Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 267


__ADS_3

Aditya memencet bel pintu rumah Frita dengan tubuh yang mulai lemas. Frita tak menyangka menyambut Aditya dengan kondisi seperti itu.


“Mas, kamu kenapa lagi sih?!” jerit Frita cemas sekaligus kesal.


Ia tahu Aditya memiliki musuh yang banyak, tapi apa mungkin mereka belum juga puas mengganggu hidup suaminya kini?


Frita menggiring Aditya ke ruang tengah, mendudukkannya di sofa tanpa peduli itu ternoda darah sang suami. Ini malam pertama mereka, seharusnya berjalan indah dan sempurna. Tapi justru ada peristiwa buruk macam ini. Sungguh tak membuat hati Frita bahagia.


“Kamu kenapa lagi, Mas?!” tanya Frita sambil sibuk mencari kotak P3K yang entah kenapa mendadak sulit ditemukan. Ia mengumpat dalam hati juga, kenapa barang yang kita butuhkan begitu mendadak hilang, sedangkan kalau tidak butuh, bisa ada di mana- mana?!


Akhirnya kotak P3K itu berhasil ditemukan. Frita merawat luka Aditya dengan amat telaten, tapi tetap saja ia terpaksa harus menelepon seorang perawat keluarga sebab Aditya menolak dibawa ke rumah sakit. Sang suami kini membutuhkan darah.


“Kenapa? Kamu belum jawab pertanyaanku!” kata Frita kesal.


“Seseorang yang mencoba membunuh papa mamamu waktu itu, barusan mencoba mengejarku. Kalian juga akan dibunuhnya,” jawab Aditya pelan.


“Apa? Bukankah mereka sudah mati ditumpas teman-temanmu, Mas?” tanya Frita heran. Yang dia maksud tentu saja soal Skuad Malam yang waktu itu berhasil menang atas anak buah Green Devil yang mengincar Pandu dan Gina.


“Bukan. Mereka cuma anak buah. Bosnya masih berkeliaran. Memangnya polisi enggak kasih tahu?” tanya Aditya.


“Entahlah! Aku pusing, Mas!”


Berikutnya Frita tidak bicara lagi, apalagi setelah perawat itu datang dan melakukan tindakan supaya Aditya bisa kembali pulih besok pagi.


Aditya tak merasakan apa-apa lagi sepanjang malam itu. Ia cepat tertidur pulas dan sempat bermimpi buruk. Sebuah mimpi yang terasa singkat tentang Frita yang pergi dan tak sudi hidup bersamanya.


Di mimpi itu, Frita berkata, “Kembalilah ke kehidupanmu yang penuh orang mati itu! Bunuhlah mereka semua! Aku enggak sudi menjadi istri seorang pembunuh!”


Masih di dalam mimpi juga, Aditya menjawab dengan menangis, “Aku bukan orang yang suka membunuh! Aku melakukannya untuk melindungi kalian!”

__ADS_1


“Halah, banyak alasan!” sahut Frita dengan galak.


Ketika terbangun dari mimpi, Aditya merasa cemas. Ia segera menemui Frita yang ada di dapur pagi itu, dan meminta maaf.


“Aku tak tahu apa kamu benar bakal menepati janjimu waktu itu, Mas,” kata Frita tanpa menoleh padanya.


Frita memang masih libur hingga beberapa hari ke depan sebab mereka juga bakal bulan madu ke Bali, dijadwalkan terbang ke sana besok lusa, dan pulang minggu depan. Kini, mereka hanya bersantai di rumah saja.


Aditya bilang, “Aku serius ingin berhenti dari kehidupan lamaku, Sayang. Tapi kamu tahu sendiri banyak musuhku yang berkeliaran di luar sana. Aku mulai kepikiran untuk ganti identitas saja.”


Frita seketika menoleh dengan kesal padanya. “Terus kamu mau ganti pakai nama apaan, Mas? Paijo? Suparman? Jangan aneh-aneh!”


Meski mungkin barusan Frita bercanda, wanita itu jelas tak terlihat tersenyum atau ingin tertawa. Aditya tetap merasa tak enak dan harus menegaskan bahwa ia tak akan tinggal diam jika diganggu, tapi tak akan membuat gara-gara dengan siapa pun.


Aditya mengatakan itu dengan lugas.


Aditya tak tahu lagi harus berkata apa. Sehari mereka menikah, sudah bertengkar macam ini. Karena tak tahu lagi harus ngomong apa, ia pun memeluk Frita dari belakang dan membisikkan kata maaf padanya.


Hanya maaf dan maaf saja.


Hari itu mereka tak banyak bicara. Hanya duduk berdua, makan, nonton TV tanpa peduli tayangan apa, sesekali membaca buku atau koran. Aditya merasa semua ini tak seharusnya terjadi. Demi Tuhan, mereka pengantin baru!


“Frita, manisku, rembulanku,” kata Aditya tiba-tiba. Waktu itu matahari sedang bersinar terik-teriknya di siang bolong.


“Kenapa kamu mendadak gombal begini?” jawab Frita ketus.


“Kita pengantin baru, kan? Kamu lupa?” ujar Aditya sambil mendekat pada sang istri.


Frita tak menjawab, tapi tak menjauh ketika tubuhnya disentuh oleh Aditya, lantas dipeluk dengan mesra.

__ADS_1


“Aku tahu semua ini pasti sulit. Ke depan entah apa lagi masalah kita. Tapi kita kan sudah menjadi partner? Susah senang, kita akan selalu bersama, bukan?” bisik Aditya.


“Iya, memang kamu benar, Mas. Aku mungkin terlalu keras,” kata Frita yang nyaris tak terdengar suaranya.


Aditya memeluknya makin erat, menempelkan pipinya ke pipi Frita. Kini tubuh mereka berdempetan.


“Reaksimu itu wajar, Frita. Istri mana yang enggak cemas punya suami macam aku ini? Semua juga pasti marah. Tapi aku berjanji akan berusaha sebaik mungkin,” kata Aditya mantap.


Frita mulai mengerti apa yang dihadapi Aditya. Masa lalunya memang berat untuk ditinggalkan begitu saja. Kehidupan keras dan penuh rahasia sebagai mantan pasukan khusus sekaligus mata-mata, membuat Aditya terus diintai bahaya. Bahkan mungkin sampai kelak ia tua nanti.


Frita mulai memahami itu dan bisa menerimanya.


Maka, suasana rumah kembali berbunga.


Pengantin baru kembali ke sarangnya. Mereka masuk ke kamar persis pukul 14.45 WIB. Dan bercinta di sana sepuasnya. Mereka bercinta tanpa peduli apa-apa. Mereka bercinta seakan dunia ini milik mereka berdua saja.


Setelah sore itu mereka kembali rukun, Aditya sempat berbisik ke telinga Frita, “Kita harus segera memiliki anak. Sudah lama aku penasaran bagaimana kelak anakku nanti dan dari rahim siapa dia dilahirkan. Aku tak sabar melihatmu melahirkan anak-anakku, Sayang.”


Frita menjawab dengan tak kalah romantis, “Aku pun begitu. Gimana kalau kita coba lagi seperti tadi siang?”


“Baiklah,” kata Aditya senang.


“Nanti malam. Kita siapkan kamar yang lebih nyaman,” tukas Frita yang tak dapat menolak mendapat semburan ciuman dari Aditya.


Mereka merasakan sensasi yang tak terhingga indahnya dari sebuah pernikahan. Memang jelas ke depan akan ada masalah-masalah. Mereka tahu itu. Tapi mereka juga tahu semua akan mereka hadapi bersama, susah maupun senang.


Malam itu, benar-benar menjadi malam terindah bagi mereka berdua.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2