandi bertanya-tanya kenapa Amy Aurora mengharapkan itu? Bukankah tindakan itu bisa membuat Aditya tersiksa?
Amy Aurora hanya bilang, “Aku belum ingin melihat Aditya menikah. Aku terlalu mencintainya. Aku tak bisa bohong. Aku memang mencintainya, meksi ia tidak.”
Karena Amy ‘murid’ kesayangannya, Sang Guru Tanpa Nama segera mengatur agar kematian Aditya dipalsukan tempo hari. Dia juga masih berpikir, misi apa yang sesuai dengan pemuda itu saat ini? Sesosok pemuda berbakat yang merasa bakatnya sudah tak ada gunanya lagi.
Maka, Rahman Sugandi melihat kesempatan ketika sebuah peristiwa di Bandung melibatkan salah seorang teman dekat Clarissa.
“Apa mungkin?” tanya Amy ragu.
“Sangat mungkin,” kata Sang Guru dengan yakin.
***
Skuad Malam dan Pencuri Tanpa Bayangan berhasil kembali ke Bandung dengan selamat. Hanya dua yang tertinggal di Jepang, dalam kondisi tak bernyawa. Larry dan Toro yang meninggal membuat Rai berduka. Tapi, ia harus menemui sang Guru Tanpa Nama dan juga Jim siang itu.
Aditya menemaninya datang ke tempat pertemuan yang sudah ditentukan.
Tempat itu berupa rumah makan cepat saji. Sebuah tempat yang tak mencurigakan sebagai lokasi penyerahan dokumen rahasia negara yang nyaris jatuh ke tangan para ******* dunia.
“Kalian berhasil. Terima kasih, Dit. Terutama kau, Rai, meski awalnya kau tak sudi bicara,” kata Sang Guru Tanpa Nama.
“Alasan saya jelas. Saya tak mau anak saya celaka!” tukas Rai Siluman tajam.
“Dan, jangan lupa kembalikan uang yang telah kau rampok dari museum nasional,” tambah Guru Tanpa Nama dengan santai, sembari memanggil pelayan mendekat.
“Saya tak pernah merampok kok!” kata Rai dengan kesal.
__ADS_1
Beberapa orang pengunjung menoleh ke mereka. Lalu Rai memelankan suaranya, “Saya tak pernah merampok!”
“Maksudku merampok dalam tanda kutip alias mencuri. Apa bedanya sih?” tukas Rahman Sugandi dengan tenang. “Kalian pesan apa?”
Mereka terdiam beberapa saat ketika pelayan datang, dan menunjuk beberapa jenis makanan serta minuman.
Begitu pelayan itu pergi, Rai bilang, “Sekarang apa? Aku sudah boleh bebas? Itu syarat yang dulu kalian ajukan, kan?”
“Sudahlah, tenang. Setelah kita makan siang ini kalian ikut saya,” potong Jim yang sejak awal tak bicara sepatah kata pun.
“Apa? Kalian memenjarakanku lagi? Setelah menguburku hidup-hidup?” ujar Rai.
“Kau mau dipenjara lagi?”
“Tidak!”
Aditya merasa ada yang mengganjal. “Kematian palsu saya, apakah masih berlaku? Saya harus kembali ke keluarga saya. Saya harus ‘hidup’ seperti sedia kala!”
Jim menoleh memandang Rahman Sugandi, dan berkata, “Kamu belum tahu, Dit, siapa kami sebenarnya? Aku dan Rahman bekerja sebagai apa dan juga kepada siapa? Kau belum tahu, bukan?”
“Kau akan tahu setelah kau dan Rai mengikutiku. Kalian ke sana bukan sebagai tahanan. Justru kami ingin merekrut kalian,” kata Jim.
“Aku sudah berhenti dari semua ini. Komandan Malik harusnya sudah bilang pada kalian,” sahut Aditya dengan jengkel.
“Ya, Komandan Malik sudah kami ajak bicara. Dia angkat tangan soal dirimu, Dit. Namun kami pikir ada tugas lain yang membutuhkanmu di luar sana,” kata Guru Tanpa Nama.
“Kalau ini kalian anggap hadiah, jelas bukan hadiah yang layak untuk saya,” kata Aditya dengan malas, lalu mohon diri untuk pergi ke toilet.
Aditya tak ingin bicara apa-apa lagi. Ia sungguh bertekad membangkang dan tidak sudi terlibat lagi dengan mereka.
Maka, setelah membasuh wajahnya di toilet, Aditya berkata pada Jim dan Rahman, “Saya kembali ke tempat Frita. Dan akan pulang menjenguk Paman Salim lagi. Kalian tak berhak mengatur hidup saya.”
__ADS_1
Guru Tanpa Nama terlihat putus asa. Tapi akhirnya ia berkata, “Baiklah, kau bisa saja membuat dirimu ‘hidup’ dan membongkar kematian palsumu. Tapi tugas ini sangat berbahaya, Dit.”
“Tugas? Anda bicara apa sih, Pak Gandi?”
“Seorang bandar narkoba terkait dengan sebuah grup elite, kelompok anak-anak manja yang juga pewaris sah dari beberapa politikus ternama negeri ini. Kau tahu siapa yang kau ajak ribut di The King waktu itu? Seorang pemuda yang menggoda penyanyi Sherly D itu?”
“Rama Subandi?”
“Nah, nama itu sedang masuk daftar incaran polisi, tapi kau tahu sendiri dia anak pejabat penting dan punya pengaruh besar. Seorang anggota grup itu adalah teman dekat Clarissa. Kau tahu siapa yang celaka kalau mereka tidak dihentikan?” kata Guru Tanpa Nama.
“Tunggu! Saya tidak paham! Apa hubungannya semua ini dengan adik kandungnya Frita?”
“Dia berteman dekat dengan seorang anggota grup elite itu. Tanpa dia sadari bahwa grup itu terlibat dalam peredaran narkoba skala internasional.”
Demi mendengar itu, Aditya menjadi putus asa. Ia seperti terjebak di situasi yang macam ini. Di kehidupan yang ia benci ini. Mau tak mau, akhirnya ia menyepakati apa yang diminta oleh Rahman dan Jim.
“Tapi saya tetap akan ‘hidup’ dan membongkar kematian palsu saya. Saya sungguh tak mengerti kenapa kematian saya harus dipalsukan segala!” tegas Aditya.
Diam-diam Rahman Sugandi membatin, “Ini semua ulah Amy, Dit! Dia naksir kau sejak lama!”
“Apa yang harus kulakukan?” tanya Rai yang masih belum tahu apa yang harus ia lakukan untuk benar-benar bebas dari hukuman.
“Kau dan dua orang temanmu yang tersisa harus bekerja pada kami. Kemampuan kalian yang luar biasa dalam menipu dan mencuri barangkali sangat berguna untuk apa yang terjadi di masa mendatang,” kata Jim.
Rai setuju saja dengan permintaan itu.
Mereka kemudian makan dalam sepi. Tak ada yang bicara. Hanya Aditya saja yang tidak henti memikirkan nasib dirinya, juga orang-orang tercintanya. Ia terjebak dilema. Antara menolak misi ini atau membiarkan Clarissa terjerumus oleh teman dekat yang ia pikir tak terlibat apa-apa itu.
Aditya akhirnya bersuara, “Siapa teman dekat Clarissa itu?”
“Rako. Pemuda yang naksir calon iparmu sejak lama. Mereka dekat akhir-akhir ini karena kuliah di kampus yang sama. Rako saudara Rama Subandi. Clarissa tak tahu itu.”
__ADS_1
Aditya tidak tahu harus berkata apa. Dalam hati ia berdoa semoga ini benar-benar menjadi misinya yang terakhir.
Bersambung...