
Paman Salim berangkat ke pasar dini hari itu. Saat itu Aditya tentu saja masih tidur lelap di kamarnya. Beliau memang selalu bangun dini hari, sebelum subuh, untuk pergi ke pasar dan membeli sejumlah ubi, untuk kemudian dijualnya berkeliling desa.
Paman Salim cukup lama memandangi Aditya sebelum berangkat. Ia berdoa dalam hati agar pemuda itu tidak pergi lagi dan agar bisa menikah secepatnya. Tidak sabar menunggu cerita nanti ketika Aditya dan Diana jalan-jalan. Hari ini beliau memutuskan akan pulang lebih cepat untuk mendengar itu.
Jam demi jam berlalu. Matahari terbit dan cahayanya memasuki celah jendela kamar Aditya. Ia masih belum bangun dan malah terdengar mendengkur keras dari arah dapur.
Di dapur, Diana sedang sibuk mempersiapkan sarapan. “Hmm, Aditya sepertinya sedang kelelahan. Apa perlu kubangunin? Ah, jangan. Mungkin kami tidak jalan-jalan dulu saja hari ini. Besok masih ada waktu.”
Aditya memang kelelahan karena akhir-akhir ini aksinya cukup berat dan ia juga tak cukup tidur. Ia baru bangun jam 9 lebih seperempat ketika Diana sudah balik lagi ke rumah yang disewanya.
“Wah, Paman sudah tidak ada,” kata Aditya pada dirinya sendiri. “Meja makan juga penuh dengan makanan.”
Aditya tak suka memikirkan ini. Makanan lengkap di meja di pagi hari. Keadaan rumah yang bersih di tangan seorang wanita. Betapa Paman Salim-nya itu pasti akan mendesaknya untuk mendekati Diana. Dia tidak tahu bagaimana caranya menghindar. Meski Diana terlihat cantik di matanya, ia sama sekali tak punya niatan ke arah itu.
Aditya lalu berkata lagi pada dirinya sendiri, “Ah, perutku lapar. Daripada mikirin soal itu, lebih baik mandi dan sarapan!”
Ia pun pergi ke kamar mandi dan menyegarkan diri di sana selama sekitar 5 menit. Begitu selesai mandi, Aditya langsung menuju ke meja makan dan mengintip sajian apa saja yang tersedia di balik tudung saji.
Aditya terperanjat di situ ternyata ada masakan favoritnya. Ia tak bisa berpikir lain selain semua ini pasti ulah Paman Salim. Lelaki tua itu pasti memberi tahu Diana soal masakan apa yang disukainya. Dan, jujur saja, Aditya tak bisa menahan diri untuk tidak tergoda akan masakan itu. Lumayan lama juga ia tak ketemu masakan favoritnya.
“Baiklah. Saatnya sarapan,” katanya, lalu mengambil sendok dan menciduk nasi, kemudian mengambil lauknya.
Saat itulah tiba-tiba terdengar suara Diana dari belakang, “Kamu makan gak pakai berdoa? Langsung makan gitu aja?”
Aditya tersedak karena kaget. “Kupikir kamu siapa!”
“Hehehe, maaf, Dit,” kata cewek itu. “Kupikir kamu masih tidur tadi. Ada yang tertinggal.”
Diana menyodorkan segelas jus buah pada Aditya.
“Biasanya Pak Salim suka meminum ini sebelum berangkat jualan,” katanya.
Aditya segera menyadari kenapa pamannya tak ada di rumah. Jelas saja beliau lagi berjualan di luar sana. Ia harus meminta pamannya berhenti. Mulai sekarang tidak perlu lagi beliau bekerja.
“Terima kasih ya. Kamu gak perlu repot begini,” kata Aditya.
__ADS_1
“Ya, kebetulan saja aku banyak waktu luang. Naskahku sebagian besar sudah nyaris selesai,” jawab Diana dengan santai.
“Oh, ya. Kamu penulis?”
“Ya, benar. Pak Salim yang bilang ya?”
“Iya. Menulis soal apa?”
“Aku sebenarnya nggak bisa cerita sih, tapi cuma novel biasa tentang kehidupan di pedesaan aja,” jawab Diana malu-malu.
Aditya hanya mengangguk-angguk. Ia tak sadar kalau Diana sebenarnya salah satu penulis best seller yang cukup dikenal di luar sana. Maklum saja Aditya tak terlalu suka memperhatikan hal-hal macam itu. Ia memang suka membaca, tapi tak terlalu antusias, apalagi ingin tahu kehidupan para penulis.
Diana juga ikut sarapan di meja yang sama setelah diajak oleh Aditya. Mereka tidak mengobrol banyak setelah pembicaraan singkat tentang novel itu.
Karena dirasa kurang enak berdua-duaan saja di rumah begini, mereka memutuskan pergi keluar. Seperti saran Paman Salim semalam, mereka akhirnya pergi jalan-jalan juga.
“Suasana desa ini berubah pesat setelah enam tahun kutinggalkan,” kata Aditya.
“Oh, ya?”
Aditya menunjuk ke arah selatan, dekat perkebunan milik haji yang terkenal paling kaya di desa itu, yang kini penuh rumah warga. Ia tak terlalu mengenal wajah-wajah itu sebab para warga di area itu datang dari kota tiga atau empat tahun lalu.
“Ya, sekarang para maling bingung mencari tempat persembunyian,” sahut Diana sambil tersenyum.
Mereka terus berjalan dan Diana menjelaskan beberapa hal tentang desa yang tidak disangkanya membuat Aditya terkejut. Betapa banyak perubahan di sini yang membuat Aditya menyesal telah meninggalkan pamannya.
“Memangnya apa yang terjadi saat itu?” tanya Diana dengan suara yang terdengar cukup hati-hati.
“Yah, aku terlalu muda. Aku membangkang dan tidak patuh pada pamanku sendiri. Padahal beliau yang merawatku sejak kecil.”
“Katanya kamu pindah dari kota ke kota ya?”
“Ya, aku sempat hidup di jalanan, tetapi nggak lama. Aku pernah tinggal di Jakarta, Lampung, bahkan Surabaya. Belakangan aku di Bandung dan betah di sana. Pekerjaan di bank itu menyenangkan. Orang-orangnya baik semua,” jelas Aditya.
“Ya, kapan-kapan aku pengen dengar cerita soal perampokan itu,” tukas Diana dan itu membuat Aditya jadi bingung harus mengarang cerita yang bagaimana.
__ADS_1
“Ah, hanya perbuatan biasa yang memang harus dilakukan penjaga keamanan kok.” Itulah yang bisa dikatakan Aditya.
“Pasti ada sesuatu yang tidak biasa, sampai-sampai bosmu mengantarmu pulang ke desa dengan helikopter,” kata Diana.
Kali ini Aditya merasa kena skak mat. Ia terpaksa menambahkan kalau waktu itu ia menghajar si perampok yang memegang senjata api. Mereka ada dua orang dan Aditya hanya seorang saja. Ada satu nasabah yang sempat terkena tembakan, tapi Aditya segera melumpuhkan para perampok itu.
“Untung saja nasabah itu selamat,” katanya.
Diana kagum mendengar itu, walau ceritanya Aditya terdengar agak ganjil. Tentu ia tak bisa menuntut banyak, meski masih penasaran setengah mati apa yang terjadi waktu itu di bank? Tak mungkin Aditya hanya beraksi seperti itu sampai bosnya mengantarnya kemari.
Tapi, di matanya Aditya sosok yang lucu, melihat cara lelaki tampan itu bercerita dan memperagakan segala sesuatunya. Diana belum tahu saja bahwa selama beberapa tahun terakhir ini, Aditya sudah membunuh entah berapa banyak penjahat.
“Katamu tadi sempat tinggal di Surabaya? Di daerah mana?” tanya gadis itu yang akhirnya memilih ganti topik.
“Wonokromo,” jawab Aditya. “Di situlah dulu aku sempat hidup di jalanan, tetapi cuma sebentar.”
“Kenapa?” tanya Diana.
“Aku orangnya mudah bosan. Sepertinya begitu,” jawab Aditya asal-asalan, sebab tak tahu harus bilang apa. Lalu gantian dia yang kini bertanya pada Diana.
“Kamu sendiri dari Surabaya, ya?”
“Iya. Cuma kerjaku di Jakarta. Pulang ke sana setahun sekali kalau lebaran,” kata gadis itu.
Mereka pindah ke topik-topik lain selama 15 menit berikutnya sambil terus berjalan menyusuri jalanan desa yang sebagian sudah di-paving. Dulu waktu Aditya minggat dari sini, jalanan desa masih tanah dan batu. Kalau musim hujan, jalanan becek parah dan orang bisa terpeleset kalau tidak hati-hati.
Saat tiba di tepi sungai, terdengar suara motor yang ugal-ugalan. Seketika ekspresi wajah Diana berubah masam.
“Siapa itu?” tanya Aditya.
Suara motor itu terasa semakin mendekat dan mendekat.
“Kamu lihat saja sendiri nanti,” jawab Diana terlihat kesal.
Bersambung...
__ADS_1